NovelToon NovelToon
Susahnya Jadi Mantan Pacar

Susahnya Jadi Mantan Pacar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / CEO
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Menceritakan tentang Novita gadis berumur 27 tahun yang bekerja di sebuah perusahaan besar PT Kencana samudra jaya. perusahaan yang sangat bagus untuk memperbaiki kehidupannya. Namun semuanya tidak berjalan sesuai keinginannya saat mantannya dulu muncul sebagai direktur di perusahaan. Andra yang dulu dia kenal sebagai Arya muncul kembali. Dia berusaha keras menghindar dari masa lalunya namun masa lalunya justru datang kepadanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 20

Andra pulang ke apartemennya dengan wajah penuh kesal, seolah baru saja menyaksikan sesuatu yang sangat ia benci. Begitu pintu tertutup di belakangnya, ia melempar tas kerjanya ke sofa tanpa peduli. Tubuhnya kemudian jatuh terduduk di kursi panjang itu.

Ia menekan pelipisnya dengan kedua tangan.

Bayangan yang ia lihat sore tadi kembali terlintas di kepalanya.

Pak Danu.

Novita.

Dan uang yang diberikan itu.

“Menjijikkan,” gumamnya pelan dengan rahang mengeras.

Ia masih bisa mengingat jelas bagaimana Pak Danu tersenyum sambil menyerahkan beberapa lembar uang kepada Novita. Dan gadis itu… menerimanya.

Andra menghela napas panjang, tetapi rasa kesal di dadanya justru semakin membesar.

“Dasar wanita murahan,” ucapnya dingin.

Nada suaranya penuh kebencian, seakan apa yang dilakukan Novita adalah penghinaan besar baginya.

Ia lalu meraih ponselnya yang berada di atas meja. Tanpa sadar jarinya membuka galeri foto lama yang jarang ia lihat. Beberapa gambar masa lalu muncul di layar.

Foto pertemuan bisnis.

Foto perjalanan.

Foto keluarga.

Hingga akhirnya ia berhenti pada satu gambar.

Sebuah foto lama.

Di sana terlihat dirinya berdiri berdampingan dengan seorang gadis muda. Wajah gadis itu tampak lebih polos, rambutnya masih lebih pendek, dan senyumnya begitu tulus.

Novita.

Saat foto itu diambil, usia gadis itu sekitar dua puluh dua tahun.

Andra menatap layar ponselnya lama sekali.

Matanya tajam, tetapi di baliknya ada sesuatu yang sulit dijelaskan.

“Kenapa…” gumamnya pelan.

Ia menggeleng kecil, seolah menolak pikiran yang muncul di kepalanya.

“Kenapa kamu jadi wanita seperti itu sekarang?”

Ia menatap foto itu lebih lama lagi, seolah berharap gadis dalam gambar tersebut bisa menjawab.

“Padahal…” ia berhenti sejenak.

Suaranya berubah lebih rendah.

“Padahal kamu sudah ada di hatiku.”

Apartemen itu kembali sunyi.

Hanya suara napas Andra yang terdengar di ruangan yang luas itu.

Beberapa menit kemudian, tubuhnya yang lelah akhirnya menyerah. Ia bersandar di sofa sambil masih menggenggam ponselnya.

Tanpa ia sadari, matanya perlahan tertutup.

Dan ingatannya mulai terbawa kembali ke masa lalu.

---

Beberapa tahun sebelumnya.

Ruang kerja ayah Andra di rumah keluarga mereka terasa sangat serius hari itu. Meja kayu besar dipenuhi dokumen, laporan keuangan, dan beberapa map tebal.

Ayahnya duduk di balik meja dengan wajah tegang.

“Andra, duduklah,” kata pria itu dengan suara berat.

Andra yang baru saja pulang dari Singapura menuruti perintah itu. Ia duduk di kursi di depan meja sambil melonggarkan sedikit dasinya.

“Ada masalah di salah satu perusahaan kita di Tangerang,” kata ayahnya langsung pada inti pembicaraan.

Alis Andra sedikit berkerut.

“Masalah apa?”

Ayahnya mendorong sebuah map ke arahnya.

“Rumor penyelewengan dana.”

Andra membuka map itu. Beberapa laporan keuangan dan catatan audit awal tersusun rapi di dalamnya. Ia membaca cepat, matanya bergerak dari satu angka ke angka lain.

“Direkturnya Pak Bobby,” lanjut ayahnya. “Dia sudah bekerja untuk keluarga kita hampir lima belas tahun. Selama ini ayah sangat mempercayainya.”

“Tapi sekarang Ayah ragu,” kata Andra sambil menutup map itu perlahan.

Ayahnya mengangguk pelan.

“Bukan hanya ayah. Ada beberapa laporan yang tidak masuk akal. Angkanya tidak seimbang. Ada transaksi yang hilang dari sistem utama.”

“Kenapa tidak langsung audit saja?” tanya Andra.

“Karena kalau kita salah menuduh, reputasi perusahaan akan hancur,” jawab ayahnya tenang. “Dan kalau dia memang bersalah, audit resmi akan membuatnya segera menghapus jejak.”

Andra bersandar di kursinya.

“Jadi apa yang Ayah inginkan?”

Ayahnya menatapnya dengan serius.

“Aku ingin kamu menyusup ke sana.”

Andra terdiam.

“Menyusup?”

“Ya.”

Ayahnya melanjutkan dengan suara lebih rendah.

“Kamu baru lulus dari Singapura. Di perusahaan itu hampir tidak ada yang mengenalmu. Bahkan Pak Bobby belum pernah bertemu langsung denganmu.”

Andra mulai memahami arah pembicaraan itu.

“Aku masuk sebagai pegawai biasa?”

“Bukan pegawai biasa,” jawab ayahnya. “Sebagai manajer administrasi.”

Andra mengangkat alis.

“Manajer?”

“Kita akan membuat identitas baru untukmu,” lanjut ayahnya. “Nama kamu di sana adalah Arya Wiguna. Lulusan universitas di Singapura dengan pengalaman kerja administrasi.”

Andra memutar map di tangannya.

“Dan tugasku adalah mencari bukti?”

“Lebih dari itu,” kata ayahnya tegas. “Aku ingin tahu siapa saja yang terlibat. Jika benar ada penyelewengan dana, pasti tidak dilakukan sendirian.”

Ruangan itu hening beberapa detik.

Akhirnya Andra tersenyum tipis.

“Menarik juga.”

Ayahnya menatapnya tajam.

“Ini bukan permainan, Andra.”

“Aku tahu.”

Andra menatap kembali dokumen di tangannya.

“Baiklah,” katanya akhirnya. “Aku akan melakukannya.”

---

Beberapa minggu kemudian.

Seorang pria muda berdiri di depan gedung perusahaan di Tangerang.

Setelan jas sederhana. Kacamata tipis. Ekspresi tenang.

Ia terlihat seperti pegawai profesional pada umumnya.

Namun pria itu bukan Andra.

Setidaknya bukan menurut identitas yang ia gunakan.

Hari itu ia adalah Arya Wiguna.

Manajer administrasi baru.

“Selamat pagi, Pak Arya,” sapa resepsionis dengan ramah.

“Pagi,” jawabnya singkat sambil tersenyum tipis.

Ia berjalan melewati lobi dengan langkah tenang.

Tidak ada yang curiga.

Selama beberapa minggu berikutnya, Arya Wiguna dengan cepat membaur dengan lingkungan kantor.

Ia dikenal sebagai manajer administrasi yang cerdas dan disiplin.

Ia membantu banyak bagian memperbaiki sistem pencatatan. Ia sering lembur untuk merapikan laporan yang berantakan. Bahkan beberapa kali ia memberikan saran yang membuat operasional perusahaan menjadi lebih efisien.

Para pegawai mulai menghormatinya.

“Pak Arya memang pintar,” bisik salah satu staf.

“Iya. Baru datang tapi sudah banyak perubahan,” sahut yang lain.

Namun di balik semua itu, Andra diam-diam mengumpulkan data.

Setiap laporan keuangan ia periksa.

Setiap transaksi ia cocokkan.

Setiap dokumen lama ia pelajari dengan teliti.

Malam demi malam ia habiskan di ruang kerja yang sepi.

Satu per satu potongan puzzle mulai terbentuk.

Dan satu nama semakin sering muncul di antara transaksi yang tidak wajar.

Pak Bobby.

Suatu malam, Andra menatap layar laptopnya di ruang kerjanya yang gelap. Hanya cahaya monitor yang menerangi wajahnya.

Ia membuka sebuah file rahasia yang selama ini ia susun.

Di dalamnya terdapat daftar transaksi yang tidak tercatat secara resmi.

Jumlahnya sangat besar.

Andra bersandar perlahan di kursinya.

“Jadi benar…” gumamnya pelan.

Namun ia tahu pekerjaannya belum selesai.

Ayahnya tidak hanya menginginkan bukti.

Ia ingin seluruh jaringan yang terlibat.

Andra menutup laptopnya perlahan.

Ia menatap jendela kantor yang gelap di luar sana.

Pikirannya bekerja cepat.

“Kalau mereka benar-benar menggelapkan uang,” gumamnya pelan, “maka pasti ada transaksi yang sengaja tidak dicatat.”

Senyum tipis muncul di sudut bibirnya.

“Aku hanya perlu memberi mereka kesempatan.”

Besok dia akan membeli sebuah ponsel baru.

Bukan ponsel mahal.

Justru ponsel biasa yang tidak akan menarik perhatian.

dia akan membuat akun baru.

Nama palsu.

Email baru.

Nomor yang tidak terhubung dengan identitas aslinya.

Semuanya anonim.

1
Siti Nugraheni
seneng aja bacanya, kosakatanya rapi, alur ceritanya menarik buat dibaca, dan selalu bikin penasaran lanjutan ceritanya
gaby
Resign dong. Bukannya wkt itu Novita bikin beberapa surat lamaran. Masa iya satu pun ga ada yg manggil. Atau jgn2 othornya lupa sm jalan critanya. Gimana nasib surat lamaran itu smua
Black Rascall: mengingatkan saat itu belum ada 19 JT lapangan pekerjaan jadi susah nyari dan Novita bisa kerja berkat om Danu yang merekomendasikan Novita ke HRD jadi tunggu ya kak 19 JT lapangan pekerjaannya 🙏🙏🙏
total 1 replies
falea sezi
bos kurang ajar mundur aja resain
Black Rascall: tunggu 19 JT lapangan pekerjaan dulu kak baru resain
total 1 replies
falea sezi
moga bagus ampe ending
Black Rascall: gak yakin karena baru pertama kali nulis genre seperti ini jadi mohon maklum
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!