NovelToon NovelToon
Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Menikahi tentara
Popularitas:1.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: Raven Ayu

Dibesarkan belasan tahun sebagai putri keluarga perwira, Laras dicampakkan dalam semalam setelah putri kandung mereka, Tiara, ditemukan lewat tes DNA. Ketika Tiara menolak menikahi “duda tua beranak tiga dari kampung”, keluarga memaksa Laras menggantikannya demi menjaga nama baik.
Di desa asing itu, Laras menghadapi seorang lelaki dingin bernama Arya dan tiga anak yatim yang kurus serta waspada. Semua orang mengira ia telah menikah turun derajat dan hanya bisa pasrah pada nasib.
Tak ada yang tahu bahwa Arya sebenarnya adalah mantan perwira Kopassus yang disegani para jenderal sekaligus konglomerat yang menyamar sebagai peternak sapi. Pria yang katanya dingin itu justru memanjakan Laras setiap hari lewat tindakannya, sampai membuat seluruh desa iri.
Sedikit demi sedikit, Laras membalik hidupnya. Ia membesarkan tiga anak terlantar itu menjadi anak-anak jenius, membuat orang-orang yang pernah meremehkannya menelan hinaan mereka sendiri, dan bangkit dari “ibu tiri kampungan” menjadi mahasiswa UI dengan nilai tertinggi.
Namun Tiara belum menyerah merebut apa yang dianggap seharusnya menjadi miliknya. Di saat yang sama, rahasia asal-usul ketiga anak itu mulai terungkap: mereka membawa darah keluarga konglomerat Adiwangsa.
"Kamu menikahiku karena terpaksa," kata Arya. "Tapi aku akan mencintaimu sampai kamu lupa pernah terpaksa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 34: Aku Bukan Lelaki Bercabang

Kolonel Wibowo melihatku, lalu melihat Arya.

“Bu Laras,” katanya, “kalimat tadi tentang kembali ke kesatuan.”

“Saya tidak ingin membahas urusan pribadi di depan tamu,” jawabku.

Wibowo mengangguk. Dia tidak mencoba membela Arya lebih jauh. Setelah menghabiskan teh, dia menutup map dan berpamitan bersama perwira muda. Sebelum masuk mobil, dia berkata kepada Arya, “Jelaskan semuanya. Jangan hanya bagian yang menurutmu sanggup dia dengar.”

Arya berdiri di teras sampai kendaraan itu hilang di tikungan.

Aku membawa cangkir ke dapur. Tanganku tidak gemetar lagi. Yang tersisa hanya lelah.

“Laras,” panggilnya dari belakang.

“Anak-anak masih bangun.”

“Aku tunggu.”

Kami makan malam seperti biasa. Bayu bercerita tentang anak sapi baru, Raka menunjukkan soal matematika, dan Sasa mengucapkan “Yah” setiap Arya terlalu lama diam. Tak satu pun anak menyadari ketegangan di antara kami.

Bayu sempat bertanya mengapa Kolonel Wibowo datang.

“Mengajak Ayah bekerja,” jawab Arya.

“Di peternakan?”

“Bukan.”

“Ayah mau pergi?”

Arya menatapku sebelum menjawab. “Tidak sekarang. Kalau suatu hari ada perintah resmi, Ayah dan Bunda akan membicarakannya.”

Kata membicarakannya terasa penting. Dia tidak lagi mengatakan keputusan sudah dibuat atau mencoba melindungiku dengan menyimpan semuanya sendiri.

Raka mengangguk, lalu kembali ke soal. Bayu menerima jawaban itu setelah memastikan Ayah masih akan mengantarnya melihat anak sapi besok. Kami menyelesaikan makan malam tanpa anak-anak membawa kecemasan orang dewasa ke tempat tidur.

Setelah mereka tidur, Arya masuk ke kamar sambil membawa mantel militer lama.

Dia mengeluarkan surat Yolanda dari saku paling dalam dan meletakkannya di meja.

“Aku seharusnya menjelaskan sejak pertama kamu menemukannya,” katanya.

“Iya.”

“Aku tidak melakukannya karena pengecut.”

Aku menatapnya. “Mas Arya menyebut dirinya pengecut?”

“Dalam hal ini.”

Dia membuka lipatan surat yang sudah kusam. Tidak ada lagi usaha menutup tulisan atau merebutnya dari tanganku.

“Yolanda adalah adik Yudha,” katanya. “Yudha anggota timku dan sahabatku. Dia meninggal menyelamatkanku.”

“Aku sudah menduga bagian itu.”

“Kamu belum tahu sisanya.”

Arya menceritakan operasi terakhir dengan lebih lengkap daripada sebelumnya. Jalur mereka bocor. Kelompok lawan menunggu di posisi yang seharusnya aman. Saat ledakan pertama terjadi, Yudha mendorong Arya ke balik perlindungan dan menerima serpihan di bagian tubuhnya sendiri.

Dalam perjalanan evakuasi, Yudha sadar sebentar. Dia meminta Arya menjaga Yolanda agar tidak sendirian.

Arya menjelaskan bahwa Yolanda saat itu masih berada di akademi. Kedua orang tuanya sudah lama meninggal, sehingga Yudha menjadi satu-satunya keluarga dekat. Sesudah pemakaman, Arya membantu urusan pendidikan, menghubungkan Yolanda dengan keluarga-keluarga militer yang bisa mendampingi, dan memenuhi kebutuhan yang dulu ditanggung kakaknya.

“Apakah kalian sering bertemu?” tanyaku.

“Pada tahun pertama, beberapa kali. Setelah dia masuk kesatuan, makin jarang.”

“Dia datang ke pernikahan kita?”

“Tidak. Sedang bertugas.”

“Dia tahu aku ada?”

“Wibowo mengirim undangan dan foto akad. Aku juga menulis bahwa aku sudah menikah.”

“Dia membalas?”

“Selamat. Hanya itu.”

Jawaban-jawaban itu mengisi ruang kosong yang selama ini dibiarkan tumbuh menjadi bayangan. Tidak semuanya nyaman didengar, tetapi semuanya memiliki bentuk yang bisa kuhadapi.

Arya lalu mengaku pernah menjauh dari Yolanda bukan karena benci, melainkan karena setiap melihat wajahnya dia melihat saat terakhir Yudha. Yolanda menafsirkan jarak itu sebagai janji yang belum selesai. Keduanya terus berputar di sekitar rasa bersalah tanpa benar-benar berbicara.

“Aku mengira itu berarti aku harus selalu ada untuknya,” kata Arya. “Yolanda juga mengira kata-kata terakhir kakaknya mengikat kami.”

“Mengikat sebagai apa?”

“Keluarga. Setidaknya bagiku.”

“Baginya?”

Arya tidak menghindar kali ini. “Mungkin pernah lebih dari itu. Aku tidak pernah membalas.”

Kejujuran itu menyakitkan sedikit, tetapi jauh lebih ringan daripada ketidakpastian berbulan-bulan.

“Kenapa suratnya ditulis seperti surat seorang perempuan menunggu lelaki?”

“Karena dia ingin aku kembali ke kesatuan. Karena teman-teman lama juga memintanya menulis. Dan karena dia masih melihat kepulanganku sebagai cara memenuhi janji Yudha.”

Arya menyerahkan surat kepadaku. “Baca semuanya.”

Aku membukanya.

Setelah kalimat yang pernah kulihat, ada bagian yang dulu tertutup lipatan. Yolanda menulis bahwa ruang latihan terasa kosong tanpa komandan lama mereka. Dia menyebut beberapa nama anggota tim, rencana peringatan untuk Yudha, dan permintaan agar Arya setidaknya datang sekali untuk berbicara kepada prajurit muda.

Baris “aku masih menunggumu” dilanjutkan dengan kalimat tentang daftar peserta pelatihan yang harus disetujui. Baris “jangan biarkan semua berakhir di desa itu” merujuk pada pengalaman tim dan kemampuan Arya, bukan hubungan mereka.

Potongan yang kubaca di kantor memang nyata. Aku hanya melihatnya tanpa kalimat sebelum dan sesudah, lalu diam Arya mengubah potongan itu menjadi cerita lain.

“Kenapa tidak langsung menunjukkan seluruh halaman?” tanyaku.

“Karena saat kamu menyebut namanya, aku kembali berada di kendaraan evakuasi.”

“Mas Arya tidak melihatku.”

“Tidak. Aku hanya melihat darah Yudha.”

Dia mengucapkannya datar, tetapi jemarinya bergetar. Aku menutup surat dan memegang tangannya sampai getaran itu berhenti.

Di bagian akhir, dia menulis bahwa seluruh tim menunggu jawabannya.

Bukan undangan melarikan diri bersama seorang kekasih. Bukan janji pernikahan. Hanya surat yang ditulis buruk oleh seseorang yang juga belum selesai berduka.

“Kenapa Mas menyentuh surat ini sampai lipatannya aus?” tanyaku.

Arya duduk di tepi ranjang. “Setiap kali ingin membuangnya, aku ingat Yudha. Setiap kali ingin menjawab, aku ingat dia mati karena mendorongku.”

“Jadi Mas menyimpannya sebagai hukuman.”

“Mungkin.”

Aku duduk di sampingnya. “Dan membiarkan aku mengira ada perempuan lain juga bagian dari hukuman itu?”

“Tidak.” Dia menutup wajah dengan kedua tangan. “Itu kebodohanku.”

Aku belum pernah melihat Arya menunduk seperti itu. Aku menarik tangannya dari wajahnya.

“Aku marah bukan karena Yolanda pernah punya perasaan,” kataku. “Aku marah karena Mas memutuskan aku lebih baik menebak daripada tahu.”

“Aku takut kalau menceritakan Yudha, semuanya kembali.”

“Semuanya memang tidak pernah pergi.”

Dia menatapku.

“Luka yang disimpan tetap hidup,” lanjutku. “Bedanya, orang di dekatmu tidak tahu kenapa kamu berdarah.”

Arya menggenggam tanganku. “Maaf.”

Satu kata itu tidak menghapus bulan-bulan salah paham. Namun dia mengucapkannya tanpa alasan tambahan, dan untuk pertama kali memberiku seluruh cerita.

“Aku juga minta maaf,” kataku.

Arya mengerutkan kening. “Untuk apa?”

“Membuat sayur yang Mas benci dan mengira buku rekening bisa mengaku dosa.”

“Sayurnya tidak terlalu buruk.”

“Pembohong.”

“Aku tetap makan.”

“Itu bukan bukti enak.”

Ketegangan pecah menjadi tawa kecil. Setelahnya aku mengakui bahwa bagian dari kecemburuanku berasal dari rasa rendah diri. Yolanda seorang perwira, mengenal dunia Arya, dan terhubung dengan hidup yang membuat para jenderal menghormatinya. Aku hanyalah perempuan yang datang dari perjodohan gagal sambil membawa koper.

Arya menggeleng. “Kamu datang dan membuat anak-anak makan. Kamu berdiri melawan keluargamu sendiri untuk menikah denganku. Kamu membangun rumah ini setiap hari. Jangan bilang hanya.”

“Tapi dia memahami pekerjaan Mas.”

“Kamu memahami alasan aku ingin pulang.”

Kalimat itu menutup luka yang tidak bisa ditutup oleh perbandingan pangkat atau masa lalu.

“Ada perempuan lain?” tanyaku.

“Tidak.”

“Pernah menjanjikan pernikahan kepada Yolanda?”

“Tidak.”

“Pernah mencintainya?”

“Tidak seperti aku mencintaimu.”

Napas tertahan di tenggorokanku. Dia mengucapkan cinta tanpa rencana, lalu tampak terkejut oleh kata-katanya sendiri.

“Ulangi,” kataku.

Telinganya memerah. “Aku bukan lelaki bercabang, Laras. Selain kamu, siapa lagi?”

Aku tertawa dan menangis pada saat yang sama.

Arya mengambil baskom logam kecil dari lemari. Kami membawa surat itu ke teras belakang, jauh dari kamar anak-anak. Dia meletakkannya di dalam baskom dan menyalakan salah satu sudut dengan korek.

Api merambat melalui tulisan Yolanda. Nama Yudha menghitam, lalu berubah menjadi abu.

“Mas tidak harus membakar kenangan tentang Yudha,” kataku.

“Yang kubakar bukan Yudha. Yang kubakar adalah alasan untuk terus menghukum diri dan membuatmu ragu.”

Ketika api padam, Arya menyiram abu dengan sedikit air agar aman. Surat itu selesai di sana. Tidak akan dilipat lagi, disembunyikan lagi, atau dipakai menjadi dinding di antara kami.

Kami kembali ke kamar. Dia menarikku ke pelukan, perlahan, menunggu sampai aku membalas.

Aku menempelkan pipi di dadanya. Untuk pertama kalinya sejak menemukan surat, tidak ada sudut tubuhku yang bersiap menjauh. Tangan Arya menyusuri punggungku dengan tenang, bukan terburu-buru meminta pengampunan melalui kedekatan.

“Aku tidak ingin kita memakai pelukan untuk menghindari percakapan,” kataku.

“Percakapannya sudah selesai?”

“Belum. Besok kita bicara lagi soal kemungkinan konsultasi.”

“Baik.”

“Sekarang boleh peluk.”

Lengannya langsung mengencang, membuatku tertawa di dadanya.

“Kalau ada surat lain?” tanyaku di dadanya.

“Kita baca bersama.”

“Kalau ada perempuan lain datang?”

“Kamu tanya langsung.”

“Kalau Mas kembali diam?”

“Tarik telingaku.”

Aku benar-benar menariknya sampai dia mendesis. Setelah itu dia mencium keningku, lalu bibirku. Kedekatan yang mengikuti tidak terasa seperti cara menutup pertengkaran. Itu adalah kelegaan setelah pintu terakhir dibuka.

Arya mengambil tanganku dan menempelkannya di dadanya.

Jantungnya berdetak kuat di bawah telapak tanganku.

“Di sini hanya ada kamu,” katanya.

Air mata masih berada di mataku, tetapi aku tersenyum.

Saat aku hendak menjawab, Jagoan menggonggong keras dari halaman depan.

Sekali, dua kali, lalu terus-menerus ke arah gerbang dalam gelap.

Arya melepaskan pelukan dan meraih senter di atas meja. Dari balik pagar terdengar suara motor mati, lalu seseorang memanggil namanya berulang kali dengan suara perempuan yang patah oleh tangis dan ketakutan.

1
Sri Supriatin
lanjuut thor...eeh sy bc marathon kok .. kayanya sdh end🤭🤭🤣🤣
Sri Supriatin
gas keun pa Arya😍😍😍😍
Sri Supriatin
6 bulan lho ....anak2kurus n bi Inah kayaaa....ampun lebih galak dr mak tiri atau mertua tocik
Sri Supriatin
mampir ah, certanya end, jd ngk nunggu up🤭🤭biar marathon bc👍👍👍
Sri Hartini
wah2 akhirnya jd nyonya Arya
Sri Hartini
nah bik inah ketahuan bohongnya
Sri Hartini
pamanya terlalu sibuk di peyernakan jd nggak peduli sama ponakan
Sri Hartini
om nya kurang perhatian pdhal ponakannya kurus2
Sri Hartini
padahal bi inah msh sodara kok tega ya
Sri Hartini
arya kenapa diem klau ponakannya kurus
Sri Hartini
lamjut
Sri Hartini
lanjut ceritanya seru
Sri Hartini
ceritanya bagus
Anik Setyowati
iya kadang q bingung critanya,bener sih nggak monoton critanya nggak itu itu aja critanya,tp kapan crita kuliahnya,
Anik Setyowati
semua wanitanya iri sama Laras,tapi tidak membuat dirinya berusaha menjadi seorang wanita yg dibarengi dengan perbuatan yg baik,meningkatkan kecerdasanya, meningkatkan perekonomianya dengan jalan yg halal dan kerja keras,tapi mendahulukan prasangka buruk iri dengki,dan akhlak tercelah,nggak bisa mengontrol emosi yg malah akan menghancurkan hidup dan kebahagiaannya
Anik Setyowati
kenapa pernikahan denandra dan Almira tidak disetujui,sedangkan damar dan Vera disetujui,apakah karna Vera anak orang terpandang dan Almira anak orang biasa orang desa,padahal Vera tidak ada kelebihannya, ahklaqnya buruk
Anik Setyowati
orang seperti ini nggak pantas jadi guru,jual gorengan aja setiap hari berinteraksi sama gorengan, nggak ada orang iri sama gorengan
Anik Setyowati
Bu Ratih takut kecerdasannya tersaingi anak bocil,kasihan deh otaknya tumpul bukan tumpul ilmu tp tumpul mengelolah emosi kejiwaanya nol kosong nol,tua ilmu kedewasaannya nggak ada,yg ada ambisi dan kesombongan
Anik Setyowati
kalau Arya jadi mantu bik Inah boh aboh kasihan 3 anak krucil itu pasti di sia siakan,belum jadi aja 3 Mak itu sudah nggak terawat apalagi jadi,sungguh ancur dunia persilatan
beybi T.Halim
ada yaa guru dikota cem turunan setan gini???mulutnya kaya bukan mulut pendidik🙈
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!