Amir adalah seorang pemuda yatim piatu yang selama bertahun-tahun hidup menderita sebagai menantu yang sama sekali tidak dianggap oleh keluarga istrinya, meskipun ia sudah bekerja keras banting tulang dari pagi hingga larut malam setiap harinya. Kesabarannya diuji hingga batas maksimal ketika ibu mertua dan adik iparnya dengan kejam menendangnya ke dalam danau saat ia sedang memancing, hanya demi memaksanya menceraikan istrinya yang hendak dijodohkan dengan pria kaya. Namun, di saat Amir tenggelam dan hampir kehilangan nyawanya, ia justru membangkitkan [Sistem Check-in Memancing] yang akan mengubah jalan hidupnya yang menyedihkan menjadi seorang legenda yang bergelimang harta dan kekuatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Langkah kaki Amir dan Pak Surya menyusuri lorong berkarpet merah menuju ballroom utama Hotel Nusantara.
Suara alunan musik klasik dari gesekan biola terdengar sangat merdu menyambut kedatangan mereka.
Pintu ganda setinggi empat meter dibuka oleh dua orang pelayan berseragam rapi.
Di dalam ruangan tersebut, puluhan meja bundar telah ditata dengan taplak sutra putih dan peralatan makan perak.
Para tamu undangan yang hadir semuanya adalah wajah-wajah yang sering muncul di majalah bisnis dan berita ekonomi nasional.
Mereka memakai jas pesanan khusus dan gaun desainer ternama yang harganya mencapai ratusan juta rupiah.
"Mari Amir, kita duduk di meja VIP nomor satu di depan panggung utama."
Pak Surya menepuk pundak Amir dan menuntunnya melewati kerumunan tamu elit tersebut.
Beberapa pengusaha tua yang mengenali Pak Surya langsung menunduk hormat menyapanya.
Namun pandangan mereka berubah menjadi penuh tanda tanya saat melihat sosok pemuda berpakaian kargo mendampingi sang taipan.
"Siapa pemuda itu, apakah dia anak haram Pak Surya yang baru diakui?"
"Pakaiannya sangat santai dan tidak berkelas, dia tidak pantas berada di meja nomor satu."
Bisik-bisik merendahkan mulai terdengar dari beberapa meja di sekitar mereka.
Amir mendengar semua bisikan itu namun ia sama sekali tidak peduli.
Aura intimidasi dari Keris Naga Darah di dalam inventarisnya membuat langkahnya tetap tegap dan berwibawa layaknya seorang raja yang menulikan telinga dari gonggongan anjing liar.
Mereka berdua akhirnya duduk di meja bundar terdepan yang hanya diisi oleh lima orang petinggi bisnis lainnya.
Salah satu orang yang duduk di meja itu adalah seorang pemuda seusia Amir yang memakai jas putih mencolok.
Pemuda itu bernama Dion Kusuma, putra mahkota dari perusahaan tambang batu bara terbesar kedua di kota ini.
Dion menatap Amir dengan pandangan menilai yang sangat meremehkan dari ujung rambut hingga ujung sepatu.
"Paman Surya, angin apa yang membuat Anda membawa pengawal pribadi untuk duduk di meja kehormatan kita ini?"
Dion bertanya dengan nada sopan namun kalimatnya jelas-jelas menghina status Amir.
Pak Surya langsung mengerutkan keningnya tidak suka mendengar kelancangan anak muda di depannya itu.
"Jaga bicaramu Dion, dia bukan pengawalku."
"Namanya Amir, dia adalah tamu agungku yang telah menyelamatkan nyawaku dari badai siang tadi."
Pak Surya membela Amir dengan suara yang tegas dan cukup keras hingga meja di sebelah mereka mendengarnya.
Dion tersenyum sinis dan menyesap anggur merah dari gelas kristalnya.
"Oh, jadi dia pahlawan kesiangan yang kebetulan lewat."
"Aku heran kenapa pemuda yang kelihatannya butuh uang ini tidak meminta imbalan miliaran saja pada Paman."
Dion kembali melempar sindiran tajam karena ia merasa tersaingi oleh kehadiran pemuda seumurannya di meja VIP itu.
Amir menatap wajah congkak Dion dengan tatapan sedingin es.
"Aku tidak butuh uang recehan miliaran dari siapa pun."
"Hanya orang miskin hati sepertimu yang menilai segala sesuatu dari tebalnya dompet pinjaman ayahmu."
Amir membalas ucapan Dion dengan nada datar yang sangat menusuk.
Kata-kata Amir membuat wajah Dion langsung memerah padam menahan amarah yang meledak di dadanya.
Baru saja Dion ingin menggebrak meja, lampu utama ballroom tiba-tiba diredupkan.
Ting ting ting.
Suara dentingan gelas terdengar dari atas panggung utama menandakan acara lelang amal akan segera dimulai.
"Selamat malam para hadirin sekalian yang terhormat."
Seorang pembawa acara wanita berpakaian gaun malam elegan berdiri di depan mikrofon dengan senyum menawan.
"Malam ini kita akan melelang beberapa barang antik dan perhiasan langka."
"Seluruh hasil lelang akan disumbangkan ke yayasan panti asuhan di seluruh negeri atas nama Bapak Surya Adiningrat."
Riuh tepuk tangan langsung menggema di seluruh ruangan ballroom yang megah tersebut.
Satu per satu barang lelang mulai dikeluarkan dan ditawarkan dengan harga yang fantastis.
Mulai dari lukisan maestro tua seharga lima miliar hingga kalung berlian seharga delapan miliar rupiah.
Dion beberapa kali memenangkan lelang lukisan hanya untuk memamerkan kekayaannya di depan Amir.
Amir sama sekali tidak mengangkat pelat penawarannya dan hanya diam menonton dengan bosan.
Benda-benda itu mungkin mahal di mata manusia, tapi sama sekali tidak memiliki nilai magis di mata sistem Amir.
Hingga akhirnya, barang lelang kelima dibawa ke atas panggung oleh dua orang petugas bersarung tangan putih.
"Barang selanjutnya adalah sebuah artefak misterius yang ditemukan oleh penyelam di reruntuhan kapal kuno."
Pembawa acara membuka kain penutup beludru merah dari atas kotak kaca.
Di dalamnya terdapat sebuah patung perunggu berbentuk bunga teratai yang sudah sangat usang.
Permukaannya menghitam karena oksidasi dan dipenuhi kerak karang yang sulit dibersihkan.
"Pakar sejarah kami tidak bisa memastikan asal usul patung Teratai Perunggu ini."
"Namun karena ini adalah barang antik dasar laut, kami membuka harga awal di angka lima ratus juta rupiah."
Pembawa acara itu tersenyum canggung karena ia tahu barang usang seperti itu jarang diminati oleh kaum elit.
Benar saja, seluruh ruangan hening dan tidak ada satu pun yang mengangkat pelat penawaran.
Mereka menganggap patung perunggu berkarat itu sama sekali tidak memiliki nilai seni untuk dipajang di ruang tamu mereka.
Namun di meja nomor satu, mata Amir justru membelalak sedikit lebar.
Mata Spiritual Tingkat Rendah miliknya menangkap pendaran cahaya hijau keemasan yang sangat terang memancar dari dalam patung tersebut.
Cahaya itu sangat murni dan tebal, menandakan bahwa patung itu bukanlah benda mati biasa.
"Sistem, benda apa itu sebenarnya?"
Amir bertanya dalam hati dengan penuh rasa penasaran.
[Mendeteksi Item Relik Kuno: Teratai Penyembuh Abadi]
[Tingkat Kelangkaan: Epik]
[Deskripsi: Artefak medis dari zaman kuno yang mampu menyaring air biasa menjadi air penyembuh segala jenis penyakit fisik dan racun mematikan]
Nafas Amir menjadi sedikit memburu membaca deskripsi dari sistem tersebut.
Benda itu adalah harta karun medis yang harganya tidak bisa diukur dengan uang duniawi mana pun.
Jika ia memiliki benda itu, ia sama saja memiliki nyawa cadangan untuk dirinya sendiri.
"Lima ratus juta rupiah, apakah ada yang berminat memulai penawaran?"
Pembawa acara kembali bertanya untuk memecah keheningan yang mulai terasa canggung.
Srek.
Amir mengangkat pelat nomor lima miliknya dengan sangat santai.
"Satu miliar."
Suara Amir yang berat bergema jelas di seluruh ruangan membuat semua mata tertuju padanya.
Orang-orang mulai berbisik mengejek kebodohan Amir yang mau membuang satu miliar untuk besi rongsokan.
Dion yang duduk di sebelah Amir langsung menyeringai lebar menemukan kesempatan emas untuk mempermalukan lawannya.
Ia tidak peduli apa fungsi patung itu, ia hanya ingin memastikan Amir tidak mendapatkan apa yang ia mau.