Bagi Cinta (24 tahun), moralitas tidak ada harganya jika dibandingkan dengan uang. Menggunakan paras cantik dan tubuh indahnya, penipu ulung ini selalu berhasil meloloskan diri setelah mengeruk harta korbannya.
Hingga suatu hari, sebuah tawaran senilai 10 Miliar Rupiah datang dari Nyonya Valen, seorang wanita kalangan elit. Misinya terdengar mudah: goda Tuan Maxim, jadilah selingkuhannya, dan buat pria itu setuju untuk bercerai.
Cinta mengira ini hanyalah pekerjaan biasa di mana dia yang memegang kendali penuh sebagai pemburu. Namun, dia keliru. Begitu terjebak di dalam mansion mewah Maxim, Cinta baru menyadari bahwa dia bukan sedang memburu, melainkan sedang masuk ke dalam sangkar emas. Nyonya Valen tidak sedang menyewanya, melainkan menumbalkannya untuk melepaskan diri dari jeratan seorang pria posesif yang sangat berbahaya.
Ketika semua jalan keluar telah tertutup, akankah Cinta berhasil meloloskan diri, atau justru terbakar oleh api permainan yang dia nyalakan sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERMAIN API DENGAN CINTA BAB 14_TAMPARAN UNTUK SANG ILUSI
BERMAIN API DENGAN CINTA
BAB 14_TAMPARAN UNTUK SANG ILUSI
Langkah kaki Ethan yang mendekat sama sekali tidak membuat Cinta mengubah posisinya. Dia tetap menyesap cocktail-nya dengan tenang, matanya menatap lurus ke arah panggung lampu neon seolah-olah pria bertopeng di sampingnya tidak lebih berharga dari embusan asap rokok di dalam klub. Sikap abai Cinta begitu mutlak, sebuah taktik tarik ulur yang sengaja dia pasang untuk menyingkirkan Ethan dari kepalanya.
Namun, Cinta meremehkan apa yang ada di balik topeng hitam satin itu. Pria di hadapannya bukan sekadar pria sewaan biasa; dia adalah Maxim, seorang penguasa gila kendali yang sejak siang hari memendam murka dan rasa frustrasi yang hampir membakar habis kewarasannya.
Melihat wanita yang paling dia inginkan membuang muka seolah dirinya adalah sampah, batas kesabaran Maxim runtuh total dalam sekejap mata.
Tanpa aba-aba, tangan kekar Ethan bergerak secepat kilat. Dia mencengkeram kuat lengan Cinta, menarik tubuh ramping wanita itu dari kursi lounge dalam satu hentakan kasar yang tak terbantahkan. Cinta terpekik kaget saat gravitasi menyeretnya melangkah terburu-buru, mengikuti tarikan Ethan yang membawanya membelah kerumunan lantai dansa, menuju lorong temaram di dekat pintu keluar darurat yang sunyi.
Brak!
Ethan memojokkan tubuh Cinta ke dinding lorong yang dingin. Sebelum Cinta sempat menyuarakan makian atau kemarahannya, Ethan menumpukan kedua tangannya di sisi kepala Cinta, mengurung wanita itu tanpa sisa ruang.
Sepasang mata hitam di balik topeng berkilat pekat, dipenuhi gumpalan emosi yang begitu gelap dan menuntut. Detik berikutnya, Ethan mencondongkan wajahnya dengan agresif, merenggut bibir merah menyala milik Cinta dan menciumnya secara brutal tanpa izin. Itu bukan ciuman manis penuh permohonan seperti tadi pagi; itu adalah sebuah klaim paksa yang penuh amarah dari seorang pria yang tidak terima diabaikan.
Cinta terbelalak sempurna, rasa terkejut dan murka instan meledak di dalam dadanya. Sentuhan fisik tanpa persetujuan ini terasa seperti penghinaan bagi harga dirinya. Dengan sisa tenaga yang dia miliki, Cinta menumpukan kedua tangan di dada bidang Ethan, mengumpulkan seluruh kekuatannya, lalu mendorong tubuh tegap pria itu menjauh hingga tautan mereka terputus kasar.
Plak!
Suara tamparan yang begitu keras dan nyaring menggema di sepanjang lorong sunyi tersebut. Cinta melayangkan telapak tangan dengan kekuatan penuh, menghantam telak pipi kiri Ethan hingga wajah bertopeng itu terlempar ke samping.
Napas Cinta memburu, dadanya naik-turun dengan emosi yang membakar matanya menjadi berkilat tajam. Dia menatap pria di hadapannya dengan pandangan muak yang luar biasa dingin.
"Jaga batasanmu, Ethan!" desis Cinta, suaranya bergetar hebat menahan amarah yang meledak. Dia merapikan jaket kulitnya yang sempat bergeser dengan gerakan kasar. "Siapa yang memberimu hak untuk bertindak sekasar ini padaku, hah?"
Ethan berdiri mematung, wajahnya masih miring ke kanan akibat tamparan tersebut. Sudut bibirnya yang tersembunyi berdenyut perih, namun rasa sakit fisik itu sama sekali tidak ada artinya jika dibandingkan dengan hantaman telak yang baru saja menyerang batinnya.
Cinta melangkah maju satu tapak, menatap lurus ke arah celah mata di balik topeng hitam satin itu dengan sorot mata yang mengunci mati seluruh pergerakan Ethan.
"Dengar baik-baik. Aku sudah bilang tadi pagi bahwa hubungan kita sudah berakhir! Dan ketika aku bilang berakhir, itu artinya selesai!" tekan Cinta dengan nada suara yang amat dingin, tajam, dan tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk membantah. "Aku sudah membayar semua tarifmu dengan uang kompensasi yang sangat melimpah di meja nakas. Jadi, berhenti bersikap seolah-olah kau memiliki hak atas diriku!"
Cinta mendengus sinis, menyilangkan kedua tangan di depan dada sembari melemparkan kalimat terakhir yang menjadi belati paling mematikan bagi ego sang penguasa.
"Aku sudah tidak menginginkanmu lagi, Ethan. Tubuh bagus atau pelayananmu tidak lagi menarik bagiku. Aku punya urusan yang jauh lebih berharga daripada membuang waktu bersama seorang pria penghibur sepertimu. Jadi, menjauhlah dari hidupku sebelum aku membuatmu menyesal karena telah mengusikku," ucap Cinta dengan sombong, lalu berbalik menghentakkan stiletto Louboutin-nya, melangkah pergi meninggalkan lorong tanpa sudi menoleh lagi ke belakang.
Setiap kata kejam yang keluar dari bibir Cinta malam itu benar-benar mengoyak dan melukai batin Maxim hingga ke titik paling dalam.
Pria itu tetap berdiri diam di dalam kegelapan lorong, tangannya perlahan naik menyentuh bekas tamparan di pipinya yang terasa panas. Di balik topeng hitam satinnya, sepasang mata hitam Maxim meredup, dipenuhi oleh rasa perih yang teramat sangat sekaligus kekosongan yang mencekam. Cinta baru saja membunuh sosok "Ethan" dengan cara yang paling kejam. Wanita itu mengumumkan dengan lantang bahwa dia sudah tidak menginginkan Ethan lagi.
Sekarang, akses intim itu telah ditutup mati oleh tangan Cinta sendiri. Gumpalan kemarahan yang tadinya membara di dalam dada Maxim kini perlahan membeku, berubah menjadi sebuah obsesi gelap yang jauh lebih dingin, pekat, dan mengerikan.
Satu jam kemudian, Cinta sudah berada di dalam kamarnya yang sunyi. Dia melemparkan tas Chanel dan jaket kulitnya ke atas sofa beludru, lalu mendudukkan diri di tepi ranjang king size miliknya. Keheningan apartemen mewah itu mendadak membuat otaknya kembali berputar memikirkan kejadian panas di lorong klub malam tadi.
Cinta menatap jemari tangan kanannya yang tadi dia gunakan untuk menampar wajah Ethan. Ada sedikit rasa bersalah yang samar, merayap masuk ke dalam sudut hatinya.
Apa aku terlalu keras pada Ethan tadi? batin Cinta, mengembuskan napas panjang sembari bersandar pada tumpukan bantal. Sebenarnya... Ethan tidak salah apa-apa. Dia hanya melakukan tugasnya sebagai pria penghibur yang ingin menahan pelanggan kayanya.
Namun, sedetik kemudian, Cinta menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Garis wajahnya kembali mengeras, membuang jauh-jauh rasa simpati konyol tersebut. Logika egois dan pragmatisnya kembali mengambil alih kendali.
Tidak. Tindakanku sudah benar, lanjut Cinta dalam batinnya dengan angkuh. Aku tidak suka mainanku sendiri menggigitku. Dia hanyalah sewaan yang kubayar mahal, jadi dia harus tahu posisinya dan tidak boleh bertindak lancang seolah-olah dia berhak atas diriku.
Cinta menarik selimut putihnya, lalu mematikan lampu tidur dengan gerakan tegas. Sudahlah, lupakan saja. Ethan sudah selesai. Fokusku sekarang hanya satu: Tuan Maxim dan sisa uang delapan miliar dari Nyonya Valen.
Cinta memejamkan matanya dengan penuh percaya diri, merasa telah berhasil menyingkirkan semua kerikil yang mengganggu fokus misinya. Dia sama sekali tidak pernah menyadari bahwa "mainan" yang baru saja dia buang itu adalah monster yang sama yang besok pagi akan mengurungnya di kantor tanpa jalan keluar.