Kaelen—seorang pendekar dengan pedang besi berkarat yang menyimpan misteri dimensi lain—bersama Lyra, seorang alkemis cerdas berdarah dingin, nekat menerobos reruntuhan kuil kuno peninggalan Mazhab Pedang Purba.
Diintai oleh bayangan mematikan dari Faksi Tengkorak Darah dan desakan ancaman dari pengkhianat faksi lokal bernama Vance, perjalanan mereka bukan sekadar pelarian, melainkan perburuan berbahaya demi menemukan Jiwa Artefak Reruntuhan Langit. Menghadapi entitas Qi gelap, formasi penjara kuno, dan bisikan purba yang menguji jiwa, Kaelen dan Lyra harus mempertaruhkan nyawa untuk mengungkap kebenaran di balik masa lalu yang terkubur, sebelum perangkap pengkhianatan merenggut nyawa mereka di ujung lorong yang sunyi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liam Harrison, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Gema Petir di Alun-Alun Langit Besi
Suara dentang lonceng darurat dari menara pusat Gerbang Langit Besi terus bergemuruh, membelah langit pagi yang cerah dengan irama yang memekakkan telinga. Gelombang suara berbahan baku tenaga spiritual itu menyebar ke segala penjuru mata angin, mengirimkan sinyal bahaya ke pos-pos militer terdekat dan markas besar aliansi sekte di daratan tengah. Di antara puing-puing pos pemeriksaan yang berserakan, puluhan prajurit berzirah perak bergidik ngeri, mematung di tempat tanpa ada yang berani mengangkat senjata ke arah Kaelen. Aura hampa yang terpancar secara pasif dari tubuh pemuda itu menciptakan medan gravitasi tak kasat mata, membuat siapa pun yang berniat mendekat merasa seolah-olah sedang berjalan menuju tiang gantung kematian.
Lyra berjalan di sisi kiri Kaelen, melirik sekilas ke arah para penjaga yang gemetar ketakutan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis penuh kemenangan. "Tampaknya sambutan mereka jauh lebih meriah dari yang kita perkirakan," ucapnya pelan, menjaga suaranya agar tetap tenang di tengah bisingnya alarm darurat.
Kaelen tidak merespons dengan kata-kata. Matanya menyapu jalan raya utama yang terbentang lebar di hadapan mereka—sebuah jalanan berlapis pualam putih bersih yang langsung menghubungkan gerbang perbatasan dengan distrik inti aliansi. Di kejauhan, kepulan debu tebal mulai membumbung tinggi, menandakan bahwa pasukan bala bantuan dari garnisun terdekat sedang bergerak cepat menuju ke lokasi mereka dengan menunggangi kuda-kuda spiritual bersayap.
"Kita tidak punya banyak waktu untuk berjalan santai," kata Kaelen dingin. "Begitu pasukan elit aliansi tiba, mereka akan mengerahkan formasi penumpasan massal. Kita harus terus mendesak maju sebelum para tetua agung turun tangan secara langsung."
Tanpa membuang waktu, Kaelen mempercepat langkah kakinya, meninggalkan area reruntuhan gerbang di belakang. Lyra mengikuti dengan sigap, langkah mereka seirama, memancarkan keyakinan mutlak yang membuat para prajurit penjaga semakin ciut nyali untuk menghalangi jalan.
Serangan Pasukan Garnisun Pertama
Belum sempat mereka melangkah terlalu jauh dari gerbang, deru angin kencang bergemuruh di atas kepala. Langit mendadak menjadi gelap saat belasan sosok bayangan melesat turun dari angkasa, mendarat dengan hantaman keras tepat di tengah jalan pualam putih di hadapan Kaelen dan Lyra.
Debu mengepul tebal, menyembunyikan sosok-sosok yang baru datang. Begitu asap mereda, tampaklah satu pleton pasukan elit berzirah emas dengan lambang matahari terbit di dada mereka—pasukan khusus penjaga perbatasan langsung di bawah komando Aliansi Sekte Daratan Tengah, yang dikenal sebagai Legion Surya Abadi.
Memimpin barisan pasukan tersebut adalah seorang jenderal paruh baya bernama Jenderal Baifeng. Ia mengenakan jubah perang merah menyala, menunggangi seekor singa bersayap putih yang mengepakkan sayapnya perlahan sambil mengeluarkan geraman rendah. Jenderal Baifeng membawa sebuah tombak panjang berenergi api yang memancarkan suhu panas luar biasa hingga membuat aspal pualam di sekitarnya mendidih.
"Berhenti di situ, para pelaku makar!" suara Jenderal Baifeng menggelegar bagai petir di siang bolong, menatap Kaelen dengan sorot mata penuh amarah dan arogansi yang meluap-luap. "Berani-aninya kalian menghancurkan pos pemeriksaan Gerbang Langit Besi dan memicu lonceng darurat aliansi! Siapa kalian yang memberikan izin untuk membuat kekacauan di wilayah suci ini?"
Kaelen berhenti melangkah. Ia menatap datar ke arah sang jenderal dari jarak sepuluh meter, sementara tangannya perlahan membelai gagang pedang baja gelap di pinggangnya.
"Izin?" Kaelen mendengus dingin, suaranya mengandung gelombang tekanan spiritual yang langsung membuat singa bersayap yang ditunggangi Baifeng merendahkan tubuhnya karena ketakutan. "Apakah leluhur kalian meminta izin ketika mereka membantai orang-orang tak berdosa di era Sekte Langit? Apakah para tetua kalian meminta izin ketika mereka menjarah esensi purba dari tanah ini? Kami tidak butuh izin untuk menagih hutang darah."
Wajah Jenderal Baifeng memerah padam mendengar jawaban tersebut. Urat-urat di lehernya menonjol keluar. Sebagai salah satu komandan militer paling disegani di daratan tengah, belum pernah ada seorang pun yang berani berbicara kepadanya dengan nada meremehkan seperti itu, apalagi seorang pemuda asing yang muncul dari wilayah perbatasan antah-berantah.
"Keparat sombong! Rupanya kau lelah hidup!" bentak Baifeng murka. Ia mengangkat tombak apinya tinggi-tinggi ke udara. "Legion Surya Abadi, dengar perintahku! Tangkap hidup-hidup wanita di sampingnya, dan cincang pemuda itu menjadi abu! Serang!"
Seketika itu juga, puluhan prajurit elit berzirah emas menerjang serentak. Mereka bergerak dalam formasi cakar burung garuda, mengalirkan tenaga dalam elemen api murni ke seluruh ujung senjata mereka, menciptakan lautan api yang menyapu permukaan jalan pualam putih menuju arah Kaelen dan Lyra.
Lyra mendengus pelan. Ia melangkah sedikit ke depan, merogoh kantung pinggangnya dan mengeluarkan tiga botol kristal kecil berisi cairan hijau kebiruan pekat. "Biar aku yang menghadapi barisan depan mereka," bisiknya kepada Kaelen.
Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, Lyra melemparkan botol-botol tersebut ke udara. Begitu cairan di dalam botol bersentuhan dengan gelombang panas dari api musuh, botol itu meledak secara instan, melepaskan kabut toksin pemurni yang sangat pekat.
Desisss...
Reaksi kimia yang luar biasa terjadi di udara. Lautan api yang dikobarkan oleh para prajurit aliansi mendadak padam seketika saat bersentuhan dengan uap hijau tersebut, berubah menjadi kepulan asap putih berbau belerang. Para prajurit elit yang berada di barisan terdepan terpekik tertahan ketika kabut beracun itu meresap melalui celah zirah mereka, melumpuhkan aliran Qi di dalam dantian mereka dalam hitungan detik dan membuat mereka jatuh tersungkur lemas ke atas lantai pualam.
Jenderal Baifeng terbelalak kaget. Ia tidak menyangka serangan elemen api kebanggaan pasukannya bisa dimentahkan begitu mudah oleh ramuan seorang gadis muda.
"Penyihir licik!" maki Baifeng. Ia melompat turun dari punggung singanya, mengalirkan seluruh tenaga dalamnya ke dalam tombak api miliknya, lalu melesat sendiri menembus kepulan asap untuk menusuk dada Lyra secara langsung.
Namun, sebelum ujung tombak Baifeng sempat menyentuh targetnya, sebuah bayangan hitam melintas bagai kilat di hadapan Lyra.
Clang!
Suara benturan logam yang sangat nyaring menggema keras, memercikan bunga api astral yang menyilaukan mata. Kaelen sudah berdiri tegak di sana, menahan tusukan tombak Jenderal Baifeng hanya dengan menggunakan satu tangan yang memegang gagang pedang baja gelapnya. Pedang itu bahkan belum sepenuhnya keluar dari sarungnya, namun gelombang resonansi hampa yang terpancar dari bilahnya berhasil menghentikan momentum serangan Baifeng seketika tanpa pergerakan yang berarti.
Jenderal Baifeng merasakan aliran energi di dalam tubuhnya mendadak membeku. Ia menatap Kaelen dengan mata terbelalak lebar, merasakan teror yang belum pernah ia rasakan sepanjang sejarah karier militer ratusan tahunnya.
"Kekuatan ini... apa-apaan ini..." bisik Baifeng terbata-bata, berusaha menarik kembali tombaknya, namun senjata itu seolah tertริดs lekat pada bilah pedang Kaelen.
"Permainan ini sudah selesai, Jenderal," ucap Kaelen dingin.
Kaelen memutar pergelangan tangannya sedikit saja. Gelombang kejut hampa meluncur dari pedang baja gelap, menghantam dada Jenderal Baifeng telak tanpa ampun.
Bum!
Tubuh Baifeng terpental mundur sejauh puluhan meter, menabrak altar batu di pinggir jalan hingga hancur berkeping-keping. Jenderal itu memuntahkan darah segar dalam jumlah banyak, matanya memutar ke atas sebelum akhirnya jatuh pingsan tak berdaya di atas reruntuhan batu. Melihat komandan mereka dikalahkan hanya dalam satu gerakan tunggal, sisa prajurit Legion Surya Abadi yang belum lumpuh kehilangan seluruh semangat juang mereka. Mereka menjatuhkan senjata dan berlari kocar-kacir menyelamatkan nyawa masing-masing.
Bayangan di Atas Menara Aliansi
Di dalam ruang meditasi tertinggi di Menara Utama Aliansi Sekte Daratan Tengah—sebuah bangunan megah berlapis emas yang menjulang tinggi menembus awan—seorang pria paruh baya berjubah keemasan membuka matanya perlahan. Pria itu adalah Penatua Tertua Aliansi, Grand Master Tian Guan, penguasa absolut yang mengendalikan seluruh kebijakan dan keputusan di daratan tengah selama lebih dari tiga abad terakhir.
Di hadapannya, sebuah cermin pualam transparan yang menampilkan situasi pertempuran di jalan utama perbatasan berangsur-angsur memudar setelah kekalahan Jenderal Baifeng. Ekspresi Tian Guan tetap tenang, tidak menunjukkan sedikit pun kemarahan ataupun kepanikan, meskipun pasukan elitnya dipukul mundur dengan begitu mudah.
Seorang murid pelayan berlutut dengan kepala menunduk di dekat pintu masuk ruangan meditasi tersebut. "Lapor, Grand Master... Pasukan garnisun pertama di bawah pimpinan Jenderal Baifeng telah dikalahkan oleh pemuda asing itu. Identitas mereka belum sepenuhnya terkonfirmasi, namun aura energi yang digunakan pemuda tersebut sangat mirip dengan... dengan esensi artefak purba yang hilang di wilayah barat."
Tian Guan mengusap jenggot putihnya perlahan. Bibirnya menyunggingkan senyuman tipis yang terasa begitu dingin dan mengerikan.
"Biarkan mereka datang," suara Tian Guan terdengar tenang, bergema lembut di dalam ruangan yang luas itu. "Selama puluhan tahun, para tetua bodoh dari faksi bawah mencoba mencari fragmen artefak itu tanpa hasil. Sekarang, pemuda itu dengan sukarela mengantarkan seluruh esensi kosmik tersebut langsung ke hadapan kita di atas piring perak."
"Tapi, Grand Master... kekuatan pedang pemuda itu mampu menembus pertahanan tingkat tinggi dengan sangat mutlak. Apakah kita perlu mengerahkan formasi Sepuluh Penjuru Dewa Perang untuk menyambutnya?" tanya sang murid dengan nada ragu-ragu.
Tian Guan berdiri dari posisinya, melangkah perlahan ke arah jendela besar yang langsung menghadap ke arah jalan raya utama tempat Kaelen dan Lyra berjalan mendekat. Sorot mata setajam elang terpancar dari balik kerutan di wajahnya.
"Tidak perlu," jawab Tian Guan tegas. "Biarkan dia melewati distrik luar. Semakin dekat dia ke menara ini, semakin mudah bagi kita untuk menyerap seluruh esensi artefak itu ke dalam formasi inti aliansi. Siapkan altar penyerap jiwa di lantai dasar. Hari ini, keabadian yang kita impikan selama ini akhirnya akan berada dalam genggaman."
Murid pelayan itu membungkuk dalam-dalam, lalu mundur teratur meninggalkan ruangan. Di luar menara, gema langkah Kaelen dan Lyra terus mendekat, membawa badai keadilan yang siap meruntuhkan singgasana kekuasaan para penguasa korup di daratan tengah. Perjalanan epos menuju puncak pertempuran akhir kini telah memasuki babak penentuan.