Putra Setiawan, perwira tentara dingin yang menyimpan dendam, menerima perjodohan dengan Citra Lestari, dokter lembut putri musuhnya. Pernikahan ini hanyalah senjata untuk menghancurkan keluarga Citra dari dalam. Namun, saat ia berniat menyakiti, ketulusan wanita itu perlahan meruntuhkan tembok kebenciannya. Di antara balas dendam dan cinta yang tumbuh diam-diam, Putra harus memilih menuntaskan amarah, atau mempertahankan hati yang mulai ia miliki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara M., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanah Terlarang
Kendaraan militer melaju membelah jalanan berbatu yang sempit dan berkelok-kelok, menembus rimbunnya hutan pegunungan yang berkabut tebal. Udara di sini terasa dingin, menusuk hingga ke tulang, seolah alam pun turut memberi peringatan bahaya. Di dalam mobil utama, Putra duduk tegak di kursi pengemudi, wajahnya serius dan penuh kesiapan. Di sebelahnya, Citra duduk diam, tangannya menggenggam erat tas perlengkapan medis, matanya menatap lurus ke depan namun pikirannya melayang pada nasib seorang anak kecil bernama Andi yang terperangkap di tempat terpencil ini.
Di belakang mereka, Kolonel Bayu dan beberapa pasukan khusus mengikuti dalam kendaraan lain, siap bertindak jika situasi berubah menjadi kritis. Perjalanan ini bukan sekadar ekspedisi biasa; ini adalah perjalanan kembali ke masa lalu, ke tempat di mana segalanya bermula tempat yang menyimpan harta, rahasia, dan dendam yang telah meracuni hidup dua keluarga selama puluhan tahun.
"Kurang satu jam lagi kita sampai di lokasi bekas tambang itu," ucap Kolonel Bayu lewat alat komunikasi, suaranya terdengar berat. "Ingat, tempat ini bukan sekadar bangunan tua. Wilayah ini dulunya adalah pangkalan rahasia Jenderal Adi. Struktur bangunannya rumit, banyak lorong bawah tanah, dan kemungkinan besar masih dipasangi jebakan atau alat pengawasan tersembunyi. Kita bergerak hati-hati."
Putra mengangguk, matanya tak lepas dari jalanan berlubang di hadapannya. Ia melirik sekilas ke arah Citra, wanita yang telah menjadi pendamping setianya dalam segala situasi. "Citra, jika nanti situasi jadi berbahaya, kau harus tetap berada di belakangku. Tugas utamamu adalah menjaga dirimu sendiri dan bersiap membantu jika ada yang terluka. Jangan pernah melangkah sendirian, mengerti?"
Citra menoleh, menatap suaminya dengan tatapan tegas namun lembut. "Aku mengerti, Mas. Tapi ingat juga, aku bukan sekadar istri. Aku dokter, dan aku di sini karena aku ingin ikut menyelesaikan masalah ini bersamamu. Aku tidak akan menjadi beban, aku janji. Kita akan membawa Andi pulang dengan selamat."
Nama itu Andi terasa berat namun juga membawa harapan. Di satu sisi, Putra masih diliputi keraguan. Apakah anak itu benar-benar darah dagingnya? Atau hanya alat manipulasi terakhir Rania? Namun di sisi lain, rasa tanggung jawab seorang calon pemimpin dan kasih sayang yang mulai tumbuh membuatnya bertekad: apa pun kenyataannya, Andi adalah korban, dan dia harus diselamatkan.
Matahari mulai condong ke barat saat rombongan mereka sampai di dataran tinggi yang terbuka. Di kejauhan, tampak bangunan-bangunan tua yang terbengkalai, berjejer di samping sebuah bukit besar yang berlubang bekas mulut tambang yang dulu sangat ramai namun kini sunyi senyap, dihinggapi lumut dan semak belukar. Suasana di sana hening, terlalu hening hingga terasa mencekam. Angin berhembus membawa suara desis pelan, seolah ada bisikan-bisikan masa lalu yang masih tertinggal di sana.
Mereka turun dari kendaraan, membentuk formasi pertahanan. Putra membantu Citra turun, lalu dengan sigap memeriksa senjata dan peralatannya. Kolonel Bayu memberi isyarat tangan, membagi pasukan menjadi dua kelompok: satu bergerak mengelilingi area luar untuk memastikan tidak ada jalan keluar musuh, dan satu lagi masuk ke dalam kompleks bangunan tua itu bersama Putra dan Citra.
"Perhatikan setiap sudut," bisik Kolonel Bayu saat mereka mulai melangkah masuk ke halaman utama. "Menurut data yang kita punya, ada bangunan administrasi di sebelah kiri, dan akses ke lorong bawah tanah ada di ruang pusat bangunan itu. Kemungkinan besar mereka menyembunyikan Andi di bawah tanah, tempat yang paling sulit ditemukan dan paling aman bagi mereka."
Langkah kaki mereka bergema di lantai beton yang retak dan berdebu. Di dinding-dinding masih terlihat sisa-sisa tulisan dan peta yang sudah kusam, jejak kekuasaan Jenderal Adi yang dulu begitu ditakuti. Citra berjalan di samping Putra, matanya teliti mengamati sekeliling, naluri dokternya mendeteksi adanya bahaya atau tanda kehidupan apa pun.
Tiba-tiba, Citra menahan langkahnya. Ia menunjuk ke arah jejak-jejak kecil di atas tumpukan debu di lantai.
"Lihat ini, Mas," ucapnya pelan namun jelas. "Jejak kaki sepatu anak-anak. Ukurannya kecil, sekitar ukuran anak usia empat atau lima tahun. Dan jejak ini masih baru, debu di sekelilingnya belum menebal. Mereka benar-benar membawa seseorang ke sini. Andi ada di sini."
Hati Putra berdebar kencang. Bukti nyata itu membuat segalanya semakin terasa nyata. Keraguannya sedikit demi sedikit mulai luntur, digantikan oleh keinginan kuat untuk segera menemukan anak itu. Mereka melanjutkan langkah lebih cepat, menuju ruang pusat yang ditandai Kolonel Bayu.
Saat sampai di depan pintu besi besar yang setengah terbuka, terdengar suara samar dari dalam. Suara langkah kaki, suara bisikan orang dewasa, dan sesekali terdengar suara kecil—suara anak yang terdengar kesal dan menangis pelan.
"Itu dia..." gumam Putra, dadanya sesak mendengar suara tangisan itu. "Itu suara anak kecil."
Kolonel Bayu memberi isyarat. Dua pasukan bersenjata maju lebih dulu, mengintip celah pintu. Setelah memastikan posisi penjaga, mereka memberi kode aman. Putra dan Citra masuk perlahan, bersembunyi di balik tiang beton besar di sudut ruangan.
Di tengah ruangan yang luas dan remang itu, tampak dua orang pria berbadan kekar sisa anak buah Rania yang belum tertangkap. Mereka sedang berjaga, dan di dekat mereka, duduk di atas kursi kayu tua, ada seorang anak laki-laki berambut hitam legam, mengenakan pakaian agak lusuh namun bersih. Wajahnya cemberut, matanya memerah karena menangis, namun sorot matanya tajam dan penuh rasa tidak percaya. Itu wajah yang persis seperti di foto wajah yang sangat mirip dengan Putra saat kecil.
"Itu dia Andi," bisik Putra hampir tak terdengar. Hatinya terasa teriris melihat anak itu tampak begitu takut namun berusaha terlihat berani.
"Jangan menangis terus," bentak salah satu penjaga dengan kasar. "Nanti kalau 'Tuan Besar' datang, kau harus diam dan menurut. Kau senjata paling berharga kami, nak. Jangan rusak nilaimu dengan menangis seperti bayi."
"Tuan Besar?" Citra mengerutkan kening, berbisik pada Putra. "Bukankah Adi sudah di penjara dan Rania ditahan? Siapa lagi yang mereka tunggu? Bukankah Kolonel Bayu bilang tidak ada pemimpin lain?"
Putra menggeleng pelan, matanya tak lepas dari anak itu. "Aku juga tidak tahu. Tapi ini membuktikan apa yang Kolonel Bayu katakan... ada seseorang lagi. Sosok yang lebih tinggi, lebih berkuasa, yang mengatur semua ini dari bayang-bayang. Sosok yang belum pernah kami temui."
Tiba-tiba, suara pintu besi besar di ujung ruangan terbuka lebar dengan suara berderit keras. Semua penjaga langsung berdiri tegak, memberi hormat penuh rasa takut dan hormat. Andi pun langsung diam, menatap ke arah pintu itu dengan campuran rasa takut dan penasaran.
Sosok itu masuk perlahan, mengenakan jas panjang berwarna gelap, wajahnya tertutup sebagian oleh bayangan topi lebarnya. Langkahnya tenang, terukur, dan penuh wibawa mengerikan. Saat ia melangkah maju dan cahaya lampu remang mengenai wajahnya sepenuhnya, Putra, Citra, dan Kolonel Bayu yang mengintip dari balik tiang sama-sama ternganga, hampir tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Wajah itu... wajah yang sangat mereka kenal. Wajah yang selama ini dianggap sebagai sahabat, rekan, orang kepercayaan, dan bahkan dianggap keluarga.
"Kau... tidak mungkin..." bisik Putra, darahnya serasa berhenti mengalir.
Sosok itu tersenyum miring, senyum yang penuh kemenangan dan kelicikan, menatap tepat ke arah tempat persembunyian mereka, seolah ia sudah tahu sejak awal keberadaan mereka.
"Keluar saja, Putra. Citra. Kolonel Bayu. Aku sudah menunggu kedatangan kalian. Sudah lama sekali aku ingin bertemu lagi dengan kalian di tempat yang layak seperti ini."
Pria itu maju selangkah, menatap Andi lalu kembali menatap Putra dengan tatapan tajam.
"Kalian pikir Adi dan Rania adalah dalang utama? Kalian pikir setelah menangkap mereka semuanya selesai? Wah, kalian terlalu naif. Mereka hanya pion kecil dalam papan caturku. Dan sekarang, dengan kehadiran kalian di sini... permainan ini akhirnya sampai ke babak akhirnya."
Ia menunjuk dirinya sendiri dengan bangga.
"Aku, Mayor Jenderal (Purnama) Wijaya. Sahabat karib mendiang ayahmu, orang yang kau percayai seumur hidupmu, Putra... akulah dalang sebenarnya di balik segala kejahatan, segala fitnah, dan segala penderitaan yang menimpa keluarga kita selama dua puluh tahun ini."
Dunia serasa berputar kacau. Kolonel Bayu gemetar hebat, hampir kehilangan keseimbangan. Wijaya... orang yang selalu ada di dekat mereka, orang yang selalu memberi nasihat, orang yang membantu penyelidikan... ternyata adalah musuh yang paling mereka cari selama ini.
Wijaya tertawa renyah, suara yang dulu terdengar ramah kini terdengar mengerikan dan penuh kejahatan. Ia berjalan mendekati Andi, mengusap kepala anak itu dengan kasar namun penuh rasa bangga.
"Dan lihatlah anak ini... Andi. Dia bukan sekadar anakmu, Putra. Dia adalah kunci terakhirku. Rania memang melahirkan dia, tapi atas perintahku. Dia dididik olehku. Dia akan menjadi penerusku jika aku berhasil, atau menjadi alat penghancurmu jika kau berani melawanku."
Andi menatap Wijaya, lalu menatap ke arah tiang tempat Putra bersembunyi. Di mata kecilnya, ada kebingungan. Antara rasa takut pada Wijaya dan rasa penasaran pada sosok yang wajahnya begitu mirip dengannya sosok yang selama ini diajarkan untuk dibenci, namun entah mengapa hatinya berdebar ingin mendekat.
"Keluarlah, Putra," tantang Wijaya lagi, sambil mengeluarkan senjata dan menempelkannya ke pelipis Andi yang ketakutan. "Atau kau akan kehilangan anakmu selamanya sebelum kau sempat mengenalnya. Kau harus memilih... nyawanya, atau warisan tambang dan rahasia yang kau jaga itu. Semuanya harus menjadi milikku hari ini."
Putra mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. Di hadapannya sekarang bukan hanya musuh, tapi pengkhianat terbesar sejarah keluarganya. Di hadapannya ada nyawa anak yang mungkin darah dagingnya sendiri terancam. Dan di hadapannya, rahasia terbesar akhirnya terungkap, namun dengan harga yang sangat mahal.
Citra memegang lengan suaminya erat, matanya berkaca-kaca namun tetap tegar.
Bersambung...