NovelToon NovelToon
Kuali Penelan Bintang

Kuali Penelan Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Starlope

Di Alam Fana yang kejam, bakat adalah segalanya. Lin Ye, seorang pemuda dengan meridian cacat, ditakdirkan menjadi pelayan seumur hidupnya. Namun, nasibnya berubah ketika darahnya tak sengaja membangkitkan sebuah relik berkarat: Kuali Penelan Bintang.

Kuali kuno ini bukan sekadar alat pelebur pil, melainkan artefak primordial yang mampu melahap esensi langit dan bumi, bahkan menelan energi bintang-bintang. Dalam perjalanan kultivasi yang lambat, penuh perhitungan, dan berdarah, Lin Ye perlahan mengubah fisik fananya, menembus kemustahilan, dan melangkah ke jalan keabadian.

Ini bukan kisah pahlawan instan, melainkan seorang pemuda biasa yang merangkak dari debu, menentang takdir surga, dan pada akhirnya, melahap seluruh kosmos untuk melindungi apa yang ia hargai. Langit kesembilan pun akan gemetar di bawah kualinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starlope, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melewati Cermin Tulang

Lembah Angin Mati, yang terletak di bagian paling belakang wilayah Sekte Pedang Awan Mengalir, biasanya ditutupi oleh kabut beracun sepanjang tahun. Namun pagi ini, kabut itu telah disapu bersih oleh kekuatan gabungan dari delapan Tetua sekte luar. Di tengah lembah, udara tampak beriak dan melengkung, membentuk sebuah pusaran ruang raksasa yang memancarkan cahaya perak redup.

Itu adalah gerbang pemindah menuju Makam Pedang Awan Jatuh.

Seratus murid sekte luar yang berhasil menduduki peringkat teratas di Turnamen Besar berdiri dalam barisan yang rapi. Mereka semua memancarkan aura ketajaman, kepercayaan diri, dan kehausan akan peluang. Di belakang setiap murid, berdiri seorang pelayan fana yang memanggul keranjang raksasa, bersiap menjadi keledai pengangkut kekayaan majikan mereka.

Di baris terdepan, Su Yue berdiri dengan punggung tegak. Pedang kristal esnya tersarung rapi di punggungnya. Wajahnya yang cantik dan pucat tidak menunjukkan emosi apa pun, sedingin patung dewi yang terbuat dari es abadi.

Namun, di balik wajah tanpa ekspresi itu, jantung Su Yue berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Keringat dingin sebesar biji jagung diam-diam merembes di punggungnya, membasahi lapisan dalam jubahnya.

Penyebab ketakutannya bukanlah bahaya dari Makam Pedang, melainkan pelayan berbaju lusuh yang saat ini sedang berdiri menunduk di belakangnya.

"Hei, pelayan rendahan," desis Su Yue dengan suara tajam dan angkuh, menoleh sedikit ke arah Lin Ye. "Pastikan keranjangmu diikat dengan kuat. Jika kau sampai menjatuhkan satu saja ramuan spiritual yang kutemukan nanti, aku akan memotong kedua kakimu dan melemparkanmu ke sarang semut pemakan bangkai!"

Beberapa murid lain yang mendengar ancaman itu hanya tertawa pelan. Mereka sudah terbiasa dengan kekejaman para jenius terhadap pelayan mereka. "Saudari Junior Su sangat tegas hari ini. Pelayan kurus itu mungkin akan mati kelelahan di hari kedua," cibir seorang murid pria dari kejauhan.

Lin Ye segera berlutut dengan satu kaki, bahunya gemetar hebat seolah-olah ia sedang dilanda ketakutan yang luar biasa. "B-baik, Tuan Putri! Pelayan ini akan menjaga barang bawaan Anda dengan nyawanya sendiri!" jawab Lin Ye dengan suara serak yang bergetar.

Su Yue mendengus arogan dan memalingkan wajahnya kembali ke depan.

Di dalam hatinya, Su Yue sedang berteriak histeris, Ampuni aku, Senior! Junior benar-benar tidak berani bersikap kurang ajar! Tolong jangan hancurkan Dantian-ku setelah ini!

Ia hanya menjalankan perintah "Senior" monster ini dengan sempurna, meskipun setiap kata hinaan yang ia lontarkan terasa seperti sedang menusukkan pedang ke lehernya sendiri.

Suara gemuruh memecah perhatian lembah. Tetua Lu, Kepala Penegak Hukum yang juga menangani kasus kultivator iblis Xue Sha tempo hari, melangkah maju ke depan pusaran ruang tersebut. Auranya yang berat, berada di Alam Pembentukan Fondasi tahap menengah, menekan seluruh lembah hingga membuat napas para pelayan fana tersengal.

Di tangannya, Tetua Lu memegang sebuah cermin perunggu bundar yang tepiannya dihiasi oleh ukiran tulang belulang manusia saling melilit. Itu adalah pusaka spiritual tingkat menengah: Cermin Tulang Penembus Roh.

"Dengarkan baik-baik!" suara Tetua Lu bergemuruh seperti guntur. "Makam Pedang Awan Jatuh adalah fondasi leluhur kita. Ranah Rahasia ini sangat tidak stabil. Hanya mereka yang berada di bawah Alam Pembentukan Fondasi yang bisa masuk tanpa memicu keruntuhan ruang. Aturannya jelas: setiap murid elit diperbolehkan membawa satu pelayan fana untuk membantu mengangkut bijih dan tanaman herbal. Namun..."

Mata Tetua Lu yang setajam elang menyapu barisan para pelayan. "...Jika ada kultivator dari sekte musuh, atau murid sekte yang menyembunyikan kultivasi mereka dan menyamar sebagai pelayan demi memonopoli sumber daya, Cermin Tulang ini akan membakar penyamaran mereka menjadi abu!"

"Pemeriksaan dimulai! Maju satu per satu beserta pelayan kalian!" perintahnya.

Murid peringkat pertama, seorang pemuda berwajah arogan dengan pedang emas, melangkah maju. Pelayannya yang bertubuh kekar mengikutinya.

Tetua Lu memutar Cermin Tulang dan mengarahkannya pada pelayan tersebut. Seberkas cahaya putih kelabu yang terlihat sangat menakutkan melesat dan menyelimuti tubuh sang pelayan.

Di udara, tepat di atas cermin, muncul sebuah bayangan cahaya yang memperlihatkan susunan tulang belulang pelayan tersebut. Tulang-tulangnya berwarna putih keruh dan keropos di beberapa bagian, dan sama sekali tidak ada garis-garis aliran meridian yang terlihat. Dia adalah manusia fana seutuhnya.

"Bersih. Masuk," ucap Tetua Lu. Murid pertama dan pelayannya segera melangkah menembus pusaran ruang dan menghilang.

Pemeriksaan berjalan lancar hingga giliran murid peringkat ketujuh. Pelayannya adalah seorang pria paruh baya yang tampak biasa saja, berjalan menunduk memanggul keranjang.

Namun, saat cahaya kelabu dari Cermin Tulang menyapu pria itu, cermin perunggu di tangan Tetua Lu mendadak berdengung keras. Bayangan cahaya di udara tidak hanya menampilkan kerangka tulang, tetapi juga jaringan meridian tipis yang bersinar merah redup di sekitar area Dantian-nya!

"Menyembunyikan Qi Tingkat Ketiga!" teriak salah satu Tetua dari atas mimbar.

Pria paruh baya itu terbelalak. Wajah fananya yang ketakutan seketika berubah menjadi kejam. Ia membuang keranjangnya, melepaskan aura Alam Pengumpulan Qi Tingkat Ketujuh yang selama ini ia sembunyikan dengan jimat ilusi, dan mencoba melesat kabur ke arah hutan. "Sialan! Sekte Berbisa Malam tidak akan melepaskan kalian!"

Tetua Lu hanya mendengus dingin. Ia tidak mengejar, melainkan hanya membalikkan Cermin Tulang di tangannya.

Cahaya kelabu yang menempel di tubuh penyusup itu tiba-tiba berubah menjadi api spiritual putih yang menyala dari dalam darahnya. Penyusup dari sekte musuh itu bahkan tidak sempat menjerit sebelum tubuhnya meledak menjadi kabut abu yang tersapu angin lembah. Mati tanpa sisa. Murid peringkat ketujuh yang tanpa sadar membawa penyusup itu langsung ditangkap dan diseret pergi untuk diinterogasi.

Keheningan yang mencekam menyelimuti lembah. Wajah para murid luar memucat, dan para pelayan fana menggigil hebat hingga ada yang membasahi celananya.

Melihat pemandangan itu, kaki Su Yue nyaris lemas. Napasnya tercekat di tenggorokan. Cermin itu... bisa mendeteksi jimat ilusi dan Qi tersembunyi tingkat tinggi dengan begitu mudah. Jika penyamaran fana Senior terbongkar, apakah dia akan mengamuk dan membantai seluruh Tetua di sini? pikir Su Yue dengan kepanikan yang nyaris membuatnya gila.

"Selanjutnya! Su Yue, peringkat ketiga!" panggil Tetua Lu, wajahnya masih memancarkan aura membunuh.

Su Yue menggigit bibir dalamnya untuk mempertahankan ketenangannya. Ia melangkah maju dengan anggun, diikuti oleh Lin Ye yang berjalan tertatih-tatih, bahunya merosot menahan beban keranjang kosong yang besar.

Tetua Lu tersenyum tipis pada Su Yue. "Bakatmu sangat memuaskan, Su Yue. Kudengar kau bahkan memusnahkan kultivator iblis Xue Sha. Sekte sangat berharap padamu."

"Terima kasih, Tetua," Su Yue membungkuk pelan, sementara di belakangnya, Lin Ye menundukkan kepalanya hingga dagunya menyentuh dada.

Tetua Lu kemudian mengarahkan Cermin Tulang Penembus Roh ke arah Lin Ye.

Di detik yang sama, di dalam tubuh Lin Ye, Sutra Kekosongan Penelan Bintang dipacu ke titik tertingginya. Ia secara paksa menekan Kuali Bintang yang berada di Dantian-nya. Pusaka primordial itu merespons dengan menyusutkan dirinya menjadi seukuran titik debu kosmik, menyatu ke dalam sumsum tulang belakang Lin Ye, mematikan seluruh pendar energi kehidupannya.

Lin Ye bahkan memperlambat aliran darahnya secara drastis, membuat kulitnya tampak sangat pucat layaknya mayat hidup, dan membiarkan tubuh fananya sepenuhnya terekspos. Pori-porinya terkunci, menutupi seluruh kepadatan ototnya yang telah ditempa.

Cahaya putih kelabu dari cermin itu menerjang Lin Ye. Sensasinya sangat tidak nyaman, seperti ada ribuan tangan dingin yang meraba-raba ke dalam organ dalamnya, mencari setitik saja energi spiritual yang bersembunyi.

Di udara, bayangan kerangka Lin Ye muncul.

Su Yue menahan napasnya hingga wajah cantiknya memerah. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Jika ada seberkas cahaya meridian yang muncul, ia sudah bersiap untuk menarik pedangnya dan mati bersama sang Senior.

Namun, yang muncul di pantulan itu sangatlah mengejutkan. Tidak ada cahaya meridian. Sama sekali kosong. Faktanya, cermin itu memperlihatkan bahwa "Sembilan Nadi" Lin Ye benar-benar tersekat rapat oleh semacam penyumbatan bawaan layaknya batu padat.

Namun, alis Tetua Lu sedikit berkerut. Ia menatap bayangan kerangka tulang Lin Ye.

"Tulang-tulang pelayan ini... sangat padat dan tebal," gumam Tetua Lu pelan. Tulang manusia fana biasanya berongga dan keruh, namun tulang di pantulan Lin Ye tampak sangat kokoh, nyaris tidak memiliki celah, seperti gumpalan batu pualam.

Mendengar gumaman Tetua Lu, Su Yue hampir saja mencabut pedangnya.

Tetapi, sebelum ada kecurigaan yang lebih besar muncul, Lin Ye yang sedang ditelisik tiba-tiba terbatuk hebat. Ia memuntahkan sedikit darah yang tampak hitam ke tanah—sebenarnya itu hanyalah darah kotor sisa pemurnian yang sengaja ia simpan di kerongkongannya. Tubuh Lin Ye oleng dan jatuh berlutut, napasnya tersengal-sengal parah.

"Ampun... ampun Tuan Tetua... cahaya itu... terlalu berat untuk dada fana pelayan ini..." rintih Lin Ye dengan suara memelas yang akan membuat pemain sandiwara di dunia fana menangis terharu.

Tetua Lu menarik kembali cahaya cerminnya dan mendengus jijik. Ia segera menepis kecurigaannya.

Hanya seorang fana berbadan kuli yang sering melakukan pekerjaan berat hingga tulangnya memadat, tapi penyumbatan meridiannya membuat tubuhnya lemah terhadap tekanan spiritual, batin Tetua Lu. Tidak mungkin seorang penyusup atau ahli kultivasi membiarkan meridiannya cacat permanen secara fisik. Itu sama saja dengan membuang jalan kultivasi.

"Bersih. Cepat bawa pelayan cacatmu masuk sebelum gerbang ini melemah, Su Yue," perintah Tetua Lu sambil melambaikan tangannya seolah mengusir lalat.

Su Yue menghembuskan napas yang sedari tadi ia tahan. Kakinya sedikit gemetar saat ia menendang pelan kaki Lin Ye. "Berdiri, dasar babi! Jangan mempermalukanku!" bentaknya, meski dalam hatinya ia sedang bersujud syukur pada leluhurnya.

"B-baik, Tuan Putri!" Lin Ye bangkit dengan susah payah, memanggul keranjangnya, dan tertatih mengikuti Su Yue menembus cahaya keperakan pusaran pemindah ruang tersebut.

Saat melangkah masuk ke dalam celah ruang, Lin Ye merasakan guncangan mual yang teramat sangat. Ruang dan waktu di sekitarnya terpelintir. Warna-warna berbaur menjadi garis-garis cahaya yang menyilaukan, sebelum akhirnya mereka terlempar keluar dan mendarat keras di atas tanah yang padat.

Bruk!

Lin Ye mendarat dengan lututnya, sementara Su Yue, berkat kultivasi Tingkat Keenamnya, mendarat dengan elegan di atas kakinya.

Mereka telah tiba di dalam Makam Pedang Awan Jatuh.

Seketika, hawa yang sangat kuno, berat, dan dipenuhi bau karat darah menyerbu indera penciuman mereka. Langit di atas mereka tidak berwarna biru, melainkan berwarna merah kelabu seperti senja yang abadi. Tidak ada awan, yang ada hanyalah pusaran energi kekacauan yang berputar lambat di kejauhan.

Di sekeliling mereka, terbentang dataran gersang yang dipenuhi bebatuan hitam. Dan di mana-mana, tertancap ribuan—mungkin puluhan ribu—pedang yang telah berkarat dan patah. Pedang-pedang itu menancap di tanah, di batang pohon mati, dan di dinding tebing, seolah-olah tempat ini pernah menjadi medan perang antara dewa dan iblis di masa lalu.

Qi Spiritual di tempat ini sangat kental, jauh lebih pekat daripada di Gunung Qingyun. Namun, energinya tidak murni; Qi itu bercampur dengan Niat Pedang yang buas dan sisa-sisa kebencian dari ribuan kultivator kuno yang tewas di sini. Bagi kultivator biasa, menyerap Qi ini sama saja dengan menelan pisau cukur.

Karena pendaratan portal bersifat acak, Su Yue dan Lin Ye terlempar cukup jauh dari rombongan murid lainnya. Mereka berada di pinggiran sebuah hutan mati yang pohon-pohonnya berwarna abu-abu.

Su Yue memastikan tidak ada siapa pun dalam bentangan lima ratus tombak. Setelah yakin mereka benar-benar sendirian, topeng arogansinya seketika hancur berkeping-keping.

Dengan wajah pucat pasi dan kaki yang masih gemetar karena ketegangan di depan Cermin Tulang tadi, Su Yue langsung berbalik dan berlutut dengan kedua kakinya, menempelkan keningnya ke tanah bebatuan yang kasar di hadapan pelayannya.

"Senior... Junior memohon ampunan! Junior terpaksa berbuat kurang ajar di depan pintu masuk demi menjaga identitas penyamaran fana Senior. Junior pantas mati karena telah menendang kaki Senior dan memanggil Senior dengan sebutan babi! Tolong hukum Junior!" suara Su Yue bergetar hebat, dipenuhi penyesalan dan ketakutan yang nyata.

Lin Ye berdiri perlahan. Posturnya yang sedari tadi membungkuk dan tampak ringkih, kini perlahan menegak. Tulang punggungnya berbunyi berderak, meluruskan diri layaknya sebatang tombak besi yang tak bisa dibengkokkan.

Ia menjatuhkan keranjang bambunya ke tanah dengan santai.

Seketika, aura fana dan ketakutan yang melekat padanya menguap lenyap tanpa sisa. Hawa kuno, brutal, dan tak terukur dari Kuali Penelan Bintang yang selama berjam-jam ia tekan di sumsum tulangnya, kini dilepaskan.

Udara di sekitar Lin Ye mendadak turun belasan derajat. Tekanan fisik dari Puncak Tingkat Ketujuh, ditambah dengan aura kosmik dari kualinya, memancar bagai gelombang pasang, menekan Su Yue yang sedang berlutut hingga wanita itu merasa kesulitan bernapas. Bahkan pedang-pedang berkarat yang tertancap di tanah di sekitarnya bergetar pelan merespons kehadiran "predator" sejati.

Lin Ye menatap Su Yue yang sedang bersujud ketakutan di kakinya. Wajah Lin Ye sedingin langit kelabu di atas mereka, namun matanya memancarkan keganasan yang tak tertahankan.

Sandiwara telah selesai. Kini saatnya memanen dunia ini.

"Bangunlah," ucap Lin Ye, suaranya dalam dan bergetar dengan wibawa mutlak yang mendominasi. "Kau melakukan tugasmu dengan baik, bidak kecil. Penyamaranku terjaga sempurna."

Lin Ye mengalihkan pandangannya dari Su Yue, menatap jauh ke arah pusat dataran makam pedang tersebut. Di mata Lin Ye, kabut tebal berisi Niat Pedang dan Qi buas yang mematikan itu bukan ancaman. Itu adalah meja perjamuan termegah yang pernah ia lihat.

"Sekarang," bisik Lin Ye, sebuah senyum tipis dan buas mengembang di sudut bibirnya, "mari kita lihat apa yang bisa ditelan oleh kualiku di kuburan tua ini."

1
Imam Abiyu Dzaky
teruss lanjutkan
Andira
mmm
Aman Wijaya
mantab Thor lanjut terus
Wy Pereret
lanjut
SENJA
waaah
Andira
👍
Aman Wijaya
markotop top top lanjut terus
Aman Wijaya
gaaas terus Thor semangat semangat semangat
Aman Wijaya
mantab su Yue
Aman Wijaya
mantab Lin Ye
Aman Wijaya
lanjut terus Thor tambah lagi updatenya 💪💪💪
Aman Wijaya
gaaas njeduk terus Thor
Aman Wijaya
mantab Thor semangat semangat
Aman Wijaya
mantab Thor lanjut
Aman Wijaya
top top markotop lanjut
Aman Wijaya
lanjut terus semangat semangat terus Thor
Aman Wijaya
gaaas njeduk Thor lanjut terus
Aman Wijaya
memendam amarah pada Wang Hao
Aman Wijaya
kasian Lin ye yang di seret
Aman Wijaya
gaaas njeduk terus Thor lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!