NovelToon NovelToon
Antara Ketulusan Dan Godaan Bos

Antara Ketulusan Dan Godaan Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:744
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

Demi melunasi utang almarhum ayahnya dan membiayai sekolah adiknya, Andra (23 tahun), seorang pemuda desa yang tampan dan bersahaja, nekat merantau ke Jakarta. Berbekal kejujuran dan ijazah SMK, ia diterima sebagai asisten administrasi di Apex Media, sebuah agensi periklanan papan atas yang gemerlap di kawasan Sudirman.
​Di sana, Andra berhadapan langsung dengan sang bos besar, Nadia (32 tahun), seorang wanita karier sukses yang perfeksionis. Di balik kemewahan hidupnya, Nadia menyimpan kesepian mendalam karena pernikahannya dengan seorang pengusaha kaya telah lama mendingin dan hambar.
​Di tengah belantara Jakarta yang penuh kepalsuan, ketulusan dan kepolosan Andra perlahan mencuri perhatian Nadia. Intensitas kerja hingga larut malam membuat batas profesional di antara atasan dan bawahan ini perlahan mengabur. Andra kini dihadapkan pada dilema moral terbesar dalam hidupnya: bertahan pada ketulusan prinsipnya demi keluarga di desa, atau menyerah pada godaan sang bos yang menawarkan keh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Tatapan yang Berbeda di Lantai 22

​Air yang menetes dari ujung-ujung jaket parasut murah milik Andra menciptakan genangan kecil di atas lantai marmer lobi gedung menara SCBD. Sembari menunggu staf hukum turun mengambil dokumen, Andra berdiri dengan posisi canggung di dekat pilar. Beberapa orang eksekutif muda yang lewat sesekali meliriknya dengan pandangan merendahkan, namun Andra memilih mengabaikan mereka. Fokusnya kini adalah memastikan dokumen merah di tangan resepsionis itu benar-benar berpindah ke orang yang tepat.

​Denting lift khusus berbunyi di dekat meja resepsionis. Seorang wanita dengan langkah kaki yang tegas dan berirama anggun melangkah keluar. Wanita itu mengenakan setelah celana formal berwarna abu-abu muda yang sangat pas di tubuhnya yang proporsional. Rambutnya dipotong pendek bergaya bob modern, membingkai wajahnya yang cantik dengan garis rahang yang tegas namun manis. Kacamata berbingkai tipis bertengger di hidungnya yang mancung, memberikan kesan intelektual yang sangat kuat.

​Dia adalah Diana, Direktur Hukum perusahaan kosmetik multinasional ini. Diana dikenal sebagai salah satu eksekutif wanita paling dingin dan tanpa kompromi di kawasan segitiga emas Jakarta. Dia adalah orang yang setengah jam lalu membuat tim kreatif Apex Media menangis histeris di telepon karena ancaman pembatalan kontrak.

​Mana dokumen revisi dari Apex Media? tanya Diana kepada petugas resepsionis, suaranya terdengar jernih, tegas, dan penuh wibawa.

​Ini, Ibu Diana. Baru saja diantar dua menit yang lalu sebelum jam lima, jawab resepsionis sambil menyerahkan map merah itu.

​Diana menerima map tersebut, membukanya dengan cepat, dan memeriksa lembar demi lembar halaman hukum yang sudah ditandatangani oleh Nadia. Setelah memastikan semua stempel dan formula bahan baku sudah sesuai dengan regulasi, seulas senyum tipis kepuasan muncul di bibirnya. Tindakan tanggap darurat dari Apex Media ini cukup mengesankan baginya.

​Siapa kurir yang mengantar dokumen ini sore-sore begini menembus macet? tanya Diana lagi, bermaksud memberikan apresiasi atau sekadar tahu siapa orang yang bergerak secepat ini.

​Petugas resepsionis itu menunjuk ke arah pilar besar di dekat pintu keluar. Itu, Bu. Mas-mas yang berdiri di sana. Dia bukan kurir sepertinya, tapi asisten pribadi Ibu Nadia. Dia datang naik motor bebek dan kondisinya basah kuyup karena hujan deras di luar.

​Diana membalikkan tubuhnya, mengarahkan pandangannya ke arah yang ditunjuk oleh resepsionis. Untuk pertama kalinya, mata tajam wanita sukses itu mendarat pada sosok Andra.

​Diana tertegun selama beberapa detik di tempatnya berdiri. Di sudut lobi yang temaram, Andra sedang melepas jaket parasutnya yang basah, menyisakan kemeja biru mudanya yang melekat ketat di tubuh karena lembap. Kemeja yang agak basah itu justru mencetak dengan jelas bentuk dada bidang dan bahu kokoh Andra yang terbentuk alami karena bertahun-tahun melakukan kerja fisik di desa. Rambut hitam Andra yang sedikit basah oleh air hujan tampak berantakan namun justru menambah kesan maskulin yang sangat kuat pada wajah sawo matangnya. Guratan rahangnya yang tegas, hidungnya yang lurus, serta sepasang mata hitamnya yang teduh namun memancarkan harga diri yang tinggi, membuat Andra terlihat sangat menawan, jauh melampaui ketampanan para pria kota yang biasa Diana temui di ruang rapat atau bar mewah SCBD. Pria-pria kota biasanya terlihat tampan karena perawatan mahal dan pakaian bermerek, namun ketampanan Andra adalah jenis ketampanan yang murni, jantan, dan bersahaja.

​Diana merasakan ada debaran aneh yang mendadak muncul di dadanya—sebuah perasaan tertarik yang sudah sangat lama tidak ia rasakan sebagai seorang wanita lajang yang terlalu fokus pada karier setinggi langit.

​Diana melangkah mendekati Andra dengan langkah kaki yang sengaja diperlambat. Suara ketukan sepatu hak tingginya membuat Andra menoleh.

​Kamu yang bernama Andra? tanya Diana ketika jarak mereka sudah dekat. Ia menatap Andra dari bawah ke atas, tidak lagi menyembunyikan binar ketertarikan di balik kacamatanya.

​Andra yang mendapati seorang wanita asing dengan penampilan yang sangat berkelas mendadak mengajaknya bicara, langsung menegakkan posisinya dan mengangguk sopan. Nggih, betul, Ibu. Saya Andra, asisten administrasi dari Apex Media. Apa dokumennya sudah benar dan lengkap?

​Diana tersenyum manis, sebuah senyuman yang sangat jarang ia perlihatkan kepada mitra bisnisnya, apalagi kepada seorang staf administrasi bawah. Dokumennya sangat sempurna, Andra. Dan kerja kerasmu sore ini jauh lebih sempurna. Menembus kemacetan Sudirman dan hujan badai dalam waktu dua puluh menit dengan motor bebek itu hampir seperti keajaiban. Jika bukan karena kamu, proyek bernilai miliaran ini sudah saya batalkan sore ini juga.

​Saya hanya menjalankan tugas dan tanggung jawab saya, Ibu. Saya tidak mau kelalaian tim kami merugikan pihak Ibu dan mengecewakan pimpinan saya, jawab Andra dengan nada suara yang rendah, sopan, dan sama sekali tidak ada nada menyombongkan diri. Pembawaannya yang bersahaja itu justru membuat pesona ketampanannya berlipat ganda di mata Diana.

​Diana menaikkan sebelah alisnya, semakin kepincut dengan kepribadian Andra. Kamu sangat setia pada perusahaanmu, ya? Atau lebih tepatnya, sangat setia pada Nadia? tanya Diana dengan nada menyelidik yang halus.

​Saya setia pada pekerjaan saya yang halal, Ibu, jawab Andra ringkas, tetap menjaga pandangannya agar tidak lancang menatap wajah cantik sang direktur hukum.

​Diana terkekeh kecil, merasa sangat gemas dan tertarik dengan kepolosan pemuda di hadapannya. Ia merogoh saku celana abu-abunya, mengeluarkan sebuah kartu nama eksklusif bertekstur tebal dengan tinta emas yang menuliskan nama dan jabatan menterengnya, lengkap dengan nomor telepon pribadi yang sangat rahasia.

​Diana mengulurkan kartu nama itu langsung ke depan dada Andra. Ini kartu nama saya, Andra. Simpan ini baik-baik. Di dalam bisnis, orang yang jujur, tampan, dan punya tanggung jawab besar seperti kamu itu sangat langka. Saya suka bekerja dengan orang-orang seperti kamu.

​Andra menerima kartu nama mewah itu dengan tangan yang agak ragu. Terima kasih, Ibu Diana.

​Jangan panggil Ibu jika kita sedang tidak membahas masalah pasal kontrak, Andra. Panggil saja Diana, ucap wanita itu dengan kedipan mata yang sengaja diberikan untuk mengirimkan sinyal kedekatan yang baru. Jika suatu saat kamu merasa bosan bekerja di bawah tekanan Nadia, atau kamu ingin mencari tantangan baru dengan fasilitas dan penghasilan yang jauh lebih besar di gedung ini, hubungi nomor pribadi saya yang ada di kartu itu. Saya selalu punya posisi istimewa untuk pria hebat seperti kamu.

​Diana memberikan senyuman menawan terakhirnya sebelum berbalik badan dan melangkah kembali menuju lift eksekutif dengan anggun, meninggalkan Andra yang berdiri terpaku memandangi kartu nama tebal di tangannya.

​Andra menarik napas panjang, merasa kepalanya mendadak pusing dengan segala kerumitan di kota ini. Di dalam saku celananya, ia memasukkan kartu nama Diana di samping dompet kulitnya yang berisi surat dari adiknya di desa. Belum selesai urusan kedekatan terlarangnya dengan Nadia yang membuatnya didera rasa bersalah, kini muncul lagi seorang wanita sukses dan berkuasa lainnya yang secara terang-terangan menunjukkan ketertarikan pada dirinya. Langit Jakarta di luar gedung semakin gelap oleh guyuran hujan, seolah menandakan bahwa alur hidup Andra di ibu kota ini akan semakin terseret ke dalam pusaran asmara dan kekuasaan yang rumit.

1
Master Haki
terbaik dan bikin penasaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!