6 mahasiswa KKN datang ke desa terpencil untuk pengabdian. Di gapura desa, mereka disambut warga yang ramah. Tapi aneh, semua rumahnya lapuk, tidak ada listrik, dan kuburan ada di setiap halaman rumah. Maya, yang indigo, berbisik, "Sel, kaki mereka nggak napak tanah..." Malam pertama, Riko iseng memotret gapura desa. Saat foto dilihat, yang berdiri di foto bukanlah 6 mahasiswa... tapi 6 pocong dengan wajah mereka sendiri! Ternyata desa itu sudah mati 20 tahun lalu karena wabah. Dan setiap 20 tahun, mereka butuh 6 tumbal baru untuk menggantikan mereka. Dan tahun ini... giliran kami. Jangan pernah KKN di desa ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Melda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: OBOR PAK LURAH DAN DESA TANPA BAYANGAN
Obor itu semakin dekat.
Awalnya kami kira cuma satu titik cahaya kecil di ujung pematang sawah. Tapi lama-lama semakin besar, semakin terang, dan goyangnya tidak beraturan. Seperti seseorang yang berlari sambil membawa obor dengan panik, tersandung-sandung di tanah becek.
Riko masih di bibir sumur. Posisi duduknya tidak wajar. Lutut ditekuk sampai ke dada, kedua tangan memeluk lutut erat-erat. Baju KKN lapangan kami yang warna krem itu robek besar di bagian bahu kanannya, memperlihatkan goresan panjang berdarah. Tanah, lumut hijau, dan rambut-rambut hitam yang bukan miliknya menempel di mukanya. Matanya kosong menatap lurus ke dalam lubang sumur yang hitam pekat itu. Hitamnya tidak wajar. Bahkan cahaya senter HP kami tidak mampu menembus kedalamannya. Seolah-olah sumur itu tidak punya dasar.
"Riko! Riko! Tarik dia!" Maya menjerit sambil menarik tangan Riko. Aku ikut menarik. Tubuhnya berat sekali. Sangat berat. Seperti ada yang memegang kedua kakinya dari dalam sumur dan menahannya agar tidak bisa pergi. Kakinya dingin saat aku sentuh. Dinginnya seperti es.
"Riko, lepasin! Lihat kami!" Aku menampar pelan pipinya. Dia tidak merespon. Mulutnya komat-kamit. "Jangan... jangan ambil aku... ambil dia aja... Bima aja..."
Merinding. Aku dan Maya saling pandang. Riko sudah setengah kesurupan.
Akhirnya sumber cahaya itu sampai.
Pak Lurah. Pak Lurah Karjo.
Wajahnya yang tadi siang ramah, banyak senyum, dan menawarkan teh manis hangat untuk kami, sekarang tidak bisa dikenali. Pucat pasi seperti mayat. Keriput di dahinya terlihat sangat dalam tertimpa cahaya obor dari bawah. Matanya merah, berkaca-kaca, dan nafasnya ngos-ngosan seperti habis lari keliling desa. Sarung yang dia pakai penuh lumpur sampai ke lutut. Di tangan kirinya ada botol kaca kecil berisi minyak tanah, di tangan kanan obor bambu yang apinya menari-nari liar tertiup angin malam.
Dia berhenti tiga meter dari kami. Menatap sumur itu dengan tatapan yang campur aduk. Benci, takut, marah, dan putus asa.
"Kalian... kalian sudah buka sumur itu ya?" Suaranya pelan, hampir tidak terdengar, bergetar hebat. Bukan marah. Lebih seperti orang yang sudah tahu akhir ceritanya akan buruk.
Riko mendongak perlahan. Matanya yang kosong sekarang menatap Pak Lurah. "Pak... di dalam... ada tangan... banyak... narik Bima... Bima masih hidup Pak... dia manggil saya... dia bilang dingin..."
"JANGAN DISEBUT! JANGAN SEBUT NAMANYA!" Pak Lurah tiba-tiba membentak sekeras-kerasnya sampai kami bertiga kaget dan mundur selangkah. Bentakannya menggema di kebun singkong yang sepi. Obor di tangannya hampir jatuh ke tanah basah. Tangannya gemetar hebat. "Sudah kubilang! Pantangannya! Kalau satu sudah dibawa, jangan pernah sebut namanya lagi! Kalian mau dia ikut kalian terus?!"
Aku langsung merinding dari ujung kaki sampai kepala. Satu sudah dibawa.
Jadi Bima... sudah dianggap bukan bagian dari kami lagi? Sudah dianggap milik sumur itu?
Maya yang sudah nangis dari tadi berbisik, suaranya hampir hilang. "Maksudnya apa Pak? Tolong kami Pak... tolong jelasin... Bima teman kami Pak..."
Pak Lurah melihat kami satu per satu, lalu melihat lagi ke sumur itu. Dia jongkok, mendekatkan wajahnya yang bau minyak tanah, keringat, dan dupa yang menyengat ke wajah kami. Dia berbisik, sangat pelan, seperti takut didengar sesuatu dari dalam sumur.
"Dengarkan. Kalian anak kota tidak akan percaya. Tapi ini Desa Mati. Desa ini memang sudah mati dari tahun 1987."
"Desa Mati?"
"Dulu... tahun 1987... KKN juga seperti kalian. 7 mahasiswa dari Jogja. Universitas besar. KKN di sini. Desa ini masih ramai waktu itu. Mereka anak-anak pintar, sombong, tidak percaya pamali. Mereka juga buka sumur itu karena penasaran. Kata sesepuh desa jangan dibuka. Mereka buka. Malamnya... satu hilang. Besoknya satu lagi hilang. Sampai akhirnya..."
Pak Lurah berhenti. Menelan ludah.
"Cuma 2 yang pulang. Dua-duanya jadi gila. Sampai sekarang masih di Rumah Sakit Jiwa di Magelang. Suka teriak-teriak tengah malam bilang 'Bu Leha lapar, Bu Leha minta anak'."
"Bu Leha? Siapa Bu Leha Pak?"
Pak Lurah menatap sumur itu dengan penuh kebencian. "Sumur ini bukan sumur. Ini kuburan. Ini pintu. Pintunya Bu Leha."
"Bu Leha itu siapa Pak?"
"Ibu malang. Tahun 1985. Punya anak satu, perempuan, umur 6 tahun. Namanya Lastri. Anaknya sakit-sakitan, kejang-kejang. Warga bodoh sini nuduh anaknya kemasukan setan, dituduh jadi anak dukun santet. Warga bakar hidup-hidup anaknya di balai desa. Di depan Bu Leha. Bu Leha tidak bisa berbuat apa-apa. Dia cuma bisa lihat anaknya jerit-jerit minta tolong."
Maya langsung menutup mulutnya menahan tangis. Aku merinding hebat.
"Besoknya, Bu Leha gila. Dia gendong mayat anaknya yang sudah gosong itu, dia terjun ke sumur ini. Sambil bawa mayat anaknya. Warga yang lihat tidak ada yang mau menolong. Mereka tutup sumur ini pakai kayu dan batu. Mereka pikir selesai. Ternyata tidak. Sejak itu, Bu Leha jadi penunggu sini. Arwah penasaran. Tiap ada KKN, tiap ada anak muda datang... dia minta ganti... dia minta anak muda untuk temani anaknya di dalam... biar anaknya tidak kesepian..."
Tiba-tiba, semua suara hilang.
Angin yang tadi berdesir pelan, berhenti total. Jangkrik yang berisik dari tadi sore, diam serentak. Suara kodok di sawah, hilang. Hening. Hening yang sangat tidak wajar. Hening yang menekan telinga sampai sakit.
Kabut tipis mulai naik dari dalam sumur. Kabut putih berbau anyir dan tanah basah.
Dan dari dalam sumur yang hitam pekat itu, terdengar suara.
Pertama tawa anak kecil. Cekikikan. Pelan. "Hehehehe..." Suara anak perempuan kecil. Lastri?
Lalu suara kedua. Suara yang membuat darah kami berhenti mengalir.
Suara Bima. Jelas sekali. Serak, pelan, dan minta tolong dari kedalaman. Suara yang sangat kami kenal.
"Bu... lapar... Riko... Maya... tarik aku... dingin bu... di sini gelap bu... banyak tangan bu..."
Itu Bima.
Riko yang mendengar suara sahabatnya sendiri dari dalam sumur langsung histeris. Dia menjerit sekeras-kerasnya sampai urat di lehernya keluar semua.
"DIAM! BUKAN BIMA! ITU BUKAN BIMA! LEPASIN AKU!"
Lalu dia pingsan. Jatuh ke samping, matanya putih ke atas.
Pak Lurah panik setengah mati. Dia langsung membuka botol kecil di pinggangnya, menyiramkan minyak tanah ke sekeliling bibir sumur membentuk lingkaran besar yang sempurna, dan menyulutnya dengan obor.
Blar! Api melingkar menyala besar! Panasnya sampai ke wajah kami!
Dari dalam sumur, seketika terdengar jeritan melengking marah yang sangat keras. Bukan satu. Puluhan. Ratusan. Seperti orang kesakitan dibakar api. Jeritan perempuan tua dan jeritan anak kecil bercampur jadi satu. Jeritan itu membuat tanah bergetar.
"PERGI! SEMUA MASUK BALAI DESA SEKARANG! LARI! JANGAN LIHAT BELAKANG! JANGAN SAMPAI OBOR KALIAN PADAM! KALAU PADAM KALIAN DIAMBIL!"
Kami bertiga panik. Aku dan Maya menggotong Riko yang pingsan sekuat tenaga. Beratnya minta ampun. Kami lari di pematang sawah yang licin dan becek. Aku teriak sekencang-kencangnya, "SINTA! FARHAN! KUNCI BALAI DESA! JANGAN KELUAR! KAMI DIKEJAR!"
Di belakang kami, api lingkaran di sumur itu... padam sendiri. Padam dengan suara "husss" keras. Padahal tidak ada angin sama sekali. Tidak ada hujan. Padam seperti ditiup dari dalam sumur dengan kekuatan besar.
Aku tidak tahan. Rasa penasaran dan takut bercampur. Aku menoleh ke belakang sambil tetap lari.
Dan aku menyesal seumur hidup telah menoleh.
Di kegelapan kebun singkong kiri kanan jalan setapak, satu per satu obor menyala sendiri. Plup. Plup. Plup. Plup. Satu, dua, lima, sepuluh, dua puluh... sampai puluhan obor menyala berjejer di kegelapan.
Itu penduduk desa. Warga Desa Mati.
Mereka berdiri diam berjejer di antara pohon singkong. Memegang obor bambu yang sama seperti Pak Lurah. Mengawasi kami lari. Wajah mereka datar. Pucat. Tidak ada ekspresi sama sekali. Seperti patung.
Pak Lurah di depan juga melihat itu dan wajahnya semakin pucat. Dia berbisik, "Mereka sudah bangun..."
Dan di bawah cahaya obor mereka yang terang... tanah di bawah kaki mereka kosong.
Mereka semua tidak punya bayangan.
Padahal obor kami jelas-jelas membuat bayangan kami bertiga dan Pak Lurah memanjang di tanah.
Mereka tidak punya bayangan sama sekali.
Kami lari semakin kencang menuju balai desa yang lampunya terlihat berkedip-kedip dari jauh. Di belakang, suara tawa anak kecil itu semakin keras, semakin dekat, seperti ikut berlari bersama kami.
BERSAMBUNG - BAB 11: BALAI DESA TANPA PINTU
Pagi kakak-kakak sayang 🥺🙏
Aku udah up BAB 10 nih, panjang banget, Semaleman nulisnya padahal kepala pusing.
Mampir baca + like + komen "LANJUT" ya kak, biar aku semangat nulis BAB 11 nanti malem. Makasih orang-orang baik ❤️ KKN DESA MATI
#KKN #DesaMati #Horor #KKNDesaPenari #KKNDesaMati #CeritaHoror #ThreadHoror #SumurAngker #HantuIbuDanAnak #PakLurah #TanpaBayangan #KisahNyata #KKNMisteri #DesaTerpencil
Jawabannya adalah...
Salah satu dari seluruh anggota KKN, "sukma jiwa"nya sudah dibawa...
Aku yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu belakang, hanya tersenyum saat melihat semua obor-obor itu. Namun, senyumanku terlihat datar oleh seluruh teman-teman KKN ku.
Aku (saya maksudnya, hehehe...) akhirnya berjalan santai menuju ke pintu balai desa yang terkunci. Lalu, kupejamkan kedua mataku. Dan mulai bicara dengan mereka semua yang ada di luar...
🤭🤭🤭
jadi selvi itu bukan tokoh utama? si selpi siapa? kenapa tiba-tiba muncul?
terus, bukannya sinta sama bima udah meninggal di sumur ya?
terus selvi itu KKN 98??😐