NovelToon NovelToon
The Queen With 4 Servents

The Queen With 4 Servents

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Transmigrasi / Fantasi Isekai
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Di dunia nyata, Aira adalah gadis pemalu yang sangat menyukai film kultus berjudul "The Velvet Manor". Film tersebut terkenal karena adegan-adegannya yang sensual dan karakter Nyonya Isabella von Raven yang kejam namun memikat, yang dikelilingi oleh empat pelayan pribadi yang setia sekaligus berbahaya.
Suatu malam, sebuah insiden di tangga membuat Aira kehilangan kesadaran. Saat terbangun, ia mendapati dirinya berada di dalam kamar mewah yang persis seperti lokasi syuting "The Velvet Manor". Ia kini menempati tubuh Isabella von Raven, sang nyonya rumah yang dikenal kejam. Di hadapannya, berdiri empat pelayan pribadi yang memiliki reputasi berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27. Perang Terbuka

Fajar pecah dengan warna kelabu yang menyakitkan mata, menyelinap melalui jendela-jendela tinggi The Velvet Manor dan menyinari debu yang menari di udara yang tegang. Kabut pagi masih merayap di lantai marmer aula utama saat pintu besar ganda itu terbanting terbuka.

Kael melangkah masuk dengan napas yang masih memburu, otot-ototnya menegang di bawah kulit yang berkeringat. Ia menuntun kuda hitam raksasa, Storm, hingga ke ambang pintu aula—sebuah penghinaan terhadap aturan rumah yang biasanya sangat dijaga. Di atas kuda itu, Aira duduk dengan tegak. Gaun tidurnya sedikit robek di bagian bahu, rambut hitamnya liar berantakan terkena angin hutan, namun di wajahnya tidak ada lagi jejak ketakutan. Hanya ada sepasang mata hijau zamrud yang menatap dunia dengan kehinaan yang murni.

Di tengah aula, dua sosok telah menunggu seperti patung kematian yang siap mencabut nyawa. Dante berdiri di sisi kanan, tangannya mengepal begitu kuat hingga kuku-kukunya memutih. Di sisi kiri, Zane berdiri dalam kegelapan pilar, pedangnya sudah setengah keluar dari sarungnya, menciptakan denting logam yang mematikan.

"Turunkan Nyonya, Kael. Sekarang. Sebelum aku memastikan tangan kotor yang menyentuhnya semalam tidak akan pernah bisa memegang senjata lagi," suara Dante rendah, namun mengandung getaran yang sanggup meretakkan gelas kristal di langit-langit.

Kael tidak gentar. Ia justru tertawa parau, menyeka setetes darah di bibirnya—bekas gigitan kejam Aira di hutan tadi—dengan ibu jarinya tepat di depan mata Dante. "Kau terlambat, Kepala Pelayan. Sementara kau sibuk menghitung koin dan merasa aman di ruang kerjamu, aku sudah membawanya menembus batas hutan yang bahkan bayanganmu pun takut untuk menginjaknya."

Zane melangkah maju, kilatan pedangnya memantul di mata Aira. "Kau melanggar sumpah keamanan, Kael. Kau membawanya keluar tanpa protokol pengawalan. Kau bukan lagi pelindung, kau adalah ancaman."

"Cukup!" suara Aira membelah ketegangan itu seperti cambuk. Ia melompat turun dari kuda tanpa bantuan siapa pun, mendarat dengan anggun di tengah-tengah ketiga pria itu. Ia menatap mereka satu per satu dengan smirk yang paling merendahkan yang pernah mereka lihat.

"Kalian terlihat sangat menyedihkan," desis Aira. Ia berjalan mendekati Dante, lalu beralih ke Zane, dan berakhir tepat di depan Kael. "Kael membawaku keluar karena dia pikir dia bisa menjinakkan aku dengan keliarannya. Dan kalian berdua... kalian marah bukan karena keselamatanku, tapi karena kalian kehilangan kesempatan untuk memilikiku semalam, bukan?"

Aira tertawa, sebuah tawa yang merdu namun penuh dengan racun yang mematikan. Ia mengambil sapu tangan sutra dari saku gaunnya yang robek—kain kecil yang masih membawa aroma tubuhnya—dan menjatuhkannya tepat di tengah-tengah mereka di atas lantai marmer yang dingin.

"Aku bosan dengan gertakan kalian yang membosankan," ujar Aira dengan nada yang sangat tenang. "Siapa pun yang berhasil mengambil sapu tangan ini dan memberikannya padaku tanpa senjatanya menyentuh lantai, dia yang akan mendapatkan kehormatan untuk menemaniku mandi pagi ini. Sisanya? Kalian akan merangkak di halaman mansion ini sampai matahari tepat di atas kepala."

Mata ketiga pria itu berkilat gila. Tawaran Aira adalah candu yang paling mematikan bagi obsesi mereka.

Zane adalah yang pertama bergerak. Ia melesat seperti bayangan hitam, namun Kael menghantamnya dengan bahu kekarnya yang besar hingga Zane terpental menabrak pilar batu. Dante, yang biasanya menjunjung tinggi keanggunan, kini melepaskan jasnya dan menerjang Kael dengan pukulan mentah yang mengincar rahang.

Bugh! Brak!

Suara hantaman daging, tulang yang beradu, dan napas yang terengah-engah bergema di seluruh aula. Mereka berkelahi bukan lagi sebagai pelayan profesional, tapi sebagai pria yang sedang memperebutkan satu-satunya sumber kehidupan mereka. Kael membalas pukulan Dante dengan sundulan kepala yang brutal, sementara Zane kembali menyerang dengan tendangan rendah yang sangat cepat.

Aira duduk di anak tangga pertama tangga agung, menopang dagunya dengan tangan, menonton pertunjukan berdarah itu dengan mata yang tidak berkedip. Di sampingnya, bayangan Isabella asli muncul, duduk bersila dengan gaun merah darahnya yang tampak berpendar.

"Lihatlah, Aira... mereka saling menghancurkan demi selembar kain yang kau jatuhkan. Kau jauh lebih hebat dariku dalam urusan menghancurkan harga diri pria," bisik Isabella dengan tawa yang mengerikan. "Kau tidak hanya memiliki raga ini, kau mulai memiliki jiwa mereka yang haus akan kehancuran."

Aira tidak menjawab. Ia justru merasa adrenalinnya terpacu melihat Dante yang bibirnya robek, Zane yang pelipisnya berdarah, dan Kael yang dadanya dipenuhi memar biru yang hebat. Ia menikmati setiap tetes darah yang jatuh mengotori marmer putihnya.

"Lebih keras!" seru Aira, suaranya melengking penuh otoritas yang tak terbantahkan. "Tunjukkan padaku siapa di antara kalian yang bukan sekadar pecundang yang hanya bisa menggonggong!"

Dante berhasil mencengkeram leher Kael dan menghantamkan kepalanya ke lantai, namun Zane menyapu kaki Dante hingga keduanya terjatuh dalam tumpukan tubuh yang bergulat. Dalam kekacauan itu, sapu tangan sutra itu terinjak-injak, ternoda oleh darah, debu, dan keringat mereka.

Setelah hampir lima belas menit perkelahian yang sangat brutal, mereka bertiga akhirnya terkapar di lantai. Napas mereka memburu, tubuh mereka bersimbah darah dan memar. Tidak ada yang berhasil mengambil sapu tangan itu karena mereka terlalu sibuk menjatuhkan satu sama lain.

Aira berdiri perlahan, langkah kakinya tidak bersuara saat ia mendekati tubuh-tubuh yang hancur itu. Ia membungkuk, mengambil sapu tangan yang sudah kotor dan hancur itu dengan ujung jarinya, lalu melemparkannya tepat ke wajah Dante yang sedang meringis kesakitan.

"Kalian semua gagal," desis Aira dengan nada yang sangat dingin dan penuh kekecewaan yang dibuat-buat. "Kalian begitu sibuk dengan ego kalian sendiri hingga lupa bahwa tujuan kalian adalah melayaniku, bukan memuaskan amarah kalian yang murahan."

Aira membungkuk di antara mereka, membisikkan kata-kata yang membuat bulu kuduk mereka berdiri: "Karena tidak ada pemenang, maka kalian bertiga akan menerima hukuman yang sama. Aku ingin kalian membersihkan diri di kolam air garam, dan aku sendiri yang akan memastikan setiap luka kalian merasakan perih yang pantas kalian dapatkan."

Aira berjalan pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan ketiga pria perkasa itu dalam kehancuran mental dan fisik. Ia menyadari bahwa ia telah memegang kendali penuh. Di dalam hatinya, ia berkata: "Isabella, kau lihat? Aku tidak butuh ingatanmu untuk membuat mereka merangkak. Aku hanya butuh ketegaanku sendiri."

Aira berdiri mematung di anak tangga teratas, menatap pemandangan tiga pria perkasa yang terkapar bersimbah darah di bawah kakinya. Di sampingnya, bayangan Isabella asli melayang, gaun merahnya tampak berpendar seolah menghisap sisa-sisa amarah yang tertinggal di aula.

Isabella mendekatkan wajahnya ke telinga Aira, napas dinginnya terasa seperti es yang menusuk syaraf. "Kau dengar itu, Aira? Suara napas mereka yang tersengal... itu adalah melodi kepatuhan yang paling indah. Aku menghabiskan belasan tahun untuk membuat mereka saling benci, tapi kau... kau membuat mereka saling menghancurkan hanya dalam satu malam."

Aira menoleh, menatap mata hijau zamrud Isabella yang identik dengan miliknya. "Kau bilang mereka tidak mencintaiku, Isabella. Kau bilang mereka hanya mencintai rasa sakit. Tapi lihat mereka sekarang... mereka menatapku seolah aku adalah satu-satunya oksigen yang tersisa di dunia ini."

Isabella tertawa, suara tawanya memantul di dinding marmer yang sunyi. "Itulah rahasianya, Bodoh. Mereka tidak mencintaimu karena kau baik. Mereka mencintaimu karena kau adalah cermin dari kegelapan mereka sendiri. Kau memberikan mereka alasan untuk menjadi monster, dan sebagai imbalannya, mereka akan menyerahkan leher mereka untuk kau injak."

Isabella mengulurkan tangannya yang transparan, mencoba menyentuh luka di telapak tangan Aira. "Kau bertanya tadi, apakah ini yang kumau? Jawabannya adalah ya. Aku ingin melihat seberapa jauh jiwa 'suci' darimu bisa bertahan sebelum kau menyadari bahwa kau jauh lebih berbakat menjadi iblis daripada aku. Aku hanya menggunakan cambuk, Aira... tapi kau menggunakan harapan. Dan harapan adalah racun yang jauh lebih mematikan."

Aira tertegun, sebuah smirk kembali terukir di wajahnya. "Kalau begitu, perhatikan baik-baik, Isabella. Karena mulai hari ini, aku tidak akan hanya menggunakan racunmu. Aku akan menciptakan nerakaku sendiri di mansion ini."

Isabella asli tersenyum lebar, matanya berkilat puas saat ia perlahan memudar ke dalam bayang-bayang pilar. "Aku akan menonton, Aira. Aku akan selalu menonton. Jangan biarkan mereka bangun dari mimpi buruk yang kau ciptakan ini."

Aira berbalik dan melangkah menuju kamarnya dengan keanggunan yang membekukan darah, meninggalkan ketiga pria itu dalam kehancuran yang mereka buat sendiri.

1
Airin
makasih thooor. semangat
Anisa675
Widiiiih badas
Anisa675
gilaaaa, jadi Isabella udah meninggal??
Anisa675
mantap Aira
Anisa675
wah mantap Thor. kebayang badan luka-luka, mandi air garam
.
Kaya cerita Anime ya,
Lanjuutt
Anisa675: Iya bener, kayanya bakal lebih seru tambah visualnya thor
total 1 replies
Eka Putri Handayani
lebih bnyk lg up nya kak
Airin: selalu Thor. semangat
total 4 replies
Yasa
semangat updatenya thor
Senja_Puan: Makasih kakak😍 semangat juga bacanya
total 1 replies
Anisa675
nah kan bener
Anisa675
jadi curiga sama Isabella asli
Anisa675
Bahaya ini, dari awal Zane yang paling punya insting kuat, dan cara dia eksekusi Aira itu udah bener-bener bikin deg-degan
Senja_Puan: Nah, adakan perkembangannya😄
total 1 replies
Anisa675
suka, karakternya jadi kuat
Anisa675
ngerii-ngeri sedap Aira
Anisa675
emang, strategi Aira beracun bangetttt
Anisa675
santai Kael... rusuh Mulu dah
Anisa675
Keren-keren, bisa berubah secepat itu. strateginya emang gitu kalia ya? jadi kejam tapi ada sisi lembutnya gitu
Anisa675
transformasinya langsung drastislah. kenapa ga dari awal thoooor
Anisa675: ya biar seru ya🤭
total 2 replies
Anisa675
Jangan lemah Aira!!!!
Anisa675
kebayang berapa nyebelinnya Isabella asli ini
Anisa675
kesel banget, hampir aja ketahuan. tapi udah pada curiga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!