Li Zie seorang dokter dari abad 21 justru mengalami kecelakaan, dan jiwanya justru berteransmigrasi ke tubuh seorang wanita lemah di jaman kuno.
Li Zie pun berniat membalas penderitaan wanita yang namanya juga sama, Li Zie. Ia pun menjadi tabib di sana dan fokusnya hanya mengumpulkan harta, ia juga memiliki ruang dimensi, Li Zie menyembunyikan identitasnya dengan sangat rapi.
Tapi bagai mana jadinya jika ketenangan itu hanya sesaat, karena pria yang berkuasa di dinasti Xuan. Yaitu Kaisar Xuan Long justru mengetahui identitas aslinya.
Seperti apa kelanjutannya? yuk mampir!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Fitria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
"Nona, ayo pergi. Perutku sudah mau meledak," bisik Ji Yu sambil mengusap wajahnya yang masih cemong arang.
"Tunggu dulu, Ji Yu. Makanan di sini masih terlalu banyak, sayang jika kita tak bawa bekal," ujar Li Zie tersenyum penuh arti sedikit menyeramkan karena wajahnya seperti pantat panci.
"Itu pemborosan kalau didiamkan begitu saja," ujar Li Zie, kebetulan dapur cukup sepi. Sebagian besar pelayan sedang sibuk bergantian mengurus Li Mei, yang kini jadi semakin kejam.
Hanya tersisa Kepala Koki dan satu asisten yang sedang membelakangi mereka, sibuk mencuci tangan di bak air sambil bersenandung kecil. Ini kesempatannya. Dengan gerakan yang tidak ada anggun-anggunnya sama sekali.
Li Zie merangkak menyembulkan kepala berbalik menghadap meja, mengintip makanan apa saja yang ada di sana, matanya melotot tajam dan tersenyum jelek, "Makanan ini milikku," batin Li Zie.
Ji Yu membuat ulah dengan gerakan cepat ia mematikan lampu minyak di dapur bahkan yang ada di atas pun Ji Yu sambar secepat kilat dan melemparkan asal dengan bunyi cukup nyaring.
Membuat Li Zie melotot karena terkejut. Tapi kemudian justru Li Zie menyeringai melihat anak murid nya justru membuat ulah hingga tumpukan kayu di sudut terbakar.
Wush!
Wush!
Wush!
Tangan Li Zie bergerak secepat kilat. Nampan berisi ayam, sepiring besar pangsit, hingga mangkuk-mangkuk kecil berisi manisan buah, lenyap dalam sekejap begitu bersentuhan dengan Cincin Ruang Dimensi-nya. Meja yang tadinya penuh sesak, mendadak melompong dalam hitungan detik.
"Nona, sudah...Nanti ketahuan..." ujar Ji Yu panik melihat kelakuan majikannya yang semakin menjadi-jadi.
Tapi Li Zie belum puas. Matanya tertuju pada sebuah panci perunggu berukuran besar yang masih mengepul di atas tungku kecil. Aroma sup sarang burung yang mahal menyerbak dari sana.
"Sayang kalau kuahnya dingin..." gumam Li Zie, seringai Li Zie licik.Tanpa ragu, ia mendekati tungku itu.
Sedangkan kepala koki dan asistennya fokus pada tumpukan kayu, setelah beberapa saat barulah tersadar dan menyiram api dengan sebak air, hingga api itu padam dan hanya tinggal asap yang mengepul.
Kepala Koki mulai berbalik, dan melihat sosok kecil yang tak begitu jelas dengan cahaya remang-remang, yang ada di dapur, "Eh, siapa itu?!"
Belum sempat si koki menyelesaikan kalimatnya, Li Zie sudah menyentuh pinggiran panci panas itu. Menggunakan sedikit tenaga dalamnya agar tangannya tidak melepuh, ia melakukan gerakan melempar yang sangat santai.
Wushh!!
Panci raksasa berisi sup panas itu menghilang total, tersedot masuk ke dalam dimensi cincinnya seolah-olah ditelan lubang hitam.
"HAH?! MANA SUPNYA?!" teriak si Kepala Koki histeris. Ia mengucek matanya berkali-kali. Sedetik lalu ada panci besar di sana, sekarang hanya tersisa tungku kosong yang masih berasap.
Li Zie tidak membuang waktu. Ia menyambar satu buah apel yang tertinggal di pojokan, menggigitnya dengan bunyi krak! yang keras, lalu melompat ke arah Ji Yu.
"Lari, Ji Yu! Sebelum dia sadar kalau dapurnya sudah dirampok hantu!" teriak Li Zie sengaja membuat onar.
Mereka berdua melesat keluar jendela dapur tepat saat si Kepala Koki mulai menjerit ketakutan.
"Setan!!" jerit si kepala koki.
mengira ada roh halus yang sedang kelaparan di kediaman Menteri Li.
Para penjaga segera berlarian ke arah dapur besar.
Dapur kembali ramai oleh para penjaga dan kembali menghidupkan lampu. Kepala Koki melotot saat melihat meja yang tadi penuh dengan makanan kini kosong melompong.
Bahkan Mangkuk yang berisi makanan yang tentunya masih utuh, kini sudah menghilang tanpa jejak. Seakan dirinya memang belum masak.
Bahkan piring dan mangkuk di sana semua lenyap, lalu penjaga yang menggeledah menemukan empat piring kosong di kolong meja.
Kepala Koki yang memang sudah berumur, jatuh pingsan melihat keanehan itu, seakan tadi benar-benar ada setan, makanan semua di sana habis total tak tersisa, bahkan panci besar yang masih baru juga ikut menghilang.
Sedangkan para penjaga menggeledah setiap sudut dapur untuk menangkap pencuri, sedangkan sebagian penjaga segera berlarian mencari jejak pencuri makanan, meski mereka merasa sedikit merinding.
Kembali ke paviliun reot.
Li Zie menjatuhkan diri ke ranjang kayunya yang keras. Hingga berderit cukup nyaring, Li Zie meringis.
"Tulang ekorku!" Li Zie meringis dengan wajahnya yang masih begitu hitam bagai pantat panci, ia lupa jika ranjang itu keras. Tidak seperti di jaman modern miliknya, yang sangat lembut dan empuk.
"Guru! sepertinya Guru kualat, " ujar Ji Yu ikut meringis, seakan ikut merasakan sakitnya.
"Diam! Kau yang kualat karena meledek ku! " ujar Li Zie galak, gengsi nya begitu tinggi, ia tak Terima di nasihat apa lagi di katai.
Ji Yu hanya cengengesan, meski gurunya temperamental . Tapi Ji Yu suka, karena Guru nya memperlakukan dirinya dengan baik.