Mo Tianxia pernah berdiri di puncak dunia.
Sebagai seorang kultivator yang telah mencapai Absolute Realm, tidak ada lagi lawan yang mampu menandinginya dan tidak ada lagi batas yang mampu menghalanginya. Namun, setelah mencapai segala sesuatu yang bisa dicapai, yang tersisa baginya hanyalah kebosanan.
Dalam sebuah keputusan yang tidak masuk akal bagi siapa pun, Mo Tianxia menghancurkan jiwanya sendiri dan memulai kembali kehidupannya dari nol.
Kini, ia terbangun dalam tubuh yang lemah dengan kultivasi paling dasar.
Tidak ada kekuatan absolut. Tidak ada kedudukan tinggi. Tidak ada nama besar.
Hanya pengetahuan tentang jalan yang pernah ia tempuh.
Dengan sikap tenang dan pengalaman yang jauh melampaui usianya, Mo Tianxia kembali melangkah di jalan kultivasi. Sekte, turnamen, dunia rahasia, para jenius, dan berbagai ancaman mulai muncul di hadapannya.
Namun kali ini, tujuannya bukan menjadi yang terkuat. Ia hanya ingin menikmati kembali perjalanannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Malam hari, sebagian besar disciple luar sudah tertidur lelap setelah hari latihan yang panjang. Mo Tianxia, seperti biasa, terjaga lebih lama dari yang lain—bukan karena kesulitan tidur, melainkan karena ia menggunakan waktu malam untuk benar-benar berlatih tanpa perlu menahan diri.
Ia menyelinap keluar dari asrama dengan langkah tanpa suara, menuju sebuah area terpencil di lereng gunung yang jarang dikunjungi disciple lain—tempat yang ia temukan dalam beberapa minggu terakhir melalui eksplorasi diam-diam.
Di sana, terlindung oleh formasi bebatuan alami dan pepohonan lebat, ia akhirnya bisa melepaskan sedikit kendali yang selama ini ia jaga ketat di depan umum.
Ia duduk bersila di atas batu datar, menutup mata, membiarkan Qi mengalir masuk ke tubuhnya dengan kecepatan yang jauh lebih mendekati kemampuannya yang sebenarnya.
Prosesnya masih jauh lebih lambat dibandingkan kecepatan yang pernah ia miliki sebagai kultivator Absolute Realm—tubuh kecilnya tetap memiliki batasan fisik yang tidak bisa ia langgar begitu saja. Namun perbedaannya dengan apa yang ia tunjukkan di depan Chen Feng dan disciple lain sangat signifikan.
'Ini baru terasa benar,' pikirnya, merasakan aliran Qi yang mengalir lebih deras melalui meridiannya.
Dalam waktu kurang dari satu jam, ia berhasil mencapai kemajuan yang setara dengan tiga hari latihan normal jika ia masih menahan diri di depan umum. Setelah selesai, ia membuka mata, menatap langit malam yang dipenuhi bintang.
'Aneh,' pikirnya, sedikit geli dengan situasinya sendiri. 'Dulu aku tidak pernah perlu menyembunyikan kekuatanku dari siapa pun. Sekarang aku menghabiskan separuh energi hanya untuk terlihat biasa saja.'
Namun ia tidak menyesalinya.
Ada sesuatu yang menarik dalam permainan ini—menyeimbangkan antara kemajuan sebenarnya dengan citra yang ingin ia jaga di depan orang lain. Sebuah tantangan baru yang tidak pernah ia hadapi sebelumnya, meski jauh berbeda dari tantangan pertarungan atau pemahaman Dao yang biasa ia hadapi di kehidupan sebelumnya.
Ia baru saja hendak kembali ke asrama ketika telinganya yang tajam menangkap suara langkah kaki—pelan, hati-hati, namun tetap terdengar bagi seseorang dengan indranya yang telah terlatih selama seribu tahun.
Ia bersembunyi di balik bebatuan, mengamati.
Seorang sosok berjubah gelap bergerak melalui hutan di bawah lereng gunung, jauh dari jalur patroli normal disciple sekte, bergerak dengan cara yang jelas menunjukkan seorang penyusup yang ahli.
'Menarik,' pikir Mo Tianxia, mengamati dengan seksama. 'Bukan disciple sekte. Gerakannya terlalu terlatih untuk sekadar disciple luar yang tersesat.'
Sosok itu berhenti sejenak di dekat perbatasan hutan, seolah memeriksa sesuatu, sebelum melanjutkan bergerak menjauh dari kompleks sekte, menghilang ke dalam kegelapan hutan yang lebih dalam.
Mo Tianxia menimbang situasi itu sejenak. 'Aku bisa mengikutinya. Tapi, itu akan berisiko menunjukkan kemampuanku yang sebenarnya jika ternyata ini lebih rumit dari sekadar penyusup biasa.'
Ia memutuskan untuk tidak mengambil risiko malam itu, memilih untuk mengingat lokasi dan arah sosok itu bergerak, berencana melaporkannya secara tidak langsung kepada Chen Feng keesokan harinya—cukup untuk memberi peringatan tanpa mengungkap seberapa jauh ia bisa mengamati dalam kegelapan.
Ia kembali ke asrama dengan pikiran yang lebih waspada dari biasanya. 'Sekte ini mungkin tidak seaman yang terlihat. Aku harus lebih memperhatikan apa yang terjadi di sekitar. Kalau tidak mungkin akan terjadi hal yang lebih merepotkan nantinya.'