NovelToon NovelToon
Sistem: Suplai Tak Terbatas

Sistem: Suplai Tak Terbatas

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Hari Kiamat / Sistem
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Wan Chen tidak ingin menyelamatkan dunia.

Ia hanya ingin kaya.

Untungnya, saat berada di ambang kematian, ia memperoleh Sistem dengan kemampuan Duplikasi dan Penyimpanan Dimensional.

Dan di dunia yang kekurangan segalanya, tidak ada kemampuan yang lebih menakutkan dari itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 - Nilai Sebuah Nyawa dan Transaksi Taktis

Tangannya menyentuh gagang pisau karbon di pinggang secara refleks. Tubuhnya sudah lebih dulu melebur ke dalam bayangan pohon baja di sisi tebing. Sepi menyergap.

Suara seretan kaki itu makin nyaring.

Dari balik semak yang mengeras seperti kawat berkarat, siluet manusia tersandung keluar. Napasnya putus-putus. Mirip ritme peluit yang salurannya tersumbat cairan kental.

Seorang wanita muda. Pakaian taktisnya sudah kehilangan bentuk asli, robek dari dada hingga pinggang. Cairan merah menetes deras mengikuti langkah gontainya.

Tumbang ia seketika. Tepat tiga meter di depan ujung sepatu bot Wan Chen.

Wajahnya mencium debu tanah. Tangan kanannya masih mencoba menggapai udara kosong sebelum akhirnya lemas tak bertulang.

Wan Chen tetap diam. Matanya menatap datar gundukan daging setengah mati itu.

'Mati di sini saja,' rutuknya dalam hati. 'Aku tidak mau menggali kuburan malam ini.'

Ia benar-benar mempertimbangkannya. Opsi paling logis. Cabut pisau, tusuk pangkal lehernya untuk memastikan. Tidak ada yang tahu ada bangkai Beruang Besi di dalam gua di belakangnya. Tidak ada yang tahu soal puluhan Bunga Darah di sakunya.

Kerahasiaan adalah mata uang paling mahal di tempat kotor ini.

Langkahnya pelan, mendekati tubuh wanita itu tanpa suara. Ujung pisaunya sudah terhunus ke bawah.

Namun mata Wan Chen menangkap kilauan di pakaian si wanita.

Sebuah lencana. Bukan logam rongsokan. Itu tanda navigasi elit kelas atas. Matanya kemudian melirik sedikit ke bawah, menemukan gulungan silinder logam yang menempel erat di pinggang yang berlumuran darah.

Peta topografi Hutan Besi. Versi modifikasi.

Pisau karbon itu berhenti dua sentimeter dari tengkuk wanita tersebut.

Otak Wan Chen bekerja lebih cepat dari insting membunuhnya. Ia baru saja masuk ke Zona Elit. Pedagang pinggiran tidak akan sanggup membeli stok Bunga Darah hasil duplikasinya. Membawa puluhan barang merah itu ke pasar pusat tanpa koneksi, sama saja dengan menaruh papan target bercahaya di jidatnya sendiri.

Faksi besar akan melacaknya. Menyiksanya perlahan untuk memeras dari mana asal suplai mustahil itu.

'Tapi kalau aku punya anjing pelacak yang tahu jalur tikus...' Wan Chen menyipitkan mata.

Ia menatap wanita bernama Lin Yu Yan itu—nama yang tertera samar di sisa pelat dadanya. Seorang pengintai dari kelompok yang jelas baru saja disergap atau dikhianati. Luka robek menganga di perutnya itu bukan hasil cakaran monster. Polanya lurus. Itu sabetan pedang. Bekas pekerjaan manusia.

Orang buangan. Terdesak. Hampir putus nyawa.

'Aset yang lumayan,' batinnya. Lelahnya menguap sesaat.

Nyawa wanita ini jelas punya nilai taktis. Jauh lebih berharga daripada dibiarkan membusuk menjadi pupuk Hutan Besi.

Wan Chen berjongkok. Ia menyentuh layar sistem transparan di udara dengan satu ketukan malas.

Bukan bunga asli yang ia ambil. Ruang hampa antarmuka itu memuntahkan satu salinan Bunga Darah dari tumpukan stok. Kelopaknya berpendar persis seperti induknya, menebarkan kehangatan ganjil di tengah angin tebing yang beku.

Ia tidak akan membuang satu bunga utuh untuk orang asing.

Jari telunjuk dan jempolnya menjepit satu kelopak kecil dari salinan tersebut. Tarikan pelan. Kelopak itu lepas. Sisa bunganya langsung ia lemparkan kembali ke dalam ruang dimensi tanpa peduli.

Kelopak merah di tangannya ia remas kuat. Cairan pekat merembes keluar, lengket dan berdenyut seperti urat nadi terbuka.

Tangan kirinya mencengkeram rahang Lin Yu Yan. Membukanya secara paksa.

"Telan ini," gumam Wan Chen pelan, tidak mempedulikan korban yang sedang tak sadar.

Tetesan ekstrak murni itu jatuh ke dalam kerongkongan si pengintai. Sisa cairan berdenyut di jarinya langsung ia oleskan seenaknya ke perut wanita itu yang nyaris menumpahkan isi organ.

Wan Chen berdiri, mundur satu langkah. Memasukkan kedua tangannya ke saku jaket. Menunggu.

Dalam tiga hitungan, realita absurd dunia ini membuktikan hukumnya. Daging yang terburai perlahan menarik diri. Jaringan seluler merajut paksa. Mengunci luka robek itu dengan kecepatan yang membuat mata manusia normal pasti mual melihatnya.

Darah yang menggenang berhenti total.

Napas Lin Yu Yan yang tadinya berupa rintihan sekarat, kini berubah menjadi tarikan napas panjang. Oksigen kembali menyengat sel-sel sarafnya.

Wanita itu tersedak hebat.

Matanya langsung menganga lebar. Kelabakan. Tangan kirinya meraba perutnya sendiri secara insting, mencari luka robek yang ia tahu persis sudah mencabut setengah nyawanya semenit lalu.

Hanya ada kulit mulus dan lapisan darah yang mengering.

"A... apa?" Suara Lin Yu Yan parau. Otaknya nge-blank. Kebingungan akut menghancurkan logikanya.

Ia mendongak kasar. Namun belum sempat pupilnya fokus pada sosok pria di depannya, hawa sedingin es langsung menempel ketat di urat nadi lehernya.

Ujung pisau karbon Wan Chen sudah mengunci pangkal tenggorokannya.

Lin Yu Yan menegang kaku. Refleks bertarungnya menjerit, tapi tekanan pisaunya sedikit menekan ke dalam kulit. Memberi peringatan tak bersuara.

"Jangan banyak tingkah," tegur Wan Chen santai. Nada suaranya sangat datar. Tidak ada letupan amarah, dan justru itulah yang membuatnya terasa menakutkan.

Wanita itu menahan napas. Matanya menatap lurus ke wajah pria yang berjongkok menyamakan tinggi dengannya.

"Kau... kau yang menyembuhkanku?" tanya Lin Yu Yan terbata-bata. Lirikannya masih mencuri pandang ke sisa cairan merah terang di kerah bajunya.

"Salah."

Wan Chen memutar pergelangan tangannya sedikit. Besi karbon itu menempel lebih lekat.

"Kau sudah mati di sini malam ini," ucapnya ringan, menatap kosong ke bola mata pengintai itu. "Tapi aku memutuskan untuk membeli mayatmu. Dan harganya kebetulan lumayan."

"Apa... apa maumu?" suaranya masih bergetar.

"Kontrak." Wan Chen menghembuskan napas pendek dari hidung. "Nyawamu milikku mulai detik ini. Kau jadi mataku. Kau yang buka jalan ke rute penyelundupan rahasia. Kau berurusan dengan informasi."

Pria itu memberi jeda sebentar. Sengaja membiarkan angin tebing mengisi keheningan yang menyesakkan dada Lin Yu Yan.

"Sebagai bayarannya, kau tetap bernapas. Setuju?"

Lin Yu Yan menggigit ujung bibirnya hingga pucat. Keputusasaan bertemu kalkulasi dingin.

"Aku... aku tidak tahu barang apa yang barusan kau beri padaku."

"Tentu saja kau tidak tahu." Wan Chen memotongnya cepat, sedikit bersandar pada lututnya sendiri. "Dan itu aturan utamanya. Kau buta dan bisu soal apapun yang keluar dari sakuku. Kau hanya menunjuk arah."

Satu anggukan patah-patah diberikan. Pergerakan sekecil itu membuat kulit lehernya nyaris tergores bilah pisau.

"Terserah kau," gumam Wan Chen bosan.

Pisaunya ditarik mundur tiba-tiba. Bunyi 'klik' singkat menandakan senjata pembunuh itu sudah kembali ke sarungnya.

Wan Chen berdiri. Memijat leher belakangnya yang pegal akibat berdiri terlalu lama di dalam gua tadi. Sikapnya kembali layaknya pegawai kantoran yang selesai meneken surat lembur harian.

Lin Yu Yan perlahan memaksa tubuhnya bangkit. Sendi-sendinya masih kaku menerima asupan tenaga dari sisa ekstrak bunga. Ia menatap lekat-lekat pria yang membelakanginya itu.

"Siapa kau sebenarnya?" cicit wanita itu ragu.

Wan Chen tak menghentikan langkahnya. Pijakannya menghancurkan kerikil di tepian tebing. Matanya memindai Hutan Besi yang pelan-pelan ditelan warna gelap.

"Pertanyaan tidak penting."

Pria itu melonggarkan kerah jaketnya sedikit, membiarkan udara malam yang kering masuk.

"Kerjakan tugasmu sekarang," instruksi Wan Chen sepihak tanpa repot menoleh ke belakang. "Cari jalur teraman ke kota pinggiran tanpa memancing radar faksi manapun. Lakukan secepatnya."

Ia membuang napas berat yang terdengar sangat jujur.

"Aku butuh tidur nyenyak malam ini."

Mereka berjalan, di malam hari yang gelap. Tanpa tahu ada yang menanti mereka di depan.

1
Yui
Karya ini sangat luar biasa, setelah baca novel ini aku jadi sedikit mengingat kenanganku yang telah lama menghilang, terimakasih Author 🔥🔥🔥🔥🔥
Ironside: /Toasted/
total 1 replies
Ironside
Ada error /Sweat/, biarlah, nanti di fix Editor
Gege
dan Wang Chen pun jualan obat...🤣😄
HiaTus
/Rose/
Wakana
wow sangat menarik & unik 👀
Ironside: Terima kasih telah membaca, semoga betah /Smile/
total 1 replies
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
‎ ‎ ‎Basah Mas... Sampe Banjir
ada insectnya gak kak?
‎ ‎ ‎Basah Mas... Sampe Banjir: yah, kecewa kak.
total 2 replies
The Ironheart
darkfantasy ini kak☺️
Ironside: /Slight/
total 1 replies
Ironside
Pliss... Like, Subscribe dan Upvote jika kalian menyukai karya ini /Determined/.
Ironside: Mr. Willheim /Scare/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!