Ghaffar Si Penakluk Arwah

Ghaffar Si Penakluk Arwah

Ghaffar Syarif Darmawan

Hari ini tanggal 26 Februari 2017, hari yang seharusnya menjadi hari bahagia seorang anak lelaki. Berubah menjadi hari penuh duka, karena ia harus kehilangan kedua orang tuanya.

BRSSSSTTTT

Hujan turun begitu deras, membasahi tanah kota Bandung. Langit mendung, membuat suasana menjadi gelap. Padahal, waktu masih menunjukkan jam satu siang. Langit seolah ikut menangisi, kepergian sepasang suami istri. Yang harus meregang nyawa, di tangan sekelompok orang tak di kenal.

Anak lelaki, yang baru saja menginjak usia 9 tahun. Harus kehilangan kedua orang tuanya, secara bersamaan. Ghaffar Syarif Darmawan namanya, lahir tanggal 26 Februari 2008.

Anak yang memiliki wajah tampan itu, tengah duduk di antara jenazah kedua orang tuanya seorang diri. Tatapan mata, yang biasanya di penuhi binar kebahagiaan, berubah menjadi binar kekosongan. Jiwanya seolah tertelan, ke dalam kegelapan. Tak ada air mata, hanya tatapan kehampaan.

Mulai detik ini, hidupnya berubah drastis. Tak akan ada lagi, wanita cantik yang selalu membangunkannya di pagi hari. Wanita yang tak pernah lepas, dari senyuman di bibir tipisnya. Tak ada lagi suara cerewet, yang mengomelinya karena kejahilan dan kenakalannya.

Tak akan ada lagi pria berwibawa, yang akan memberinya petuah. Tentang hidup di dunia, yang begitu keras ini. Tak akan ada lagi pria, yang akan berdiri membelanya. Di saat ia terkena masalah, tak ada lagi pahlawan di hidupnya.

Kini statusnya adalah anak yatim piatu, harus hidup sebatang kara di usianya yang masih di bawah umur.

"Nak Ghaffar, apakah kedua orang tua nak Ghaffar akan dikebumikan sekarang?" tanya seorang ustad, yang bernama pak Husein.

Suara yang terdengar tenang itu, menarik kesadaran Ghaffar. Ia menoleh, menatap lama wajah teduh pak Husein. Lalu, ia pun mengangguk pelan.

"Mari bapak-bapak, kita akan mengantarkan jenazah pak Zayyan dan bu Yasmin ke tempat peristirahatan terakhirnya. Mohon dibantu.." pinta ustad Husein

Dengan sigap para pemuda langsung bangun, bahkan hampir berebutan ingin mengangkat kedua keranda tersebut. Ada segaris senyum di bibir mungil Ghaffar, melihat banyak yang antusias mengantarkan kedua orang tuanya.

Siapa yang tak mengenal Zayyan Darmawan dan Yasmin Darmawan, dua orang yang selama hidupnya begitu dermawan dan berbudi luhur. Selalu mengulurkan tangan, bagi siapapun yang memang membutuhkan pertolongan. Bahkan anak-anak muda, banyak yang sudah di bantu oleh keduanya.

Ghaffar berjalan pelan, di belakang iringan orang-orang yang mengangkat jenazah orang tuanya. Dengan memegang bingkai foto berwarna hitam, berisikan foto hitam putih.

Air mata Ghaffar, seolah telah habis. Ia terlihat dingin, meski mendengar bisikan tentangnya di belakang.

'Kasihan Ghaffar, di usianya yang masih kecil. Harus menjadi yatim piatu...' A

'Kamu benar, meski ia memiliki warisan dari kedua orang tuanya. Tapi untuk anak seusianya, mungkin itu merupakan beban.' B

'Parahnya, Ghaffar harus melihat dengan mata kepalanya sendiri. Bagaimana kedua orang tuanya meregang nyawa, menahan jeritan dan juga rasa takutnya. Aku hanya berharap, dia tidak sampai memiliki trauma yang bisa merusak mentalnya.' C

'Innalillahi... Apa benar, yang kamu katakan?' tanya A terkejut

'Apa menurutmu, hal seperti ini bisa di jadikan candaan?' jawab C, A dan B menggelengkan kepalanya

'Ghaffar menceritakan kejadian, saat polisi menginterogasinya. Aku yang sudah dewasa saja, tak sanggup bila harus kembali mengingat kejadian mengerikan itu. Apalagi Ghaffar...

Flashback

Saat itu, keluarga Ghaffar seperti biasa tengah berkumpul di ruang keluarga. Ghaffar duduk di antara kedua orang tuanya, menonton acara di yang tayang di malam itu.

"Sayang, bila di masa depan. Ayah dan ibu harus pergi sangat jauh, kami minta jangan pernah menangis ya. Kamu harus tetap kuat, menjalani hari-harimu." ucap sang ibu, membuat Ghaffar mengerutkan dahi

"Maksud ibu bicara seperti itu, apa? Memang kalian mau kemana? Kenapa Ghaffar tidak di ajak?" tanya Ghaffar beruntun

"Ini kan hanya obrolan boy, jadilah anak yang kuat. Yang bisa berdiri sendiri, tanpa harus bergantung pada orang lain. Berteman dengan siapa saja boleh, tapi kamu tidak bisa memberikan kepercayaan sepenuhnya. Karena orang yang akan menghancurkan kita, justru orang yang sangat dekat dengan kita." jawab sang ayah

"Maksud ayah?" tanya Ghaffar, yang masih belum mengerti

"Orang yang akan menusuk kita dari belakang, justru orang yang tau baik buruknya kita. Jadi, saat kamu mempercayai seseorang, jangan pernah sekalipun. Kamu menceritakan semua tentang kamu, maupun keluargamu." Ghaffar mengangguk paham

"Tapi... Ibu dan ayah, tidak akan kemana-mana kan?" tanya Ghaffar, tiba-tiba perasaannya tak nyaman. Seolah obrolan malam ini, adalah obrolan terakhir mereka

"Ya ga kemana-mana, emang mau kemana kita?" jawab Yasmin tersenyum

Tanpa tau, bila canda tawa, obrolan dan senyuman itu. Merupakan hal terakhir, sebelum tragedi berdarah itu terjadi.

Waktu menunjukkan pukul 20.48, Ghaffar terlihat beberapa kali menguap.

"Udah ngantuk boy, masuk kamar sana. Besok kamu harus berangkat sekolah pagi, jangan terlambat." titah sang ayah, Ghaffar mengangguk

"Ibu... Ayah... Ghaffar masuk kamar ya, mau tidur duluan." pamit Ghaffar, lalu ia mencium kedua pipi orang tuanya. Hal yang biasa dilakukan, sebelum dan saat ia bangun tidur.

"Hmm.. tidur yang nyenyak ya sayang, mimpi indah." jawab Yasmin, Ghaffar melangkahkan kakinya untuk naik ke lantai dua. Dimana kamarnya berada, bersebelahan dengan kedua orang tuanya.

.

.

Waktu terasa berjalan cukup lambat malam itu, jam di dinding menunjukkan pukul 01.25 WIB. Udara terasa begitu dingin, gerimis menemani malam saat itu.

"Far.. Ghaffar... sayang... bangun nak..." samar-samar terdengar suara sang ibu, membangunkan anak lelaki tampan itu. Merasa mimpi, ia kembali terlelap.

"Ghaffar, bangun nak. Sayang... " kembali terdengar, suara panik. Di tambah dengan guncangan pelan, pada tubuhnya. Lambat lain, Ghaffar membuka kedua matanya.

"IB.. MMMPPHH" ucapan Ghaffar terhenti, karena mulutnya yang langsung di bekap Yasmin

"Sayang, dengarkan ibu. Kamu masuk ke tempat persembunyian, yang sudah di buat ayah di dalam lemari. Apapun yang terjadi...

DOR

DEG

"I-ibu..." Yasmin menggigit bibir bawahnya, menahan tangisannya agar tidak sampai pecah.

"Pokok nya, apapun yang terjadi. Jangan keluar, harus tetap bersembunyi. Jangan mengeluarkan suara sedikit pun, jangan berteriak. Mengerti?" Ghaffar menggelengkan kepalanya, ia menggenggam erat tangan sang ibu.

"Lalu ibu mau kemana?" tanya Ghaffar, dengan suara bergetar. Nada ketakutan dan panik menjadi satu.

"Ibu harus menolong ayah, ingat nak. Jangan keluar dan bersuara, apapun tang terjadi. Cepat masuk.." Yasmin menarik kasar Ghaffar, bukan maunya. Tapi keadaan, keadaan yang mengharuskannya melakukan hal ini.

"Ibu... Hiks... Nggak bu..." Ghaffar menahan diri, agar sang ibu tak memaksanya masuk ke ruang persembunyian.

"Maafkan ayah dan ibu sayang, kamu harus ingat. Jadilah anak yang kuat, jangan biarkan siapa pun menindas mu." ucap Yasmin, ia mencium kening putranya. Sebelum ia memaksa putranya, untuk masuk ke ruang persembunyian.

"Maafkan kami nak, kami sangat mencintaimu." ucapan terakhir, sebelum pintu ruang rahasia terkunci secara otomatis. Yang hanya bisa dibuka, dari dalam.

BRAAKK

KYAAAAA

'IBUUUUUU'

...****************...

Semoga kalian suka yaaaa....

Jangan lupa like, komen, gift dan vote nya❤️❤️

Terpopuler

Comments

mama_im

mama_im

meregang mak, baru juga mulai 😅😅😅

2026-03-21

3

≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ

≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ

Maaf ya mak baru sempet baca /Pooh-pooh/ buleh lanjut tak bacana mak

2026-03-26

1

nurule

nurule

tgl,bulan sama tahunnya sama banget dengan anakku thor

2026-03-21

1

lihat semua
Episodes
1 Ghaffar Syarif Darmawan
2 Flashback
3 Kafe ZAYYAS
4 Menolong Damar
5 Pergi ke Bangunan Terbengkalai
6 Cerita di Balik Boneka
7 Damar Pindah
8 Menolong Candra
9 Tiga Arwah Anak Hilang
10 Akhir seorang Alexa
11 Kedatangan Orang Tua para arwah
12 Cerita Kematian Tiga Arwah
13 Mencari Jenazah 1
14 Fakta yang Mengejutkan Keluarga Korban
15 Ghaffar Mengurung Diri
16 Kondisi Ghaffar
17 Ghaffar Siuman
18 Kepulangan Ghaffar
19 Tiga Keluarga Baru Ghaffar
20 Pergi ke Proyek Bangunan
21 Cerita di Balik Kematian Arwah Dani
22 MOON
23 Mingyu
24 Part 24
25 Menyelesaikan Kasus Besar
26 Arwah yang di tahan Hantu Air
27 Permintaan Mommy Grace
28 Part 28
29 Keterkejutan Dokter Dania
30 Menyelamatkan Tunangan Arsita
31 Part 31
32 Hantu Air
33 Hantu Air 2
34 Sedikit Tentang Moon
35 Sagara
36 Perpisahan
37 Pak Henri
38 Part 38
39 Part 39
40 Khodam Milik Ghaffar
41 Part 41
42 Mingyu Di rawat
43 Part 43
44 Permintaan Ghaffar
45 Part 45
46 Cerita bi Hera
47 Selesainya Masalah bi Hera
48 Ketua Kelas Mirza
49 Tentang Sean
50 Perdebatan
51 Fakta yang Mengejutkan
52 Part 52
53 Menuju Rumah Keluarga Andita
54 Ruang Bawah Tanah
55 Perpisahan
56 Masih Flashback
57 Rencana Lelang
58 Pergi ke kosan Kamila
59 Cerita di Balik Rambut Sambung
60 Rencana Ghaffar
61 Part 61
62 Marahnya Ghaffar
63 Cerita di Balik Hadirnya Anyelir
64 Ternyata...
65 Ke Kediaman Keluarga Wijaya Santoso
66 Keluarga Rosy / Ruby
67 Pukulan Untuk Keluarga Mbak Ruby
68 Part 68
69 Melakukan Tes Kecocokan
70 Part 70
71 Hari Pertama Acara di Sekolah
72 Hantu Ruang Musik
73 Mencari Keadilan untuk Shifra
74 Gibah nya Ghaffar dan kak Arimbi
75 Jangan-Jangan.... Cemburu?
76 Part 76
77 Penangkapan Dokter Agnes
78 Permintaan Ghaffar
79 Pergi ke Sekolah Ghaffar
80 Pemintaan kak Elfa
81 Part 81
82 Kondisi Orang Tua Shifra
83 Part 83
84 Pembalasan
85 Part 85
86 Alhamdulillah
87 Perasaan
88 Cerita Kematian Hantu tanpa Kepala
89 Part 89
90 Part 90
91 Part 91
92 Part 92
93 Ketakutan om Wira
94 Daging dan Darah Keluarga Terdekat
95 Membantu Bang Abraham
96 Kinanti
97 Part 97
98 Part 98
99 Part 99
100 Part 100
101 Part 101
102 Kak Arini
103 Kak Arini 2
104 Andi Hilang
105 Melani
106 Masih Flashback
107 Part 107
108 Part 108
109 Part 109
110 Part 110
111 Kasus Lain
112 Part 112
113 Pelaku Sebenarnya
114 Cerita Satria
115 Luapan Hati Satria
116 Part 116
117 Cerita Moon
118 Dikejar
119 Masa Lalu Moon
120 Ternyata
121 Part 121
122 Part 122
123 Galuh Supratman
124 Part 124
125 Part 125
126 Cerita Kematian Galuh
127 Part 127
128 Part 128
129 Kasus Galuh Selesai
130 Part 130
131 Part 131
132 Konyolnya Wulan
133 Korban Kecelakaan Mobil
134 Part 134
135 Part 135
136 Part 136
137 Part 137
138 Amarah para Korban dan Hukuman
139 Part 139
140 Part 140
141 Part 141
142 Part 142
143 Part 143
144 Part 144
145 Part 145
146 Ternyata....
147 Part 147
148 Part 148
149 Part 149
150 Tawaran Ghaffar
151 Part 151
152 Part 152
153 Dalang di balik Dalang
154 Part 154
155 Part 155
156 Part 156
157 Part 157
158 Part 158
159 Part 159
160 Part 160
161 Part 161
162 Bewara Judul Baru
163 Part 162
164 Part 163
165 Part 164
Episodes

Updated 165 Episodes

1
Ghaffar Syarif Darmawan
2
Flashback
3
Kafe ZAYYAS
4
Menolong Damar
5
Pergi ke Bangunan Terbengkalai
6
Cerita di Balik Boneka
7
Damar Pindah
8
Menolong Candra
9
Tiga Arwah Anak Hilang
10
Akhir seorang Alexa
11
Kedatangan Orang Tua para arwah
12
Cerita Kematian Tiga Arwah
13
Mencari Jenazah 1
14
Fakta yang Mengejutkan Keluarga Korban
15
Ghaffar Mengurung Diri
16
Kondisi Ghaffar
17
Ghaffar Siuman
18
Kepulangan Ghaffar
19
Tiga Keluarga Baru Ghaffar
20
Pergi ke Proyek Bangunan
21
Cerita di Balik Kematian Arwah Dani
22
MOON
23
Mingyu
24
Part 24
25
Menyelesaikan Kasus Besar
26
Arwah yang di tahan Hantu Air
27
Permintaan Mommy Grace
28
Part 28
29
Keterkejutan Dokter Dania
30
Menyelamatkan Tunangan Arsita
31
Part 31
32
Hantu Air
33
Hantu Air 2
34
Sedikit Tentang Moon
35
Sagara
36
Perpisahan
37
Pak Henri
38
Part 38
39
Part 39
40
Khodam Milik Ghaffar
41
Part 41
42
Mingyu Di rawat
43
Part 43
44
Permintaan Ghaffar
45
Part 45
46
Cerita bi Hera
47
Selesainya Masalah bi Hera
48
Ketua Kelas Mirza
49
Tentang Sean
50
Perdebatan
51
Fakta yang Mengejutkan
52
Part 52
53
Menuju Rumah Keluarga Andita
54
Ruang Bawah Tanah
55
Perpisahan
56
Masih Flashback
57
Rencana Lelang
58
Pergi ke kosan Kamila
59
Cerita di Balik Rambut Sambung
60
Rencana Ghaffar
61
Part 61
62
Marahnya Ghaffar
63
Cerita di Balik Hadirnya Anyelir
64
Ternyata...
65
Ke Kediaman Keluarga Wijaya Santoso
66
Keluarga Rosy / Ruby
67
Pukulan Untuk Keluarga Mbak Ruby
68
Part 68
69
Melakukan Tes Kecocokan
70
Part 70
71
Hari Pertama Acara di Sekolah
72
Hantu Ruang Musik
73
Mencari Keadilan untuk Shifra
74
Gibah nya Ghaffar dan kak Arimbi
75
Jangan-Jangan.... Cemburu?
76
Part 76
77
Penangkapan Dokter Agnes
78
Permintaan Ghaffar
79
Pergi ke Sekolah Ghaffar
80
Pemintaan kak Elfa
81
Part 81
82
Kondisi Orang Tua Shifra
83
Part 83
84
Pembalasan
85
Part 85
86
Alhamdulillah
87
Perasaan
88
Cerita Kematian Hantu tanpa Kepala
89
Part 89
90
Part 90
91
Part 91
92
Part 92
93
Ketakutan om Wira
94
Daging dan Darah Keluarga Terdekat
95
Membantu Bang Abraham
96
Kinanti
97
Part 97
98
Part 98
99
Part 99
100
Part 100
101
Part 101
102
Kak Arini
103
Kak Arini 2
104
Andi Hilang
105
Melani
106
Masih Flashback
107
Part 107
108
Part 108
109
Part 109
110
Part 110
111
Kasus Lain
112
Part 112
113
Pelaku Sebenarnya
114
Cerita Satria
115
Luapan Hati Satria
116
Part 116
117
Cerita Moon
118
Dikejar
119
Masa Lalu Moon
120
Ternyata
121
Part 121
122
Part 122
123
Galuh Supratman
124
Part 124
125
Part 125
126
Cerita Kematian Galuh
127
Part 127
128
Part 128
129
Kasus Galuh Selesai
130
Part 130
131
Part 131
132
Konyolnya Wulan
133
Korban Kecelakaan Mobil
134
Part 134
135
Part 135
136
Part 136
137
Part 137
138
Amarah para Korban dan Hukuman
139
Part 139
140
Part 140
141
Part 141
142
Part 142
143
Part 143
144
Part 144
145
Part 145
146
Ternyata....
147
Part 147
148
Part 148
149
Part 149
150
Tawaran Ghaffar
151
Part 151
152
Part 152
153
Dalang di balik Dalang
154
Part 154
155
Part 155
156
Part 156
157
Part 157
158
Part 158
159
Part 159
160
Part 160
161
Part 161
162
Bewara Judul Baru
163
Part 162
164
Part 163
165
Part 164

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!