Zenna Amalia bukanlah perempuan suci. Ia memiliki masa lalu yang kelam, pernah menjadi simpanan pewaris kaya bernama Rendy Wangsa demi membiayai pengobatan ibunya yang sakit kanker.
"Di luar sana, mana ada laki-laki yang sudi bersamamu, apalagi kalau mereka tahu, kamu bukan lagi perempuan yang punya kesucian dan kehormatan?" kata Rendy keji, sebelum mencampakkan Zenna.
Setelah kehilangan segalanya, Zenna berusaha kembali ke jalan yang benar, rela menebus dosa dengan menikahi seorang lelaki arogan bernama Bram Atmaja.
Bram tahu semua masa lalu Zenna, bersedia menikahinya, demi memenuhi wasiat mendiang ayah tirinya, yang juga merupakan ayah kandung Zenna. Meski dari awal, ia juga sudah memperingatkan Zenna bahwa dirinya adalah pria kasar dan arogan, dan barangkali tak akan pernah mencintai Zenna seumur hidupnya.
Pernikahan yang berlangsung dengan itikad penebusan dosa, tanpa cinta pada awalnya, dan dikejar bayang-bayang gelap masa silam, akankah berujung bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Pernikahan Tuan Arogan - Bab 13
"Mama tahu...?"
Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Zenna, dan seketika ia menyesalinya.
Kepedihan di garis-garis wajah Amalia menggurat kian dalam, dan air matanya menggenang.
"Tentu Mama tahu, Nak, Mama ini ibu kandung kamu... Mama bisa melihat dan merasakannya, ada sesuatu di antara kamu dan Rendy. Kamu juga berubah drastis sejak bekerja dengannya."
Amalia menghela napas panjang sejenak, tampak jauh lebih tua dan letih. Sementara Zenna membeku di kursinya seraya menahan jatuhnya air mata.
"Dan semua fasilitas perawatan ini bukan pemberian kantor kepada karyawan. Ini pemberian pribadi Rendy untukmu, benar kan?" lanjut Amalia lirih. "Mama yakin, tak mungkin Rendy melakukannya jika tak ada sesuatu yang istimewa di antara kalian..."
"Maafin Zenna, Ma... maafin Zenna!"
Zenna menjatuhkan piring plastik berisi potongan apel hingga berserakan di lantai. Ia pun berlutut dan meraih tangan Amalia, meletakkannya di dahi dan menangis sejadinya.
"Kenapa kamu minta maaf, Sayang? Kamu nggak salah... bangun, Nak...," gumam Amalia lembut, meski air matanya juga mulai luruh.
"Nggak, Ma... Zenna salah... Zenna udah berbuat dosa... seharusnya Zenna nggak menjalin hubungan apapun dengan Rendy... tapi... tapi..."
Zenna tak bisa melanjutkan kata-katanya. Ia sudah sangat hancur, namun ia juga tak sanggup menghancurkan hati ibunya, apalagi jika Amalia tahu apa yang sudah menimpanya sejauh ini.
"Nak...," Amalia membelai lembut kepala Zenna, lara dan sesal menghias wajah ringkihnya. "Jika ada yang harus disalahkan, itu adalah Mama... Mama yang udah bikin kamu susah dan menderita sampai detik ini... Mama nggak bisa menjagamu dengan baik, seperti seharusnya... maafin Mama, Sayang, maafin Mama..."
Ibu dan anak itu saling melepas tangis dalam pelukan. Zenna bahkan tergugu seperti anak kecil.
"Nak... apa kamu mencintai Rendy?"
Pertanyaan Amalia nyaris membuat Zenna tersedak air matanya sendiri. Ia memandang ibunya dengan netra memerah dan hampa.
"Kenapa... Mama tanya itu?"
"Jika kamu mencintainya, maka kamu harus berjuang keras untuk merelakannya," jelas Amalia perlahan. "Tapi kamu tidak akan sendiri, Sayang... Mama akan selalu di sisimu, menguatkanmu, mendukungmu. Seperti dulu Mama berjuang merelakan dan melupakan Papamu... Mama yakin, kamu juga akan bisa melewatinya, Sayang..."
Amalia diam-diam menelan getir sendiri. Entah mengapa goresan takdir terasa begitu kejam--mengapa putrinya harus mengalami nasib sepertinya, jatuh cinta tetapi tak bisa bersama akibat jurang status sosial yang begitu lebar menganga?
Itulah yang dipikirkan Amalia, sebab ia tak tahu tragedi mengerikan yang sudah menimpa Zenna.
Zenna menarik napas dalam dan berkali untuk menenangkan diri. Ia paham pemikiran ibunya, meski sayangnya itu tak terlalu relevan dengan situasinya sekarang. Sebab tak peduli ia cinta atau benci, ia tak bisa lepas dari Rendy begitu saja.
Kebebasan itu bukan lagi menjadi haknya. Ia sudah kehilangan kehormatannya, dan nyawa sang ibu jadi taruhannya.
Barangkali, Zenna akan terus menjadi budak nafsu Rendy hingga tutup usia. Itulah pil terpahit yang kini mengukir takdirnya.
Tetapi Amalia tak boleh tahu ini. Sebisa mungkin, Zenna akan membawa rahasia ini sampai liang kubur, atau ke dalam kerak neraka sekalipun.
"Mama tak perlu khawatir... Zenna akan baik-baik saja," tutur Zenna lembut, seraya berusaha keras memasang topeng kembali untuk menutupi perasaan dan kebenaran. "Yang lebih penting adalah kondisi Mama. Mama harus berjuang untuk sembuh, ya... Zenna akan selalu ada di sisi Mama. Kalau Mama hidup dan baik-baik saja, maka Zenna akan baik-baik saja. Itu pasti."
Kalimat terakhir itu adalah kejujuran dari hati terdalam. Amalia kembali meneteskan air mata dan membelai pipi putrinya penuh sayang.
"Tentu Mama akan berjuang, Sayang... terima kasih kamu sudah menjadi anak yang sangat berbakti... Allah akan membalas semua kebaikan dan pengorbananmu ini... itu pasti."
Air mata Zenna kembali luruh, namun ia menghapusnya lekas.
"Maaf soal ini...," gumam Zenna seraya membereskan apel yang berceceran. "Zenna kupasin yang baru buat Mama... tunggu sebentar ya, Ma."
Tak ada lagi percakapan mengenai Rendy setelah itu. Zenna kembali mengupas apel dan menyuapi ibunya dengan lembut, sementara Amalia membicarakan hal-hal lain seperti betapa bahagianya ia bisa bersua Kalila lagi, dan apa saja yang sudah diceritakan Kalila saat menjenguknya tempo hari.
"...Kalila baru saja lulus kuliah jurnalistik. Ia bekerja sebagai wartawan di salah satu media besar sekarang. Katanya dia nggak mau meneruskan bisnis Umi dan Abahnya, biar itu jadi urusan Ridwan. Sementara Suri lulusan Akpol dan sekarang jadi polwan, tapi sedang cuti melahirkan..."
Zenna berusaha tampak antusias dan menanggapi dengan sabar, meski dalam hati ia tak sungguh peduli dengan semua itu. Ia tetap kukuh ingin menutup diri dari dunia.
"...Kalila bilang dia akan ke sini lagi jam lima sore nanti. Kamu bisa ketemu dan ngobrol sama dia, Sayang," ujar Amalia dengan mata berbinar.
"Ah... itu. Sayangnya Zenna nggak bisa, Ma, Zenna harus ke kantor, ada kerjaan yang perlu diselesaikan, maaf," elak Zenna penuh dusta.
"Ooh, begitu," raut muka Amalia berubah sendu. "Ya sudah... nanti Mama sampaikan salammu buat Kalila. Kapan-kapan kalau kamu libur, sisihkanlah waktu untuk silaturahim dengan Kalila dan keluarganya, ya. Suri juga baru saja melahirkan. Kamu jenguklah bayinya, mewakili Mama. Ya?"
Zenna terdiam sejenak. Ia menimbang, namun sadar pada akhirnya, lagi-lagi ia tak punya pilihan.
"Ya, Mama..."
***