“Menikah denganku artinya bebas menyentuh siapa saja di luar sana, kecuali hatiku.”
Bagi Narendra, CEO muda berego tinggi, kesepakatan open marriage adalah solusi kejenuhan rumah tangganya bersama Alika. Sebagai praktisi PR ternama, Alika menelan kepedihan itu rapat-rapat demi menjaga citra sempurna mereka di depan publik. Namun, sandiwara power couple ini mulai retak saat tubuh Alika perlahan digerogoti penyakit autoimun akibat tekanan batin yang ia pendam sendiri. Di kala Narendra sibuk mencari kesenangan luar, Alika justru bertaruh nyawa dalam kesunyian. Akankah ego Narendra runtuh saat menyadari nafas sang istri perlahan menjauh dari batas waktunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Konfrontasi dan Ego yang Membutakan
Di dalam ruang praktiknya di Rumah Sakit Medika Utama, dr. Raditya memijat pelipisnya yang terasa berdenyut kencang. Layar ponsel di hadapannya terus menampilkan daftar panjang riwayat panggilan yang berakhir tanpa jawaban. Alika sama sekali tidak bisa dihubungi. Yang lebih mencemaskan, nomor Murni—asisten rumah tangga yang kemarin mengambil kiriman obat darinya—kini ikut-ikutan tidak aktif.
Pandangan Raditya tertuju pada kalender di atas meja. Tiga hari telah berlalu sejak insiden Alika pingsan di acara gala. Jika benar Narendra membuang obat-obatan yang ia kirimkan kemarin, maka saat ini tubuh Alika sedang terancam mengalami rebound effect yang fatal. Menghentikan konsumsi kortikosteroid secara tiba-tiba pada pasien dengan indikasi autoimun parah sama saja dengan bunuh diri medis. Tanpa bantuan obat itu, sistem pertahanan tubuh Alika akan berbalik menyerang persendian dan organ dalamnya sendiri dengan agresivitas yang mengerikan.
"Sial," geram Raditya tertahan. Ia segera menyambar jas putihnya dan bergegas keluar ruangan. Persetan dengan etika profesi atau batasan privasi. Pasiennya sedang berada di ambang maut di dalam sangkar yang dibuat oleh suaminya sendiri.
Setengah jam kemudian, mobil Raditya berhenti mendadak di area lobi utama Gedung Artha Group. Tanpa memedulikan prosedur keamanan yang ketat, dokter muda itu melangkah lebar menuju meja resepsionis dengan raut wajah tegang.
"Saya harus bertemu Narendra Pradipta sekarang juga. Ini urusan darurat, nyawa istrinya sedang menjadi taruhan," ujar Raditya dengan nada mendesak.
Resepsionis itu sempat terpaku, lalu segera memanggil petugas keamanan. Namun nasib baik masih berpihak pada Raditya; Joshua—asisten pribadi Narendra—kebetulan sedang melintasi area lobi. Joshua yang mengenali wajah Raditya dari rekaman CCTV rumah sakit segera menghubungi atasannya untuk memberikan laporan.
Lima menit berlalu, alih-alih diusir paksa, Raditya justru dikawal oleh dua petugas keamanan menuju lift eksekutif. Lift tersebut membawanya melesat menuju lantai 50.
Ketika pintu ganda ruang CEO terbuka, terlihat Narendra sedang duduk tenang di balik meja besarnya sambil menyesap kopi dengan lagak yang sangat angkuh. Pria itu memberi isyarat dengan tangannya, menyuruh para petugas keamanan mundur dan menutup pintu dari luar.
"Dokter Raditya Mahendra," sapa Narendra dengan suara dingin. Tatapannya tajam, mengingatkan pada seekor elang yang siap menerkam. "Sungguh sebuah keberanian yang konyol datang ke sini. Atau mungkin, ini wujud keputusasaan karena kamu kehilangan akses pada mainanmu?"
Raditya tidak bisa lagi menahan emosi. Ia menggebrak meja kerja Narendra dengan kedua tangannya hingga urat-urat di lehernya tampak menegang. "Di mana Alika?! Apa yang Anda perbuat pada obat-obatan yang saya kirimkan?!"
Narendra menyandarkan tubuhnya dengan santai, sebuah senyum sinis tersungging di wajahnya. "Obat? Maksudmu botol-botol tanpa label yang berusaha diselundupkan oleh pembantuku itu? Sudah saya buang ke kloset tepat di depan mata istri saya. Itu tempat yang paling pantas untuk barang tidak jelas dari pria murahan sepertimu."
Seketika wajah Raditya berubah pucat pasi. "Anda membuangnya?! Anda benar-benar gila, Narendra! Obat-obatan itu sangat krusial untuk mengendalikan peradangannya! Kalau dosisnya dihentikan mendadak, tubuhnya akan—"
"Tubuhnya hanya butuh istirahat dan vitamin zat besi, Dokter!" potong Narendra dengan suara menggelegar yang memenuhi ruangan. Ia berdiri dan mencondongkan tubuhnya ke depan hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja. "Berhenti membuat drama demi mendapatkan simpati istri saya. Dokter pribadi keluarga saya sudah memeriksa kondisi darahnya. Dia hanya terkena anemia dan kelelahan biasa! Tidak ada peradangan, apalagi penyakit mematikan!"
"Dokter Anda tidak melakukan tes ANA! Dia hanya melakukan pengecekan darah rutin yang biasa!" balas Raditya tak kalah lantang, berusaha menembus tembok ego pria di depannya. "Alika sedang berjuang melawan penyakit serius! Jika dia tidak segera mendapat imunosupresan—"
"Cukup!" bentak Narendra sembari menunjuk wajah Raditya dengan telunjuk yang gemetar akibat amarah. "Skenario murahan apa lagi ini? Tes ANA? Imunosupresan? Kalian berdua sengaja merangkai istilah medis yang rumit hanya supaya punya alasan agar terus bisa bertemu? Kamu pikir saya bodoh? Saya tahu semua ini hanyalah kedok untuk menutupi perselingkuhan kalian!"
Raditya terdiam seribu bahasa. Ia menatap Narendra dengan rasa tidak percaya. Pria di hadapannya ini sudah begitu buta oleh rasa cemburu dan obsesi untuk memiliki, hingga akal sehatnya hilang tak berbekas. Narendra lebih memilih percaya bahwa istrinya berselingkuh ketimbang menerima kenyataan pahit bahwa Alika sedang sakit parah.
"Alika tidak pernah mengkhianati Anda," desis Raditya dengan suara yang bergetar menahan luapan amarah. "Dia bahkan menolak untuk dirawat karena dia terlalu takut pada reaksi Anda. Dia mati-matian menyembunyikan kondisinya agar Anda tidak menganggapnya tidak berguna dan membuangnya!"
"Keluar dari kantorku sekarang," bisik Narendra dengan nada yang sedingin es. Pria itu menekan tombol interkom di mejanya. "Keamanan, seret pria ini keluar dari gedung saya."
Saat petugas keamanan masuk dan mencekal lengan Raditya, sang dokter berusaha meronta. "Anda akan menyesal, Narendra! Saat kebenaran itu akhirnya terungkap, Anda akan sadar bahwa tangan Anda sendirilah yang telah membunuh istri Anda secara perlahan!"
Pintu ruangan itu tertutup rapat, meredam teriakan Raditya yang dipaksa menuju lift.
Di kesunyian ruangannya, Narendra merapikan jasnya yang sedikit kusut dengan napas yang masih memburu. Ia kembali meraih gelas kopinya, namun kali ini tangannya sedikit gemetar. Kalimat terakhir Raditya—bahwa ia sendirilah yang membunuh istrinya—sempat menyelinap dan menusuk sudut hatinya yang paling dalam.
Namun, egonya kembali berkuasa. Narendra meyakinkan diri sendiri bahwa Raditya hanyalah seorang pecundang yang kesal karena rencana busuknya terbongkar.
Narendra kemudian mengambil ponselnya dan membuka aplikasi yang terhubung dengan CCTV di rumahnya. Di layar, ia melihat suasana kamar sang istri. Alika tampak duduk diam di tepi ranjang. Tak jauh darinya, Rasti berdiri mengawasi untuk memastikan Alika menelan pil vitamin zat besi yang sebenarnya tidak memberikan pengaruh apa pun bagi penyakitnya.
Narendra tersenyum puas melihat kepatuhan tersebut. Ia merasa telah memenangkan pertarungan ini. Ia merasa telah berhasil melindungi keutuhan rumah tangganya dari gangguan orang ketiga dan menempatkan istrinya kembali ke dalam kendalinya.
Narendra tidak menyadari bahwa melalui layar CCTV beresolusi tinggi sekalipun, ia tidak bisa melihat tangan Alika yang kini membengkak hebat. Ia juga tidak bisa melihat gumpalan rambut yang baru saja disembunyikan Alika di dalam saku piyamanya, sesaat sebelum Rasti sempat menyadarinya.
Sangkar itu kini telah terkunci rapat, tanpa ada lagi celah bagi pertolongan untuk masuk.