Arga, seorang pemuda yatim piatu miskin yang berjuang hidup sebagai nelayan sampan, harus menelan pil pahit saat dihina habis-habisan oleh mantan teman-teman sekolahnya di sebuah acara reuni.
Merasa putus asa dan tidak terima dengan ketidakadilan takdir, ia melampiaskan emosinya dengan memancing di tengah malam, namun kailnya justru menarik sebuah umpan logam berkarat misterius yang menyerap darahnya dan membangkitkan Sistem Mancing Mania Mantap.
Berbekal sistem aneh yang menggunakan emosi sebagai umpan dan menunjukkan lokasi pancing yang tidak masuk akal, Arga tidak lagi sekadar memancing ikan biasa, melainkan menarik harta karun dimensi lain, pusaka kuno, hingga kekuatan gaib yang akan memutarbalikkan nasibnya dari pemuda rendahan menjadi sosok kaya raya yang ditakuti semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Dia berusaha berenang ke pinggir tapi gerakannya terhambat karena dia harus terus memegangi sisa celananya yang hancur.
Wajah Dimas kini tidak lagi berwarna merah karena marah, melainkan pucat pasi karena menanggung rasa malu yang teramat sangat.
Seluruh tamu VIP yang ada di sana kini terang-terangan menertawakannya tanpa berusaha menyembunyikan suara mereka lagi.
"Makanya Dim, tangan itu jangan suka gatel pegang barang mahal punya orang," sindir Arga dengan suara lantang.
"Lo lihat sendiri kan akibatnya kalau lo berani main-main sama barang antik langka."
Dua orang petugas keamanan langsung berlari menghampiri Dimas dan melemparkan sebuah handuk besar ke arahnya.
"Mari Bapak kami bantu naik, tolong gunakan handuk ini untuk menutupi tubuh Anda," ucap petugas keamanan itu menahan tawa.
Dimas segera meraih handuk itu dan melilitkannya ke pinggang dengan gerakan panik dan gemetar.
Dia naik dari kolam renang dengan kondisi basah kuyup dan harga diri yang sudah hancur lebur berkeping-keping.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Rina atau Arga, Dimas langsung berlari kencang meninggalkan area atap hotel tersebut.
Rina yang merasa sangat malu ikut berlari mengejar Dimas dari belakang sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Arga tertawa puas melihat kepergian dua orang menyebalkan dari masa lalunya itu.
Kesialan instan yang diberikan oleh batu giok hitam ini ternyata jauh lebih efektif daripada tamparan fisik biasa.
"Sistem, apa batu ini bisa gue simpan ke dalam inventaris biar aman dibawa kemana-mana?" tanya Arga di dalam kepala.
"Tentu Host, ruang inventaris sistem telah dibuka secara otomatis untuk menyimpan barang gaib tingkat Rare ke atas," jawab sistem cepat.
Arga menyentuh batu giok itu dengan telunjuknya dan memerintahkan sistem untuk menyimpannya.
Batu hitam legam itu langsung menghilang ke dalam udara kosong tanpa meninggalkan jejak apa pun.
Arga membereskan joran karbonnya dan memasukkannya kembali ke dalam tas olahraga hitam.
Dia melangkah meninggalkan area kolam renang yang masih dipenuhi tawa para tamu menuju ke arah lift khusus VIP.
Malam ini dia berniat untuk tidur dengan nyenyak di kamar Presidential Penthouse yang sudah dia bayar lunas.
Sesampainya di kamar, Arga benar-benar dibuat takjub oleh kemewahan interior yang disuguhkan.
Ruangan ini besarnya hampir menyamai ukuran lapangan basket dengan jendela kaca panorama yang memperlihatkan pemandangan malam kota Jakarta.
Arga melempar tasnya ke atas sofa kulit buatan Italia dan langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur berukuran king size.
Sistem mancing ini benar-benar telah mengubah kehidupannya seratus delapan puluh derajat hanya dalam waktu beberapa hari saja.
Namun Arga sadar bahwa semakin banyak barang gaib yang dia pancing, semakin besar pula bahaya yang akan mengincarnya nanti.
Koper perak milik Haris Kusuma saja sudah cukup untuk membuatnya terseret ke dalam konflik antara pengusaha kelas atas.
Apalagi jika suatu saat dia memancing senjata atau pusaka kuno yang menjadi rebutan kelompok berbahaya di dunia ini.
Arga memejamkan matanya dan memutuskan untuk tidak terlalu memusingkan masa depan yang belum terjadi.
Saat ini prioritas utamanya adalah memperkuat diri dan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk bertahan hidup.
Tidur Arga malam ini sangat lelap ditemani oleh empuknya bantal bulu angsa dan sejuknya pendingin ruangan kamar paling mahal di hotel tersebut.
Keesokan paginya, Arga terbangun oleh suara alarm dari ponsel pintarnya yang berdering nyaring.
Dia bangkit dari kasur dan berjalan menuju kamar mandi mewah yang dindingnya dilapisi oleh marmer hitam elegan.
Setelah mandi dan mengganti pakaiannya dengan santai, Arga memesan sarapan melalui telepon layanan kamar.
Sambil menunggu sarapannya datang, Arga duduk di balkon kamar dan membuka layar sistemnya kembali.
Dia ingin melihat barang apa saja yang tersedia di dalam Toko Sistem Gaib yang baru terbuka fitur penuhnya kemarin.
"Buka katalog Toko Sistem," perintah Arga kepada layar transparan di depannya.
Layar biru itu langsung berubah menjadi sebuah buku katalog kuno dengan halaman yang berbalik sendiri secara otomatis.
Mata Arga berbinar melihat berbagai macam barang aneh yang dijual di sana.
Ada ramuan penyembuh luka, umpan pemanggil cuaca, hingga buku panduan ilmu bela diri kuno.
Namun harga barang-barang itu semuanya membutuhkan Poin Sistem yang jumlahnya sangat fantastis.
Poin Sistem Arga yang berjumlah lima ratus sembilan puluh hanya cukup untuk membeli beberapa barang tingkat dasar saja.
"Gue harus rajin nyelesaiin misi harian nih kalau mau beli barang bagus di toko ini," gumam Arga membulatkan tekadnya.
Ting tong.
Suara bel pintu kamar Penthouse berbunyi memecah konsentrasi Arga.
Arga berjalan membuka pintu dan melihat seorang pelayan pria mendorong kereta makanan yang dipenuhi oleh berbagai macam hidangan sarapan mewah.
"Selamat pagi Bapak Arga, ini pesanan sarapan spesial Anda," sapa pelayan itu dengan senyum ramah.
"Makasih Mas, taruh aja di meja makan sebelah sana ya," arah Arga menunjuk ke area ruang makan.
Setelah pelayan itu pergi, Arga langsung menyantap sarapannya dengan sangat lahap.
Rasa makanannya memang sangat enak dan sepadan dengan harga kamar yang dia bayar semalam.
Hari ini Arga berencana untuk pulang ke kos dan mulai memikirkan langkah selanjutnya untuk mengembangkan aset kekayaannya.
Uang lima ratus juta yang tersisa di rekeningnya masih belum cukup untuk menjamin keamanannya di masa depan.
Dia butuh sebuah bisnis atau investasi nyata yang bisa menjadi sumber penghasilan pasifnya selain mengandalkan hasil pancingan sistem.
Tiba-tiba ponsel Arga bergetar menandakan ada pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Arga membuka pesan itu dan mengerutkan dahinya membaca deretan kalimat singkat di layar ponselnya.
"Saya tahu dari mana asal koper perak itu, temui saya di kafe Senopati siang ini jika kamu tidak ingin rahasia ini terbongkar ke Haris Kusuma."
Arga menggenggam ponselnya erat-erat dan menatap tajam ke arah luar jendela kamarnya.
Sepertinya masalah baru sudah menunggunya di luar sana dan dia tidak punya pilihan lain selain menghadapinya secara langsung.