NovelToon NovelToon
Diusir Regu Petualang Karena Bodoh

Diusir Regu Petualang Karena Bodoh

Status: sedang berlangsung
Genre:Kebangkitan pecundang / Fantasi Isekai / Epik Petualangan
Popularitas:213
Nilai: 5
Nama Author: djase

Dunia fantasy dengan sistem yang digolongkan dari g hingga ssssr(tingkat tertinggi yang jarang ada). Guild SSAWF adalah salah satu aktivitas petualang tebesar di wilayah barat, sementara altar jiwa muda adalah tempat kelahiran Pattisiwiana Klobahrgeevinik sebuah lokasi yang dipercaya memiliki hubungan dengan sumber energi dunia namun belum pernah terungkap secara jelas.

Pattisiwiana (sering dipanggil Patti) adalah pemuda yang sejak kecil mendambakan menjadi petualang. Karna tidak memiliki bakat tempur atau sihir yang terlihat, ia hanya bisa bergabung ke regu scarlet Blades sebagai pembantu penghasil hasil buruan monster. Anggota regunya selalu merendahkannya, menyebutnya "bodoh dan tidak berguna" karena tidak mengerti taktik atau kesulitan mengikuti instruksi pada misi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon djase, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENUJU RINTANGAN KEDUA: RAWA YANG BERBAHAYA

Setelah beristirahat dan merencanakan dengan matang, kelompok tiga melanjutkan perjalanan mereka mengikuti jalur yang sedikit melengkung ke kiri. Corviniann berjalan di depan, menggunakan sihir ilusinya untuk menyamarkan keberadaan mereka dan menjelajahi beberapa meter ke depan untuk memastikan jalur aman. Udara di dalam hutan semakin lembab dan hangat, dengan aroma tanah basah dan pepohonan yang tumbuh subur menyebar di sekitar mereka.

“Jalur di depan mulai sedikit menurun,” suara Corviniann terdengar melalui gelang komunikasi yang dikenakan masing-masing dari mereka. “Saya melihat ada area yang lebih terbuka di kejauhan, tapi sepertinya ada genangan air yang luas di sana. Mohon berhati-hati saat kita mendekat.”

Patti mengangguk meskipun Corviniann tidak bisa melihatnya, kemudian memberi isyarat kepada teman sekelompoknya untuk melambat langkah mereka. “Kita harus berjalan lebih lambat dan hati-hati,” katanya dengan suara rendah namun jelas. “Jika ada genangan air yang luas, itu bisa jadi rawa yang berbahaya dengan tanah yang lunak dan berbahaya di bawah permukaan air.”

Borthworgiann mendekati tepi lereng yang mulai menurun, menggunakan sihir buminya untuk merasakan kondisi tanah di bawah kakinya. “Tanah di sini memang mulai menjadi lebih lunak,” dia mengkonfirmasi. “Ada indikasi bahwa ada banyak air di bawah permukaan tanah di depan kita. Kita harus sangat berhati-hati agar tidak terjebak.”

Setelah berjalan sekitar sepuluh menit lagi dengan langkah yang hati-hati, mereka akhirnya mencapai tepian area yang lebih terbuka. Di depan mereka terbentang hamparan rawa yang luas dengan permukaan air yang tampak tenang namun menyembunyikan bahaya di bawahnya. Tanah di sekitar tepian rawa lembab dan licin, dengan beberapa tanaman rawa yang menjulang tinggi menjulang ke atas dari permukaan air. Udara di sini penuh dengan suara katak dan serangga, namun ada sesuatu yang tidak biasa dalam suasana yang membuat mereka merasa tidak nyaman.

“Ini bukan rawa biasa,” ucap Luminarianna dengan suara yang sedikit tegang, menyalakan nyala api di telapak tangannya lebih terang untuk melihat lebih jelas ke dalam rawa. “Saya merasakan adanya energi magis yang aneh di sekitar sini tidak terlalu kuat tapi cukup untuk membuat saya merasa tidak nyaman.”

Corviniann mengangkat tangannya, menggunakan sihir informasi untuk membaca jejak energi yang ada di area rawa. “Kamu benar,” dia berkata setelah beberapa saat dengan ekspresi yang serius. “Ada jejak energi magis yang menunjukkan bahwa ada makhluk buas yang tinggal di dalam rawa ini. Selain itu, ada juga tanda-tanda bahwa tanah di bawah permukaan air tidak stabil pasti ada lubang dan jurang tersembunyi yang bisa membuat kita tenggelam jika tidak berhati-hati.”

Patti melihat sekeliling area dengan cermat, mengamati pola aliran air dan posisi tanaman rawa yang tumbuh di sekitarnya. Dia mengingat pelajaran yang dia dapatkan dari ibunya tentang bagaimana membaca dan menavigasi daerah rawa yang berbahaya. “Ada cara untuk melewati rawa ini dengan aman,” katanya setelah beberapa saat berpikir. “Kita bisa menggunakan tanaman rawa yang kuat sebagai pijakan dan membuat jalan sementara menggunakan bahan-bahan yang ada di sekitar kita.”

“Bagaimana cara kerjanya?” tanya Borthworgiann dengan rasa penasaran, tetap menjaga jarak dari tepian rawa yang licin.

“Pertama, kita perlu mengidentifikasi tanaman rawa yang kuat dan stabil yang bisa digunakan sebagai pijakan,” jelas Patti dengan cepat mulai membuat perencanaan di tanah menggunakan ranting kecil. “Beberapa tanaman di sini memiliki akar yang sangat kuat yang menjalar di bawah permukaan tanah dan bisa menahan bobot kita. Kita juga bisa menggunakan batang kayu yang tumbang di sekitar tepian rawa untuk membuat jembatan kecil sementara yang menghubungkan antara pijakan-pijakan yang aman.”

“Saya bisa membantu mengidentifikasi pijakan yang aman,” tambah Corviniann dengan mulai fokus pada area rawa di depan mereka. “Sihir ilusi saya bisa membantu saya melihat melalui permukaan air dan melihat di mana tanahnya stabil dan di mana ada bahaya tersembunyi. Saya juga bisa membuat ilusi jalan agar kita bisa melihat dengan jelas jalur yang aman untuk dilewati.”

“Saya akan menggunakan sihir bumi saya untuk memperkuat pijakan-pijakan yang kita pilih,” ucap Borthworgiann dengan semangat yang baru. “Saya bisa membuat tanah di bawah akar tanaman menjadi lebih padat dan stabil, serta membuat bantalan kecil dari batu dan tanah untuk memperkuat posisi kita saat kita melangkah.”

“Dan saya akan menjaga keamanan kita serta memberikan cahaya yang cukup agar kita bisa melihat dengan jelas,” katanya Luminarianna dengan tegas, menyimpan nyala api di tangannya dan mulai mengamati setiap gerakan di dalam rawa dengan cermat. “Jika ada makhluk buas yang muncul dari dalam rawa, saya akan memberikan peringatan segera dan membela kita jika diperlukan.”

Dengan rencana yang jelas, mereka segera mulai bekerja. Corviniann menggunakan sihir ilusinya untuk membuat gambar jalan yang jelas melintang di atas permukaan rawa, menunjukkan titik-titik pijakan yang aman dan area yang harus dihindari. Dia juga membuat ilusi sedikit tinggi di atas permukaan air agar mereka bisa melihat dengan lebih jelas posisi setiap pijakan.

Sementara itu, Borthworgiann menggunakan sihir buminya untuk memperkuat setiap titik pijakan yang diidentifikasi Corviniann. Dia menyentuh tanah dengan tangan yang kuat, dan setiap kali dia menyentuhnya, energi magisnya menyebar ke dalam tanah untuk membuatnya lebih padat dan stabil. Dia juga menggunakan batu kecil dan tanah yang dia gali dari tepian rawa untuk membuat bantalan kecil di setiap pijakan, memberikan permukaan yang lebih aman untuk dilangkahinya.

Patti mulai mengumpulkan batang kayu yang tumbang di sekitar tepian rawa, memilih yang paling kuat dan lurus untuk digunakan sebagai jembatan sementara. Dengan bantuan sihir konstruksinya, dia menyatukan batang kayu tersebut dengan akar tanaman rawa yang kuat, membuat jembatan kecil yang menghubungkan antara pijakan-pijakan yang ada. Setiap sambungan yang dia buat diperkuat dengan runik kecil yang bersinar dengan cahaya kebiruan, memastikan bahwa struktur tersebut kokoh dan stabil.

“Kita harus bergerak satu per satu agar tidak memberikan beban terlalu banyak pada pijakan-pijakan yang kita buat,” ucap Patti setelah mereka selesai membuat jalur sementara yang melintang di atas rawa. “Corviniann akan menjadi yang pertama karena dia paling ringan dan bisa menggunakan ilusinya untuk membantu menjaga keseimbangan jika diperlukan. Saya akan mengikuti setelahnya untuk memastikan bahwa jembatan tetap stabil, kemudian Luminarianna, dan Borthworgiann akan menjadi yang terakhir.”

Corviniann mengangguk dan mulai melangkah ke atas pijakan pertama dengan hati-hati. Dia bergerak dengan gesit dan stabil, mengikuti ilusi jalan yang dia buat sendiri dengan presisi yang luar biasa. Setiap langkahnya diambil dengan sangat hati-hati, memastikan bahwa dia tidak menyentuh area yang tidak stabil atau membuat pijakan bergoyang terlalu banyak.

Setelah Corviniann berhasil mencapai pijakan ketiga dengan aman, Patti mulai mengikutiinya. Dia bergerak dengan lebih lambat namun tetap mantap, memeriksa setiap sambungan jembatan dan pijakan dengan cepat saat dia melangkah. Ketika dia merasa bahwa salah satu pijakan mulai sedikit goyah, dia segera menggunakan sihir konstruksinya untuk memperkuatnya sebelum melanjutkan perjalanannya.

Luminarianna menjadi yang ketiga. Dia membawa nyala api kecil di tangannya untuk memberikan cahaya dan perlindungan, bergerak dengan hati-hati dan selalu menjaga pandangannya pada ilusi jalan yang ada di depannya. Saat dia berada di tengah jalur, angin tiba-tiba bertiup kencang, membawa aroma yang tidak sedap dari dalam rawa dan membuat beberapa tanaman rawa bergoyang dengan kuat. Namun dengan tenang dan fokus, dia tetap menjaga keseimbangannya dan melanjutkan perjalanannya.

Sekarang tinggal Borthworgiann yang masih berada di tepian rawa. Meskipun tubuhnya besar dan berat, dia percaya bahwa pijakan dan jembatan yang mereka buat cukup kuat untuk menahannya. Dia mulai melangkah dengan hati-hati, mengikuti jejak yang sudah dibuat oleh teman-temannya dengan presisi yang luar biasa. Setiap langkahnya diambil dengan sangat hati-hati, memastikan bahwa dia tidak memberikan tekanan berlebih pada satu titik saja.

Namun saat Borthworgiann mencapai pertengahan jalur, sebuah suara rendah seperti dengungan tiba-tiba terdengar dari dalam rawa. Mereka melihat sekeliling dan melihat sebuah makhluk besar muncul dari balik tanaman rawa itu Swamp Serpent dengan tubuh panjang yang ditutupi sisik hijau kehitaman dan mata merah yang menyala dengan kejam. Makhluk itu mengeluarkan suara mendesis yang mengerikan dan mulai bergerak cepat menuju arah jalur sementara yang mereka buat.

“Borthworgiann, cepatlah!” teriak Luminarianna dengan cemas, sudah mulai menyalakan nyala api yang lebih besar untuk membela mereka.

Namun sebelum makhluk itu bisa mencapai jalur, Patti mengambil keputusan cepat. Dia menggunakan sisa energi magisnya untuk memperkuat seluruh jalur sementara sekaligus, membuat runik di setiap sambungan bersinar dengan lebih terang dan struktur menjadi lebih kokoh dari sebelumnya. Pada saat yang sama, Corviniann menggunakan sihir ilusinya untuk membuat bayangan makhluk buas lain yang lebih besar di belakang Swamp Serpent, membuatnya terkejut dan berbalik untuk menghadapi musuh yang tidak ada.

Luminarianna tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia melepaskan bola api yang terkendali dengan presisi tinggi ke arah ekor makhluk itu, tidak untuk menyakiti tapi hanya untuk membuatnya kembali ke dalam rawa. Dengan menggeram kesal, Swamp Serpent berbalik dan menghilang ke balik tanaman rawa yang lebat.

Borthworgiann mengambil napas lega dan segera melanjutkan perjalanannya, mencapai sisi lain rawa dengan aman beberapa saat kemudian. Semua anggota kelompok tiga mengeluarkan napas lega, merasa lega bahwa mereka semua aman dan berhasil melewati rintangan kedua dengan sukses.

“Kita luar biasa sekali!” ucap Luminarianna dengan penuh kegembiraan, memberikan tap bahu pada masing-masing teman sekelompoknya. “Jika bukan karena kerja sama kita yang baik dan perencanaan yang matang, kita pasti akan terjebak di dalam rawa atau diserang oleh makhluk itu.”

“Ini adalah hasil kerja keras kita semua,” jawab Patti dengan senyum rendah hati, mulai memeriksa kondisi masing-masing dari mereka untuk memastikan tidak ada yang terluka atau terkena sesuatu dari rawa. “Setiap orang memberikan kontribusi penting yang membuat kita bisa melewati rintangan ini dengan aman.”

Di luar area uji, Seraphiniana dan Marthandelion mengamati semua yang terjadi dengan mata yang penuh dengan kagum. “Lihat bagaimana mereka bisa mengatasi rintangan yang sangat menantang ini dengan kerja sama yang luar biasa,” ucap Seraphiniana dengan suara yang penuh dengan kebanggaan. “Mereka tidak hanya menggunakan kemampuan masing-masing dengan baik, tapi juga bisa saling mengisi kekurangan satu sama lain.”

Marthandelion mengangguk dengan setuju, matanya tetap terpaku pada layar kristal yang menampilkan kelompok tiga yang sekarang beristirahat sebentar di tepian rawa yang aman. “Mereka sudah menunjukkan bahwa mereka memiliki apa yang diperlukan untuk menjadi anggota guild yang baik,” katanya dengan suara yang dalam dan penuh dengan penghargaan. “Sekarang kita hanya perlu melihat bagaimana mereka menghadapi tantangan terakhir yang akan menguji kemampuan mereka untuk bekerja sama dengan seluruh calon anggota.”

Di dalam area uji, kelompok tiga beristirahat sebentar untuk memulihkan energi dan membersihkan diri dari kotoran rawa yang menempel pada tubuh mereka. Mereka makan sedikit makanan ringan yang tersisa dan menghidrasi diri dengan air yang mereka bawa, kemudian melanjutkan perjalanan mereka dengan langkah yang lebih mantap dan percaya diri.

Mereka tahu bahwa masih ada tantangan besar yang menunggu mereka di depan yaitu tahap terakhir tes praktik yang akan menguji kemampuan mereka untuk bekerja sama dengan seluruh calon anggota. Tapi setelah berhasil melewati dua rintangan yang menantang dengan kerja sama yang luar biasa, mereka merasa lebih siap dari sebelumnya untuk menghadapi apa pun yang akan datang.

“Mari kita lanjutkan perjalanan kita,” ucap Patti dengan suara yang jelas dan penuh semangat, memimpin kelompoknya ke dalam hutan yang lebih dalam. “Kita sudah melalui banyak hal bersama, dan saya yakin bahwa kita akan mampu menghadapi tantangan terakhir ini dengan keberhasilan dan menunjukkan bahwa kita layak untuk menjadi bagian dari Guild SSAWF.”

Dengan hati yang penuh dengan tekad dan persahabatan yang semakin kuat, kelompok tiga melanjutkan perjalanan mereka, siap untuk menghadapi bab terakhir dari tes praktik yang akan menentukan masa depan mereka sebagai anggota Guild SSAWF.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!