Reynard Sutanto.
CEO termuda Sutanto Group. Konglomerat paling berkuasa se-Indonesia. Dijuluki "Dewa Bisnis" oleh seluruh dunia usaha.
Tapi di balik semua itu, ada satu rahasia yang membuatnya tak pernah bisa tidur nyenyak: tiga tahun lalu, dia divonis mandul. Selamanya.
Akibat racun yang diberikan seorang wanita dari keluarga Goh, Reynard kehilangan kemampuan untuk memiliki keturunan. Pewaris tunggal Sutanto Group... tanpa pewaris. Dia memilih mengasingkan diri ke Gunung Lawu selama tiga tahun, menyerah pada takdir.
Sampai suatu hari, di sebuah pesta biasa di BSD City, matanya jatuh pada seorang anak laki-laki berusia tiga tahun.
Wajah anak itu... persis seperti dirinya.
Alis tegas. Tatapan tajam. Garis rahang yang sama. Seolah seseorang mengecilkan Reynard Sutanto dan menaruhnya di tubuh balita.
Anak itu bernama **Bobo**. Dan ibunya? **Meilan Mulyadi** -- seorang single mother yang tinggal di kontrakan sempit di Serpong, berjuang mati-matian menghidupi anak kembarnya: si kecil Bobo yang jenius dan Lala yang menggemaskan.
Meilan bukan wanita biasa. Di balik penampilannya yang sederhana, tersembunyi kecerdasan luar biasa dan keberanian yang membuat tujuh preman keok dalam satu malam. Dari nol, dia membangun kerajaan bisnis -- mulai dari resep restoran sampai brand fashion "Cantika" -- semua dengan otaknya sendiri.
Tapi masa lalunya menyimpan luka yang tak pernah sembuh: sebuah gudang tua di Jakarta Timur, satu malam yang mengubah segalanya, dan seorang pria yang wajahnya tak pernah bisa dia ingat...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5: Resep Pertama, Uang Pertama
Meilan memutuskan pergi ke BSD City setelah menghitung uang untuk ketiga kalinya.
Jumlahnya tidak berubah. Tetap terlalu sedikit.
Darto meminjamkan motor tuanya dengan syarat ia sendiri yang mengantar. Yuni membekali Bobo dan Lala dengan pisang rebus serta air minum. Dedi, yang sedang menjalani hukuman tiga bulan, disuruh membawa tas belanja dan tidak mengeluh.
"BSD jauh, Mbak Mei," kata Darto ketika mereka melewati jalan utama Serpong. "Kalau cuma cari kerja, mungkin bisa mulai dari pasar dekat sini."
"Saya bukan cari kerja."
"Lalu?"
"Cari orang yang butuh diselamatkan."
Darto tidak paham, tetapi ia tidak bertanya lagi.
BSD City terasa seperti dunia lain dibanding Griya Asri. Jalan lebih lebar, ruko lebih rapi, mobil-mobil mahal berhenti di depan kafe, dan orang-orang berjalan dengan pakaian yang tampak sanggup membayar sewa rumah Meilan berbulan-bulan.
Meilan tidak silau.
Ia mengamati.
Dalam dua jam, ia sudah tahu ada dua rumah makan besar di area itu. Rumah Makan Lianto ramai sampai pengunjung menunggu di luar. Di seberangnya, Restoran Pangesto tampak sepi. Plang lamanya masih bagus, tetapi meja kosong terlalu banyak. Pelayan berdiri tanpa tenaga. Aroma makanan dari dapur tidak buruk, tetapi juga tidak punya alasan untuk diingat.
Meilan menunjuk restoran sepi itu.
"Ke sana."
Darto bingung. "Yang ramai bukan di seberang?"
"Yang ramai tidak merasa butuh bantuan."
Mereka masuk.
Seorang pria paruh baya berkacamata menyambut dengan senyum lelah. Name tag di dadanya bertuliskan Zhou.
"Selamat siang. Untuk berapa orang?"
"Saya ingin bicara dengan penanggung jawab."
Pak Zhou menatap pakaian Meilan yang sederhana, lalu melirik dua anak kecil di belakangnya. Ia jelas ragu, tetapi sopan.
"Ada keperluan apa, Bu?"
"Saya bisa membuat restoran ini ramai."
Dedi hampir menjatuhkan tas.
Pak Zhou membeku, lalu tertawa kecil karena mengira Meilan bercanda. "Maaf?"
Meilan berjalan ke salah satu meja, mengambil tisu, lalu meminjam pulpen dari kasir. Ia menulis cepat. Bukan resep rumit, tetapi resep yang tepat untuk lidah keluarga perkotaan: ayam saus madu pedas, sup jagung kepiting tiruan yang murah tetapi terasa mewah, nasi goreng asap, tahu sutra saus bawang, tumis kangkung dengan aroma wajan yang benar.
Pak Zhou awalnya ingin menghentikan, tetapi matanya berubah setelah membaca tiga resep pertama.
"Bu belajar masak di mana?"
"Tempat yang tidak bisa Bapak datangi."
Jawaban itu membuat Darto tersedak batuk.
Meilan menulis sampai tisu habis, lalu mendorongnya ke Pak Zhou.
"Minta koki mencoba dua menu. Kalau gagal, saya pergi."
Pak Zhou berpikir lama. Restoran kosong memberinya keberanian yang hanya dimiliki orang yang hampir bangkrut.
"Baik."
Tiga puluh menit kemudian, koki keluar membawa dua piring. Aroma pertama saja sudah membuat pelayan menoleh. Ayam madu pedas berkilau dengan warna kecokelatan, tidak terlalu manis, ada wangi bawang putih dan cabai. Nasi goreng asap tampak sederhana, tetapi begitu Pak Zhou menyuapkan satu sendok, matanya membesar.
"Ini..."
"Menu murah dengan rasa mahal," kata Meilan. "Orang kantor akan suka. Keluarga bisa beli. Margin bagus."
Pak Zhou memanggil koki, lalu pemilik cabang lewat telepon. Suaranya gemetar antara takut dan harapan.
Meilan tidak menjual resep murah.
Ia meminta pembayaran awal beberapa juta Rupiah dan bagian dari keuntungan menu baru selama tiga bulan. Pak Zhou awalnya kaget, tetapi setelah tiga pelanggan yang kebetulan masuk mencicipi tester dan langsung memesan, ia tidak punya alasan menolak.
"Kalau menu ini benar-benar laku, saya akan bicara dengan pemilik utama," kata Pak Zhou. "Keluarga Pangesto tidak suka membuang peluang."
Meilan menyimpan kalimat itu. Pangesto. Nama keluarga di papan restoran, berarti pintu berikutnya belum terbuka, tetapi sudah terlihat.
"Bapak cukup pastikan rasa tidak turun," katanya. "Orang datang karena penasaran sekali. Mereka kembali karena konsisten."
Pak Zhou mengangguk cepat seperti murid menerima pelajaran.
Untuk pertama kalinya sejak bangun di dunia ini, Meilan memegang uang yang cukup tebal.
Lala menatap amplop itu. "Mama, kita bisa beli telur banyak?"
Meilan mencium keningnya. "Bisa. Dan baju baru."
Bobo melihat uang itu tanpa ekspresi berlebihan. "Mama pintar."
"Mama harus pintar. Kalau tidak, kalian makan nasi goreng gosong terus."
Dedi spontan bergidik. Semua orang tertawa, bahkan Pak Zhou.
Sore itu, Meilan membawa anak-anak ke sebuah fashion store di ruko yang lebih mewah. Ia hanya ingin membeli baju sederhana untuk Bobo dan Lala, tetapi begitu mereka masuk, seorang sales assistant melihat sandal Meilan, kaus Lala yang pudar, dan celana Bobo yang terlalu pendek.
Senyumnya hilang.
"Maaf, Bu. Barang di sini mahal."
Meilan menatapnya. "Saya belum tanya harga."
"Saya cuma memberi tahu. Takutnya nanti anak-anak menyentuh barang, kalau rusak harus bayar."
Lala langsung menarik tangannya dari gantungan baju.
Bobo menatap sales assistant itu dengan mata dingin.
"Lala tidak rusak barang."
Sales assistant tertawa kecil. "Aduh, pintar bicara. Tapi tetap jangan pegang, ya."
Meilan merasakan tangan Lala mengecil di genggamannya.
Itu cukup.
Ia tidak berdebat. Ia melihat nama toko yang tercetak elegan di dinding, mengingat tata letak, jenis kain, harga, wajah pegawai, dan cara mereka menilai orang dari sandal.
Lalu ia menuntun anak-anak keluar.
Dedi yang menunggu di luar bertanya, "Tidak jadi beli?"
"Tidak di sini."
Mereka membeli baju di toko biasa yang pemiliknya ramah. Lala mendapat gaun katun kuning muda. Bobo mendapat kemeja putih kecil. Keduanya tampak seperti anak-anak yang baru dibersihkan dari nasib buruk.
Pemilik toko bahkan memberi diskon kecil setelah Lala berkata, "Terima kasih, Tante, bajunya lembut."
Perempuan itu tertawa hangat. "Anak cantik harus pakai yang nyaman."
Meilan membayar tanpa menawar. Bukan karena ia kaya, tetapi karena ia ingin anak-anak tahu bahwa dunia tidak hanya berisi orang yang mengusir mereka.
Namun saat melewati fashion store tadi, Meilan berhenti.
Sales assistant itu masih berdiri di dalam, melirik mereka dengan wajah meremehkan.
Meilan tersenyum tipis.
"Lihat baik-baik," katanya pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada orang lain. "Suatu hari, kalian yang akan meminta masuk ke tokoku."
Bobo mendengar. "Mama mau punya toko?"
"Iya."
"Lebih bagus?"
"Jauh lebih bagus."
Lala menggenggam ujung gaun barunya. "Lala boleh masuk?"
Meilan menunduk dan merapikan rambutnya. "Toko Mama dibangun supaya Lala tidak pernah diusir dari mana pun."
Mata Lala berbinar.
Mereka berjalan pulang ketika langit mulai jingga. Di belakangnya, Restoran Pangesto mulai menyalakan lampu. Di dalam dapur, koki masih mencoba resep Meilan satu per satu. Di seberang jalan, Rumah Makan Lianto tetap ramai, tetapi untuk pertama kalinya, Pak Zhou berdiri di depan pintu restorannya dengan wajah hidup.
Meilan tahu hari ini baru permulaan.
Ia keluar dari fashion store terakhir kali, menoleh sebentar pada papan namanya, lalu tersenyum dingin.
"Aku akan kembali."