Di dunia bawah tanah yang kejam, seorang bos mafia yang tampan namun terkenal bengis tidak pernah ragu untuk melenyapkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Ketika salah satu anak buah level bawahnya terjerat utang besar yang tak mampu dibayar, nyawa pria tua itu berada di ujung tanduk. Demi menyelamatkan diri dari eksekusi mati, sang bapak nekat menawarkan putri cantiknya sebagai penebus utang. Meski awalnya enggan, sang bos mafia akhirnya menerima kesepakatan tersebut dan menikahi si gadis. Dimulailah kehidupan pernikahan yang dingin, penuh tekanan, dan agak kasar di dalam rumah megah sang mafia. Namun, di balik dinding es yang dibangun sang bos, sebuah dinamika baru perlahan mulai menguji batasan kekejamannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuhnya Sebuah Impian
Keheningan yang mencekam kembali menguasai kamar tamu itu, menyisakan suara deru napas Chloe yang tersengal-engal menahan sesak di dadanya. Air mata yang membasahi pipinya terasa hangat, namun hatinya sedingin es yang membeku. Pilihan yang diajukan Asher bukan sebuah pilihan, melainkan sebuah tali gantung yang perlahan tapi pasti menjerat lehernya. Ribuan dolar untuk membayar fasilitas mewah yang bahkan tidak pernah dia minta? Dari mana seorang gadis yang terbiasa menghitung uang receh untuk membeli sekantong beras bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam semalam?
Asher masih berdiri menjulang di depan Chloe, menikmati setiap jengkal keputusasaan yang tertulis di wajah cantik gadis itu. Seringai kejamnya tidak pudar, justru semakin menajam saat melihat mangsanya benar-benar terpojok tanpa ada celah untuk melarikan diri.
"Bagaimana, Chloe?" Asher kembali bersuara, nadanya rendah, berbisik tepat di dekat telinga Chloe hingga membuat gadis itu merinding ngeri. "Apakah kau punya uang tunai itu di dalam saku gaun birumu yang indah ini? Jika tidak, kurasa perbincangan tentang kebebasan ini sudah selesai."
Chloe memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan air matanya mengalir semakin deras. Bibirnya bergetar hebat, mencoba mencari kata-kata untuk memohon, namun dia tahu memohon pada pria di depannya ini sama saja dengan meminta api untuk menjadi dingin. Sia-sia.
Namun, Asher belum selesai dengan permainannya. Dia memundurkan kepalanya sedikit, menatap wajah hancur Chloe dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Tapi... karena aku sedang dalam suasana hati yang cukup baik hari ini, aku akan memberikanmu satu alternatif lain," lanjut Asher. Nada suaranya mendadak berubah, tidak lagi sedingin sebelumnya, melainkan terdengar seperti seorang iblis yang sedang menawarkan sebuah perjanjian kontrak berdarah. "Sebuah cara instan yang tidak hanya akan menghapus seluruh utang fasilitasmu, tetapi juga menjamin kau akan terus hidup dalam kemewahan ini seumur hidupmu."
Chloe perlahan membuka matanya yang sembap, menatap Asher dengan pandangan penuh selidik dan ketakutan. "A-Apa..."
"Menikahlah denganku."
Dua kata itu meluncur dari bibir tipis Asher dengan begitu tenang, begitu kasual, seolah dia baru saja menawarkan secangkir teh di pagi hari, bukan sebuah keputusan sakral yang akan mengikat dua kehidupan selamanya.
DEG.
Bukan hanya Chloe yang merasa jantungnya seolah berhenti berdetak, tetapi reaksi yang jauh lebih kentara datang dari sudut ruangan.
Kenzo, sang tangan kanan yang biasanya selalu berdiri kaku layaknya patung bernyawa, mendadak tersentak. Sepasang matanya terbelalak lebar penuh keterkejutan yang luar biasa. Rahangnya terbuka sedikit, dan dia refleks mengambil satu langkah maju. Selama bertahun-tahun mendampingi Asher, Kenzo telah melihat bosnya menolak puluhan wanita tercantik di dunia bawah tanah, mulai dari putri-putri klan mafia saingan hingga model-model papan atas yang sengaja dikirim untuk merayu sang bos besar. Asher selalu menganggap wanita sebagai gangguan yang tidak berguna. Tapi pagi ini, di depan matanya sendiri, Asher baru saja melamar seorang gadis tawanan miskin yang merupakan anak dari seorang tikus jalanan?
"Bos... Anda tidak serius, kan?" Kenzo refleks menyela, suaranya yang bariton sedikit meninggi karena rasa tidak percaya yang teramat sangat, melupakan sejenak aturan protokoler organisasi untuk tidak pernah memotong ucapan sang bos.
Asher tidak menoleh sedikit pun ke arah Kenzo. Dia mengangkat sebelah tangan kirinya ke udara, sebuah isyarat mutlak yang langsung membungkam mulut Kenzo seketika. Kenzo mengepalkan tinjunya dengan kuat, menahan gejolak kebingungan dan penolakan di dalam dadanya, lalu kembali mundur ke posisinya meskipun matanya tetap menatap tajam ke arah punggung Asher.
Sementara itu, Chloe merasa dunianya benar-benar telah runtuh seutuhnya. Otaknya mendadak kosong, tidak mampu mencerna kegilaan yang baru saja dia dengar. Menikah? Dengan pria ini? Pria asing yang baru ditemuinya semalam, yang memancarkan aura kematian begitu pekat, dan yang dengan gamblang mengakui bahwa dia baru saja membuang ayahnya ke jalanan?
"M-Menikah...?" suara Chloe mencicit, nyaris tidak terdengar. Dia menggelengkan kepalanya dengan cepat secara refleks. "Tidak... tidak mungkin! Anda pasti sudah gila! Bagaimana mungkin aku menikahi orang asing sepertimu? Orang asing yang begitu kejam dan menyeramkan!"
Mendengar penolakan itu, Asher justru terkekeh rendah—sebuah tawa bariton yang terdengar sangat seksi namun mengerikan di telinga Chloe. Dia memajukan tubuhnya, menumpukan satu tangannya di dinding marmer tepat di samping kepala Chloe, mengunci gadis itu dalam jarak yang sangat intim.
"Kenapa tidak mungkin, Chloe?" bisik Asher, matanya yang kelabu mengunci sepasang mata rusa Chloe tanpa ampun. "Dengan mengiyakan tawaran ini, semua masalahmu selesai. Utang fasilitasmu lunas. Statusmu bukan lagi sebagai barang tebusan yang bisa dicampakkan kapan saja, melainkan sebagai istri dari Asher Sterling. Kau akan mendapatkan perlindungan mutlak dariku, dan tidak akan ada satu pun orang di kota ini yang berani menyentuhmu."
Seringai kejam Asher semakin melebar saat dia menambahkan, "Tentu saja, pernikahan ini hanya sebuah kontrak di atas kertas untuk mematikan hak kebebasanmu secara hukum. Kau akan tetap tinggal di dalam sangkar ini, berada di bawah kendaliku, dan memenuhi setiap kewajibanmu sebagai seorang istri. Itu adalah harga yang sangat murah untuk menebus utang ribuan dolarmu, bukan?"
Mendengar penjelasan dingin dari Asher, hati Chloe terasa seperti dihujam oleh ribuan jarum tak kasat mata. Pikirannya mendadak melayang jauh ke masa lalu, ke masa-masa di mana dia masih menjadi seorang gadis remaja yang polos yang sering duduk di teras rumahnya bersama sang ibu sebelum ibunya meninggal dunia.
Dulu, Chloe adalah seorang gadis yang memiliki banyak impian indah tentang masa depan. Seperti kebanyakan gadis muda lainnya, dia selalu mengkhayalkan bahwa suatu hari nanti, dia akan bertemu dengan seorang pria yang baik hati, lembut, dan mencintainya dengan tulus. Mereka akan jatuh cinta, mengadakan sebuah pesta pernikahan kecil yang hangat yang dihadiri oleh orang-orang terdekat, dan mengucap janji suci di depan altar. Pernikahan dalam khayalan Chloe adalah sebuah dongeng indah yang dipenuhi oleh kebahagiaan, tawa, dan rasa aman.
Namun pagi ini, di dalam kamar tamu mansion mewah yang dingin ini, seluruh khayalan indah dan dongeng masa kecilnya itu pupus, hancur lebur menjadi abu yang tak berbekas. Tidak ada pangeran berkuda putih yang datang menyelamatkannya dengan senyuman hangat. Yang ada di depannya hanyalah seorang monster, penguasa kegelapan bertubuh tinggi besar yang sedang memaksanya masuk ke dalam gerbang neraka berkedok pernikahan kontrak. Pernikahannya tidak akan didasari oleh cinta, melainkan oleh utang, tebusan, dan pengkhianatan dari ayahnya sendiri.
Rasa lelah yang teramat sangat mendadak menyerang seluruh persendian tubuh Chloe. Begadang semalaman, rasa lapar yang tertahan, rasa sakit hati dikorbankan oleh sang ayah, dan sekarang intimidasi psikologis dari Asher benar-benar telah menguras habis seluruh energi di dalam tubuh mungilnya.
Kedua lutut Chloe mendadak lemas luar biasa, tidak sanggup lagi menopang berat tubuhnya sendiri. Tubuhnya perlahan merosot turun di sepanjang dinding marmer, hingga akhirnya dia duduk bersimpuh di atas lantai marmer yang dingin dengan gaun biru langitnya yang melebar di sekitarnya. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam, membiarkan helaian rambut cokelat panjangnya jatuh menutupi wajahnya yang basah oleh air mata. Bahunya berguncang hebat, mengeluarkan isak tangis yang terdengar begitu memilukan di dalam ruangan yang sunyi itu.
Dia kalah. Dia tahu dia telah kalah telak. Tidak ada jalan keluar, tidak ada penolong, dan tidak ada keajaiban yang akan datang menyelamatkannya dari cengkeraman Asher Sterling. Jika dia menolak, dia akan dilemparkan ke jalanan sebagai buronan utang organisasi, atau mungkin berakhir di tempat yang jauh lebih mengerikan.
Asher perlahan menurunkan tangannya dari dinding, berdiri tegak sembari memandang ke arah sosok Chloe yang bersimpuh tak berdaya di bawah kakinya. Wajah rupawan sang mafia kembali menjadi sedingin es, tanpa ada sedikit pun rasa iba atau belas kasihan melihat kehancuran mental gadis di depannya. Baginya, ini hanyalah sebuah transaksi bisnis yang sukses berjalan sesuai dengan rencananya.
"Aku tidak punya waktu seharian untuk menunggumu menangis, Chloe," ucap Asher dingin, suaranya memotong suara isak tangis Chloe tanpa ampun. "Berikan jawabanmu sekarang. Uang tunai ribuan dolar, atau tanda tangan di atas dokumen pernikahan kita?"
Chloe menarik napasnya dengan sangat susah payah, dadanya terasa sesak seolah pasokan oksigen di dalam kamar itu telah habis. Dengan perlahan, dia mendongak, menampilkan wajah cantiknya yang berlumuran air mata dengan pandangan mata rusa yang kini telah kehilangan seluruh binarnya—pandangan mata yang kosong, pasrah, dan mati.
Dengan suara yang sangat lemas, parau, dan hampir menyerupai bisikan, Chloe akhirnya mengucapkan kata yang akan mengubah seluruh takdir hidupnya selamanya.
"A-Aku... aku menerima tawaranmu..." ucap Chloe terbata-bata, menyeka air matanya dengan tangan yang bergetar. "Aku... aku akan menikah denganmu."
Mendengar jawaban yang memuaskan itu, sebuah kilatan kemenangan yang kejam melintas di dasar mata kelabu Asher. Dia memperbaiki letak kancing jas hitamnya dengan gerakan yang sangat elegan, seolah-olah baru saja menyelesaikan sebuah kesepakatan bisnis bernilai jutaan dolar.
"Pilihan yang sangat bijaksana, Gadis Tebusan," ucap Asher dengan nada suara yang rendah namun sarat akan kepuasan yang dingin. Dia membalikkan badannya, melangkah tegap menuju pintu keluar kamar tanpa memedulikan Chloe yang masih bersimpuh di lantai.
"Kenzo," panggil Asher saat melangkah melewati tangan kanannya.
"Ya, Bos," jawab Kenzo sigap, meskipun wajahnya masih menyiratkan sisa-sisa keterkejutan.
"Hubungi pengacara hukum organisasi kita. Siapkan semua dokumen pernikahan kontrak atas namaku dan Chloe malam ini juga. Dan pastikan semua persiapan administratif selesai sebelum besok pagi," perintah Asher tegas sembari mendorong pintu ganda kamar terbuka.
"Dimengerti, Bos. Segera saya laksanakan," jawab Kenzo sembari membungkuk hormat.
Asher melangkah keluar dari kamar tamu tersebut, meninggalkan aroma maskulin dinginnya yang masih tertinggal di udara. Pintu kayu ek tebal itu kembali tertutup rapat dan mengunci otomatis dari luar dengan bunyi klik yang nyaring, menandakan bahwa sangkar emas itu kini telah resmi mengunci Chloe, bukan lagi sebagai seorang tawanan biasa, melainkan sebagai calon pengantin tebusan dari sang bos mafia yang kejam.