Zee Chou, atau yang dikenal dengan nama panggung Choi Heesung, adalah idola K-Pop paling populer dan dicintai jutaan penggemar. Di atas panggung, ia bersinar sempurna, tampan, dan memiliki citra bersih yang dijaga sangat ketat. Namun di balik kemegahan itu, ia menyembunyikan satu kenyataan pahit: warisan perusahaan keluarga yang terancam bangkrut. Demi menyelamatkan segalanya, Zee terpaksa menyetujui pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan—menikahi Park Hye-ri, gadis biasa dan sederhana, putri sahabat orang tuanya yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia hiburan.
Pernikahan ini hanyalah sebuah kesepakatan di atas kertas, rahasia yang harus dijaga mati-matian dari publik dan penggemar. Tidak ada cinta, tidak ada perasaan, hanya kewajiban dan aturan ketat. Bagi Zee, Hye-ri hanyalah kewajiban yang mengganggu karir cemerlangnya. Bagi Hye-ri, Zee hanyalah idola dingin, angkuh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao Eunbi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Panggung dan Perjanjian
Zee Chou, atau lebih dikenal oleh jutaan penggemar di seluruh dunia dengan nama panggung Choi Heesung, berdiri di depan cermin setinggi dinding di ruang ganti pribadinya. Di pantulan kaca itu, ia melihat sosok pria yang sempurna: rambut hitamnya ditata rapi, wajah yang dipuji sebagai karya seni para dewa, dan pakaian mewah berdesain khusus yang menegaskan posisinya sebagai bintang terbesar industri hiburan.
Di luar sana, ribuan penggemar sedang berteriak memanggil namanya. Suara sorak mereka begitu keras hingga terasa mengguncang dinding tebal ruangan ini. Bagi dunia, Choi Heesung adalah definisi dari kesuksesan, ketampanan, dan bakat. Ia berada di puncak dunia, dicintai semua orang, dan memiliki segalanya.
Namun, hanya Heesung sendiri yang tahu betapa retaknya topeng yang ia kenakan itu.
Tangannya mencengkeram pinggiran meja rias hingga buku jarinya memutih. Matanya yang tajam dan dingin menatap pantulan dirinya sendiri. Di balik ketenaran yang menyilaukan itu, ada kenyataan pahit yang sedang menunggunya—kenyataan yang siap menghancurkan segalanya dalam sekejap mata jika ia tidak menuruti satu permintaan terakhir dari orang tuanya.
Pintu ruang ganti terbuka perlahan. Seorang pria paruh baya dengan wajah tegas masuk, diikuti oleh manajer pribadi Heesung yang terlihat gelisah. Itu adalah Tuan Chou, ayah Heesung.
"Heesung," suara ayahnya terdengar berat dan serius, sama seperti saat ia berbicara di rapat pemegang saham. "Kau sudah memikirkannya, bukan? Ini satu-satunya jalan. Perusahaan kita terancam bangkrut, dan reputasi keluarga kita sedang di ujung tanduk. Hanya ada satu orang yang bisa menolong kita, dan syaratnya sangat sederhana."
Heesung memejamkan mata sejenak, menekan rasa marah yang mendidih di dadanya. Ia berbalik, menatap ayahnya dengan senyum sinis yang tidak sampai ke matanya.
"Sederhana, Katamu, Ayah?" suaranya rendah namun penuh penekanan. "Menikah? Menikah di usia puncak karirku? Menikah saat aku baru saja memulai tur dunia dan kontrak eksklusif dengan merek-merek besar? Apakah Ayah sadar apa dampaknya jika berita ini bocor? Karirku akan berakhir. Semua yang aku bangun bertahun-tahun akan runtuh seketika."
"Kau pikir aku tidak tahu?!" Tuan Chou meninggikan suaranya, langkah kakinya mendekat. "Tapi kau mau apa lagi? Uang sudah habis, aset tergadai, dan hutang menumpuk setinggi gunung! Keluarga Park adalah satu-satunya harapan kita. Dan satu-satunya hal yang mereka minta sebagai jaminan kerja sama... adalah kau harus menjadi menantu mereka."
Heesung terdiam. Di dalam kepalanya, nama itu berputar-putar menyakitkan: Park Hye-ri.
Wanita itu.
Anak tunggal dari Tuan Park, sahabat lama orang tuanya. Wanita yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunianya. Wanita sederhana yang hidupnya begitu biasa, jauh dari sorotan kamera, jauh dari hiruk-pikuk industri hiburan.
Ia ingat samar-samar wajah Hye-ri. Gadis itu selalu terlihat tenang, pendiam, dan entah kenapa selalu menunduk saat berpapasan dengannya di pesta-pesta keluarga. Tidak cantik luar biasa, tapi raut wajahnya memiliki ketenangan yang aneh. Bagi Heesung, Park Hye-ri hanyalah sosok asing yang tiba-tiba saja diseret masuk ke dalam hidupnya untuk merusak segalanya.
"Park Hye-ri..." gumam Heesung pelan, penuh rasa jijik. "Jadi aku harus menyerahkan kebebasanku, masa depanku, dan namaku... hanya untuk menikahi wanita yang bahkan aku tidak kenal?"
"Ini bukan sekadar pernikahan, Heesung," potong ayahnya tegas. "Ini adalah penyelamatan. Dan percayalah... gadis itu mengerti posisinya. Dia tahu siapa kau, dia tahu betapa pentingnya citramu. Dia tidak akan mengganggumu. Dia hanya akan menjadi istrimu di atas kertas, penerus keluarga Chou, dan rahasia yang dijaga mati-matian."
Tuan Chou meletakkan sebuah dokumen tebal di atas meja. Di sampul depan tertulis jelas: PERJANJIAN PERNIKAHAN.
"Ada banyak aturan di dalamnya. Kau tidak perlu mencintainya. Kau tidak perlu bersikap manis padanya. Kau hanya perlu hidup satu atap, menjalankan kewajiban sosial sesekali, dan menjaga agar berita ini tidak sampai ke telinga publik. Sebagai gantinya, keluarga Park akan menyuntikkan dana segar ke perusahaan kita, dan nama besar Chou akan tetap terjaga."
Heesung menatap dokumen itu dengan tatapan membunuh. Rasanya ia ingin merobek kertas itu menjadi serpihan-serpihan kecil dan membuangnya ke udara. Bagaimana mungkin nasibnya—nasib seorang idola K-Pop yang dipuja jutaan wanita—ditentukan oleh perjanjian kertas yang konyol ini?
Tapi bayangan wajah ayahnya yang tua, tekanan dari para kreditur, dan ancaman kebangkrutan yang nyata... memaksanya menelan semua amarah itu. Ia tidak punya pilihan. Jika ia menolak, bukan hanya perusahaan yang hancur, tapi nama baik keluarganya, warisan yang dijaga turun-temurun, dan semua kerja kerasnya selama ini akan sia-sia.
"Baiklah..." jawab Heesung akhirnya, suaranya terdengar dingin dan mati rasa. Ia mengambil pena, lalu menandatangani dokumen itu dengan tangan gemetar karena marah. "Aku akan melakukannya. Aku akan menikahi Park Hye-ri."
Ia menatap ayahnya tajam.
"Tapi ingat satu hal, Ayah. Ini hanya transaksi. Hanya kontrak. Dan wanita itu... Park Hye-ri... dia tidak akan pernah menjadi apa pun bagiku selamanya. Dia hanya akan menjadi beban yang harus kutanggung demi menyelamatkan nama keluarga ini."
Dua hari kemudian.
Di sebuah gedung perkantoran tinggi di pusat kota Seoul, di ruang pertemuan pribadi yang tertutup rapat, Park Hye-ri duduk diam di kursi kulit yang empuk. Ia mengenakan gaun sederhana berwarna krem, rambutnya disisir rapi ke belakang, dan wajahnya tanpa riasan sedikit pun.
Di hadapannya, duduklah sosok yang selama ini hanya bisa ia lihat di layar televisi, poster, atau papan iklan raksasa di jalanan.
Choi Heesung.
Pria itu duduk bersandar malas di kursinya, satu kaki menyilang di atas kaki lainnya. Wajahnya yang luar biasa tampan kini terlihat kaku dan dingin. Tidak ada senyum ramah yang biasa ia perlihatkan pada penggemarnya. Tidak ada kilat mata yang menawan. Di sini, di ruangan ini, Heesung terlihat seperti patung es yang keras dan tajam.
Di meja di antara mereka, tergeletak salinan dokumen yang sama—perjanjian pernikahan.
Hye-ri melirik sebentar ke arah pria itu, lalu kembali menundukkan pandangannya ke atas kertas. Jantungnya berdebar kencang, tapi bukan karena perasaan suka atau kagum. Melainkan karena gugup dan takut.
Siapa yang tidak kenal Choi Heesung? Idola terbesar negara ini. Pria yang setiap gerakannya selalu jadi pembicaraan. Dan sekarang, pria itu akan menjadi suaminya?
"Aku tahu kau pasti sudah diberitahu segalanya oleh ayahmu," suara Heesung terdengar rendah, berat, dan sangat mengintimidasi. "Jadi aku tidak akan bertele-tele lagi. Aku tidak punya waktu untuk basa-basi."
Heesung mencondongkan tubuh sedikit ke depan, menatap Hye-ri dengan tatapan yang seolah sedang melihat serangga kecil yang mengganggu.
"Dengarkan baik-baik, Park Hye-ri. Kau dan aku, kita tidak menikah karena saling mencintai. Kita menikah karena kewajiban dan kepentingan keluarga. Bagi dunia, aku adalah bintang yang bersinar. Dan kau... kau adalah bagian dari bayang-bayangku. Kau harus tetap di sana, di tempatmu, dan jangan pernah berani melanggar batas."
Hye-ri mengangkat wajahnya perlahan. Ia menatap mata Heesung yang berwarna cokelat gelap, namun terasa sedingin kutub utara.
"Apa maksudmu?" tanya Hye-ri pelan, suaranya sedikit bergetar namun berusaha tenang.
Heesung tersenyum miring, senyum yang sama sekali tidak ramah. Ia menunjuk ke arah dokumen di meja.
"Baca poin nomor tujuh sampai dua belas dengan saksama. Kau boleh tinggal di kediaman resmiku. Kau akan mendapatkan fasilitas apa pun yang kau inginkan—uang, kemewahan, kenyamanan—semuanya akan kuserahkan padamu selama kau patuh."
Heesung berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih tajam dan tegas, seolah sedang membacakan hukumannya.
"Tapi ada hal-hal yang DILARANG keras. Pertama, jangan pernah memamerkan statusmu sebagai istriku ke siapa pun, apalagi ke media atau penggemarku. Kau tidak boleh memposting apa pun tentangku, tidak boleh memanggilku dengan panggilan sayang, dan tidak boleh berlagak seolah kita pasangan bahagia."
"Kedua, jangan pernah menggangguku saat aku bekerja. Saat aku ada di agensi, di panggung, atau sedang syuting... kau tidak ada dalam duniaku. Jangan menelepon, jangan mengirim pesan, dan jangan pernah mencoba datang ke lokasi kerjaku."
"Dan yang terakhir..." Heesung menatapnya tepat di mata, seolah ingin menanamkan kata-kata itu jauh ke dalam jiwa Hye-ri. "Jangan pernah berpikir untuk jatuh cinta padaku. Jangan berharap aku akan memperlakukanmu seperti suami pada umumnya. Bagiku, pernikahan ini hanyalah sebuah kontrak bisnis. Dan kau... kau hanyalah mitra yang kebetulan bernama istri."
Hye-ri merasa dadanya sesak mendengar kata-kata itu. Meski ia juga tidak menginginkan pernikahan ini, meski ia juga dipaksa oleh keadaan... mendengarnya diucapkan langsung dari mulut Heesung dengan begitu dingin dan kejam, rasanya tetap menyakitkan.
Ia tahu dirinya hanya gadis biasa. Tahu betapa jauh bedanya ia dengan dunia Heesung. Tapi mendengarnya dikatakan begitu terang-terangan... membuatnya merasa sangat kecil dan tidak berharga.
Namun, Hye-ri menghela napas panjang, menenangkan dirinya. Ia mengangkat dagunya sedikit, menatap balik pria di hadapannya itu dengan ketenangan yang mengejutkan Heesung.
"Tenang saja, Tuan Choi," jawab Hye-ri pelan namun tegas. "Aku juga tidak menginginkan pernikahan ini. Aku tahu siapa dirimu, dan aku tahu siapa diriku. Aku tidak berharap apa pun darimu. Aku hanya akan menjalankan perjanjian ini sampai waktunya habis. Begitu kontrak selesai dan urusan keluarga beres... kita akan berpisah jalan dan tidak akan pernah bertemu lagi."
Hye-ri mengambil pena, lalu menandatangani dokumen itu dengan tangan yang mantap.
Heesung terdiam sejenak, tertegun melihat reaksi gadis itu. Ia berharap Hye-ri akan menangis, memohon, atau bersikap manja seperti wanita lain yang mengejarnya. Tapi gadis ini... gadis ini justru menatapnya dengan tatapan yang sama sekali tidak ada kekaguman, tidak ada harapan, bahkan terlihat seolah ia pun merasa terbebani harus berurusan dengannya.
Rasa kesal yang aneh tiba-tiba menjalar di dada Heesung. Seolah harga dirinya tersentil.
"Bagus," ujar Heesung kasar, bangkit berdiri dan merapikan jasnya. "Kalau begitu, mulailah persiapan pernikahan sederhana kita. Dan ingat, Park Hye-ri... jangan sampai kau membuatku menyesal telah menyetujui perjanjian ini."
Dengan itu, Heesung berbalik dan berjalan pergi meninggalkan ruangan, meninggalkan aroma parfum mahal dan suasana dingin yang menyelimuti hati Hye-ri.
Hye-ri menatap pintu yang tertutup rapat itu. Di luar sana, di balik tembok gedung ini, ribuan wanita berteriak histeris demi satu senyum dari pria itu. Mereka rela memberikan apa saja hanya untuk disentuh ujung jarinya.
Namun di sini, di dalam ruangan ini... pria itu baru saja menjelaskan betapa tidak berartinya dirinya.
Hye-ri tersenyum getir, menatap tanda tangannya di atas kertas pernikahan itu.
"Kita berdua sama saja, Heesung," batinnya. "Kita sama-sama terjebak dalam pernikahan bodoh ini. Dan aku berjanji... aku akan menjadi istri kontrak yang paling sempurna, yang tidak akan pernah kau anggap ada. Sehingga saat ini semua berakhir... kau tidak akan merasakan kehilanganku sedikit pun."
Tapi, entah mengapa, di sudut hati yang paling dalam, ada suara kecil yang bertanya: Akankah janji-janji keras ini bertahan saat mereka mulai hidup satu atap?