Dia bukan pahlawan. Dia adalah bencana yang berjalan.
Terlahir kembali di dunia yang hancur oleh perang kuno, Arlen membawa ingatan dari kehidupan sebelumnya sebagai Aster Valerius-sang ksatria legendaris. Tapi kali ini, dia tidak terikat oleh kode kehormatan yang rapuh. Dia memiliki sesuatu yang lebih berbahaya: Aether, sumber kekuatan asli yang mampu memotong sejarah dan menghancurkan realitas itu sendiri.
Dari hutan terlarang hingga takhta dewa, Arlen akan menginjak siapa pun yang menghalanginya. Monster? Dia akan menyerap darahnya. Dewa? Dia akan meremukkan takhtanya. Manusia yang berkhianat? Dia akan mengajarkan mereka arti ketakutan sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arian verse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Runtuhnya logika semu
Setiap langkah yang diambil Arlen terasa lambat, tenang, dan terukur—seolah olah dia hanya berjalan santai di tengah taman yang damai. Namun, bagi siapa pun yang berdiri di dekatnya, setiap pijakan kakinya terasa seperti memukul permukaan tanah dengan beban yang tak terbayangkan.
DUM… DUM… DUM…
Dari dalam tubuhnya, cahaya keemasan pekat mulai merembes perlahan, menyelimuti seluruh sosoknya bagai jubah yang terbuat dari cairan logam cair. Itu adalah Aura Emas, tingkat keempat yang hanya bisa dicapai oleh mereka yang telah menempa jiwa dan kehendak hingga mendekati kesempurnaan. Cahayanya tidak menyilaukan mata secara berlebihan, namun memancarkan bobot yang nyata—padat, murni, dan mengandung kekuasaan mutlak.
Setiap kali telapak kakinya menyentuh tanah, batu kerikil di bawahnya hancur menjadi debu halus, dan celah-celah halus menyebar keluar dari titik pijakan itu. Udara di sekelilingnya tertekan hingga berdesis, seolah tak sanggup menampung energi jiwa yang meluap. Daun-daun di pohon-pohon di kejauhan berhenti bergoyang, lalu terlempar menjauh secara paksa seolah ditolak oleh keberadaannya.
Di permukaan, wajah Arlen tetap datar dan dingin. Matanya yang gelap hanya menatap lurus ke depan tanpa ekspresi marah, tanpa raut benci, hanya ketenangan yang menyesakkan. Namun, di balik topeng tenang itu, di dalam kedalaman jiwa dan inti kehidupannya… badai sedang berkobar hebat.
Energi keemasan itu bukan hanya kekuatan biasa; ia menjadi wadah yang menampung amarah yang telah lama tertahan, kekecewaan yang terpendam, dan ingatan ribuan tahun tentang penindasan serta kebohongan yang telah memusnahkan kaumnya. Setiap denyut Aura itu selaras dengan detak jantungnya yang perlahan memanas—semakin ia menekan emosinya agar tidak meledak, semakin padat dan menghancurkan tekanan yang dipancarkan ke luar.
Amarah itu tidak liar dan tak terkendali; ia adalah api yang dikendalikan sepenuhnya oleh kehendak seorang kesatria puncak. Ia membakar dari dalam, mempertajam setiap indera, dan membuat setiap serat kekuatannya siap meledak kapan saja. Namun Arlen tetap menahannya, melangkah maju dengan irama yang sama, karena ia tahu—saat api itu akhirnya dilepaskan, tidak akan ada yang tersisa selain kehancuran total bagi segala sesuatu yang menjadi sasaran kemarahannya.
Tekanan Aura Emas itu terus menjalar, menekan segala sesuatu di sekitarnya hingga terasa berat bagaikan gunung menindas pundak. Bagi makhluk hidup apa pun yang merasakannya, mereka tidak hanya merasakan kekuatan fisik, namun merasakan dominasi jiwa—seolah berdiri di hadapan kebenaran yang telah ada sejak zaman purba, dan mengetahui betapa kecilnya keberadaan mereka dibandingkan dengan kekuatan yang kini berjalan perlahan mendekat.
Di depan gerbang, kedua penyihir penjaga itu kini tidak lagi sanggup berdiri tegak. Rasa sesak menyergap dada mereka seolah-olah ada gunung yang perlahan menindih bahu mereka, membuat napas mereka tersengal dan tangan yang menggenggam tongkat sihir mulai gemetar hebat. Tubuh mereka terasa ringan sekaligus tertekan, seolah bukan lagi manusia yang berdiri di tanah, melainkan seekor mangsa kecil yang terjebak dalam pandangan tajam seekor predator purba yang baru saja terbangun dari tidur panjangnya.
Mata mereka membelalak lebar, bukan karena takut biasa, melainkan karena sesuatu yang mustahil terlihat oleh pandangan batin mereka. Di balik sosok Arlen, samar namun jelas tergambar bayangan raksasa—wujud sesosok kesatria menjulang tinggi, diselimuti api emas yang menyala tanpa membakar, dengan tatapan yang membawa kekuasaan mutlak. Itu bukan ilusi mata, melainkan proyeksi dari kehendak jiwa yang begitu kuat hingga terwujud dalam pandangan mereka.
“T-Tuhan… apa ini…” bisik salah satu penyihir, suaranya nyaris tak terdengar, lututnya sudah terasa lemas tak bertulang. “Aku merasa… seolah sedang berdiri di hadapan kematian itu sendiri…”
Penjaga yang lain hanya bisa menelan ludah, rasa takut merayap masuk hingga ke tulang sumsum nya. Seluruh ajaran yang mereka yakini selama ini—bahwa Mana adalah satu-satunya kekuatan tertinggi—seketika terasa bohong belaka. Di hadapan tekanan ini, kekuatan mereka terasa seperti nyala lilin yang akan padam kapan saja diterpa badai.
Di belakang Arlen, Kai melangkah mengikuti, namun langkahnya pun melambat secara tak sadar. Matanya yang biasanya penuh semangat kini terbelalak lebar, menatap sosok tuannya dengan rasa takjub yang bercampur hormat mendalam. Selama ini ia hanya mengenal Arlen sebagai sosok yang tenang, dingin, dan jarang menunjukkan emosi berlebih—namun hari ini, untuk pertama kalinya, ia merasakan badai yang tersembunyi di balik ketenangan itu. Ia bisa merasakan betapa panasnya amarah yang membara di dalam tubuh Arlen, terbungkus rapat oleh kendali yang nyaris tak manusiawi, namun siap meledak menghanguskan apa saja yang menghalangi.
“Jadi… ini dia sisi yang belum pernah ia tunjukkan sepenuhnya…” batin Kai, jantungnya berdebar kencang bukan karena takut, melainkan karena bangga menyadari betapa jauhnya puncak kekuatan yang dicapai tuannya itu.
Saat jarak hanya tersisa beberapa langkah lagi, Arlen akhirnya berhenti.
Wajahnya tetap datar, tak ada kerutan amarah, tak ada kilatan benci yang terlihat. Namun, di saat ia mengangkat tangan kanannya perlahan, seluruh alam di sekitarnya seolah berhenti bergerak. Angin mati total, suara serangga lenyap, bahkan detak jantung seolah terhenti sejenak.
HUMM—!!!
Aura emas yang menyelimuti tubuhnya berdenyut sekali, meluap dengan cahaya yang menyala terang namun tidak menyilaukan mata—Aura itu memadat, menyusut, dan berkumpul dengan kecepatan yang tak terbayangkan di telapak tangannya. Energi yang sedemikian masif itu dipadatkan terus menerus, dari kabut cahaya menjadi cairan kental, lalu berubah menjadi wujud padat yang memancarkan panas dan ketajaman yang membuat udara di sekitarnya melengkung.
Dalam sekejap, terbentuklah sebilah pedang panjang bermata dua, terbuat sepenuhnya dari Aura Emas murni. Cahayanya memantul ke segala arah, menerangi seluruh halaman kastil hingga ke sudut paling gelap, mengukir bayangan panjang yang bergetar di tanah. Di sekeliling bilahnya, udara mendesis dan terbelah, meninggalkan jejak cahaya keemasan yang perlahan memudar.
Arlen mengangkat pedang itu setinggi bahu, lalu menebaskannya ke depan dengan gerakan yang sederhana, tenang, namun mengandung kekuatan yang tak terukur.
SWUUUSSH—!!!
Gelombang energi emas melesat lurus, membelah udara seolah memotong kertas basah. Begitu menyentuh gerbang besi setebal pergelangan tangan itu, tidak ada benturan keras atau suara ledakan yang memekakkan telinga—melainkan suara halus seperti kain yang tergunting rapi.
Gerbang besi yang dilapisi emas itu terbelah menjadi dua bagian bersih, lalu hancur lebur menjadi butiran debu yang melayang tertiup angin yang baru saja kembali berhembus. Tidak hanya gerbangnya, bahkan tanah di belakangnya tergores garis lurus yang dalam dan hitam, memanjang hingga jauh masuk ke dalam halaman kastil.
Cahaya emas perlahan meredup kembali, menyusut masuk ke dalam tubuh Arlen, namun tekanan mendasar itu masih terasa menggantung di udara.
Arlen memegang pedang Aura itu tetap terangkat, matanya menatap lurus ke dalam kegelapan kastil yang kini terbuka lebar. Suaranya terdengar rendah, tenang, namun mengandung amarah yang sudah menemukan jalan keluarnya:
“Kalian yang bersembunyi di balik tembok megah ini… saatnya membayar apa yang telah dirampas.
Suara hancurnya gerbang besi bergema keras, mengguncang seluruh bangunan kastil hingga lampu-lampu gantung berayun liar dan gelas-gelas di meja pesta terguling berjatuhan. Di ruang perjamuan yang megah di lantai paling atas, Lord Valerion — bangsawan yang ditugaskan langsung dari ibu kota — sedang menikmati hidangan mewah sambil tertawa lepas bersama para tamunya. Namun tawa itu terputus seketika, digantikan oleh wajah yang memerah karena marah.
“APA INI?! Siapa yang berani mengganggu ketenangan di kediamanku?!” bentaknya dengan suara lantang yang bergema di seluruh ruangan. Wajahnya yang gemuk berubah merah padam, matanya melotot penuh amarah karena merasa hak dan kekuasaannya diserang. “Berani sekali binatang dari desa bawah menginjakkan kaki di tempat ini! Mereka benar-benar lupa posisi mereka di dunia ini!”
Ia langsung berdiri dari kursinya, menunjuk ke arah tangga utama dengan gerakan kasar.
“Semua pasukan sihirku! Seratus orang Penyihir Tingkat Satu dan Dua — segera turun ke bawah! Kepung makhluk lancang itu dari segala arah! Jangan beri ia celah sedikit pun! Gunakan setiap elemen yang kalian miliki, hancurkan dia sampai tidak tersisa tulang belulangnya! Aku ingin melihat tubuhnya tergeletak di depan kakiku sebagai peringatan bagi siapa pun yang berani melawanku!”
Perintah itu disambut dengan teriakan kesiapan. Dalam sekejap, seratus sosok berjubah berkumpul dan bergerak cepat, menyebar mengelilingi halaman kastil. Mereka mengambil posisi membentuk lingkaran rapat, tongkat sihir terangkat tinggi, dan aliran Mana mulai terasa berkumpul di udara — angin berputar, api menyala, tanah bergemuruh, dan air menggenang di udara.
Namun di tengah lingkaran itu, Arlen hanya berdiri diam. Pedang Aura Emas di tangannya masih menyala terang, dan tekanan yang ia pancarkan belum sedikit pun mereda. Wajahnya tetap datar, tidak ada rasa takut melihat jumlah musuh yang berlipat ganda. Bagi seorang kesatria yang pernah berdiri di ambang puncak kekuatan ribuan tahun silam, jumlah bukanlah halangan — hanya soal seberapa cepat ia bisa menyelesaikannya.
“Serang!” teriak komandan mereka.
Ratusan sinar sihir melesat bersamaan, membanjiri ruang di sekeliling Arlen. Tapi bagi dia, gerakan mereka terasa lambat, kaku, dan terlalu bergantung pada energi luar.
Arlen melangkah maju sekali saja.
HUMM!
Aura Emas meledak keluar dalam bentuk gelombang yang memadat, menangkis semua serangan itu seolah menepis debu ringan. Tanpa memberi mereka waktu untuk menarik kembali Mana atau merapal mantra baru, ia bergerak — gerakan yang terlihat sederhana namun mengandung ketepatan dan kecepatan yang melampaui batas pandangan manusia biasa.
Setiap ayunan pedangnya membelah udara dan memotong aliran Mana musuh sebelum sempat menjadi ancaman. Tekanan Aura itu menekan inti sihir mereka hingga terasa sesak, membuat mereka tidak mampu mengendalikan kekuatan sendiri. Satu per satu, mereka roboh — bukan karena luka parah semata, tapi karena dominasi kehendak yang mematahkan kemampuan mereka bertahan.
Arlen tidak membunuh dengan kejam tanpa alasan, tapi juga tidak menyisakan ruang bagi mereka untuk bangkit kembali. Setiap gerakan adalah teknik murni kesatria: cepat, efisien, dan mematikan. Dalam waktu yang terasa hanya beberapa detik, seratus penyihir yang tadinya berniat mengepung kini tergeletak tak berdaya di seluruh penjuru halaman, tidak ada yang mampu berdiri lagi.
Suasana kembali hening, hanya disertai suara napas berat yang tersisa.
Arlen menoleh ke atas, menatap jendela besar di lantai paling atas tempat bangsawan itu masih berdiri tertegun menyaksikan apa yang baru saja terjadi.