Amara rela menerima perjodohan dengan Tobias William Larsen demi cinta, berharap hatinya bisa memenangkan pria yang dingin dan sempurna itu. Ia memberi segalanya—kesetiaan, pengorbanan, bahkan seluruh rasa cintanya. Namun, semuanya hancur saat mantan Tobias muncul kembali.
Di malam ulang tahun pernikahan mereka, dunia Amara runtuh. Tobias menuntut cerai tanpa ampun, bahkan menyisakan ancaman yang menusuk hatinya. Dengan hati remuk, Amara akhirnya melepas semua harapan, memutuskan untuk pulang ke rumah keluarganya dan menjalani takdirnya sebagai pewaris keluarga Crawford.
Kini, ketika Amara dan Tobias bertemu lagi, mereka bukan lagi suami-istri. Mereka adalah dua rival, saling menatap dengan luka dan dendam yang tersimpan.
"Tuan Larsen, apakah Anda ingin saya mengingatkan sekali lagi? Kita sudah bercerai."
"Amara… ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Kumohon… kembalilah padaku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Banto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23
Mengatakan bahwa suasana hati Tobias Larsen sedang buruk sepanjang minggu ini adalah sebuah penghinaan terhadap kekacauan yang sebenarnya. Dunia bisnisnya sedang diguncang badai; sebuah kelalaian fatal pada kontrak bernilai jutaan dolar telah membakar habis fokusnya. Namun, penyebab utamanya bukanlah angka-angka di atas kertas, melainkan wanita yang kini menjadi obsesi gelapnya: Amara Crawford.
Amara telah membuang bunganya, memblokir nomornya, bahkan memerintahkan keamanan untuk mengusirnya seolah ia adalah sampah jalanan.
Maka, ketika Tobias melangkah masuk ke Giovanni bersama Harvey, tujuannya hanya satu: membasuh amarahnya dengan alkohol. Namun, pemandangan yang menyambutnya di bar justru membuat darahnya mendidih hingga ke titik nadir. Mantan istrinya, wanita yang biasanya kaku dan dingin, kini tampil begitu provokatif dengan gaun merah yang memeluk lekuk tubuhnya, sedang bermesraan dengan pria lain.
"Kau akan melubangi kepala pria itu jika terus menatapnya seperti itu, Tobias," gumam Harvey, mencoba mencairkan suasana.
Tobias tidak menjawab. Cengkeramannya pada gelas wiski begitu kuat hingga buku jarinya memutih. Matanya menajam saat melihat tangan pria itu menyentuh kulit Amara.
"Pria itu... Jason," Harvey menambahkan dengan nada serius. "Dia pemain kotor. Narkoba, prostitusi, pemerkosaan. Dia adalah iblis bersetelan jas."
Jantung Tobias berdegup kencang. Kecemasan mulai merayap di dadanya, menggantikan amarah. Saat ia melihat Jason menarik Amara keluar dari klub dalam kondisi yang tampak tidak stabil, Tobias tidak lagi bisa berpura-pura tenang. Ia meledak dari kursinya, mengabaikan seruan Harvey, dan melesat mengejar mereka ke kegelapan area parkir.
"Sialan!"
Umpatan kasar Jason menuntun Tobias ke sebuah sudut remang. Di sana, ia melihat Amara yang tampak linglung, melangkah terhuyung-huyung dengan napas yang memburu. Begitu mata mereka bertemu, pertahanan Amara runtuh. Tubuhnya lemas, jatuh tepat ke dalam dekapan Tobias yang kokoh.
"Tobias...?" gumam Amara parau. Matanya sayu, bibirnya yang merah sedikit terbuka, mengeluarkan napas yang terasa panas di leher Tobias.
"Kau dibius," desis Tobias. Amarahnya kini beralih pada pria pirang yang berdiri dengan wajah angkuh di depan mereka.
"Hei! Mau kau bawa ke mana wanitaku?!" teriak Jason.
"Wanitamu?" Suara Tobias rendah, sedingin es, namun di dalamnya tersimpan ledakan gunung berapi.
"Ya! Jadi minggir sebelum aku menghancurkanmu. Jalang itu milikku malam ini!"
BUGH!
Satu pukulan telak mendarat di rahang Jason sebelum pria itu sempat menyelesaikan kalimatnya. Tobias kehilangan kendali. Amarah yang ia pendam sepanjang minggu ini ia tumpahkan pada wajah pria di depannya. Ia mencengkeram kerah kemeja Jason, menghantamkan tubuhnya ke dinding beton, dan menghujaninya dengan pukulan brutal.
"Berani... kau..." Bugh! "Berbicara..." Bugh! "Tentang dia... seperti itu!"
Setiap pukulan adalah balasan untuk setiap tetes air mata Amara yang pernah ia sia-siakan, dan untuk setiap detik ketakutan yang dialami wanita itu malam ini. Setelah Jason tergeletak tak berdaya dengan wajah bersimbah darah, Tobias berbalik. Ia kembali ke arah Amara yang bersandar lemas di kap mobil.
"Ayo pergi," gumamnya, mengangkat tubuh mungil itu ke dalam gendongannya.
Di dalam mobil, situasi menjadi semakin tak terkendali. Amara mulai meronta, jarinya yang gemetar mencoba merobek ritsleting gaunnya sendiri. "Panas... ini terlalu panas..." rintihnya.
Tobias menggertakkan gigi. Efek obat itu mulai mengambil alih saraf Amara. Ia tidak bisa membawa Amara ke rumah sakit dalam kondisi pakaian yang hampir lepas seperti ini. Tanpa pikir panjang, Tobias membanting setir menuju kediaman pribadinya.
Begitu sampai di kamar utama, Tobias membaringkan Amara di atas tempat tidur luas miliknya. Saat ia hendak berbalik untuk mengambil air dingin, sebuah tangan kecil yang kuat menyambar pergelangan tangannya.
Brukh!
Amara menariknya dengan kekuatan yang tak terduga hingga Tobias jatuh tepat di atas tubuhnya. Sebelum ia sempat memprotes, bibir Amara sudah menyerang bibirnya—sebuah ciuman yang liar, berantakan, dan dipenuhi oleh gairah yang dipicu oleh bahan kimia di darahnya.
"Amara, hentikan... kau sedang tidak sadar," geram Tobias, mencoba melepaskan cengkeraman tangan Amara dari lehernya.
"Jangan pergi..." bisik Amara di sela ciumannya. Tangannya kini merayap masuk ke bawah kemeja Tobias, menyentuh kulitnya, menciptakan percikan api yang membakar sisa-sisa kewarasan pria itu.
Tobias mencengkeram pergelangan tangan Amara, menahannya di atas kepala wanita itu dengan tatapan membara. "Kau akan menyesali ini besok pagi," bisiknya dengan suara serak.
"Tapi kau menginginkannya, bukan? Kau menginginkanku, Tobias..." Amara melengkungkan tubuhnya, membiarkan kulit mereka bersentuhan lebih dalam.
Itu adalah pertahanan terakhir Tobias, dan itu runtuh seketika.
Keinginan posesif yang selama ini ia tekan meledak begitu saja. Ia tidak lagi peduli apakah ini pengaruh obat atau bukan; yang ia tahu, wanita di bawahnya ini adalah miliknya. Tobias membalas ciuman itu dengan lebih menuntut, tangannya mulai menjelajahi setiap inci tubuh Amara yang merespons dengan desahan haus.
"Bagaimana rasanya?" bisik Tobias tepat di telinga Amara, suaranya parau oleh gairah.
Amara tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menarik ikat pinggang Tobias, membukanya dengan tergesa-gesa. "Lebih... aku butuh lebih..."
Malam ini, di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, Tobias tidak akan menahan diri lagi. Jika Amara ingin terbakar, maka ia akan menjadi api yang menghanguskannya hingga tak bersisa.