Aurel Nathania tidak pernah percaya bahwa hidup harus berjalan sesuai aturan orang lain. Di usia dua puluh satu tahun, ia menikmati kebebasan, sahabat, perjalanan spontan, dan kehidupan yang jauh dari lingkungan pesantren. Sampai ayahnya tiba-tiba menjodohkannya dengan Rasyid, ustadz muda sekaligus putra seorang kiai. Bagi Aurel, Rasyid adalah simbol segala sesuatu yang ingin ia hindari: aturan, nasihat, dan kehidupan yang terkekang. Namun Rasyid tidak pernah berniat mengubah istrinya dengan paksaan. Ia hanya berusaha menjadi teladan sambil memberinya ruang untuk memilih. Pernikahan yang dimulai dengan penolakan perlahan mempertemukan dua manusia berbeda yang sama-sama menyimpan luka, rahasia, dan ketakutan tentang arti sebuah keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 — “USTADZ ITU?”
Sinar matahari pagi yang menembus sela-sela tirai kamar tidak mampu mengusir hawa dingin yang mengendap di benak Aurel. Sepanjang malam, ia hampir tidak memejamkan mata. Bayangan raut wajah ayahnya yang kaku dan dengung kata pesantren terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
Dengan mata sembap dan kepala serasa dihantam godam, Aurel duduk bersila di atas tempat tidur berselimut putih milik-nya. Laptop layar lipatnya menyala terang di atas paha.
Jemarinya bergerak cepat melintasi papan ketik.
M-u-h-a-m-m-a-d R-a-s-y-i-d A-l F-a-r-u-q-i.
Ikon pencarian berputar selama selusin detik sebelum akhirnya menampilkan ratusan ribu hasil. Aurel menahan napas, menatap barisan tautan artikel, kanal YouTube, hingga unggahan media sosial yang memuat nama tersebut.
"Beneran ustadz..." bisik Aurel dengan nada ketus yang menyisakan rasa tak percaya.
Ia mengklik salah satu video dengan jumlah tayangan paling tinggi. Judulnya sederhana: Kajian Kitab Adabul Alim wal Muta’allim — Ustadz Muhammad Rasyid Al-Faruqi.
Layar laptop memperlihatkan sebuah ruang majelis yang lapang dengan pilar-pilar kayu jati berukir. Puluhan pemuda bersarung dan berpeci putih duduk bersila dalam barisan rapi. Di depan mereka, duduk seorang pria muda di balik meja kayu rendah.
Pria itu mengenakan baju koko putih bersih berpotongan simpel dan peci hitam polos. Sorban kain warna putih gading terlipat rapi menyilang di bahu kirinya.
Aurel memajukan wajahnya, memicingkan mata menatap layar.
Rasyid—pria di video itu—memiliki rahang yang tegas namun dibingkai oleh raut wajah yang sangat tenang. Kulitnya bersih, matanya teduh, dan ada garis tipis senyum yang tampak samar saat ia berbicara. Suaranya halus, teratur, tanpa intonasi meledak-ledak seperti pendakwah yang sering Aurel lihat secara tidak sengaja di televisi.
"...karena sejatinya, ilmu yang membimbing kita bukan ilmu yang membuat kita merasa lebih tinggi dari orang lain, melainkan ilmu yang membuat kita semakin paham betapa kecilnya diri kita di hadapan Sang Pencipta," ujar Rasyid dalam video tersebut. Ia mengutip sebuah bait syair Arab dengan tajwid yang sangat fasih sebelum menutup bukunya pelan.
Aurel menghentikan (pause) video tepat di wajah Rasyid yang sedang menatap ke arah kamera.
"Tenang banget. Alim banget. Terlalu sempurna buat ukuran manusia biasa," gumam Aurel seraya menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. Ia mengacak rambutnya frustrasi. "Fix! Ini tipe-tipe orang yang kalau ketemu aku bakalan langsung pingsan liat bajuku, atau langsung ngasih pencerahan tiga jam tanpa henti!"
Bagi Aurel, pria seperti Rasyid adalah kutub yang sama sekali berseberangan dengannya. Rasyid adalah gambaran keteraturan, dogma, dan kehidupan bertembok tinggi. Sedangkan Aurel adalah kebebasan yang acak, suara musik keras, dan keputusan spontan.
Bagaimana bisa ayahnya berpikir dua manusia ini bisa disatukan dalam satu atap?
Ponsel Aurel di samping laptop berdering nyaring. Nama Maya tertera di layarnya.
Aurel menggeser tombol hijau dan menempelkan benda itu ke telinganya. "May..."
"Rel! Kamu beneran nggak papa?!" suara Maya di ujung telepon langsung menyambar tanpa jeda. "Kemarin malam pas masuk rumah raut mukamu aneh banget. Kamu dipukulin sama Pak Hamdan?!"
"Nggak," jawab Aurel lesu. "Lebih parah dari itu."
"Hah? Maksudmu?"
"Aku dijodohin."
Hening sejenak di saluran telepon. Lalu, terdengar suara batuk tersedak dari Maya. "Kamu... bercanda kan, Rel? Ini bukan prank April Mop terlambat kan?"
"Aku serius, Maya Larasati," Aurel mendesah berat. "Sama ustadz. Anak kiai punya pesantren besar di Arunika Timur."
"Demi apa?!" teriak Maya histeris, membuat Aurel menjauhkan ponselnya beberapa sentimeter dari telinga. "Aurel Nathania... mau dinikahin sama ustadz?! Kamu yang kalau denger azan kadang masih sibuk milih lipstik?!"
"Maya, please, jangan bikin aku tambah stres," ringis Aurel. "Ayah bilang pertemuan kelurga resminya nanti sore. Hari ini! Katanya mereka mau makan malam di restoran."
"Terus kamu mau gimana? Nurut gitu aja?"
Aurel mengepalkan tangannya di atas seprai. "Nggak akan. Aku bakal bikin acara makan malam ini gagal. Aku bakal tunjukin ke ustadz itu kalau dia salah besar kalau mau nikah sama cewek kayak aku."
Pukul lima sore, sebuah restoran bergaya Jawa klasik di pinggiran Kota Arunika tampak tenang. Gemericik air kolam dan alunan musik gamelan pelan melengkapi aroma rempah-rempah yang menusuk hidung.
Hamdan Nathan duduk di sudut ruangan VIP bersama Aurel. Pria paruh baya itu mengenakan batik tulis lengan panjang berwarna gelap yang anggun. Tatapannya dingin, namun ada riak kegelisahan yang coba ia sembunyikan.
Di sebelahnya, Aurel duduk dengan posisi tubuh yang disengaja terkesan tak acuh.
Aurel sengaja memilih pakaian yang tahu betul akan membuat ayahnya geram: kaus putih polos berpotongan agak longgar yang dipadu dengan jaket denim oversized, celana jins hitam yang sedikit koyak di bagian lutut, dan sepatu kets putih yang sudah agak kusam. Rambut bergelombangnya dibiarkan terurai liar tanpa riasan tebal—hanya lipstik nude yang tipis.
Hamdan melirik pakaian putrinya, membuang napas berat, namun memilih tidak memulainya dengan pertengkaran. "Jaga sikapmu nanti, Aurel. Kiai Abdul adalah orang yang sangat dihormati."
"Ayah yang minta aku datang," balas Aurel tanpa menoleh. "Ini aku. Mau terima atau nggak, terserah."
Sebelum Hamdan sempat membalas, pintu kayu ruang VIP bergeser terbuka.
Seorang pria sepuh bertubuh tegap dengan busana serba putih masuk terlebih dahulu. Wajahnya dihiasi janggut putih tipis, dan matanya memancarkan kehangatan yang instan. Di belakangnya, seorang wanita paruh baya berkerudung hijau tua tersenyum ramah.
Dan di barisan paling belakang, melangkah masuk pria yang gambar wajahnya sempat dipandangi Aurel tadi pagi di laptop.
Muhammad Rasyid Al-Faruqi.
Aslinya, Rasyid terlihat lebih tinggi dari yang Aurel bayangkan. Ia mengenakan kemeja koko bahan katun halus berwarna krem lembut, celana kain hitam berpotongan rapi, serta peci hitam. Tidak ada sorban di bahunya hari ini, namun pembawaannya yang tenang membuat atmosfer ruangan itu mendadak berubah hening.
"Assalamu’alaikum, Pak Hamdan," sapa Kiai Abdul Faruqi dengan suara bass yang mantap namun hangat.
"Wa'alaikumsalam Warahmatullah... Kiai Abdul, Ibu Nur, mari silakan duduk," Hamdan berdiri dengan cepat, menyalami Kiai Abdul dan Rasyid dengan sangat hormat.
Aurel terpaksa berdiri. Ketika Kiai Abdul dan Ibunya menatapnya, Aurel mengangguk pelan dan menyalami wanita paruh baya bernama Nur Aini tersebut. Nur Aini menggenggam jemari Aurel dengan hangat, menatap matanya dengan kelembutan yang membuat benteng pertahanan Aurel sedikit goyah.
"Ini Aurel ya? Cantik sekali, Masya Allah..." bisik Nur Aini tulus.
Aurel hanya bisa tersenyum kaku. "Makasih, Bu."
Lalu, giliran Rasyid yang berdiri di hadapannya.
Untuk pertama kalinya, pandangan mata mereka bertemu secara langsung. Rasyid tidak menyalami tangan Aurel; pria itu hanya mengatupkan kedua tangannya di depan dada sembari menundukkan kepala sedikit.
"Assalamu'alaikum, Mbak Aurel," sapa Rasyid pelan.
Suaranya persis seperti di video—tenang, jernih, dan seperti tidak memiliki riak emosi berlebih.
"Wa'alaikumsalam," jawab Aurel pendek, sengaja menatap Rasyid dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan menilai, berharap pria itu merasa risih.
Namun Rasyid tidak menyorotkan tatapan terganggu. Ia hanya mengangguk pelan lalu duduk di sebelah ayahnya, tepat di seberang meja dari posisi duduk Aurel.
Makan malam dimulai dengan percakapan hangat antara Hamdan dan Kiai Abdul. Mereka membicarakan kenangan lama, perkembangan kota, hingga urusan pesantren. Nur Aini sesekali menanyakan kuliah Aurel dengan nada ramah, yang dijawab Aurel dengan kalimat-kalimat singkat namun tetap sopan—ia masih memiliki tata krama untuk tidak bersikap kasar pada orang tua.
Namun sepanjang waktu itu, Aurel bisa merasakan bahwa Rasyid hampir tidak menyentuh makanan berlebih dan lebih banyak mendengarkan. Pria itu tidak pernah menatap Aurel secara terang-terangan, namun juga tidak terlihat menghindari keadaannya.
Hingga akhirnya, Kiai Abdul berdehem pelan, menghentikan denting sendok di atas piring.
"Pak Hamdan, Aurel..." Kiai Abdul membuka suara. "Maksud kedatangan kami malam ini tentu bukan sekadar makan malam bersama. Kita semua tahu ada niat baik yang ingin kita sambung antara dua keluarga ini."
Aurel mengepalkan tangannya di bawah meja. Ini dia, batinnya. Ia bersiap untuk membuka suara, menyusun kata-kata penolakan paling tajam yang sudah ia siapkan sejak siang.
Namun, sebelum Aurel sempat mengatupkan bibirnya untuk bicara, Rasyid tiba-tiba mengangkat tangannya pelan.
"Bapak... Bah..." Rasyid memotong dengan lembut. Pria muda itu menatap ayahnya, lalu beralih menatap Hamdan, sebelum akhirnya untuk pertama kali mengarahkan pandangannya lurus ke dalam netra Aurel.
"Bolehkah Rasyid bicara sebentar dengan Mbak Aurel? Hanya berdua, di luar ruangan ini?" tanya Rasyid.
Hamdan sempat ragu, namun Kiai Abdul tersenyum dan mengangguk. "Tentu, Le. Bicaralah. Kalian yang akan menjalani, kalian yang harus saling mengenal."
Aurel mengerutkan kening. Ia mendengus pelan, lalu berdiri dari kursinya. "Boleh. Lagian ruangan ini rasanya makin panas."
Aurel melangkah keluar dari ruangan VIP lebih dulu tanpa menunggu Rasyid.
Sisi luar restoran adalah sebuah selasar kayu yang menghadap ke kolam ikan koi dengan taman bambu buatan. Angin malam bertiup pelan, membawa aroma tanah basah bekas siraman tanaman.
Aurel bersedekap, bersandar pada pilar kayu selasar, menatap riak air kolam. Terdengar langkah kaki beratap halus mendekat, lalu berhenti sekitar satu meter di sampingnya. Rasyid tidak berdiri terlalu dekat, memberi jarak yang cukup luas di antara mereka.
"Kamu mau ceramah di sini?" tembak Aurel langsung tanpa basa-basi. Suaranya dingin dan penuh defensif. "Mau ngomong kalau baju yang aku pakai ini nggak sopan? Atau mau jelasin soal dosa anak yang bantah orang tua?"
Rasyid diam sejenak. Pria itu mengalihkan pandangannya ke arah ikan-ikan koi yang berenang di bawah pendar lampu taman.
"Saya tidak punya hak untuk menghakimi pakaian atau hidup Mbak Aurel," suara Rasyid terdengar mengalun rata, tidak bersaing dengan angin malam. "Dan saya datang ke sini bukan untuk memberikan ceramah."
Aurel menoleh, menatap samping wajah Rasyid dengan alis terangkat. "Trus mau apa? Pamer kalau kamu ustadz muda yang penurut sama orang tua?"
Rasyid memutar tubuhnya sedikit, kini benar-benar menghadap Aurel. Di bawah pendar lampu taman yang remang, mata cokelat gelap milik Rasyid terlihat sangat jujur. Tidak ada kesombongan, tidak ada nada menggurui.
"Saya tahu perjodohan ini bukan sesuatu yang Mbak Aurel inginkan," ujar Rasyid pelan. "Saya bisa melihatnya dari cara Mbak duduk, cara Mbak menatap, dan... baju yang Mbak pilih hari ini."
Aurel tersentak pelan. Ternyata pria ini sadar.
"Terus kalau udah tahu, kenapa kamu nggak nolak?" tantang Aurel. "Kamu kan anak kiai. Kamu punya posisi. Kamu bisa dibilang 'nggak' sama ayahmu, kan?"
Rasyid menarik napas pelan, membiarkan udara malam mengisi dadanya sebelum menjawab.
"Saya sempat keberatan ketika Bah Abdul pertama kali menyampaikan hal ini," pengakuan Rasyid membuat Aurel terbelalak kaget. Rasyid melanjutkan, "Karena saya tahu, kita hidup di dunia yang sangat berbeda. Memaksa dua orang yang tidak saling mengenal untuk bersatu hanya akan melahirkan luka jika tidak didasari kesiapan."
"Nah! Itu tahu!" potong Aurel cepat. "Terus kenapa kamu ada di sini sekarang?!"
Rasyid menatap Aurel tanpa berkedip. Ada sebuah keseriusan yang dalam di matanya.
"Karena Bah Abdul memohon pada saya. Ada janji dan amanah masa lalu yang beliau pegang teguh terhadap keluarga Mbak Aurel. Sesuatu yang tidak bisa saya abaikan begitu saja sebagai seorang anak."
Aurel mendengus remeh. "Jadi kamu cuma anak berbakti yang rela ngorbanin hidupmu demi janji orang tua? Dangkal banget."
"Mungkin," Rasyid tidak membantah tuduhan itu. "Tapi saya di sini bukan untuk mengorbankan hidup siapa pun. Termasuk hidup Mbak Aurel."
Rasyid jeda sejenak. Ia melangkah satu tapak lebih mendekat, namun tetap menjaga jarak aman.
"Mbak Aurel..." panggil Rasyid dengan nada yang sangat lembut, membuat amarah Aurel yang membubung tinggi mendadak tertahan di udara. "Kalau Mbak Aurel bener-bener merasa pernikahan ini adalah sebuah kejahatan buat hidup Mbak... katakan sekarang pada saya."
Aurel menatap pria di depannya dengan dahi berkerut bingung. "Maksudmu?"
"Katakan bahwa Mbak sangat menolaknya. Biar saya yang akan melangkah ke dalam ruangan itu, dan saya yang akan memberitahu Bah Abdul serta Pak Hamdan bahwa pernikahan ini batalkan. Saya yang akan menanggung semua kemarahan Pak Hamdan dan rasa kecewa keluarga saya."
Aurel terpaku. Angin malam terasa berhenti bertiup di sekitar mereka.
Mata wanita itu membelalak tak percaya. Pria yang baru saja ia labeli sebagai 'ustadz penurut' dan 'simbol pengekangan' justru menawarkan sebuah jalan keluar. Jalan keluar yang menaruh seluruh beban kesalahan di pundaknya sendiri demi membebaskan Aurel.
"Kamu... bercanda kan?" bisik Aurel. Suaranya tiba-tiba kehilangan ketajaman yang sejak tadi ia bangun.
"Saya tidak pernah bercanda untuk hal seperti ini," jawab Rasyid tenang. "Pernikahan bukan penjara. Jika Mbak Aurel merasa ini adalah awal dari kehancuran hidup Mbak, saya tidak akan menjadi orang yang mengunci pintunya."
Aurel menatap Rasyid dalam-dalam. Mencari jejak kepalsuan, manipulasi, atau trik psikologis di wajah pria itu. Namun ia tidak menemukan apa-apa selain kejujuran yang polos dan ketenangan yang justru membalikkan seluruh pertahanan dirinya.
Lidah Aurel mendadak terasa kelu.
Kata 'batalkan' yang sejak tadi sore bergema riuh di dalam dadanya, kini menyangkut di tenggorokan, enggan untuk diucapkan.