Xavier benci dua hal di dunia ini, kekacauan dan bulu kucing. Sebagai seorang mafia yang disegani hidupnya harus selalu steril dan terkendali.
Namun, semua itu hancur saat seekor kucing liar yang ia temui tiba-tiba berubah menjadi gadis cantik nan polos bernama Luna.
Luna tidak tahu cara menjadi manusia. Dia berisik, manja, dan hobi mengacaukan ruang kerja Xavier yang rapi.
Xavier ingin mengusirnya, tapi setiap kali melihat mata bulat Luna, hatinya goyah.
Bagaimana bisa sang pemangsa justru tak berdaya di tangan mahluk manis seperti Luna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5
Di sebuah ruangan luas yang beraroma cerutu mahal, seorang pria tua dengan kerutan dalam di dahi menatap ke arah jendela.
"Kau berhasil menangkapnya, bukan? Katakan padaku kau sudah membawa kepalanya dalam kotak," tanya pria itu tanpa berbalik.
"Maafkan saya, Tuan. Rencana kita digagalkan oleh medan yang tak terduga. Dia berhasil kabur ke tengah hutan yang gelap dan—"
PLAK!
Belum sempat Hanzel menyelesaikan kalimatnya, sebuah tamparan keras mendarat di pipinya, meninggalkan bekas merah yang berdenyut. Hanzel tetap mematung, tak berani membalas tatapan tuannya.
"Bodoh! Menangani satu bocah saja kau tidak becus? Apa saja kerjamu selama ini?!" maki pria itu. "Kau tahu betapa pentingnya melenyapkan Xavier sekarang juga?"
"Maafkan saya, Tuan. Kami sudah mengepungnya dan berhasil menembak lengan kanannya, tapi dia seperti ditelan bumi setelah masuk ke area terlarang itu."
"Percuma saja aku membayarmu dengan harga mahal kalau hasilnya nihil!" Pria itu membanting gelas kristalnya ke lantai hingga hancur berkeping-keping.
"Tapi Tuan, ini sudah satu minggu dan Xavier tidak kembali. Saya rasa dia sudah mati. Hutan itu belum pernah terjamah manusia. Mungkin dia sudah dimangsa harimau atau hewan buas lainnya."
Mendengar itu, napas pria tua itu mulai melambat. Amarahnya perlahan mereda, berganti dengan senyum sinis yang mengerikan. Ia tahu reputasi hutan duri tersebut. Tak ada yang keluar hidup-hidup dari sana.
"Aku harap ucapanmu benar adanya, Hanzel. Karena kalau putriku tahu kita yang menghabisinya, dia akan marah besar," gumam pria itu sembari duduk di kursi kebesarannya.
"Putriku itu bodoh. Ada Xander yang tampan, kuat, dan sempurna, kenapa dia harus jatuh cinta pada adiknya yang cacat itu? Xavier itu hanya sampah di keluarga Jonas. Seharusnya dia bisa mendapatkan kedua hati putra Jonas jika dia pintar! Secara putriku itu cantik jelita. Bukan begitu, Hanzel?"
Hanzel hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. Ia memilih untuk tidak menjawab. Dalam hatinya, ia tahu bahwa kecacatan yang dimaksud sang bos adalah rahasia yang paling dijaga ketat oleh keluarga Jonas, rahasia yang membuat Xavier berbeda dari manusia normal lainnya.
"Anda benar, Tuan," jawab Hanzel.
*
*
Luna, dalam wujud manusianya, duduk di tepi tempat tidur yang masih menyisakan aroma parfum milik Xavier.
"Apa manusia tampan sudah sampai rumahnya?" bisiknya pada keheningan. "Kenapa perasaan Luna tidak tenang sejak tadi ya? Apa Luna susul saja?"
Luna berdiri, lalu duduk lagi. Ia melakukan itu berulang-ulang dan sesekali menggigit ujung kukunya yamg tajam.
Luna menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. "Tapi Luna takut, Luna takut manusia tampan sudah bertemu kucing betina lain yang lebih nakal di sana. Atau lebih buruk lagi, dia bertemu manusia betina yang cantik."
Luna beranjak dan mulai mengumpulkan beberapa barang miliknya, beberapa botol ramuan herbal sisa mimi peri dan alat yang biasa ia gunakan.
Namun, langkahnya terhenti saat bayangan wajah dingin Xavier muncul di benaknya.
"Kau kucing pengganggu, menyebalkan, dan merepotkan."
Kata-kata itu terngiang kembali, membuat dada Luna terasa sesak seolah dihimpit batu besar. Air mata mulai menggenang di sudut matanya yang indah.
"Tidak boleh, Luna. Manusia tampan tidak menyukai Luna. Dia bilang Luna menyusahkan," isaknya pelan. Ia mengusap pipinya yang basah dengan punggung tangan.
"Padahal, Luna berharap manusia tampan adalah pria yang ditakdirkan untuk Luna. Pria dengan mata cacat dan—"
Luna menghentikan ucapannya sendiri. Raut wajahnya kembali murung, penuh dengan beban rahasia yang ia bawa sejak lama. Ia teringat betapa sepinya hidupnya sebelum Xavier datang.
Bagaimana ia dibuang ke hutan ini hanya karena sebuah kesalahan kecil di dunia kaumnya. Tak ada yang benar-benar peduli padanya. Mimi peri baik, tapi mimi peri punya dunianya sendiri.
"Tidak ada yang mau menemani Luna," gumamnya lirih.
Bayangan Xavier yang terluka, Xavier yang meski galak tetap mengizinkannya tidur di dadanya, kembali muncul. Keinginan untuk melindungi pria itu jauh lebih besar daripada rasa sakit hatinya.
"Luna tidak peduli!" teriak Luna tiba-tiba. "Luna mau menyusul manusia tampan saja! Meski tanpa kekuatan sekalipun, Luna harus memastikan dia tidak mati di tangan orang jahat!"
Luna menatap ke arah jendela, ke arah jalanan setapak yang menuju dunia manusia.
"Maafkan Luna, Mimi Peri. Luna harus pergi. Luna tidak bisa membiarkan satu-satunya orang yang membuat jantung Luna berdetak aneh itu pergi begitu saja."
Dengan tekad yang kuat dan langkah yang mantap, Luna melangkah keluar dari pondoknya. Ia tak peduli pada duri yang mungkin akan melukai kakinya atau hukum alam yang melarangnya menyeberang.
Luna itu bukan cacing 😭 tenang Vier nanti bisa dilanjutkan lagi , kamu bisa kasih pemahaman ke Luna😂
uhhh cakep banget visual nya 👍👍👍👍 thanks Thor
Vier..... pelan2 tho yooo jangan asal nyosor,, ntar Luna trauma lagi 😂