Di dunia kultivasi yang kejam dan tak berbelas kasih, takdir mengikat dua jiwa dari dunia yang sepenuhnya berbeda: Zeng Niu, seorang pemuda berdarah dingin dari kelas bawah yang mewarisi Dao Bencana dan Petir Hukuman Langit, serta Zhao Ying, putri dari Tiran Ketiadaan Surga Atas yang jatuh ke dunia fana dengan kultivasi yang tersegel.
Terdampar di Benua Selatan yang dipenuhi kabut dan kutukan, keduanya harus bertahan hidup dari buruan ahli Nascent Soul dari Suku Li Kuno. Perjalanan berdarah melintasi Hutan Seratus Ribu Gunung Siluman hingga ke gelapnya Kota Reruntuhan Tanpa Tuan memaksa Zeng Niu untuk terus mendobrak batas fisiknya demi menjadi perisai bagi sang dewi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Penipu Berjubah Kuning
Perjalanan mendaki keluar dari sumur gelap itu memakan sisa tenaga terakhir Zeng Niu. Saat tangan kasarnya akhirnya mencengkeram bibir sumur dan menarik tubuhnya keluar, langit di ufuk timur baru saja memecah kegelapan dengan semburat ungu keemasan.
Matahari pagi menyinari pelataran Kuil Dewa Ular yang dipenuhi abu.
Zhao Ying menyusul naik dengan bantuan tarikan Zeng Niu. Gadis itu terengah-engah, wajah pualamnya cemong oleh debu batu dan jelaga belerang. Ia duduk di atas rumput basah, menatap langit pagi. Setelah kengerian sejarah yang mencekiknya di dasar sumur semalaman, sinar matahari yang hangat menyentuh kulitnya terasa seperti keajaiban yang luar biasa mahal.
Zeng Niu menjatuhkan dirinya telentang di samping Zhao Ying, menatap langit dengan dada naik-turun.
"Kita masih hidup," gumam Zeng Niu pelan.
Zhao Ying menoleh, melihat wajah pemuda itu yang dipenuhi luka dan tanah, namun sepasang mata gelapnya memancarkan kedamaian yang jarang terlihat. Sang Bintang Putih tidak bisa menahan diri. Tawa pelan meluncur dari bibirnya tawa yang jernih, lepas, dan murni bak gemiricik air pegunungan.
"Ya. Kita masih hidup, dan baumu sekarang persis seperti anjing hitam basah yang berguling di belerang," ejek Zhao Ying sambil tertawa kecil, mengusap hidungnya.
Zeng Niu mendengus, sudut bibirnya ikut tertarik membentuk senyum geli. "Dan kau terlihat seperti pengemis wanita dari sekte kelas bawah. Jika ayahmu melihat putrinya sekarang, dia mungkin akan menghancurkan benua ini lebih awal karena malu."
Keheningan yang nyaman menyelimuti mereka di bawah hangatnya mentari pagi. Beban kosmik dan karma jutaan tahun seolah menguap sejenak bersama embun. Di dunia fana ini, berhasil melihat matahari terbit setelah malam yang panjang adalah kemenangan yang patut dirayakan.
Setelah membersihkan sedikit noda darah di sungai, keduanya berjalan tertatih kembali ke Desa Ujung Sungai.
Namun, saat mereka tiba di dekat pekarangan pondok mereka, suasana desa sedang sangat ramai. Puluhan penduduk desa berkumpul mengelilingi sebuah meja kayu yang diletakkan di tengah jalan tanah. Di atas meja itu, berdiri sesosok pria gemuk berjubah Taoist kuning yang dipenuhi noda minyak dan kecap.
Pria itu berumur sekitar lima puluhan (meski auranya terasa jauh lebih tua), dengan perut buncit yang menyembul dari sabuk kainnya. Di punggungnya terselip pedang kayu persik, dan di tangan kanannya... ia memegang sebuah paha ayam panggang yang sudah digigit setengah.
"Wahai penduduk fana yang bodoh namun diberkati!" seru pria gemuk itu, mengayunkan paha ayamnya ke udara layaknya pusaka dewa. "Kalian harus bersyukur Daoist Qian Fugui ini kebetulan lewat! Semalam, saat aku melihat Kabut Yin menelan desa kalian, aku tidak ragu memanggil Petir Surgawi Sembilan Lapis milikku!"
Para penduduk desa mendengarkan dengan mulut ternganga penuh kekaguman.
"Ah, pertarungan itu mengguncang langit dan bumi!" lanjut Qian Fugui dramatis, menyeka keringat palsu di dahinya. "Raja Hantu Seribu Tahun dari Kuil Ular menantangku adu sihir! Tapi aku, dengan satu kibasan lengan bajuku yang agung, mengubahnya menjadi abu! Kabut itu pun mundur ketakutan!"
Fugui melompat turun dari meja, menadahkan mangkuk tembaga kosong ke arah Kepala Desa. "Tentu saja, menggunakan sihir tingkat tinggi membuat energiku terkuras. Tiga puluh keping perak dan dua ekor ayam jantan lagi kurasa cukup untuk menyembuhkan luka batinku."
Di luar kerumunan, langkah Zeng Niu terhenti. Ia melirik Zhao Ying, lalu menatap pria gemuk yang sedang memeras penduduk desa itu.
"Petir Surgawi Sembilan Lapis?" gumam Zeng Niu datar.
Zhao Ying menahan tawanya dengan susah payah. "Sepertinya ada yang mencuri panggungmu, Tuan Algojo."
Zeng Niu melangkah maju membelah kerumunan. Pakaian raminya yang sobek, tubuhnya yang tegap, dan bau sisa belerang yang menyengat membuat para penduduk desa otomatis mundur memberi jalan.
Qian Fugui, yang sedang asyik menghitung kepingan perak, mendongak. Ia melihat Zeng Niu berdiri menjulang di depannya dengan tatapan mata segelap dasar jurang yang penuh mayat. Niat Membunuh murni yang tertinggal di pori-pori Zeng Niu menekan udara di sekitarnya.
Sebagai kultivator sejati (meski gagal), Qian Fugui memiliki insting bertahan hidup setingkat kecoa. Ia langsung bisa membedakan mana petani marah dan mana pembunuh profesional yang baru saja mandi darah!
"E-Eh? Saudara ini..." Fugui menelan ludah, mangkuk tembaganya bergetar. "Apakah... apakah Anda mencari ramuan penyembuh? Daoist ini menjual penawar..."
Zeng Niu tidak berbicara. Ia hanya perlahan meletakkan telapak tangannya yang kapalan dan berlumuran sisa abu ke atas meja kayu di depan Fugui, lalu menatap lurus ke mata pria buncit itu.
Udara menjadi sangat dingin.
Kaki Qian Fugui seketika lemas seperti agar-agar. Semua kesombongannya menguap tak berbekas. Dengan kecepatan yang sangat absurd untuk ukuran tubuh gemuknya, Fugui menggeser paha ayam dan mangkuk peraknya ke arah Zeng Niu sambil tersenyum menjilat.
"Ahahaha! Saudara Pahlawan! Anda pasti orang yang diam-diam membantuku dari bayang-bayang semalam, kan?!" tawa Fugui sumbang, keringat dingin membasahi dahinya. "Mari... mari! Ayam ini untukmu! Uang ini kita bagi dua! Tidak, tidak, enam puluh empat puluh! Tujuh puluh tiga puluh untukmu! Bagaimana?!"
Penduduk desa yang melihat "Sang Penyelamat" mendadak berubah menjadi pedagang penakut di depan pemuda pendatang itu pun ikut kebingungan.
"Masuk ke rumahku. Sekarang," perintah Zeng Niu singkat, suaranya parau namun memancarkan otoritas mutlak.
Qian Fugui tidak berani membantah. Sambil membawa buntelannya, ia berlari kecil mengikuti Zeng Niu dan Zhao Ying masuk ke dalam pondok reyot mereka.
Di dalam pondok.
Qian Fugui duduk bersila di atas lantai tanah liat, mengunyah sisa ayamnya dengan rakus sambil matanya yang sipit mengamati Zeng Niu dan Zhao Ying.
Sementara itu, Zhao Ying merebus air panas, lalu menuangkannya ke dalam tiga cawan retak. Hawa hangat teh kasar memenuhi ruangan. Momen tegang dari malam sebelumnya kini berubah menjadi situasi fana yang sangat sederhana dan aneh.
"Aku Qian Fugui. Kultivator hebat dari... yah, dulu dari Sekte Awan Putih, sebelum aku memutuskan untuk mengembara demi pencerahan," Fugui memperkenalkan diri setelah menenggak teh panasnya rakus.
"Kau dikeluarkan karena menggunakan burung bangau pusaka milik Tetua Sekte sebagai taruhan judi, lalu burung itu dijadikan sup oleh lawannya."
Ucapan Zeng Niu yang datar itu membuat Fugui tersedak tehnya sendiri, terbatuk-batuk hingga wajahnya merah padam.
"B-Bagaimana kau tahu?!" pekik Fugui ngeri, menatap Zeng Niu layaknya hantu.
"Hanya tebakan," bohong Zeng Niu dengan wajah tanpa dosa. Ia sebenarnya hanya menganalisis fluktuasi Qi Fugui yang sangat kacau, perhiasan kaca murahan di lehernya, dan bau arak murah. Tipe manusia seperti Fugui bisa dibaca seperti perkamen terbuka.
Kenyataannya, Qian Fugui adalah anomali. Pria ini sudah berumur hampir delapan puluh tahun, namun karena rasa malas yang luar biasa dan hobinya foya-foya, ia tertahan di Pengumpulan Qi Tahap 6 selama enam dekade! Ia tidak punya ambisi menuju puncak langit, ia hanya ingin hidup nyaman dan kenyang dengan menipu manusia biasa.
Namun, di balik penampilannya yang konyol, mata kecil Fugui sangatlah tajam. Ia memandangi Zeng Niu, lalu beralih ke dada pemuda itu yang dibalut perban berdarah.
"Sobat muda, aku mungkin pengecut, tapi aku punya mata," ucap Fugui, nada suaranya berubah menjadi sedikit lebih serius. Ia meletakkan tulang ayamnya. "Bau belerang di tubuhmu... kau yang membakar sumur Yin di Kuil Ular itu, kan? Hanya manusia setengah gila yang berani melawan mayat tingkat tiga dengan tangan kosong."
Fugui kemudian memicingkan matanya. "Dan bukan cuma itu... Dantianmu. Itu bukan rusak karena latihan yang salah. Hancur lebur, terkoyak dari dalam ke luar, namun meridian utamamu masih mencoba menarik Qi dari udara secara refleks. Kau bukan fana biasa. Kau pernah mencapai Foundation Establishment Puncak... dan kau dihancurkan oleh energi... Nascent Soul?"
Zeng Niu dan Zhao Ying saling berpandangan. Di balik lemak dan kebodohannya, pria tua gagal ini memiliki wawasan yang luar biasa luas!
"Jangan menatapku seperti itu," Fugui tertawa gugup, menggaruk perut buncitnya. "Aku ini sudah hidup lebih lama dari anjing liar. Aku sering memungut mayat kultivator hebat yang mati konyol demi mencuri Batu Spiritual mereka. Luka di tubuhmu persis seperti orang yang terkena tekanan ruang dari monster tahap Nascent Soul."
Fugui mendesah, menatap teh kasarnya. "Kalian pasti menyinggung faksi raksasa dan kabur ke ujung dunia fana ini. Tenang saja, aku tidak peduli siapa yang kalian bunuh. Selama kalian tidak membunuhku, rahasia kalian aman di perut gemukku ini."
Zeng Niu menatap Fugui lekat-lekat. Dalam perjalanan yang sepi dan keras ini, memiliki informan lokal yang memiliki peta dunia fana di kepalanya adalah keuntungan besar.
"Jika kau memang tahu banyak, Penipu Gendut," ucap Zeng Niu. "Apakah ada cara di alam fana ini untuk membentuk ulang Dantian yang sudah hancur lebur tanpa menggunakan energi spiritual?"
Mendengar pertanyaan itu, mata Fugui seketika berbinar layaknya pedagang yang mencium bau emas.
"Ah! Membentuk ulang Dantian!" Fugui menepuk pahanya. "Di dunia kultivasi ortodoks, kau dianggap cacat permanen. Tapi di perbatasan Benua Selatan... ada sebuah tempat bernama Kota Daun Gugur. Di sana ada seorang Tabib Gila yang tidak menggunakan pil, melainkan racun monster dan akupunktur jarum emas untuk merajut kembali meridian fana!"
Fugui menatap Zeng Niu dengan seringai lebar. "Tapi biayanya... ckckck, bukan main. Dan kau butuh pemandu yang tahu jalan pintas menghindari sarang monster di jalur perdagangan."
Zeng Niu mengangguk pelan. Ia menjentikkan tiga keping perak sisa hasil penjualan kulit serigala ke atas meja.
"Selamat, Fugui. Kau baru saja dipekerjakan," ucap Zeng Niu santai.
"Tunggu, tiga keping perak?! Untuk memandu buronan melewati jalur berdarah?!" Fugui merengek protes, wajahnya ditekuk.
Zhao Ying menopang dagunya, tersenyum manis namun dengan mata yang memancarkan ketiadaan. "Tiga keping perak... atau golok berkarat ini membelah perutmu untuk mengambil kembali ayam yang kau makan. Pilih mana, Paman Fugui?"
Melihat senyum bidadari yang lebih mengerikan dari iblis itu, Qian Fugui menelan ludah dengan keras. Ia buru-buru menyapu ketiga keping perak itu ke dalam kantongnya.
"T-Tiga keping perak adalah harga sahabat yang sangat murah hati! Kita berangkat besok pagi!" seru Fugui sambil tertawa pahit, meratapi nasibnya yang entah bagaimana kini terikat dengan dua "fana" gila ini.
Zeng Niu bersandar ke dinding dan memejamkan mata. Sebuah kehangatan kecil dan tawa pelan menghiasi pondok yang reyot itu. Musim gugur di alam fana tidaklah seburuk yang ia bayangkan, terutama ketika kau memiliki bidadari yang jatuh dari langit, dan seorang pengecut gemuk sebagai teman seperjalanan.