Rania keras kepala memilih balikan dengan mantannya, Adrian, meskipun sahabat-sahabatnya sudah memperingatkan bahwa pria itu tidak baik. ia terlalu percaya pada perasaannya sendiri, sampai akhirnya menyadari bahwa Adrian hanya memanfaatkannya. Di saat Rania mulai bangkit dari luka itu, seseorang yang tak terduga justru datang mendekat—Revano, pria dingin yang perlahan mengubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan di tengah malam.
Rania menyipitkan matanya saat melihat notifikasi itu.
Revano mengikutinya di media sosial.
Rania sedikit bingung. Ia menatap layar ponselnya beberapa detik, berpikir apakah ia perlu mengonfirmasi atau tidak.
Beberapa saat kemudian, setelah menimbang-nimbang, Rania akhirnya mengikuti balik akun Revano. Menurutnya tidak ada salahnya. Lagipula, Revano sudah menolongnya tadi.
Rania lalu membuka profil sosial media Revano.
Akun itu terlihat sederhana. Tidak ada yang terlalu mencolok. Bahkan hanya ada satu foto yang diunggah di akun itu.
Namun meskipun hanya satu foto, jumlah orang yang menyukainya hampir mencapai ribuan.
Rania hanya melihatnya sekilas, lalu menutup aplikasi itu.
Ia tidak ingin memberitahukan hal ini kepada teman-temannya. Terutama pada Bunga—bisa-bisa sahabatnya itu kembali heboh seperti tadi.
Rania pun menyimpan ponselnya dan kembali bergabung dalam obrolan bersama sahabat-sahabatnya.
“Bun, lo suka sama Revano?” tanya Rania tiba-tiba di sela-sela obrolan mereka.
“Lo kenapa tanya begitu tiba-tiba?” tanya balik Bunga dengan wajah bingung.
“Tanya aja. Kalau lo gak jawab juga gak apa-apa,” ucap Rania santai.
“Gue gak suka kok. Kagum aja gitu, hehe,” jawab Bunga sambil tersenyum kecil.
“Guys, gue ada cerita,” ujar Freya tiba-tiba, membuat perhatian mereka langsung beralih padanya.
~~
Beskem Revano!
“Hah, sudah jam sepuluh malam,” kaget Darren saat melihat jam yang tergantung di dinding beskem.
“Pantas nih cacing sudah minta makan,” ucap Reyhan sambil mengelus perutnya yang mulai keroncongan.
“Nih, kalian beli makanan,” ucap Revano santai sambil mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya dan menyerahkannya pada mereka.
“Wah, gitu dong peka,” ucap Reyhan sambil cepat mengambil uang dari tangan Revano. Ia langsung bangkit dari duduknya, bersiap menuju warung makan 24 jam yang berada tidak jauh dari beskem mereka.
“Lo seperti kurang duit, Rey. Padahal orang tua lo kaya raya,” ucap Darren sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya itu.
“Itu orang tua gue, bukan gue,” jawab Reyhan santai. Ia lalu menoleh pada kedua temannya. “Kalian mau apa?”
“Seperti biasa,” ucap Revano singkat, lalu berjalan menuju kamarnya yang ada di beskem itu.
“Samain saja,” sahut Darren.
Reyhan pun mengangguk dan segera meninggalkan beskem untuk membeli makanan.
Sementara itu, Revano memasuki kamarnya. Ia langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri setelah seharian beraktivitas.
Beberapa saat kemudian, Revano keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang terasa lebih segar. Ia berjalan menuju meja kecil di sudut kamar lalu mengambil ponselnya yang tergeletak di sana.
Senyum tipis muncul di bibirnya saat melihat notifikasi dari Rania yang sudah mengikutinya balik di sosial media.
Revano lalu keluar dari kamar dan menghampiri Darren yang masih berada di ruang tengah.
“Cantik,” ucap Revano sambil menatap foto Rania di layar ponselnya.
Di media sosial Rania sendiri hanya ada dua foto yang diunggah—satu foto dirinya sendiri dan satu lagi foto bersama sahabat-sahabatnya.
Revano juga sempat memperhatikan daftar pengikut Rania. Gadis itu hanya mengikuti beberapa artis Korea dan sahabat-sahabatnya saja.
{Rania?}
Isi pesan Revano pada Rania.
Beberapa saat berlalu, namun Revano belum juga mendapatkan balasan.
“Mungkin dia lagi gak pegang ponsel,” gumamnya, mencoba berpikir positif.
Tak lama kemudian Reyhan kembali datang membawa makanan yang sudah ia beli dari warung. Aroma makanan langsung memenuhi ruangan beskem.
Revano pun menyimpan kembali ponselnya, lalu bergabung bersama kedua sahabatnya untuk makan malam.
~~
“Gue mulai ngantuk nih,” ucap Bunga dengan mata yang sudah setengah terpejam. Saat ini mereka berempat sedang menonton drama di televisi sambil menikmati berbagai camilan yang mereka bawa.
“Ya udah, kita tidur. Gue juga mulai ngantuk,” ucap Rania yang langsung disetujui oleh sahabat-sahabatnya.
Rania kemudian bangkit dari duduknya dan mematikan televisi. Setelah itu ia menyusul teman-temannya naik ke tempat tidur. Walaupun mereka berempat, tempat tidur Rania masih cukup luas untuk menampung mereka semua.
Beberapa menit kemudian suasana kamar mulai hening.
Rania menatap sahabat-sahabatnya yang satu per satu mulai terlelap. Napas mereka terdengar teratur, menandakan sudah tertidur pulas.
Rania pun ikut memejamkan mata, mencoba tidur. Namun entah kenapa, rasa kantuk yang tadi sempat ia rasakan malah menghilang begitu saja.
Padahal sebelumnya ia benar-benar mengantuk.
Rania mencoba memejamkan mata beberapa kali, membolak-balik posisi tidurnya, tetapi hasilnya tetap sama.
Tidak bisa tidur.
Rania akhirnya beranjak dari tempat tidurnya dengan hati-hati agar tidak membangunkan sahabat-sahabatnya.
“Kok gak bisa tidur sih? Padahal tadi gue ngantuk banget,” gumamnya pelan.
Rania lalu mengambil ponselnya yang berada di atas nakas. Ia sebenarnya tidak tahu ingin melakukan apa, jadi ia hanya berniat bermain ponsel untuk mengusir bosan.
Tiba-tiba matanya menangkap satu notifikasi pesan.
Dari Revano.
“Balas gak ya?” gumamnya pelan pada diri sendiri.
Rania masih menatap pesan itu beberapa detik.
“Tapi dia sudah nyelamatin gue.”
Ia masih ragu sejenak sebelum akhirnya menarik napas pelan.
“Ah, balas aja,” ucapnya akhirnya, lalu mulai membalas pesan dari Revano.
{Ada apa?}
Tak lama setelah pesan itu terkirim, balasan dari Revano langsung muncul.
{Keadaan lo gimana?}
Rania langsung sedikit terkejut melihat kecepatan balasannya.
“Hah, secepat itu dia balasnya,” gumam Rania pelan.
Ia kemudian kembali mengetik balasan.
{Aman. Makasih lo udah nolongin gue}
Beberapa detik kemudian pesan dari Revano kembali masuk.
{Hmm. Kalau mantan lo ganggu lo lagi, laporin ke gue}
{Kenapa harus lapor ke lo?} balas Rania.
Beberapa detik kemudian pesan itu langsung terbaca.
Revano tersenyum tipis menatap layar ponselnya.
{Biar gue yang urus.}
Rania mengernyit membaca balasan itu.
{Gue bisa urus sendiri.}
Revano menyandarkan punggungnya ke sofa, jari-jarinya kembali mengetik.
{Tadi juga lo urus sendiri. Tiga orang langsung bonyok.}
Rania terdiam beberapa saat, sedikit kesal karena Revano mengingat kejadian itu.
{Mereka yang mulai duluan.}
{Gue tau.}
Beberapa detik hening.
Revano kembali mengirim pesan.
{Udah malam. Tidur.}
Rania menaikkan alisnya saat melihat pesan itu.
{Lo nyuruh gue?}
Senyum tipis kembali muncul di wajah Revano.
{Saran.}
Rania menghela napas kecil lalu mengetik balasan.
{Ya udah.}
Beberapa detik kemudian satu pesan lagi masuk dari Revano.
{Good night, Rania.}
Rania hanya menatap pesan dari Revano beberapa saat. Ia membaca ulang kalimat itu, tetapi entah kenapa ia enggan membalasnya kembali.
Akhirnya Rania memilih menutup ruang obrolan tersebut.
Karena rasa kantuknya masih belum datang juga, Rania memutuskan melanjutkan menonton drama di ponselnya. Ia lalu mengambil headset dan memakainya, agar suara dari drama yang ia tonton tidak mengganggu tidur sahabat-sahabatnya.
Sementara itu, di tempat lain, Revano masih sempat melirik layar ponselnya beberapa kali.
Namun karena pesan terakhirnya tidak kunjung mendapat balasan, Revano akhirnya berasumsi bahwa Rania sudah tertidur.
Ia pun tidak lagi menunggu balasan dari gadis itu.
~~
Keesokan paginya, Bunga bangun lebih dulu dari yang lain. Ia perlahan membuka matanya, lalu menoleh ke samping. Sahabat-sahabatnya masih terlelap dalam mimpi, posisi tidur mereka bahkan terlihat cukup berantakan setelah semalaman tidur bersama.
Bunga menghela napas pelan.
Karena tidak tahu ingin melakukan apa, ia akhirnya beranjak dari tempat tidur dengan hati-hati agar tidak membangunkan yang lain. Setelah merapikan sedikit rambutnya, Bunga keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur.
Di dapur, Raisa sudah terlihat sibuk menyiapkan sarapan pagi. Aroma masakan yang harum memenuhi ruangan.
Bunga tersenyum kecil lalu menghampiri wanita itu.
“Pagi, Tante,” sapanya ramah.
Raisa menoleh ketika mendengar suara Bunga.
“Kamu sudah bangun, Nak?”
“Iya, Tante. Tante masak apa nih?”
“Nasi goreng, Nak. Kamu ngapain ke dapur?”
“Aku gak tahu ingin ngapain, jadi aku samperin Tante saja,” ucap Bunga sambil tersenyum. “Aku boleh bantuin gak?”
Raisa menatapnya sejenak.
“Gak ngerepotin nih?”
“Gak sama sekali, Tante.”
“Ya udah, kamu potong sayur ini.”
Bunga mengangguk patuh, lalu mulai memotong sayur-sayuran yang sudah Raisa siapkan di atas meja dapur.
“Yang lainnya belum bangun, Bun?” tanya Raisa sambil tetap sibuk mengaduk nasi goreng di wajan.
“Belum, Tan,” jawab Bunga.
Raisa terus mengajak Bunga mengobrol ringan. Baginya, sahabat-sahabat Rania sudah seperti anaknya sendiri, jadi ia tidak pernah merasa canggung berbicara dengan mereka.
Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar mendekat ke dapur.
“Wah, lagi masak apa nih? Harum banget,” ucap Rhea sambil masuk ke dapur.
“Lagi masak nasi goreng,” jawab Raisa sambil tersenyum.
Rhea melangkah mendekat dan melihat Bunga yang sedang sibuk memotong sayuran.
“Wah, rajin banget pagi-pagi sudah bantu di dapur.”
Bunga terkekeh kecil. “Aku bangun duluan, Kak. Gak tahu mau ngapain, jadi bantu Tante saja.”
“Bagus tuh,” ucap Rhea sambil mengambil segelas air minum.
Raisa kemudian menoleh pada putrinya.
“Rhea, nanti panggilin Rania dan yang lain ya. Sarapannya sudah hampir siap.”
“Iya, Mom,” jawab Rhea singkat.
Setelah meneguk air minumnya, Rhea pun berjalan keluar dari dapur menuju kamar Rania untuk membangunkan mereka.