Gavin tidak menyangka istri yang dulu berbuat licik demi menikah dengannya, Tiba-tiba setuju bercerai.
Dua tahun menikah dengan rasa dendam, Gavin tidak pernah benar-benar mengenal sosok Azalia, ah, lebih tepatnya tidak peduli.
Perceraian yang dinanti itu akhirnya akan segera terwujud. Gavin sudah tidak sabar menunggu kedatangan kekasihnya yang dulu pergi karena dirinya terpaksa menikah.
Lantas apakah perceraian yang dinanti Gavin akan benar-benar terwujud?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Marta.
Azalea menoleh cepat, matanya membulat menemukan Alvin berjongkok di hadapannya.
"Kau akan menghabiskan waktu seharian kalau menggali seperti itu," gumam Alvin tanpa melihat Azalia, tangannya mulai menggali tanah dengan lebih kuat dan efisien.
Azalia menatapnya, tentu dia tidak menyangka Alvin masih belum pergi. "Kenapa kau masih di sini?"
Alvin tidak menjawab. Dia hanya mengangkat satu alis tanpa mengalihkan pandangannya dari tanah yang kini sudah mulai tergali dengan lebih dalam.
Dia sendiri tidak punya jawaban atas pertanyaan Azalia. Yang dia tahu, dia ingin tetap di sini. Membantu Azalia.
Gavin datang, Dia segera menuju ke halaman belakang begitu Abu memberitahu keberadaan mereka.
Melihat mereka berjongkok berdampingan, Gavin melipat tangan, berdehem keras. "Apa kantormu pindah ke sini?"
Hanya Azalia yang menoleh, sedangkan Alvin tidak menanggapinya dengan serius. "Aku hanya menemaninya, membantunya memindahkan tanaman." Katanya dengan ringan.
"Bertamu terlalu lama di rumah orang itu tidak baik. Kau akan mengganggu pemilik rumah. Ada baiknya kau cepat pergi!"
"Oh, kau sudah kembali? Baiklah aku akan pergi." Jawab Alvin, tapi dia terlihat enggan melepas apa yang dia lakukan, seolah dia juga baru menemukan sesuatu yang menyenangkan. Tapi pada akhirnya, dia juga berdiri sebelum Gavin melemparnya keluar.
Saat itu Abu datang ke sisi Gavin. Abu membisikkan sesuatu di telinga tuannya. "Tuan, Marta ada di luar sekarang."
Gavin tidak menjawab, tapi dia segera memutar tubuh, bergerak sebelum wanita sinting itu menerobos masuk dan menemukan Azalia secara langsung.
Marta berdiri di teras. Tampilannya yang nyentrik dan modis membuatnya sangat percaya diri sampai dagunya terangkat tinggi.
Melihat Gavin yang muncul dari belakang, sinar di wajah Marta memancar lebih cerah dan senyumnya semakin lebar.
Ternyata kabar yang ia terima benar. Gavin sudah menemukan Azalia.
Gavin berdiri di depannya. Tatapannya menunjukkan aura permusuhan, namun Marta tidak menyadari itu.
"Selamat pagi, Gavin. Senang sekali melihatmu di sini. Azalia ada di dalam kan?"
Sebelum Gavin menjawab, Alvin muncul, berdiri di sisi Gavin dengan ekspresi sama. Kedua pria tinggi dengan bau lebar itu seperti sedang menghalanginya, bahkan hanya untuk melongok masuk.
Kebahagiaan tidak terbendung di wajah Marta. Dia tidak menyangka anaknya akan menjadi seberguna ini. Bukan hanya berhasil menggagalkan perceraiannya, tapi juga bisa membawa pulang menantu kaya raya nya.
Sekarang bahkan ada Alvin.
Dua pria hebat di kota ini ada di rumah Azalia.
Luar biasa! Dia mencium uang berlimpah di sini. Bisa dia bayangkan, dengan dua pria di depannya di sisi Azalia, perusahaan keluarga yang nyaris bangkrut saat ini akan kembali kebanjiran dana.
Marta menyapa Alvin, tidak kalah ramahnya juga saat ia melakukan pada Gavin. "Alvin, kau di sini juga?"
Seolah lupa apa yang telah ia lakukan pada keluarga pria itu, Marta menampilkan wajah tanpa dosa.
"Untuk apa ke sini? Memeras anakmu sendiri? Atau mau memaksanya menikah dengan pria Kalimantan itu?"
Alvin berkata dengan ketus. Sudah jelas dia tidak menunjukkan keramahan lagi, tapi Marta ini seperti menebalkan muka. Tidak tahu malu dan tidak sadar diri.
Mendapat tatapan sinis dari Alvin, Marta masih berusaha tersenyum, meski senyumannya canggung dan menahan malu.
"Aku tidak seperti itu. Mana mungkin aku mau memaksa Azalia menikah, Dia kan sudah punya suami, betul kan, Gavin?" Dia menoleh pada Gavin, berharap dukungan dari menantunya.
Tapi saat dia baru menyadari tatapan Gavin yang melihatnya dengan muak, jantung Marta mulai berdebar takut.
"Gavin.. sungguh aku tidak... Aku tidak selancang itu menjodohkan Azalia dengan pria lain, itu hanya rumor, kau jangan mempercayai berita hoax itu. Kau... kau tidak mungkin mempercayai itu, kan?" Mata Marta berbinar, berharap pria itu mendengar ucapannya.
"Mana mungkin aku mempercayai rumor sampah."
Senyum di wajah Marta kembali merekah. Jauh lebih lebar daripada apa pun. "Gavin, kau memang sangat bijaksana, pasti kau tahu mana yang benar atau tidak. Kau memahamiku dengan sangat baik."
Marta tersenyum penuh kemenangan. Dia akhirnya mengatakan tujuannya. "Jadi aku kemari...,"
"Mencari dana untuk perusahaan?" Gavin menyela. "Jangan khawatir, kau boleh pergi. Aku akan mengirim hadiah ke perusahaanmu nanti."
"Sungguh?" Jantung Marta hampir meloncat mendengar itu. Dia tidak menyangka, putrinya akhirnya berhasil merayu Gavin.
Sedangkan Alvin, dia meliriknya tidak percaya. Tidak percaya kalau Gavin bisa semudah itu mempercayai ucapan Marta.
"Gavin, kau sangat baik. Aku benar-benar berterima kasih padamu. Aku berjanji, aku akan mengingat kebaikanmu sepanjang hidupku."
"Sekarang pergilah, kau tunggu saja, hadiah itu akan segera kukirim."
"Oh, baiklah. Aku akan pergi sekarang. Maaf, aku pasti sudah mengganggu kesenangan kalian. Silakan lanjutkan aktivitas kalian. Aku tidak ingin membuang waktu kalian yang berharga."
Marta tersenyum penuh kesenangan, dalam hati tertawa terbahak kegirangan.
Setelah kepergian Marta. Alvin tidak membuang waktu untuk protes.
"Apa yang kau lakukan? Apa kau gila? Kenapa kau malah memanjakan mereka?" Alvin mengumpat kesal. Apakah Gavin tidak tahu kelicikan wanita itu?
Apa yang ada di pikirannya?
"Aku melakukan apa yang harus aku lakukan. Kau juga lebih baik pergi dari sini! Kenapa kau betah di rumahku? Sana perusahaan butuh pemimpin teladan, bisa-bisa kau kehilangan hak waris jika terus main-main seperti ini."
Sungguh?
Alvin dibuat tak percaya dengan kata-kata kakaknya.
Ini bahkan untuk pertama kalinya dia mangkir.
Selama ini, bagaimanapun keadaannya, Alvin akan tetap menjalankan kewajibannya pergi ke perusahaan dan pekerja seperti biasa.
Alvin baru saja akan membuka mulut, tapi Gavin tiba-tiba berbalik dan menutup pintu rumahnya begitu saja. Bukan hanya menutup, tapi dia juga menguncinya.
"Kak! Gavin...!" Teriaknya sambil menggedor-gedor. "Ah... Brengsek! Buka pintunya! Jas, ponsel, dan barang-barangku masih ada di dalam!"
Lalu jendela di sisi pintu terbuka. Tangan Abu telur keluar, membawa jasnya. "Maaf, Tuan melarang saya membuka pintu, jadi saya hanya bisa memberikan lewat sini. Ini kunci mobil Anda juga."
Alvin melirik dengan kesal. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang dipikirkan Gavin. Tidak biasanya pria itu mengambil keputusan konyol seperti ini.
Gavin kembali ke halaman belakang. Setelah bahunya menyandar di kusen sambil melipat tangannya di dada.
Azalia masih sibuk di sana, masih melanjutkan apa yang ia lakukan tadi.
"Apa kau suka melakukan ini di pagi hari? Maksudku apa kau suka menanam?"
"Ya?" Azalia menoleh. Dia tidak mendengar pertanyaan Gavin dengan baik, karena konsentrasinya sudah menurun.
"Aku bilang, apa kau suka menanam? Kau suka berkebun setiap pagi?"
Azalia tampak berpikir. Kemudian dia tersenyum kecil. "Mungkin. Entahlah, aku tidak tahu apakah aku benar-benar menyukainya, tapi aku memang senang melakukan ini."
Lalu perawat muncul di antara mereka. Dengan penuh kelembutan, dia membujuk Azalia agar segera beristirahat. "Nyonya, Anda sudah melakukannya sejak pagi. Sekarang Anda sudah waktunya istirahat."
Lalu Gavin menimpali. "Benar. Jangan terlalu lelah!"
Azalia berdiri, merenggangkan punggung. Sepertinya memang sudah cukup. Dia sudah merasa lelah.
Saat dia terbalik dan pandangan mereka bertemu. Gavin terdiam sesaat.
Abu dan perawat di sisinya hampir akan mengatakan sesuatu, tapi mulutnya dibungkam dengan tatapan Gavin yang mendelik ke arah mereka.
Pria itu berbalik cepat, menghilang di dapur. Hanya butuh beberapa detik sebelum dia kembali, kali ini dengan selembar tisu di tangannya.
Azalia menoleh tepat saat Gavin sudah berdiri di depannya. Sebelum sempat bertanya, Gavin meraih dagunya dengan satu tangan, lembut tapi tak memberi kesempatan untuk menolak. Lalu dengan tenang menyangga bagian bawah hidungnya.
Tisu itu menyerap merah.
Azalia terkejut. "Gavin?"
"Hmph?" Gavin tetap fokus, memastikan tidak ada yang tersisa sebelum akhirnya membuang tisu itu ke samping.
Azalia mengurutkan kening, hendak mengangkat tangannya untuk menyentuh wajahnya sendiri, tapi Gavin lebih cepat. Dia menangkap pergelangan tangan Azalia, menurunkannya perlahan.
"Hanya keringat," katanya tenang, seolah apa yang baru saja dia lakukan bukanlah hal yang berarti. "Ayo masuk, dan bersihkan dirimu. Istirahatlah setelah ini. Aku perlu ke perusahaan sebentar."
Gavin mengambil pergelangan tangannya, membawa dia ke wastafel di sisi kamar mandi.
Pria itu berdiri di belakang Azalia, tangannya mengambil alih jemari istrinya di bawah aliran air. Tanpa berkata apa-apa, dia membersihkan noda tanah di sana, telapak tangannya yang besar menyelimuti tangan Azalia sepenuhnya.
Air dingin mengalir, tapi suhu di antara mereka justru terasa meningkat.
Azalia menelan ludah. Dia merasakan kehangatan tubuh Gavin menempel di punggungnya, bahu lebarnya membingkai tubuhnya seperti benteng yang tak tertembus.
Saat Gavin sedikit condong ke depan, pipi mereka bersentuhan.
Azalia tersentak, begitu juga Gavin.
Refleks, keduanya mengangkat kepala, dan dicermin di depan mereka, tatapan mereka bertemu.
Hening
Jantung Azalia berdebar. Begitupun Gavin.
######
Maaf ya...
Author nggak bisa doble up kalau like dan komentar kurang dari target...
Happy Reading...
Jadi Gedeg sama dua laki laki kakak beradik ini.
seabaiknya km kmbalikn ginjal azalea dech....
mulut laki" sampah kau alvin🙄🙄
punya org tua nyatanya hidupmu layaknya yatim piatu....
punya suami... tpi km seolah janda... bhkn km harus merasakn kbencian dri suami & keluarga besarnya...
smoga kelak ada keajaiban untukmu hidup bahagia azalea...