NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Bukan Untuku

Pernikahan Yang Bukan Untuku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Lunaria Wulandari terpaksa menggantikan kakaknya yang kabur di hari pernikahan. Demi menyelamatkan nama keluarga, ia harus menikah dengan Alex Lucas Dimitri—pria dingin dan penuh rahasia yang sejak awal tidak pernah menginginkan dirinya.

Awalnya Luna hanya dianggap pengganti. Namun semakin lama bersama, hubungan mereka berubah menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan. Sayangnya, saat hati mulai saling menerima, masa lalu datang menghancurkan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 Satu Langkah Lebih Dekat

Pagi itu Luna bangun lebih dulu.

Ia membuka mata perlahan lalu menatap langit-langit kamar hotel.

Beberapa detik kemudian kejadian semalam kembali teringat.

Saat listrik padam.

Saat ia tanpa sadar memegang lengan Alex.

Dan saat tatapan mereka bertemu begitu lama.

Mengingatnya saja membuat wajah Luna memanas.

"Aduh."

Ia langsung menutupi wajah dengan bantal.

Kenapa jantungnya harus berdebar seperti itu?

Bukankah Alex hanya suaminya karena keadaan?

Bukankah pernikahan mereka dimulai tanpa cinta?

Lalu kenapa sekarang semuanya terasa berbeda?

---

"Luna."

Suara Alex membuat Luna langsung bangun dari tempat tidur.

Pria itu berdiri di dekat pintu balkon.

Sudah rapi.

Sudah siap pergi.

Sedangkan Luna masih berantakan.

"Selamat pagi."

Alex menahan senyum.

"Kamu baru bangun?"

"Iya."

"Aku pikir kamu pingsan."

Luna langsung melempar bantal ke arahnya.

Tentu saja Alex berhasil menangkapnya.

"Jahat."

Alex terkekeh pelan.

Membuat Luna kembali terpaku.

Belakangan ini pria itu semakin sering tersenyum.

Dan masalahnya...

Luna sangat menyukai senyum itu.

---

Setelah sarapan, mereka memutuskan pergi ke sebuah desa kecil di kaki pegunungan Alpen.

Tempat itu terkenal karena pemandangannya yang indah.

Rumah-rumah kayu tradisional berjajar rapi.

Bunga-bunga berwarna-warni menghiasi jendela.

Dan pegunungan bersalju berdiri megah di kejauhan.

"Ini kayak di film."

gumam Luna.

Alex yang berjalan di sampingnya mengangguk.

"Pertama kali ke sini aku juga mikir begitu."

Luna menoleh.

"Kamu pernah ke sini?"

"Dulu."

"Dengan siapa?"

Alex menatapnya.

Luna langsung menyesal.

Kenapa akhir-akhir ini ia selalu menanyakan hal yang tidak perlu?

Namun kali ini Alex justru menjawab.

"Sama Ibu."

Luna terdiam.

Sudah lama ia tidak mendengar Alex berbicara tentang ibunya.

"Itu sebelum beliau meninggal."

Suara Alex terdengar pelan.

"Beliau suka tempat ini."

Luna memperhatikan wajahnya.

Tidak ada kesedihan seperti biasanya saat membicarakan sang ibu.

Justru ada kehangatan.

Seolah kenangan itu masih menjadi salah satu hal terindah dalam hidupnya.

"Ibumu pasti orang yang hebat."

Alex tersenyum tipis.

"Dia memang hebat."

---

Mereka terus berjalan menyusuri desa.

Sampai akhirnya Luna berhenti di depan sebuah toko kecil.

Matanya langsung berbinar.

"Lucu banget."

Alex mengikuti arah pandangnya.

Ternyata sebuah toko suvenir.

Isinya boneka, gantungan kunci, dan berbagai kerajinan tangan.

"Kita masuk?"

tanya Luna.

Alex mengangguk.

Padahal sebenarnya ia tidak terlalu tertarik.

Namun melihat ekspresi Luna yang bersemangat membuatnya tidak tega menolak.

---

Hampir tiga puluh menit mereka berada di dalam toko.

Dan selama tiga puluh menit itu Alex baru menyadari satu hal.

Belanja bersama Luna ternyata melelahkan.

"Yang ini lucu nggak?"

"Lucu."

"Kalau yang ini?"

"Lucu."

"Kalau yang itu?"

"Lucu."

Luna langsung menyipitkan mata.

"Kamu bahkan nggak lihat."

"Aku lihat."

"Bohong."

Alex menghela napas.

Ryan benar.

Menikah memang membuat hidup lebih rumit.

Tapi anehnya...

Ia tidak keberatan.

Sama sekali tidak.

---

Saat keluar dari toko, salju kembali turun.

Kali ini lebih deras dari sebelumnya.

Luna langsung tersenyum lebar.

Ia mengulurkan tangan menangkap butiran salju yang jatuh.

Wajahnya terlihat begitu bahagia.

Alex memperhatikannya tanpa sadar.

Lama.

Sangat lama.

Sampai akhirnya suara seseorang membuatnya tersadar.

"Excuse me."

Seorang turis wanita mendekat.

Wanita itu tersenyum ramah.

"Can you help us take a picture?"

Alex mengangguk.

"Tentu."

Setelah mengambil beberapa foto, pasangan turis itu berterima kasih.

Namun sebelum pergi, wanita tersebut berkata sesuatu.

"Kalian pasangan yang sangat serasi."

Luna langsung membeku.

Sedangkan Alex terlihat tenang.

"Terima kasih."

Setelah pasangan itu pergi, Luna masih belum bisa berkata apa-apa.

Pasangan yang serasi.

Entah kenapa kalimat itu terus terngiang di kepalanya.

---

Menjelang sore mereka duduk di sebuah bangku kayu menghadap pegunungan.

Suasananya tenang.

Hanya ada suara angin dan salju yang perlahan turun.

"Aku nggak mau pulang."

gumam Luna.

Alex tersenyum kecil.

"Baru lima hari."

"Tetap aja."

"Kamu suka di sini?"

"Suka banget."

Lalu Luna menoleh ke arah Alex.

"Kamu?"

Pria itu terdiam beberapa saat.

Biasanya ia akan menjawab singkat.

Namun kali ini berbeda.

"Iya."

"Karena Swiss?"

Alex menatap pegunungan di depan mereka.

Lalu perlahan menggeleng.

"Bukan."

Luna mengernyit.

"Lalu?"

Alex tidak langsung menjawab.

Entah kenapa dadanya terasa sesak.

Seolah ada sesuatu yang ingin keluar namun masih tertahan.

Karena semakin hari ia semakin sadar.

Yang membuat perjalanan ini menyenangkan bukanlah Swiss.

Bukan hotel mewah.

Bukan pemandangan indah.

Melainkan orang yang menemaninya.

Orang yang saat ini duduk di sampingnya.

"Lupakan."

kata Alex akhirnya.

Luna langsung protes.

"Nggak boleh."

"Terlambat."

"Alex."

Pria itu tertawa kecil.

Dan Luna hanya bisa mendengus kesal.

---

Malam hari.

Mereka kembali ke hotel.

Setelah makan malam, Luna memutuskan duduk di balkon sambil menikmati pemandangan malam.

Tak lama kemudian Alex keluar membawa dua selimut tipis.

"Kalau sakit nanti Kakek nyalahin aku."

Luna tertawa.

"Kakek memang selalu nyalahin kamu."

"Karena aku cucunya."

Mereka duduk berdampingan.

Diam.

Nyaman.

Seperti beberapa malam terakhir.

Lalu tanpa sadar Luna berkata pelan.

"Alex."

"Hm?"

"Aku senang."

"Karena liburan?"

Luna menggeleng.

"Bukan."

Alex menoleh.

Luna tersenyum kecil.

"Aku senang karena orang yang menikah denganku adalah kamu."

Jantung Alex berhenti sesaat.

Benar-benar sesaat.

Karena ia tidak pernah menyangka akan mendengar kalimat itu.

Luna sendiri baru sadar apa yang baru saja ia ucapkan.

Wajahnya langsung memerah.

"Aku maksudnya..."

Namun kata-katanya terhenti.

Karena Alex sedang menatapnya.

Tatapan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Hangat.

Lembut.

Dan penuh sesuatu yang membuat jantungnya berdebar semakin cepat.

Untuk beberapa detik.

Tidak ada yang berbicara.

Hanya ada mereka berdua.

Dan perasaan yang semakin sulit disembunyikan.

Karena tanpa mereka sadari...

Keduanya sudah berjalan jauh dari titik awal pernikahan mereka.

Dan mungkin...

Hanya tinggal satu langkah lagi sebelum salah satu dari mereka akhirnya mengakui apa yang sebenarnya ada di hati masing-masing.

1
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat ✍️☺👈
wulaniii
gais like dan beri gift dungs biar semangat 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!