Clarissa Anggreni, pemimpin mafia kejam yang dijuluki Queen of Damnation, tewas ditembak oleh sahabatnya sendiri, Kalina, dan kekasihnya, Rafael, karena perselingkuhan. Saat ajal menjemput, ia justru terbangun di tubuh Alisha Kirana Maharani – istri cupu korban KDRT dari konglomerat Giovan Salvatore Vizcaya, yang wajahnya persis seperti Rafael. Alisha baru saja jatuh dari lantai atas setelah ditembak orang tak dikenal. Keluarga Vizcaya mengira ia sudah mati. Tapi kini, di balik tubuh lemah Alisha, bersemayam jiwa seorang ratu maut. Di keluarga Vizcaya yang kejam, Alisha direndahkan sebagai pelayan. Giovan berselingkuh di depannya. Tapi Clarissa tidak pernah menjadi korban. Dengan kecerdikan, koneksi bawah tanah, dan haus balas dendam, Alisha (Clarissa) mulai menyusun rencana: ·Membalaskan kematian jasad aslinya kepada Rafael (Giovan) dan Kalina. · Menguasai keluarga Vizcaya dari dalam. · Menemukan siapa penembak yang hampir membunuh Alisha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan Berbahaya
Fabian masih menatap heran pada Alisha yang tiba-tiba berubah drastis. Wanita yang dulu dikenal penakut dan selalu menunduk, sekarang berdiri tegak dengan sorot mata tajam.
"Alisha, kau yakin baik-baik saja?" tanya Fabian sekali lagi.
Clarissa menoleh pada Fabian dan tersenyum manis. "Aku baik-baik saja, kok. Hanya saja... aku merasa lebih percaya diri sekarang."
Giovan menyipitkan matanya. "Percaya diri? Barusan kau habis memukuli dua pria dewasa!"
"Itu namanya bela diri, Giovan. Mungkin kamu perlu belajar juga," balas Clarissa santai.
Fabian nyaris tersenyum mendengar jawaban Alisha. Namun, ia segera menahan dirinya. "Aku akan pergi dulu. Ayah menyuruhku memeriksa keamanan sekitar."
"Hati-hati, Fabian!" seru Clarissa dengan nada ceria.
Giovan menatap istrinya dengan tatapan tidak percaya. "Sejak kau bisa memanggil nama sepupuku semudah itu?"
"Dia bilang namanya Fabian, makanya aku panggil Fabian. Ada salah?" Clarissa mengangkat satu alisnya.
"Kau tidak sopan."
"Aku tidak sopan karena memanggil nama? Lalu bagaimana denganmu yang memanggilku 'Alisha'? Bukankah itu juga nama? Kenapa aku tidak boleh memanggil nama orang lain?"
Giovan terdiam. Logika Alisha memang aneh tapi sulit dibantah.
"Sudahlah, aku turun dulu. Kakekmu pasti khawatir," ucap Clarissa sambil berjalan melewati Giovan.
Belum sampai dua langkah, Giovan menarik tangannya. "Pakai sepatu dulu."
Clarissa menunduk. Baru ia sadari bahwa kakinya masih telanjang. "Oh."
Ia kembali ke kamar untuk mengambil sepatu. Giovan mengikutinya dari belakang.
---
Di ruang keluarga, Edward sedang duduk bersama Bramantya, Carissa, dan beberapa anggota keluarga lainnya. Wajah Edward masih pucat, namun beliau berusaha tegar.
"Kakek, maaf aku terlambat turun," ucap Clarissa sambil duduk di samping Edward.
Edward menatap menantu kesayangannya itu. "Kamu tidak apa-apa, Alisha? Tadi kakek dengar kamu berteriak."
"Iya, Kakek. Ada dua pria menyusup ke kamarku. Tapi untungnya Giovan cepat datang," jawab Clarissa sambil melirik ke arah Giovan yang berdiri di belakang sofa.
"Bukan aku yang memukuli mereka," ucap Giovan datar.
Semua mata tertuju pada Giovan.
"Maksudmu?" tanya Bramantya.
"Alisha yang memukuli dua penyusup itu sendirian. Aku hanya memukul satu orang yang mencoba menusuknya dari belakang," jelas Giovan.
Keheningan menyelimuti ruangan.
Carissa tertawa kecil. "Jangan bercanda, Gov. Alisha yang mana? Alisha yang setiap hari dicuekin sama kamu?"
"Aku tidak bercanda, Mom," jawab Giovan tegas.
Edward menatap Alisha dengan saksama. "Benar itu, Alisha?"
Clarissa mengangguk pelan. "Aku tidak tahu, Kakek. Tiba-tiba saja tubuhku bergerak sendiri. Mungkin karena takut, ya, refleks saja."
"Refleks? Itu bukan refleks, itu gaya bertarung terlatih," potong Giovan.
"Apa kamu lupa? Aku sudah beberapa bulan tinggal di sini. Mungkin tanpa sadar aku belajar dari pengawal-pengawal di sini," jawab Clarissa dengan tenang.
Alasan itu terdengar masuk akal, tapi Giovan tetap tidak puas. Ada sesuatu yang berbeda dari sorot mata istrinya. Bukan hanya berani, tapi juga... berbahaya.
Edward menghela napas. "Sudahlah, yang penting Alisha selamat. Mulai sekarang, dua orang pengawal khusus akan menjagamu setiap saat."
"Tidak perlu, Kakek. Aku bisa menjaga diriku sendiri," tolak Clarissa.
"Alisha, jangan menolak. Ini demi keselamatanmu," sela Bramantya.
Clarissa menahan diri untuk tidak membantah lagi. Ia ingat, ia bukan lagi Clarissa yang bebas berbuat seenaknya. Ia sekarang adalah Alisha, istri cupu dari keluarga Vizcaya.
"Baiklah, Kakek. Tapi aku punya satu permintaan."
"Apa?"
"Aku ingin kamarku diganti. Aku tidak tahan dengan warna-warna mencolok di kamar itu. Kepalaku pusing melihatnya."
Emeline dan Carissa saling bertukar pandang. Alisha yang dulu menyukai warna-warna cerah, sekarang mengeluh?
"Terserah kamu, Alisha. Kamu bisa pilih desain kamar sesukamu," jawab Edward dengan lembut.
"Terima kasih, Kakek."
---
Dua jam kemudian...
Setelah semua anggota keluarga kembali ke aktivitas masing-masing, Clarissa duduk sendirian di taman belakang rumah Vizcaya. Matanya menatap kolam ikan koi di depannya.
"Ini aneh," batinnya. "Aku mati, tapi aku hidup kembali di tubuh gadis lain. Rafael sekarang bernama Giovan. Kalina... entah di mana dia sekarang."
Ia memegang dadanya yang masih terasa perih meski luka tembak sudah dirawat.
"Siapa yang menembak Alisha? Orang bertopeng itu... dan kenapa dia bilang 'Aku tidak akan membiarkanmu menjadi pewaris utama'?"
"Kelihatannya kamu sedang berpikir keras."
Clarissa terkejut dan langsung menoleh. Fabian berdiri di sampingnya dengan dua gelas jus di tangannya.
"Maaf, aku tidak sengaja mengagetkanmu," ucap Fabian sambil memberikan satu gelas jus pada Clarissa.
"Terima kasih," jawab Clarissa singkat.
Fabian duduk di kursi taman di sampingnya. "Kamu benar-benar berbeda, Lis."
"Aku hanya... sadar bahwa hidup terlalu singkat untuk menjadi penakut," jawab Clarissa sambil menyesap jusnya.
"Kata-kata yang bagus. Tapi aku curiga ada yang lebih dari sekadar 'kesadaran'."
Clarissa menoleh. Tatapan Fabian tajam, tapi tidak terkesan mengancam. Lebih ke rasa penasaran.
"Kau tidak percaya kalau aku amnesia?"
"Bukan itu. Aku percaya kamu amnesia. Yang aku tidak percaya adalah perubahan karaktermu yang drastis dalam waktu singkat. Amnesia tidak mengubah kepribadian seseorang secara total. Amnesia hanya menghapus ingatan, bukan mengubah siapa dirimu sebenarnya."
Clarissa terdiam. Fabian lebih pintar dari yang ia kira.
"Mungkin aku memang bukan Alisha yang dulu," jawab Clarissa perlahan.
Fabian menatapnya tajam. "Lalu siapa kamu?"
Clarissa tersenyum tipis. "Aku seseorang yang ingin hidup tenang. Tapi sepertinya di keluarga ini, hidup tenang itu mustahil."
Fabian tidak memaksa. Ia hanya mengangguk. "Kamu benar. Di keluarga Vizcaya, kedamaian adalah kemewahan yang tidak bisa kita beli."
Mereka berdua terdiam menikmati sore. Angin berhembus lembut, membawa wangi bunga dari taman.
---
Di dalam rumah, Giovan mengawasi dari balik jendela. Ia melihat Fabian dan Alisha duduk berdua di taman.
Ada perasaan aneh yang menggelitik dadanya. Bukan cemburu. Tidak mungkin cemburu pada Alisha. Tapi...
"Kenapa dia lebih banyak bicara dengan Fabian daripada denganku?"
Ia segera menggelengkan kepalanya. "Aku tidak peduli. Lagipula, Elena-lah yang kucintai."
Tapi mengapa matanya terus tertuju pada Alisha yang sekarang tersenyum? Senyuman yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
---
Malam harinya...
Selesai makan malam, Clarissa naik ke kamarnya. Kamar yang baru saja ditata ulang sesuai permintaannya. Dinding abu-abu gelap, sprei hitam, dan lampu tidur berwarna silver.
Baru saja ia hendak menutup pintu, Giovan masuk tanpa mengetuk.
"Kurang ajar! Kenapa tidak ketuk?" sentak Clarissa.
"Aku tidak perlu mengetuk kamar istriku sendiri," jawab Giovan dingin.
"Tapi aku butuh privasi!"
"Apa yang mau diprivasikan? Tubuhmu sudah menjadi hakku sejak kau menjadi istriku."
Clarissa tertawa kecil. "Hakmu? Coba lihat undang-undang, Giovan. Tubuh seorang istri bukanlah hak milik suami."
"Kita berada di keluarga Vizcaya. Aturan keluarga di atas segalanya."
"Aturan yang konyol."
Giovan melangkah maju. Jarak mereka kini hanya satu meter. "Kamu berani sekali sekarang, Alisha."
"Bukan berani. Aku hanya tidak mau dijajah lagi."
"Kenapa perubahan ini terjadi begitu cepat?" tanya Giovan dengan nada rendah.
Clarissa tidak mundur. Ia bahkan menatap langsung mata Giovan. "Karena aku hampir mati, Giovan. Dan dalam sekarat itu, aku sadar bahwa aku tidak ingin mati sebagai orang yang lemah dan penakut."
Giovan terdiam. Tatapan mereka bertemu. Untuk pertama kalinya, Giovan melihat sesuatu di mata istrinya. Bukan rasa takut. Bukan rasa hormat buta. Tapi... api. Api perlawanan.
"Kamu tidak akan selamanya menjadi seperti ini," ucap Giovan akhirnya.
"Itu urusan aku nanti. Sekarang, keluar dari kamarku. Aku ingin tidur."
Giovan menghela napas kasar. Tanpa berkata apa-apa, ia berbalik dan keluar. Namun, sebelum pintu benar-benar tertutup, ia berucap,
"Jaga dirimu baik-baik. Aku belum selesai denganmu."
Pintu tertutup dengan suara yang cukup keras.
Clarissa tersenyum miring.
"Kau benar, Giovan. Kita belum selesai. Bahkan, ini baru permulaan."
---
Bersambung
ini Novel baru aku👈✍️