NovelToon NovelToon
Mengandung Benih Kembar CEO Mandul

Mengandung Benih Kembar CEO Mandul

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / One Night Stand / Anak Kembar
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Ternyata kamu tidak lebih dari wanita sampah Kiana! Bagaimana bisa kamu hamil jika tidak berhubungan dengan laki-laki lain?! Kau tahu aku ini Mandul!

...

Kiana Mahira wanita 25 tahun yang terjebak malam panas bersama Pria 35 tahun bernama Ardan Arkatama. Malam itu Kiana terpengaruh obat yang di cekoki pacarnya, Dafa (28). Dafa berniat menjadikan Kiana tumbal pelunas hutang kepada seorang rentenir tua. Malam itu Kiana berhasil kabur dengan kondisi mabuk dan terpengaruh obat dosis tinggi. Namun justru dia jatuh ke pelukan Ardan Arkatama seorang CEO dingin yang sedang frustasi berat karena tuntutan ahli waris di tengah vonis kemandulannya.

Satu malam panas itu ternyata membuat Kiana mengandung anak kembar. Kiana yang sudah sepakat dengan Ardan untuk melupakan malam itu memilih diam karena takut Ardan pasti tidak akan mengakuinya karena pria itu sangat yakin dirinya mandul tanpa tahu semua ini hanyalah rekayasa dari pamannya yang haus kekuasaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 // MBKCM

​Ardan kembali menyibukkan diri dengan pekerjaan setelah dari rumah sakit. Dia melampiaskan amarahnya pada berkas yang dia baca. Berkali-kali Ardan hampir meremas berkas itu meski sebenarnya isinya hal penting. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk pulang di sore hari. Bimo cukup merinding karena sejak dari rumah sakit bosnya itu hanya diam. Bimo juga tidak berani mengajak bercanda seperti biasa karena tahu saat ini emosi Ardan sedang berada di puncaknya.

​Begitu mobil berhenti sempurna di depan lobi, Ardan turun dengan langkah kaki yang menghentak berat. Dia berjalan melintasi koridor luas berlantai mengkilap itu, mencoba mengatur napasnya yang memburu. Dia tahu, beberapa meter di depan, di dalam ruang keluarga utama, Kakek Wirya sudah menunggunya. Sebagai penerus yang terpilih, Ardan dipaksa untuk mengubur rapat-rapat badai amarah, kekecewaan, dan rasa terhinanya dalam-dalam sebelum berhadapan dengan sang kepala keluarga. Dia tidak boleh terlihat lemah, dan dia tidak boleh membiarkan kakeknya mencium ada yang tidak beres dengan kondisi psikologisnya sore ini.

​Ardan mendorong pintu kayu jati ruang keluarga dengan perlahan. Di sana, Kakek Wirya sedang duduk di kursi kebesarannya, ditemani oleh sebuah kotak beludru merah kecil yang terletak di atas meja kaca di depannya.

​"Kamu sudah pulang, Ardan? Kemari, duduklah di dekat Kakek," panggil Kakek Wirya, suaranya yang serak namun tegas bergema di ruangan yang luas itu.

​Ardan melangkah mendekat, lalu mendudukkan tubuhnya di sofa seberang sang kakek. Dia memaksakan sebuah senyuman tipis yang terlihat sangat formal. "Iya, Kek. Maaf kalau membuat Kakek menunggu lama. Ada beberapa urusan luar yang harus aku selesaikan tadi."

​Kakek Wirya tidak mempermasalahkan hal itu. Beliau perlahan mengulurkan tangannya, mengambil kotak beludru merah tersebut, lalu membukanya di hadapan Ardan. Di dalam kotak itu, sepasang cincin berlian dengan desain klasik namun sangat mewah berkilau terkena pendar lampu ruangan.

​"Ini adalah cincin warisan turun-temurun dari mendiang nenekmu, Ardan," ujar Kakek Wirya dengan mata yang menerawang, sarat akan kenangan masa lalu. "Kakek sengaja menyimpannya selama puluhan tahun hanya untuk hari ini. Besok adalah hari pertunanganmu dengan Dania Abraham. Pakai cincin ini untuk mengikatnya. Jaga hubungan kalian dengan baik, karena di bahu kalian berdua lah masa depan keluarga Arkatama akan diteruskan."

​Ardan menatap sepasang cincin berkilau itu dengan tatapan mata yang mendadak kosong. Kata-kata masa depan keluarga Arkatama terasa seperti sindiran yang sangat tajam, merobek kembali luka di hatinya yang baru saja dinyatakan mandul total seumur hidup oleh dokter tadi. Tidak akan ada dinasti dari darah dagingnya sendiri. Tidak akan ada anak yang lahir dari benihnya untuk meneruskan nama besar Arkatama.

​Namun, menatap wajah tua kakeknya yang tampak begitu bahagia dan penuh harap, Ardan akhirnya memilih untuk membuang jauh-jaruh sisa penolakannya. Dia mengulurkan tangan, menerima kotak cincin itu dengan jemari yang terasa dingin. Ardan sudah berada di titik pasrah yang paling dalam. Mungkin inilah takdir hidupnya yang harus dia jalani. Menjadi pria mandul yang menikahi wanita pilihan keluarga demi bisnis dan status sosial.

​Lagipula, di dalam benak Ardan, ada satu poin yang membuatnya merasa tidak perlu lagi mencari jalan keluar lain, Dania Abraham tahu tentang hasil tes medisnya yang menyatakan dirinya mandul, dan wanita sosialita itu tetap bersedia menerima kekurangannya tanpa menuntut apa-apa, asalkan status sebagai Nyonya Arkatama berada di tangannya. Bagi Ardan, kompromi itu sudah lebih dari cukup untuk melanjutkan sandiwara kehidupan ini.

​"Terima kasih, Kek. aku akan menjaga cincin ini dengan baik untuk acara besok," ucap Ardan dengan nada suara baritonnya yang datar dan patuh.

​Kakek Wirya mengangguk puas, menepuk bahu cucunya dengan bangga. "Nah, sekarang istirahatlah. Besok adalah hari besar keluarga kita."

"Iya kek, Aku masuk kamar dulu." balas Ardan yang kemudian langsung pergi meninggalkan kakeknya.

​Ardan melangkah memasuki kamar utamanya yang luas dengan perasaan hampa. Dia meletakkan kotak beludru merah berisi cincin pertunangan itu di atas meja nakas di samping ranjangnya dengan kasar. Pria itu melonggarkan dasinya, lalu berjalan menuju lemari pakaian besar di sudut ruangan.

​Saat membuka pintu lemari, pandangan mata Ardan mendadak terpaku pada sehelai jas formal berwarna hitam yang tergantung agak terpisah di bagian paling dalam. Itu adalah jas yang dia gunakan untuk menyelimuti tubuh Kiana yang meringkuk di dalam mobilnya malam itu. Jas itu sengaja belum dia kirim ke tempat penatu pakaian selama berminggu-minggu ini, hanya karena di serat kainnya masih menyisakan kehangatan samar dan aroma khas tubuh Kiana yang menenangkan, yang entah mengapa sempat menjadi candu tersembunyi bagi Ardan.

​Namun malam ini, melihat jas itu justru membuat dada Ardan kembali membara oleh rasa benci dan dikhianati. Mengingat hasil laboratorium hari ini, Ardan merasa bodoh karena sempat merindukan aroma dari seorang wanita yang dia yakini telah tidur dengan pria lain dan mungkin punya rencana untuk menjebaknya di masa depan.

​Dengan gerakan kasar, Ardan menyambar jas tersebut dari gantungannya, lalu melangkah menuju pintu kamar dan membukanya lebar-lebar.

​"Bimo!" panggil Ardan dengan suara menggelegar.

​Bimo yang memang sedang berdiri di lorong depan kamar, seakan tahu akan ada tugas langsung menoleh dan berjalan cepat mendekat. "Iya, Pak Ardan? Ada yang bisa saya bantu?"

​Ardan melemparkan jas hitam di tangannya tepat ke arah dada Bimo. "Ambil jas ini. Buang ke tempat sampah sekarang juga. Jangan pernah biarkan benda ini, atau apa pun yang berkaitan dengan pelayan toko itu, ada di dalam rumahku lagi!"

​Bimo menerima jas itu dengan cekatan, menatap kain di pelukannya dengan pandangan mata yang sarat akan rasa prihatin. Sebagai asisten yang tahu persis bagaimana emosi bosnya bergejolak, Bimo hanya bisa menghela napas pendek dalam hati. "Baik, Pak. Saya akan segera membuangnya," jawab Bimo patuh, lalu membungkuk hormat sebelum berbalik pergi membawa jas yang menjadi saksi bisu awal mula kehancuran hubungan Ardan dan Kiana.

​Ardan menutup pintu kamarnya dengan bantingan keras, lalu mengunci diri di dalam kegelapan, mencoba menenggelamkan rasa bersalahnya yang kini telah sepenuhnya berubah menjadi kebencian yang pekat.

***

​Malam sunyi sangat terasa di kediaman baru Kiana, tepatnya di sebuah ruko dua lantai yang terletak di salah satu sudut jalanan kota Bandung yang sejuk, suasana terasa jauh lebih damai namun penuh dengan perjuangan baru. Kiana sedang berdiri di tengah-tengah ruko lantai satu yang masih kosong melompong. Beberapa kardus berisi barang-barang pribadinya yang dikirim lewat ekspedisi sudah tertata di pojok ruangan.

​Malam itu, setelah seharian membersihkan debu dan menyapu lantai ruko yang akan dia sulap menjadi toko bunga kecil, Kiana mendudukkan tubuh lelahnya di atas sebuah kursi kayu panjang. Suasana kota Bandung di luar jendela tampak temaram, diiringi suara kendaraan yang berlalu-lalang sesekali.

​Kiana sempat termenung sebentar, sembari memegangi pinggangnya yang terasa pegal karena beres-beres seharian. Di keheningan malam itu, sebuah keraguan yang sangat manusiawi mendadak merayap masuk ke dalam relung hatinya. Dia menurunkan pandangannya, menatap perutnya yang kini terasa agak mengeras di balik kaos longgarnya.

​“Mungkinkah... mungkinkah aku bisa membesarkan kedua anak ini sendirian tanpa sosok seorang ayah?” batin Kiana lirih, ada rasa takut yang tiba-tiba menyergap rongga dadanya. Dia hanyalah seorang wanita sebatang kara yang tidak memiliki modal besar, harus memulai usaha dari nol, sambil menanggung beban kehamilan kembar yang pastinya akan semakin berat dari hari ke hari."Bagaimana jika nanti aku mendadak sakit? Bagaimana jika usahaku gagal dan aku tidak bisa membelikan susu untuk anak-anakku?"

​Bukan hanya soal urusan finansial yang mengganggu pikiran Kiana malam ini. Ada hal lain yang jauh lebih rumit yang harus segera dia persiapkan solusinya, yaitu pandangan sosial masyarakat sekitarnya.

​Ruko yang dia sewa ini berada di kawasan pemukiman yang cukup ramai. Semakin hari, kehamilannya pasti akan semakin membesar dan membuncit nyata, tidak akan bisa lagi ditutupi dengan kaos-kaos longgar. Di lingkungan masyarakat yang masih menjunjung tinggi adat dan norma, seorang wanita asing yang tinggal sendirian dalam kondisi hamil besar tanpa pernah terlihat ada sosok suami yang mendampingi, pasti akan menjadi bahan gunjingan yang sangat panas. Mereka pasti akan mempertanyakan statusnya, mencibirnya sebagai wanita tidak benar, atau bahkan yang paling buruk, warga sekitar bisa saja mengusirnya karena dianggap membawa aib bagi lingkungan tempat tinggal mereka.

​Kiana meremas jemarinya sendiri, mencoba mencari jalan keluar dan alasan paling logis yang bisa dia gunakan untuk melindungi diri dan kedua bayinya dari tajamnya lidah manusia. Dia tidak ingin anak-anak di dalam rahimnya diberi label sebagai anak haram oleh orang-orang sekitar.

​Setelah berpikir cukup lama di dalam kesunyian ruko, sebuah keputusan yang ekstrem namun paling aman akhirnya terlintas di dalam kepala Kiana. Matanya yang tadinya sayu mendadak berkilat penuh ketegasan yang dingin.

​Kiana mengusap perut buncitnya dengan lembut namun mantap. “Jika nanti ada tetangga, pemilik warung, atau siapa pun di kota ini yang bertanya tentang keberadaan ayah kalian... Ibu akan mengatakan pada mereka bahwa ayah kalian sudah meninggal dunia akibat kecelakaan tragis sebelum kalian lahir,” bisik Kiana dengan bibir yang bergetar menahan haru.

​Bagi Kiana, membuat sosok ayah dari bayi-bayinya dianggap sudah mati adalah pilihan terbaik. Itu jauh lebih terhormat daripada harus mengakui kenyataan bahwa ayah kandung mereka adalah seorang konglomerat berhati iblis bernama Ardan Arkatama, pria yang telah menginjak-injak harga dirinya, mengatainya sebagai sampah murahan, dan mengusirnya dengan kejam. Mulai malam ini, di dalam narasi kehidupan baru yang dia bangun di kota Bandung, sosok Ardan Arkatama telah sepenuhnya mati dan terkubur tanpa sisa di dalam hidup Kiana Mahira.

1
Lisa
Gmn tuh sadar atau g si Ardan klo twins benar² anaknya..
Lisa
Keras kepala banget si Ardan ini..msh blm mau mengakui klo twins adl anaknya
Lisa
👍 bagus Kiana..anggaplah si Ardan itu udh g ada..
Lisa
ya bener ceo koq g tegas sikapnya..periksa ke dokter yg lain donk..
Dewi Amalia
malass bca cerita nya msa ceo mudah di bohongi berkali-kali.. seharusnya gnti dg dokter yg lain...
jenny
menanti penyesalan Ardan 😁
Novaa: tunggu kelanjutannya ya, terimakasih sudah mampir 🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!