Satu jalan keluar dari balik jeruji besi, namun berujung pada labirin tanpa pintu keluar.
Ketika Dorris Gate menawarkan kunci kebebasan, La Bonna De Luca tidak pernah menduga bahwa harga yang harus dibayar adalah jiwanya sendiri.
Terlempar ke dalam gemerlap remang Velvet Noir, Bonna dipaksa menari di atas benang tipis antara penyamaran dan kehancuran. Targetnya adalah Ezequiel Nolan Ashford—pria dingin bernapas racun yang tak pernah terpeleset oleh hukum.
Bonna menyadari satu hal: ini bukanlah misi penyelidikan, ini adalah eksekusi yang tertunda.
Ezequiel tidak hanya sulit dibaca; ia memegang kendali atas hidup dan mati siapa pun di wilayah kekuasaannya. Bagi Ezequiel, Bonna hanyalah mainan baru yang sewaktu-waktu bisa dihancurkan.
Untuk bertahan hidup di tangan pria yang memperlakukan manusia tak ubahnya properti, Bonna hanya punya satu senjata tersisa: memainkan sandiwara paling berbahaya. Berpura-pura menyerahkan hatinya pada sang iblis, atau menjadi bidak yang ditumbalkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#27
Keheningan kamar 101 yang pengap kembali koyak oleh suara napas yang menderu dan gesekan kasar kain seprai. Pria iblis itu seolah tak kenal kata puas. Setelah dengan dingin menyuruh La Bonna keluar dari kamar VIP lantai atas beberapa saat lalu, ternyata Nolan tidak benar-benar meninggalkannya.
Hanya berselang belasan menit, pria itu melangkah masuk ke dalam kamar pribadi Bonna, menutup pintu dengan dentuman pelan namun tegas, dan menghampirinya tanpa sepatah kata pun.
Perintahnya singkat, dingin, dan mutlak: menyuruh La Bonna kembali melucuti pakaiannya sendiri.
Dilihat dari bagaimana cara Nolan memimpin organisasi yang mengerikan ini, bagaimana tangannya yang dipenuhi bekas luka mengeksekusi nyawa manusia tanpa berkedip, serta cara pria itu menatap siapa saja dengan tatapan mata yang teramat arogan—La Bonna mengambil satu kesimpulan pasti: Ezequiel Nolan Ashford adalah tipe pria yang sangat amat dominan.
Pria yang harus memegang kendali penuh atas segala hal, mulai dari bisnis haramnya, para anak buahnya yang haus darah, hingga tubuh wanita yang ada di bawah cengkeramannya malam ini.
Terbukti dari apa yang terjadi beberapa jam terakhir. Bonna ditiduri hingga dua kali berturut-turut, dan dalam dua kali penyatuan itu, Nolan tetap memperlakukannya dengan kasar tanpa menyisakan sedikit pun rasa empati.
Di tengah erangan yang tertahan, ingatan Bonna melayang pada rasa sakit yang pernah dihadiahkan pria ini padanya. Ia teringat betapa panasnya bekas sulutan cerutu yang menembus kulit lehernya, teringat bagaimana sepatu kulit berat itu menendang tubuhnya hingga tersungkur, dan teringat saat tubuhnya dihantamkan dengan kasar ke atas meja kayu yang dingin.
Setiap sentuhan Nolan malam ini dipenuhi oleh dominasi murni yang menekan.
Bonna berusaha memaksakan diri untuk mendesah, pura-pura menikmati penyatuan yang menyiksa ini. Namun di dalam ruang benaknya yang terisolasi dari kenyataan, wajah yang ia bayangkan bukanlah wajah tampan yang mematikan milik Nolan.
Bonna membayangkan wajah mantan kekasihnya dulu. Ia tidak sudi, bahkan enggan sekadar mengizinkan bayangan wajah pria iblis ini beralih menjadi sosok yang memuaskan nafsunya.
Demi bertahan hidup, Bonna berusaha melakukan yang terbaik malam ini. Ia meliukkan tubuhnya, menyerap setiap rasa sakit, dan berpura-pura terbuai agar Nolan merasa sedikit terhibur dan tidak melayangkan tinjunya lagi.
Namun, tepat di tengah-tengah penyatuan yang kasar dan bertempo cepat itu, Nolan mendadak menghentikan bimbingan tubuhnya sejenak. Pria itu menunduk, mencengkeram rahang Bonna, lalu berbisik dengan suara rendah yang serak di dekat telinga Bonna:
"Desahkan namaku..."
Bonna menelan ludahnya yang pahit. Mengikuti perintah demi menyelamatkan nyawanya, Bonna menurut. Dengan nada suara pasrah yang bergetar, ia mendesahkan nama pria itu hingga dua kali berturut-turut di udara kamar yang dingin: "Nolan... ah, Nolan..."
Akan tetapi, respons yang didapatkannya sama sekali di luar dugaan. Nolan justru menggelengkan kepalanya lambat. Sorot matanya yang membara menatap Bonna dengan kilat aneh yang sulit diartikan.
"Jangan Nolan, Mine..." desis pria itu, suaranya terdengar begitu dalam dan berat. "Panggil aku...Dariush."
Kening La Bonna seketika mengernyit dalam di tengah napasnya yang terengah-engah.
Dariush?
Bonna membatin dalam hati seraya menahan rasa heran yang membakar benaknya.
Apakah pria iblis ini hidup dengan banyak nama alias untuk menyembunyikan identitasnya dari dunia luar?
Ah, tentu saja. Dia adalah penjelmaan iblis di dunia nyata. Jadi, nama Dariush ini tentulah nama aslinya—nama rahasia yang mungkin hanya diketahui oleh sedikit orang atau orang-orang yang sangat dekat dengannya.
Dengan hati-hati, Bonna mencoba membasahi bibirnya yang kering. Mengumpulkan sisa-sisa suaranya yang parau, Bonna perlahan mengeluarkan nama itu dari mulutnya: "Da... Dariush..."
Tepat setelah nama 'Dariush' itu meluncur mulus dari bibir Bonna, sebuah perubahan drastis terjadi.
Hentakan tubuh Nolan yang semula beruntun dan teramat kasar mendadak terhenti seketika. Namun, bukan berhenti untuk menyudahi permainan. Penyatuan yang tadinya penuh dengan aura kekerasan dan dominasi brutal itu secara ajaib berubah menjadi begitu lembut, dalam, dan menghentak perlahan dengan ritme yang teratur.
Bonna terpaku. Rasa terkejut melumpuhkan saraf-sarafnya. Ia lagi-lagi hanya bisa mengunci kedua kakinya rapat-rapat di pinggang pria itu, sementara kedua jemarinya mencengkeram seprai kasur dengan amat kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Satu detik,
Dua Detik,
Tiga Detik kemudian, Nolan merendahkan tubuh kekarnya, menghapus jarak di antara paut wajah mereka, lalu berbisik tepat di depan bibir Bonna dengan nada yang mampu membekukan darah:
"You are mine."
DEG.
DEG.
DEG.
Jantung Bonna berdetak dengan sangat liar biasa di dalam rongga dada. Ritmenya begitu kencang hingga menggemuruh di dalam telinganya sendiri.
Perasaan apa ini? Mengapa detakan dadanya menjadi tak terkendali hanya karena bisikan lembut dari seorang pembunuh?
La Bonna panik. Ia berusaha keras untuk menata napasnya yang memburu dan mengendalikan gejolak asing yang merayapi benaknya. Tidak! Tidak, Bonna! jerit jiwa kecilnya dalam ketakutan. Wajah sempurna dan tampan di atasmu ini akan membunuhmu hanya dalam satu kedipan mata!
Berulang kali Bonna merutuki dirinya sendiri di dalam batin, mencoba menyadarkan akal sehatnya yang hampir hilang terbuai oleh sensasi lembut yang langka ini.
Dia akan membunuhmu, La Bonna! Jangan pernah berani lancang! Jangan pernah terbawa perasaan pada iblis ini! Kau tidak ingat bagaimana masa lalumu? Mantan kekasihmu bahkan menyebutkan nama adikmu sendiri saat dia sedang menyentuhmu dulu! Kau hanyalah sampah yang tidak pernah bisa menjadi berharga bagi pria mana pun!
Potongan-potongan ingatan kelam masa lalunya di California kembali berhamburan masuk tanpa diundang—tentang pengkhianatan, rasa dibuang, dan kenyataan pahit bahwa dirinya tak pernah dicintai dengan tulus.
Di tengah perpaduan antara gejolak batin yang menyiksa dan desahan parau yang lolos saat memanggil nama Dariush, setitik air mata bening akhirnya pecah dan jatuh perlahan melintasi sudut mata Bonna, membasahi bantal yang dingin.
Itu bukan desahan keterpaksaan lagi... Bonna benar-benar tidak sanggup lagi menahan desahan yang lolos dari tenggorokannya akibat irama lembut yang ditunjukkan pria di atasnya.
Namun, kedamaian semu itu mendadak hancur berantakan dalam sekejap.
Nolan tiba-tiba menghentikan pergerakannya. Wajah pria itu mengeras seketika, dan kilat kelembutan yang baru saja hadir sirna tanpa bekas, berganti dengan tatapan membunuh yang teramat pekat.
"Kau benar-benar mengejutkanku, La Bonna..." cetus Nolan tiba-tiba.
Suaranya berubah menjadi teramat dingin dan tajam seperti bilah es. "Mendesah di saat tubuhmu sedang kunikmati seperti ini... kau malah mendesahkan nama pria lain?"
Bonna membelalakkan matanya terkejut. Apa?
"Nolan..." geram pria itu, cengkeramannya di bahu Bonna mengencang hingga menyakitkan. "Katakan Nolan sialan! Jangan panggil aku dengan nama itu!"
DEG.
Kepala Bonna terasa berputar. Rasa panik yang murni menyengat seluruh tubuhnya.
Ah... La Bonna menyadari bahwa ia baru saja melakukan sebuah kesalahan fatal lagi!
Pria di atasnya ini memang benar-benar tidak waras dan tidak bisa diprediksi jalan pikirannya! Padahal pria ini sendiri yang baru saja menyuruhnya memanggil nama Dariush, namun kini ia justru mengamuk karena Bonna menuruti perintahnya!
Sebelum Bonna sempat menjelaskan atau memperbaiki kalimatnya, Nolan secara mendadak menyudahi penyatuan mereka. Pria itu bergerak cepat meraih jaketnya yang tergeletak di lantai, merogoh saku, dan menarik keluar sebuah pisau lipat perak berkilat.
SRET!
Tanpa ragu sedikit pun, Nolan menempelkan mata pisau yang sangat tajam itu tepat di atas kulit leher Bonna. Bilah besi yang dingin itu menekan leher Bonna yang masih kempas-kempis, di mana napas wanita itu masih tertahan kasar di ujung tenggorokan.
Nolan menunduk, menatap Bonna dari jarak dekat dengan mata hitamnya yang berkilat gila dan penuh amarah yang tertahan.
"Dengar baik-baik, La Bonna," desis Nolan dengan suara yang mengancam. "Jika kau melakukan kesalahan-kesalahan bodoh seperti ini lagi... maka pisau ini tidak akan sekadar menempel, tapi akan tertancap dalam-dalam tepat di lehermu hingga kau mati kehabisan darah."
Bonna menahan napasnya rapat-rapat. Mengabaikan sensasi dingin yang menyengat di lehernya dan rasa perih di tubuh bagian bawahnya, Bonna menganggukkan kepalanya pelan-pelan—menunjukkan kepatuhan mutlak demi menjaga agar bilah pisau itu tidak menggores pembuluh darahnya.
Rasanya memang sangat amat sulit dan melelahkan untuk meladeni seorang pria gila yang memegang kekuasaan penuh atas hidup dan matinya. Setiap detik yang dilalui di samping Nolan terasa seperti berjalan di atas paku yang tajam.
Namun... tidak apa-apa. Bonna memejamkan matanya perlahan saat Nolan akhirnya menarik pisaunya mundur–Sembari merapatkan kain seprai untuk menutupi tubuh Bonna yang penuh memar dan lecet.
La Bonna sendiri berulang kali meyakinkan hatinya sendiri di dalam keheningan malam yang pekat: Kau pasti bisa melewati malam ini... malam yang mengerikan ini akan segera usai dengan cepat, dan besok kau akan tetap hidup.
semoga la bonna gk jadi kabur🤔