NovelToon NovelToon
Not Our Time

Not Our Time

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyesalan Keluarga
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Aku lahir dari puncak sebuah ego yang membara, Tapi aku dikunci rapat oleh darah dan rahasia maut di malam badai.
Aku membuat dua orang yang saling mencintai menatap dengan tatapan es,
Dan aku terukir abadi sebagai garis pucat di perut sang wanita. Siapakah aku?"

Enam tahun lalu, ego memisahkan mereka.
Sebuah kecelakaan maut yang merenggut nyawa Amara, sahabat dari Vexana Valerio Dan Landon Dasmon—mengubah cinta membara menjadi kebencian pekat yang saling menyalahkan.

Kini, takdir memaksa Vexana dan Landon kembali berhadapan di koridor kampus yang sama.

Di antara dendam yang membakar dan penyesalan yang terlambat, mampukah mereka mengungkap kebenaran malam badai itu, atau justru hancur bersama puing-puing masa lalu?

~~~~~~
Happy reading 🦋🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#2

Ketukan sepatu hak tinggi Vexana Valerio di atas aspal area parkir Fakultas Bisnis terdengar seperti detak jam dinding yang menghitung mundur kehancurannya.

Angin musim panas Los Angeles yang kering menyapu helai-helai rambut cokelatnya yang indah, membawa serta debu tipis dari sisa-sisa pembakaran jalanan kota yang tak pernah tidur.

Begitu jemarinya menyentuh gagang pintu mobil sedan hitamnya, pertahanan yang dia pasang erat-erat di dalam kafetaria tadi runtuh sebagian.

Vexana segera masuk ke dalam mobil, menutup pintunya rapat-rapat, mengunci diri dari dunia luar, dan bersandar pada kemudi.

Napasnya memburu, tersengal-sengal oleh badai emosi yang berkecamuk di dalam dadanya. Di luar sana, kampus tetap berjalan seperti biasa di bawah terik matahari California yang menyilaukan. Namun di dalam ruang sempit kemudi ini, Vexana merasa dunia seolah runtuh menimpanya.

Pengkhianatan Brain dan Luna adalah satu hal—sebuah luka baru yang menganga, perih, dan bernanah. Namun, nama yang diteriakkan Luna di akhir pertengkaran mereka tadi... nama itu bertindak seperti asam yang disiramkan tepat di atas luka baru tersebut.

Landon Desmon.

Vexana memejamkan matanya rapat-rapat, namun alih-alih kegelapan, ingatan masa lalu justru berputar layaknya rol film usang yang diputar paksa di dalam benaknya.

Bagi seisi kampus, Landon Desmon adalah sang profesor genius yang dingin, tak tersentuh, dan kini tengah menjalin hubungan strategis dengan anak Dekan Fakultas Seni demi memuluskan jalurnya di jajaran akademisi tertinggi. Namun bagi Vexana, Landon adalah bagian dari dirinya yang telah mati.

Mereka adalah sepasang kekasih sejak masa high school, sepasang remaja yang memadu kasih di bawah gemerlap lampu malam Los Angeles sejak mereka masih berusia 16 tahun.

Saat itu, dunia terasa begitu sederhana. Vexana mengingat bagaimana mereka sering menghabiskan waktu sore di Dermaga Santa Monica, menikmati es krim yang meleleh karena hawa panas, atau duduk di kap mobil sambil memandangi cakrawala Hollywood Hills.

Mereka adalah definisi dari cinta pertama yang sempurna, jenis hubungan yang membuat orang lain iri karena mengira mereka akan berakhir di Sumpah Pernikahan.

Namun, segalanya berubah ketika mereka menginjak usia 20 tahun.

Tahun itu adalah tahun kelam yang merenggut semua kebahagiaan mereka.

Di bawah tekanan hebat dari keluarganya yang berambisi besar dan penuh tuntutan, Landon memutuskan untuk mengambil kelas akselerasi ekstrim demi menyelesaikan studinya jauh lebih cepat.

Dia mengunci diri di laboratorium, menenggelamkan diri dalam tumpukan riset elektro, dan perlahan-lahan menarik diri dari dunia luar. Dan di tengah-tengah tekanan itu, hubungan mereka yang telah berjalan empat tahun retak hingga hancur berkeping-keping.

Mereka putus secara tiba-tiba. Hingga hari ini, alasan sebenarnya di balik perpisahan itu tetap menjadi rahasia paling rapat yang hanya diketahui oleh Vexana dan Landon.

Di mata publik, mereka "berpisah karena kesibukan."

Namun kenyataannya, luka dari perpisahan itu begitu dalam dan beracun, menyisakan residu yang mengubah cinta membara menjadi kebencian yang pekat.

Saat ini, setelah empat tahun berlalu, Vexana Valerio dan Landon Desmon saling membenci satu sama lain dengan intensitas yang sama besarnya dengan cara mereka saling mencintai dulu.

Setiap kali mereka tidak sengaja berpapasan di koridor utama kampus, udara di sekitar mereka mendadak turun beberapa derajat.

Tidak ada sapaan, tidak ada senyuman. Yang ada hanyalah tatapan mata yang saling menghujam penuh dendam dan keangkuhan.

"Sialan kau, Luna," desis Vexana, mencengkeram kemudi hingga kuku-kukunya memutih. "Sialan kau, Brain. Dan sialan kau... Landon."

Vexana menyalakan mesin mobilnya. Deru mesin berkapasitas besar itu menggetarkan dadanya, memaksanya untuk kembali fokus.

Dia tidak boleh terlihat lemah. Jika dia mengurung diri di apartemen dan menangis, Luna akan menang.

Brain akan mengira dia menghancurkan hidup Vexana. Dan yang paling buruk, jika rumor di kafetaria itu sampai ke telinga Landon, pria angkuh itu akan berpikir bahwa Vexana masih terpengaruh oleh masa lalu mereka.

Vexana menolak menjadi korban. Dia adalah seorang Valerio.

Dia menginjak pedal gas, membawa sedannya membelah jalanan Los Angeles yang padat. Tujuannya bukan apartemen tempat dia dan Brain biasa menghabiskan waktu, melainkan gedung rektorat.

Hari ini dia harus mengurus beberapa dokumen seminar proposal bisnisnya. Dia harus menyibukkan diri. Kerja keras dan ambisi adalah satu-satunya obat penawar yang dia miliki saat ini.

Sesampainya di gedung akademik pusat, suasana tampak lebih tenang dibandingkan kafetaria Fakultas Bisnis.

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Baru saja Vexana melangkah masuk melalui pintu kaca berputar, dia bisa merasakan beberapa pasang mata dari mahasiswa administrasi yang berjaga di lobi menatapnya dengan pandangan yang berbeda.

Berita di kafetaria menyebar lebih cepat dari kebakaran hutan di California, batin Vexana ketus.

Dia mengabaikan pandangan-pandangan itu, berjalan dengan punggung tegak dan dagu terangkat, memancarkan aura intimidasi yang membuat orang-orang langsung membuang muka saat dia menatap balik.

Dia menaiki lift menuju lantai tiga, tempat ruang dosen senior dan administrasi pascasarjana berada. Koridor lantai tiga dilapisi karpet tebal yang meredam suara langkah kaki, memberikan kesan sunyi yang formal. Vexana berjalan menuju ruang arsip, membawa beberapa map dokumen di dadanya seperti sebuah perisai.

Namun, takdir nampaknya sedang senang mempermainkan hidupnya hari ini.

Di ujung koridor, pintu lift lain berdenting terbuka. Dari dalam lift tersebut, melangkah keluar seorang pria dengan postur tubuh tinggi tebal yang sangat familier.

Kemeja flanel gelap dengan lengan yang digulung hingga siku, dipadukan dengan celana kain hitam dan kacamata berbingkai tipis yang bertengger di hidung mancungnya.

Rambutnya sedikit berantakan, memberikan kesan seorang akademisi yang terlalu sibuk berteori untuk memedulikan penampilannya, namun justru hal itulah yang membuatnya terlihat sangat menarik.

Landon Desmon.

Langkah kaki Vexana mendadak melambat, hampir berhenti. Di seberang koridor, Landon juga menghentikan langkahnya sejenak saat matanya menangkap sosok Vexana.

Untuk satu detik yang sangat singkat, ada kilatan emosi yang rumit di balik lensa kacamata pria itu, namun sedetik kemudian, mata itu berubah menjadi sepasang tebing es yang dingin dan tak bersahabat.

Jarak di antara mereka di koridor panjang itu terasa seperti medan perang yang dipenuhi ranjau. Vexana bisa memutar balik, berpura-pura melupakan dokumennya dan kembali ke lift.

Tapi itu berarti menunjukkan kelemahan. Itu berarti mengakui bahwa kehadiran Landon masih memiliki kekuatan untuk memengaruhinya. Maka, dengan sisa-sisa keberanian dan harga diri yang dia miliki, Vexana melanjutkan langkahnya, berjalan lurus ke arah Landon.

Landon pun melakukan hal yang sama. Dia berjalan maju dengan langkah yang lebar dan santai, memegang sebuah map kulit di tangan kirinya.

Ketika jarak mereka hanya tersisa beberapa langkah, suasana menjadi begitu mencekam hingga suara hembusan AC di langit-langit koridor terdengar jelas.

Vexana menatap lurus ke depan, menolak untuk melihat ke arah Landon. Namun, saat mereka berpapasan, Landon sengaja sedikit memiringkan bahunya, mempersempit ruang jalan, forcing Vexana untuk bergeser atau bergesekan dengannya.

"Kudengar kau membuat keributan lagi di kafetaria, Valerio," suara berat dan bariton milik Landon memecah kesunyian koridor. Nada suaranya sarat akan ejekan yang tenang namun menusuk.

Vexana menghentikan langkahnya, tepat di sebelah Landon. Mereka tidak saling berhadapan muka, melainkan berdiri memunggungi satu sama lain dengan jarak hanya beberapa sentimeter.

"Bukan urusanmu, Desmon," balas Vexana dingin, tanpa menoleh. "Urusi saja urusan elektromu dan anak Dekanmu yang populer itu. Jangan mencampuri hidupku."

Landon terkekeh pelan, sebuah tawa sinis yang membuat bulu kuduk Vexana meremang karena amarah. Pria itu berbalik perlahan, bersandar pada dinding koridor dengan melipat kedua tangannya di dada, menatap punggung Vexana dengan pandangan menilai yang sangat menyebalkan.

"Bagaimana bisa bukan urusanku kalau namaku dibawa-bawa dalam drama murahan?" ujar Landon, nadanya merendah namun tajam.

"Menyedihkan sekali melihat seorang Valerio dikhianati oleh sahabatnya sendiri dan pria... siapa namanya? Brain? Pria yang bahkan tidak memiliki setengah dari kapasitas otakku. Dan sekarang, seluruh kampus berbisik bahwa kau dicampakkan olehnya karena kau masih terobsesi dengan masa lalumu bersamaku. Itu menjijikkan, Vexana."

Mendengar kalimat terakhir itu, Vexana berbalik dengan cepat.

Matanya menyalang merah, bukan karena ingin menangis, melainkan karena kemarahan yang sudah mencapai ubun-ubun.

Dia melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga dia bisa mencium aroma parfum kayu cedar dan mint yang dulu sangat dia sukai dari tubuh Landon—aroma yang kini justru memuakkannya.

"Terobsesi bersamamu?!" desis Vexana, suaranya bergetar menahan amarah yang meledak-ledak.

"Jangan terlalu tinggi menilai dirimu sendiri, Landon! Kau tahu betul siapa yang mencampakkan siapa empat tahun lalu. Kau tahu betul apa yang kau lakukan hingga aku muak bahkan hanya untuk melihat bayanganmu!"

Mata Landon menggelap seketika mendengar ucapan Vexana. Rahangnya mengeras, dan aura santai yang tadi dipamerkannya menguap digantikan oleh ketegangan yang pekat.

"Aku melakukan apa yang harus kulakukan demi masa depanku, Vexana. Jika kau terlalu lemah untuk bertahan di sisiku saat itu, itu masalahmu, bukan masalahku."

"Masa depan?" Vexana tertawa hambar, sebuah tawa yang dipenuhi rasa sakit yang teramat sangat yang berhasil dia samarkan dengan kebencian.

"Kau menyebut pengkhianatan egois itu sebagai 'masa depan'? Kau mengorbankan segalanya, kau menghancurkan kita, hanya demi ambisi gilamu dan tuntutan keluargamu yang tidak masuk akal itu!"

"Kau tidak tahu apa-apa tentang keluargaku!" bentak Landon pelan, suaranya tertahan namun sarat dengan tekanan emosi yang besar.

Dia melangkah maju satu langkah lagi, mengintimidasi Vexana dengan tinggi badannya yang menjulang. "Kau hanya gadis kaya Berantakan yang berpikir dunia berputar di sekelilingmu. Kau tidak pernah tahu beban yang harus kupikul saat aku berusia dua puluh tahun!"

"Dan kau memilih untuk memikulnya dengan cara menginjak-injak hatiku!" balas Vexana, air mata kemarahan kini benar-benar menggenang di sudut matanya, namun dia menolak untuk membiarkannya jatuh di depan pria ini.

"Jadi jangan pernah berani menuduhku membuat drama atau terobsesi padamu. Bagiku, kau sudah mati sejak empat tahun lalu. Dan jika namamu terseret hari ini, itu karena jalang bernama Luna itu tahu bahwa namamu adalah sampah terbesar dalam sejarah hidupku!"

Mereka berdiri begitu dekat, saling melempar tatapan penuh kebencian dan luka yang belum sembuh. Napas mereka saling berkejaran di udara koridor yang sunyi.

Di bawah kebencian yang mendalam itu, ada denyut nadi masa lalu yang begitu kuat, sebuah ikatan tak kasat mata yang pernah menyatukan mereka selama empat tahun, yang kini telah berubah menjadi belenggu yang saling menyiksa.

Landon menatap mata Vexana yang berkaca-kaca. Untuk sesaat, topeng kemarahannya sedikit retak, menonjolkan ekspresi yang sulit diartikan—campuran antara penyesalan, kerinduan yang ditekan, dan rasa sakit yang sama besarnya. Namun, sebelum retakan itu melebar, Landon kembali menarik dinding esnya.

Dia menegakkan tubuhnya, merapikan letak kacamata dan kemejanya dengan gerakan lambat yang sengaja dilakukan untuk memulihkan ketenangannya.

"Sebut aku sesukamu, Vexana," kata Landon dengan suara yang kembali datar dan dingin, kehilangan semua emosi meledak-ledak yang tadi sempat keluar.

"Tapi ingat satu hal. Kampus ini kecil. Jika drama kafetariamu hari ini mengganggu reputasiku atau posisiku dengan Dekan, aku tidak akan tinggal diam. Aku tidak peduli seberapa menderitanya kau karena dikhianati oleh kekasih barumu, tapi jangan pernah seret namaku lagi ke dalam lumpur tempatmu berada sekarang."

Kalimat itu seperti tamparan keras di wajah Vexana. Landon yang dulu selalu melindunginya, Landon yang dulu pernah berjanji akan melawan seluruh dunia demi dirinya, kini berdiri di sana, hanya memedulikan reputasinya dan hubungannya dengan anak Dekan, sementara Vexana sedang berdarah-darah akibat pengkhianatan ganda.

Vexana memundurkan langkahnya perlahan. Dia menatap Landon dengan pandangan kosong, sebuah pandangan yang menandakan bahwa batas toleransinya telah terlampaui.

"Kau benar, Landon," ucap Vexana, suaranya kini terdengar sangat lelah, kehilangan semua racun yang tadi dia semburkan.

"Kau dan Brain tidak ada bedanya. Kalian berdua hanyalah pengecut yang bersembunyi di balik ambisi masing-masing. Pergilah. Kembali ke laboratoriummu, kembali ke pacar populermu. Dan aku bersumpah, jika aku harus tenggelam dalam lumpur ini, aku tidak akan pernah sudi meminta bantuan atau mengingat bahwa kau pernah menjadi bagian dari hidupku."

Tanpa memberikan kesempatan bagi Landon untuk membalas, Vexana membalikkan tubuhnya dengan sentakan tajam.

Dia berjalan pergi meninggalkan Landon yang masih berdiri terpaku di koridor. Kali ini, langkah kaki Vexana tidak lagi anggun atau lambat; dia berjalan secepat yang dia bisa, mengabaikan dokumen yang seharusnya dia urus, hanya ingin keluar dari gedung itu, keluar dari jangkauan pandangan mata Landon Desmon yang terasa membakar punggungnya.

Landon menatap kepergian Vexana hingga sosok gadis itu menghilang di balik tikungan menuju lift.

Tangan kanannya yang bebas perlahan mengepal kuat di sisi tubuhnya. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir aroma parfum mawar segar milik Vexana yang masih tertinggal di udara koridor.

Aroma yang selalu berhasil membawanya kembali ke masa-masa di mana dia masih menjadi seorang pemuda berusia 16 tahun yang jatuh cinta setengah mati.

"Sial," umpat Landon lirih pada koridor yang kosong.

Pria itu berbalik dan berjalan menuju tujuannya yang semula dengan langkah yang kini terasa jauh lebih berat. Kebencian di antara mereka bukan sekadar emosi negatif biasa; itu adalah monumen dari cinta yang mati secara tragis, yang puing-puingnya masih sanggup melukai mereka berdua setiap kali mereka mencoba menyentuhnya.

Sementara itu, di dalam lift yang membawanya turun ke lantai dasar, Vexana akhirnya membiarkan satu tetes air mata jatuh melewati pipinya.

Dia segera menghapusnya dengan kasar menggunakan jarinya. Hari ini, di bawah langit Los Angeles yang tak pernah peduli pada tangisan manusia, Vexana Valerio menyadari bahwa dia harus menghadapi dua perang sekaligus: menyembuhkan luka akibat pengkhianatan Brain dan Luna, serta bertahan dari gempuran badai masa lalu bersama Landon Desmon yang kini kembali mengancam ketenangan hidupnya.

...****************...

Mohon dukungannya kak, Dengan cara Meninggalkan Komentar 🫶🏼

1
Mei TResna Rahmatika
ngakak bangett🤣dady maximilian ada aja idenya ngerjain landon🤣
Ros 🍂: susuai reques pembaca 🤭😭😭😭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
satu kata buat pak Desmon"MAMPUSSS" ketawa jahat dulu aku Thor hahahahaha aduh sampai kering ini gigi ketawa Mulu dari tadi🤣🤣🤣🤣
Ros 🍂: huhuhu terharu loh aku kak, Kalo Cerita bikin ketawa 🤭🤣🤣🤣
btw ini kenapa pada musuhan sama bapak Desmon 😭
total 1 replies
nayla tsaqif
Baru bogem daddy max nihh,,, mana nih grandpa kensingtone,, gk mau kasih salam bogem jg,, 😌
Ros 🍂: entah kenapa Saya sulit menghadirkan para Tetua kak 🤭🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
belum puas cuma tiga kali doang harusnya sampai masuk UGD🤭🤣🤣
Ros 🍂: kak astagaaa 🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
nayla tsaqif
Vibesnya kayak ketemu musuh bebuyutan waktu masa kcil lihat mommy Eleanor dan daddy max,, 🤣
Ros 🍂: Udahlah kak Author nggak tanggung-jawab sama mereka 🤭🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
nayla tsaqif
Hukumannya ringan itu,, harusnya larinya pake baju balet warna pink,,,!!
Ros 🍂: kak😭 ngakak aku kak🤭🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
aaah cuma sepuluh kali doang harusnya hukumannya yg lebih berat misal nyapu halaman mansion,nyabutin rumput mansion🤭🤣🤣🤣🤣🤣 itu terlalu ringan Thor mohon tambahkan hukuman pak Desmon🤭🤣
Ros 🍂: hahaha sesuai request para Reader 🤭🤣🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
emaknya Mr. Desmon kocak asli🤣🤣🤣🤣
Ros 🍂: Reader suka nggak ?🤭😅
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
akhirnya😍 gak sia" perjuangan landon🤣
Ros 🍂: Wkwkw 🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Nunggu daddy max ngasih bogem dan khotbah sama landon,, 😌
Ros 🍂: wah ide bagus itu kak🤭 sesuai request 🤣
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
wahh landon siap bertarung ngadepin daddy max
Ros 🍂: semangatin kak🤭🤣
total 1 replies
Agus Hidayat
jreng jreenngggg akhirnya pak Desmon bisa liat jagoannya juga😍😍😍
Ros 🍂: Yahoooo🤭🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
akhirnya bomnya meledak juga
Ros 🍂: wkwkwk🤭
total 1 replies
Yunie
akhirnya mulai terungkap
Ros 🍂: iya kak🫶
total 1 replies
Yunie
ada apa selama 2 tahun?
Vanni Sr: ohh Aj ank ny vexa dn london , tp daddy ny nutupin seolah itu makam ank mereka , mkny london benci vexa.
total 2 replies
Mei TResna Rahmatika
pliss thorr abis ini bkin mereka sama" mengakui masih cinta😭 nyesek bangett baca dr bab 1 nangisin mereka mulu
Ros 🍂: huhuhu Maafkan author yaa kak 🤭🙏🏻 nanti dibuat sesuai request 😅
total 1 replies
N I S
kak ceritamu bagus banget😍
Ros 🍂: ma'aciww ya Kak 🫶🥰
total 1 replies
Thee-na Tooth
ayoo kak up maraton 🤭
Ros 🍂: siap ya kak🫶
total 1 replies
Kristina NellaWara
semngt up thorrr
Ros 🍂: ma'aciww kak🫶🥰
total 1 replies
Kristina NellaWara
lnjut thor
Ros 🍂: siap kak 🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!