NovelToon NovelToon
Beyond The Contract

Beyond The Contract

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Agatha soul

Akibat jebakan obat di malam perjamuan, Aruna berakhir di ranjang bos besarnya yang dingin, Adrian. Namun, sebuah garis dua di testpack mengubah segalanya. Batasan profesional di atas kertas itu perlahan runtuh saat seorang anak kecil—buah cinta kandung dari malam penuh skandal itu—hadir di antara mereka, memaksa hubungan ini berjalan jauh melampaui batasnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Aku menarik kantong kresek merah itu mendekat, lalu membuka ikatannya dengan tenang. Begitu kain jas itu kukeluarkan, asumsi awalku langsung patah. Ruangan kerjaku yang biasanya didominasi aroma parfum maskulin mendadak dipenuhi wangi deterjen cair dan pewangi pakaian yang sangat lembut dan menenangkan.

Aku menyukai wanginya. Wangi yang sangat rumahan, jauh dari kesan mewah artifisial, tapi terasa sangat bersih.

"Kamu mencucinya?" tanyaku, sengaja memasang nada suara sedatar mungkin untuk memancing reaksinya.

Aruna langsung gelagapan. Dengan wajah yang mulai memerah padam, dia menjelaskan panjang lebar bahwa dia tidak enak mengembalikan barang dalam kondisi kotor. Dia juga buru-buru membela diri, bersumpah tidak menggeledah kantong jas selain untuk mengamankan beberapa kartu namaku yang sudah dia kembalikan di saku semula.

Melihat kepanikannya yang menggebu-gebu, aku bersandar di kursi dan sengaja memulai interogasi kecil. Aku menanyakan rincian nota bensin, struk pembelian kertas, hingga detail-detail tidak penting pada berkas yang dibawanya. Aku sengaja mengulur waktu, menikmati setiap perubahan ekspresi di wajahnya mulai dari gugup, malu, bingung, hingga kerutan kesal di dahinya yang tidak bisa dia sembunyikan sama sekali.

Gadis ini benar-benar transparan. Apa yang ada di pikirannya langsung tercetak jelas di wajahnya.

Bagi seorang Adrian yang setiap hari dikelilingi oleh kolega bisnis bermuka dua dan wanita-wanita penuh kepura-puraan seperti di pesta pertunangan hari Sabtu kemarin, ekspresi jujur Aruna siang ini menjadi sebuah hiburan tersendiri. Rasa jengkel karena tidak bertemu selama tiga hari penuh langsung menguap, berganti kepuasan pribadi setelah sukses membuatnya gemas setengah mati di depan mejaku.

Aku melirik jam tangan pintuku yang sudah menunjukkan pukul dua belas kurang lima menit. Melihat kerutan di dahi Aruna yang makin dalam dan matanya yang terus melirik cemas ke arah jam dinding, aku tahu batas toleransinya sudah habis. Kalau aku menahannya lebih lama lagi, gadis ini bisa benar-benar meledak atau diamuk oleh manajer divisinya di bawah.

Aku tidak mau membuatnya dapat masalah besar. Maka, dengan sisa tawa yang masih kutahan, aku meraih pulpen mahal di atas meja, lalu menggoreskan tanda tangan mutlakku di atas berkas klaim nota tersebut.

"Terima kasih, Pak," ujarnya dengan nada yang teramat ketus, langsung menyambar map itu dan berbalik pergi meninggalkan ruanganku secepat kilat.

Begitu pintu tertutup rapat, keheningan kembali menguasai ruangan CEO ini. Aku menatap kursi kosong di depanku, lalu beralih pada jas hitam yang tergeletak di atas meja.

Aku meraih jas itu lagi, mendekatkannya ke wajah, lalu kembali menghirup dalam-dalam aroma wangi deterjen yang melekat di serat kainnya. Wanginya benar-benar menenangkan, sangat kontras dengan wibawa jas ini sebelumnya.

Aku terkekeh sendiri di dalam ruangan sunyi ini. Memikirkan bagaimana repotnya gadis kecil itu mengucek jas berat ini di rumahnya, lalu membawanya ke kantor dibungkus kantong kresek, benar-benar sebuah pemandangan absurd yang menghibur.

Aku menyandarkan punggungku ke kursi, mengetuk-ngetuk jemariku di atas meja dengan perasaan puas yang aneh.

Sebagai CEO, aku tahu betul alur birokrasi di perusahaan ini. Staf administrasi punya tugas untuk menyerahkan dokumen laporan operasional mingguan, nota kendaraan, hingga berkas logistik setiap hari untuk disetujui. Dan posisi itu setiap harinya dipegang oleh Aruna saat ini.

Itu artinya, mulai besok, besok lusa, dan hari-hari berikutnya, gadis kuncir kuda itu mau tidak mau harus selalu datang ke ruanganku untuk berhadapan denganku.

Sudut bibirku kembali terangkat membentuk senyuman tipis. Jadwal kerjaku yang membosankan tampaknya akan jadi jauh lebih menyenangkan mulai sekarang.

Satu minggu berlalu dengan rutinitas yang mendadak terasa berbeda. Setiap hari, momen yang paling kutunggu di antara tumpukan berkas yang menjemukan adalah ketukan pintu dari staf administrasi. Melihat wajah kesal Aruna yang menggemaskan saat aku sengaja mempermainkannya lewat pertanyaan-pertanyaan dokumen yang dibawanya, menjadi hiburan terbaikku di kantor ini.

Hingga hari Senin tiba kembali.

Aku sengaja mengosongkan jadwalku di jam yang sama seperti hari-hari biasanya. Mataku sesekali melirik ke arah pintu, menunggu sosok gadis kuncir kuda itu muncul. Namun, saat interkom berbunyi dan pintu akhirnya terbuka, senyum yang sudah siap kupasang langsung surut seketika.

Bukan Aruna yang melangkah masuk.

Seorang perempuan lain dari divisi administrasi berdiri di depan mejaku sambil memeluk map dokumen dengan gugup. Kalau tidak salah ingat dari data karyawan, namanya Fika.

"S-siang, Pak Adrian. Saya Fika dari staf administrasi, ingin meminta tanda tangan untuk laporan operasional mingguan," ujarnya dengan suara yang agak bergetar.

Aku memperbaiki posisi duduk, bersandar ke kursi dengan tatapan dingin yang biasa kutunjukkan pada orang lain. Atmosfer ruangan yang sempat menghangat dalam seminggu terakhir, mendadak kembali membeku.

"Di mana Aruna?" tanyaku langsung, tanpa basa-basi, mengabaikan map yang baru saja dia letakkan di atas meja. "Kenapa bukan dia yang mengantar dokumen ini?”

"Maaf, Pak. Aruna hari ini tidak bisa mengantarkan dokumennya karena dia sedang sangat sibuk di bawah," jawab Fika sambil menundukkan kepalanya, tidak berani menatap mataku langsung.

Mendengar jawaban itu, keningku langsung berkerut dalam. Sibuk? Alasan macam apa itu? Selama seminggu kemarin, sepadat apapun urusan administrasi, dia selalu punya waktu untuk naik ke ruanganku.

Aku menyandarkan punggung ke kursi, mengetukkan jemari di atas meja dengan ketukan yang berirama konstan isyarat bahwa aku sedang tidak menyukai situasi ini. Mataku menatap tajam ke arah Fika, membuat karyawan junior itu tampak makin salah tingkah dan meremas ujung kemejanya.

Aku menggoreskan tanda tangan kilat di atas berkas yang dibawa Fika, jauh lebih cepat dibanding saat bersama Aruna selama seminggu yang lalu.

"Ini. Silakan kembali ke ruanganmu," ujarku dingin sambil menyodorkan map itu.

"Terima kasih banyak, Pak Adrian," pamit Fika lega, seolah baru saja lolos dari kandang singa.

***

POV Aruna

"Sumpah, Fik, makasih banyak ya udah mau gantiin aku naik ke lantai atas!" ujarku sambil menyuap bakso ke mulutku.

Jam istirahat siang ini rasanya nikmat sekali. Kami bertiga—aku, Fika, dan Mbak Dian—memilih meja di sudut kantin karyawan seperti biasanya yang agak sepi agar bisa mengobrol dengan leluasa.

Fika mendengus pelan sambil minum es teh manisnya. "Sama-sama, Na. Tapi asli ya, auranya Pak Adrian itu horor banget. Pas gue bilang lo sibuk dan gak bisa antar berkas, mukanya langsung ditekuk sedingin es kutub. Untung dia langsung tanda tangan tanpa banyak tanya."

Mendengar nama pria itu disebut, rasa dongkol yang kupendam sejak minggu lalu langsung naik lagi ke ubun-ubun. Aku meletakkan garpu dengan agak kasar ke mangkuk.

"Ya bagus deh kalau dia langsung tanda tangan! Berarti emang ke aku doang dia sengaja nyari gara-gara," gerutuku kesal, mulai membuka sesi gibah siang ini.

Mbak Dian yang duduk di sebelahku langsung mencondongkan tubuh, matanya berbinar kepo. "Emang sesengaja apa sih, Run? Jangan bilang seminggu lalu lo sampai diamuk Pak Danu tiap hari karena telat ngasih dokumen gara-gara ulah dia?"

"Sengaja banget, Mbak! Bayangin aja, cuma minta tanda tangan, dia bisa ngulur waktu sampai dua puluh menit lebih!" aduku gila-gilaan karena saking kesalnya. Aku tentu saja menyembunyikan bagian soal jas atau kantong kresek merah tempo hari, tidak mau mereka curiga.

"Dia itu sengaja nanya-nanya rincian nota yang gak penting banget. Ditambah lagi, besok-besoknya juga gitu. Tiap hari ada aja cara dia buat bikin aku ketahan lama di ruangannya sampai aku selalu kena semprot Pak Danu karena dinilai lambat," lanjutku berapi-api.

"Serius lo? Kok Pak Adrian bisa se-iseng itu sama karyawan biasa?" Fika melotot tak percaya.

"Dua rius, Fik! Bos besar kita itu aslinya sableng, pelit tanda tangan, dan hobi banget liat karyawannya menderita!" ujarku menggebu-gebu dengan volume suara yang agak meninggi karena terlanjur emosi. "Dia itu sengaja banget pengen liat gue dimarahin Pak Danu lagi. Pokoknya Pak Adrian itu cowok aneh, menyebalkan, dan—"

"Dan apa, Aruna?"

Sebuah suara bariton yang sangat familier, dingin, dan berwibawa tiba-tiba menginterupsi kalimatku tepat dari arah belakang pundakku.

Deg.

Jantungku rasanya mau copot seketika. Suasana meja kami yang tadinya heboh langsung senyap seperti kuburan. Aku melirik Fika dan Mbak Dian di depanku. Wajah mereka berdua sudah pucat pasi, mata mereka melotot horor menatap lurus ke arah belakang tubuhku.

Dengan leher yang terasa kaku seperti semen kering, aku perlahan memutar tubuhku ke belakang.

Di sana, berdiri tegak Pak Adrian Wiratama dengan kemeja hitam yang lengannya digulung sampai siku. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, dan sepasang mata tajamnya sedang menatapku lurus dengan senyuman amat tipis yang justru terlihat sangat mengerikan.

Bos besar itu turun ke kantin karyawan, dan dia mendengar semua gibahanku tentang dirinya.

Detik ini juga rasanya aku ingin menghilang dari muka bumi.

Senyuman super canggung langsung kupasang di wajah. Otakku mendadak beralih ke mode panik, membuatku melakukan hal pertama yang melintas di kepalaku untuk mencairkan suasana horor ini.

Aku menggeser mangkuk baksoku yang masih setengah utuh ke arahnya. "Eh... Pak Adrian. Makan, Pak. Mau... mau bakso, Pak? Enak kok, masih hangat," tawar bodohku, persis seperti aksi nekat yang pernah kulakukan waktu itu.

Pak Adrian tidak menyentuh mangkuk itu. Dia justru menaikkan satu alisnya, menatapku dengan pandangan yang membuat bulu kuduk berdiri.

"Kamu ini... sepertinya suka sekali menjelek-jelekkan orang lain di belakang, ya? Terutama bos kamu sendiri," sindir Pak Adrian, nadanya terdengar tenang tapi sukses menusuk tepat di ulu hati.

"Eh? Enggak, Pak! Sumpah, Bapak salah dengar!" elakku cepat dengan wajah panik, menyimpan mangkuk bakso lalu kedua tanganku mengibas-ngibas di udara. "Tadi itu saya bukan lagi menjelek-jelekkan Bapak. Saya itu justru lagi... lagi memuji Bapak! Iya, memuji!"

Duk!

"Aww!"

Aku hampir saja memekik keras saat sebuah tendangan mendarat mulus di tulang keringku. Aku melirik ke arah Fika dan Mbak Dian yang kompak menendang kakiku, memberi kode keras lewat pelototan mata mereka agar aku segera diam dan cepat-cepat meminta maaf.

Tapi karena kepalaku sudah kepalang pusing dan panik akibat tertangkap basah, mulutku malah meluncurkan kalimat pertahanan yang luar biasa polos tanpa sempat disaring otak.

1
Alia Chans
Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat thor nulisnya😍
Agatha soul: terima kasih 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!