Dengan wajah tenang, Mela tiba-tiba mengajukan perceraian pada suaminya, Rahman. Tentu saja, hal itu membuat Rahman dan ibunya terkejut, karena mereka merasa selama ini semua baik-baik saja.
Tapi, Mela sudah mengetahui semuanya, perselingkuhan Rahman dengan mantan kekasihnya yang sudah berjalan selama sepuluh tahun.
Hati Mela hancur, apalagi, saat ibu mertuanya dan putrinya sendiri justru membela selingkuhan suaminya yang bernama Camila.
"Ingat umur. Kau itu sudah tua, sudah mempunyai anak. Harusnya, kau bisa lebih fleksibel. Camila bisa membantu perkembangan bisnis keluarga. Sedangkan kau? Sudah bagus kami menampungmu."
"Kau bisa apa tanpa kami, hah?"
Ucapan ibu mertua dan suaminya, membuat Mela semakin mantap untuk bercerai.
Baginya, perceraian bukan pelarian, melainkan pintu keluar dari kebohongan panjang yang nyaris mematikan jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Melawan
Halaman rumah Darmi penuh orang.
Beberapa berdiri berkelompok, berbisik pelan. Yang lain hanya menatap ke arah pintu yang tertutup rapat, seolah berharap keributan di dalam akan berhenti dengan sendirinya.
Tapi, tidak. Suara benturan keras kembali terdengar, disusul teriakan.
Mela berdiri di antara mereka, menatap pintu itu tanpa berkedip.
"Sudah biasa," bisik seseorang di belakangnya. "Paling nanti juga reda sendiri."
"Kalau kita ikut campur, bisa jadi masalah," sahut yang lain.
Mela mengernyit. "Biasa?" gumamnya tidak percaya. Sampai, suara benda jatuh terdengar lagi. Kali ini lebih keras, membuat langkah Mela bergerak maju.
"Mel!" Yati cepat-cepat menahan lengannya. "Jangan! Itu urusan keluarga mereka. Kita nggak berhak ikut campur."
Mela menoleh, dengan tatapan tegas. "Kalau terjadi sesuatu sama Mbak Darmi, bagaimana, mbak? Apa kita tidak berhak membantu?"
Yati terdiam.
Teriakan dari dalam rumah terdengar lagi, lebih lemah, tapi justru itu yang membuat dada Mela terasa sesak. Ia menarik tangannya dari pegangan Yati.
"Aku cuma mau lihat." Tanpa menunggu jawaban, Mela melangkah ke depan pintu. Ia mengetuk pintu keras.
"Pak Bejo! Buka pintunya!"
Tidak ada jawaban. Hanya suara napas berat dan sesuatu yang kembali terbanting.
Mela menoleh ke arah beberapa pria yang berdiri di belakang.
"Pak, bisa bantu saya?"
Mereka saling pandang, ragu. Namun, satu dari mereka mulai maju pelan. "Kita dobrak saja neng," ucapnya
Mela mengangguk setuju. Ia menyingkir ke samping, memberi ruang untuk pria itu mengambil ancang-ancang, siap mendobrak pintu.
Sekali, tapi pintu tidak terbuka.
Dua kali dobrakan, dan pintu masih kokoh bertahan. Hingga akhirnya, dua pria ikut membantu.
"Sekali lagi," ucap pria itu.
Mereka mendobrak lebih keras dan—
BRAKH!
Pintu terbuka.
Pemandangan di dalam membuat beberapa orang tersentak.
Darmi tergeletak di lantai, rambutnya berantakan, dan pipinya memerah. Di hadapannya, Bejo berdiri dengan napas memburu, tangannya masih terangkat, seolah siap memukul lagi.
"Berhenti!" teriak Mela.
Bejo menoleh tajam. "Siapa yang suruh kalian masuk, hah?"
Beberapa pria langsung bergerak, menahan Bejo sebelum ia sempat melakukannya lagi.
"Lepaskan aku!" bentaknya, meronta. "Ini urusan rumah tangga ku, kalian gak berhak ikut campur."
Sementara itu, Mela bergegas mendekat ke arah Darmi. Ia berjongkok, menyentuh bahunya dengan hati-hati.
"Mbak, kamu baik-baik saja?"
Darmi tidak menjawab. Air matanya mengalir tanpa suara.
Mela dan beberapa ibu-ibu lainnya membantunya berdiri, mendudukkannya di kursi.
Di sisi lain, Bejo masih meronta. "Kalian nggak punya hak! Aku bisa laporin kalian semua!"
Beberapa warga saling pandang. keraguan mulai terlihat di wajah mereka.
"Benar juga," bisik seseorang. "Kalau dia lapor, kita bisa kena."
Suasana kembali goyah. Namun, Mela berdiri di depan Darmi, menatap Bejo dengan tenang.
"Laporkan saja! Aku juga akan melaporkanmu karena sudah melakukan kekerasan."
Bejo tertegun sesaat. Namun kemudian, ia tertawa sinis. "Kamu pikir aku takut?" ucapnya meremehkan. "Kamu cuma janda yang diceraikan suamimu. Wanita bermasalah. Pembawa sial."
Beberapa orang menunduk. Kata-kata itu terlalu tajam. Namun, Mela tidak mundur. Ia justru melangkah lebih dekat.
"Kalau aku pembawa sial, kamu orang pertama yang akan kena sial karena berhadapan denganku," ucapnya pelan, menatap lurus ke mata Bejo.
Ia menarik tangan Darmi, membantunya berdiri. "Luka Mbak Darmi ini akan jadi bukti." Mela menoleh ke arah warga yang berkumpul. "Dan, mereka akan jadi saksi yang akan memberatkan hukumanmu."
Bejo terdiam. Rahangnya mengeras, napasnya berat. Ia menatap sekeliling, melihat orang-orang yang tadi ragu kini mulai berdiri di belakang Mela.
Sorot matanya berubah marah tapi, juga takut. Ia menggeram pelan, lalu menghentakkan bahunya.
"Dasar janda sialan! Awas kau!" Ia menarik lengannya dari pegangan warga, lalu berjalan keluar dengan langkah kasar.
Begitu ia melewati halaman, sorakan terdengar keras mengiringi langkah Bejo.
"Huuuuu!"
Di dalam rumah, suasana berubah pelan. Darmi tiba-tiba menangis. Bukan lagi tangisan yang tertahan, tapi suaranya pecah, seolah semua yang selama ini dipendam akhirnya runtuh.
Mela mendekat, memeluk dan mencoba menenangkan.
"Sudah, mbak," bisiknya pelan. "Sekarang sudah tidak apa-apa."
Di luar, orang-orang mulai berbicara lagi. Namun, kali ini bukan tentang gosip. Mereka membicarakan hal yang baru saja terjadi.
Tidak ingin hal ini berlarut-larut, Mela mulai meminta warga untuk melapor ke perangkat desa tentang kejadian tersebut. Mela juga meminta ibu-ibu yang lain, membawa Darmi ke rumah sakit untuk melakukan visum yang akan menjadi bukti. Dia bahkan, meminta ibu-ibu di sana untuk menjadi saksi yang akan memperkuat laporan mereka ke polisi.
Hingga menjelang sore, rumah Darmi mulai sepi. Mela masih duduk di samping Darmi.
Wanita itu menunduk, kedua tangannya saling menggenggam erat di pangkuan. Bekas merah di pipinya belum sepenuhnya hilang, meski sudah di obati
"Mel," suaranya pelan, hampir seperti bisikan. "Terima kasih."
Mela menoleh, tersenyum tipis. "Tidak perlu berterima kasih, mbak. Kami menolongmu, sama saja kami menolong diri kami sendiri," ucapnya sambil menatap Yati, Asih dan Surti."
Darmi menggeleng pelan. Air matanya kembali menggenang.
"Kalau bukan karena kamu, mungkin hari ini... " kalimatnya terhenti, tenggorokannya tercekat, sebelum akhirnya Darmi menarik napas panjang. "Aku juga minta maaf."
Mela sedikit mengernyit. "Minta maaf untuk apa, mbak?"
Darmi menunduk lebih dalam. "Aku... Aku sudah ngomongin kamu di belakang. Tentang perceraian mu."
Suasana hening sejenak.
Mela tidak langsung menjawab. Ia hanya memandang ke depan, ke arah pintu yang masih terbuka.
"Aku sudah tahu," ucapnya pelan.
Darmi terkejut. "Kamu tahu?"
Mela mengangguk kecil. "Di desa seperti ini, kabar tidak pernah berhenti di satu orang."
Darmi menggigit bibirnya, merasa semakin bersalah. "Aku cuma penasaran. Dan—" Ia berhenti, lalu menggeleng. "Aku salah."
Mela menatapnya. Tidak ada kemarahan maupun rasa kecewa. "Hidup kita memang sering jadi cerita orang lain, mbak. Jadi, tidak usah di pikirkan. Yang penting, bagaimana kita menjalani hidup selanjutnya."
Ucapan itu justru membuat dada Darmi terasa semakin sesak. Ia menutup wajahnya sejenak, lalu berkata dengan suara bergetar,
"Ini bukan pertama kalinya, Mel. Kalau lagi marah, mas Bejo bisa seperti tadi, kadang lebih parah."
Tangannya gemetar. "Aku pernah minta tolong sama ibu mertua. Tapi, jawabannya hanya di suruh sabar."
Yati dan Asih mendekat, mengusap bahu Darmi yang bergetar.
"Kami juga sering dengar kalian bertengkar. Tapi, gak nyangka bisa separah ini, mbak," timpal Yati.
"Aku gak nyalahin kalian," lirih Darmi.
Mela menarik napas pelan. "Banyak orang di desa belum benar-benar paham hukum. Mereka bukan tidak peduli, tapi mereka takut," ucap Mela.
"Takut?" ulang Darmi lirih.
"Takut, kalau kesaksian mereka justru berbalik," jelas Mela. "Takut, kalau yang mereka hadapi punya lebih banyak kekuatan. Apalagi, kalau lawannya orang yang dianggap ‘berada’ atau punya pengaruh besar."
Darmi terdiam. Penjelasan itu, sangat masuk akal.
Mela melanjutkan, suaranya tetap tenang, tapi kini terdengar lebih dalam. "Tapi, takut bukan berarti harus terus diam."
Darmi mengangkat wajahnya perlahan.
"Kita tidak perlu takut kalau kita benar. Dan, yang terpenting ada bukti dan saksi." Mela menatap lurus ke depan, seolah berbicara bukan hanya pada Darmi, tapi juga pada dirinya sendiri.
"Aku memang bercerai. Tapi, aku juga punya alasan.” Ia tersenyum tipis, namun terasa pahit. "Aku memilih itu untuk mempertahankan harga diriku sebagai seorang istri."
Darmi menelan ludah. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat Mela sebagai wanita yang ditinggalkan, melainkan wanita yang memilih pergi untuk bangkit dan bertahan hidup
"Tidak ada perbedaan antara pria dan wanita. Kita sama," lanjut Mela. Lalu, Ia menoleh pada Darmi. "Tapi, dalam hubungan, kita harus saling menghormati dan saling menghargai. Jika tidak, salah satu akan tersakiti dan merasa tertekan."
Darmi menunduk. Air matanya jatuh lagi, tapi kali ini berbeda. Bukan hanya karena sakit, tapi karena ia mulai mengerti. Selama ini, ia terlalu lama bertahan dalam sesuatu yang tidak seharusnya ia terima.
"Mel..." suara Darmi terdengar bergetar. "Apa aku juga bisa seperti kamu?"
Mela tersenyum kecil. "Tentu saja," jawab Mela. "Tapi, semua tergantung pada keputusanmu, mbak. Dan, bagaimana sikap mas Bejo nantinya."
Darmi terdiam, menatap keluar halaman. Angin sore berhembus pelan. Dan, untuk pertama kalinya, ia merasa tidak lagi ditelan oleh ketakutan.
"Aku mengerti, Mel. Terima kasih."
atau ada yg lain mau mau jadi super Hiro nya mbak mela ??