Karina, seorang wanita cantik yang sangat mandiri. Karena di usianya yang baru 23 tahun sudah memiliki toko bakery sendiri hasil kerja kerasnya.
Namun, tiba-tiba saja hidupnya berubah drastis saat ada seorang laki-laki yang datang ke tokonya mencari roti untuk sang ibu, hingga membuat hidupnya terus di hantui oleh laki-laki itu yang ternyata seorang duda.
Andrian Jayatama Persadha, seorang duda berusia 41 tahun, yang sudah menduda selama 7 tahun tiba-tiba saja di paksa menikah lagi oleh ibunya, hingga dia bertemu seorang wanita cantik yang menurutnya tipe idaman ibunya sekali.
Akankah perjuangan Andrian membuahkan hasil untuk mendapatkan hati Karina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malu
Karina benar-benar tertidur dengan begitu pulasnya, sampai dia tidak sadar dimana dia tidur malam itu.
Saat terbangun, dia terbangun dalam keadaan yang benar-benar sangat luar biasa segarnya.
"Ahhh..." rasanya nyaman sekali tidurnya malam ini.
"Eh, tunggu dulu." Karina baru sadar jika dia tidur di kamar Adrian.
Ya, kamar ini adalah kamar yang dia masuki tadi malam dan apa ini? kenapa dia ada di atas tempat tidur?
"Astaga Karina! bego banget sih elu Karina." dia merutuki kebodohannya yang tidak sadar dimana dia tidur tadi malam.
"Selamat pagi cantik."
Deg!
Karina langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh mungilnya hingga tak terlihat lagi, membuat Adrian yang melihat itu merasa gemas di buatnya.
"Hey, kenapa begitu?" tanya Adrian menarik selimut Karina dengan lembut agar bisa melihat wajah bangun tidur gadis cantiknya.
"Ih, om aku belum gosok gigi, belum cuci muka juga. Aku jelek banget pasti!" gumam Karina yang terus berusaha mempertahankan selimut yang menutupi tubuhnya.
Dia benar-benar merutuki kebodohannya. Bagaimana bisa dia tertidur di kamar Adrian begini. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan? ah, rasanya Karina ingin berteriak mengumpat dirinya sendiri sekarang.
"Karina?"
"Mandilah, saya akan pinjamkan baju Every untuk kamu. Nanti biar bibi yang mengantarnya ke sini." Karina mengangguk di dalam selimutnya. Eh, lebih tepatnya selimut milik Adrian yang telah di bajaknya semalaman.
"Oke, saya pergi dan segera turun ke meja makan ya. Sebentar lagi sarapan." sekali lagi, Karina hanya mengangguk saja.
Adrian pergi, dan Karina baru membuka selimutnya. Menghela nafasnya dengan berat.
"Bodoh banget lu Karina!" umpatnya lagi setelah Adrian keluar dari kamar.
Nah, sekarang Adrian masuk ke dalam kamar adiknya tanpa permisi untuk mencari baju mana yang cocok untuk Karina pakai.
Di saat dia sedang membuka lemari Every, tiba-tiba saja pemilik kamarnya datang.
"Loh, kakak ngapain disini?" tanya Every heran melihat kakanya yang terlihat sedang mencari sesuatu di ruangan pribadinya.
"Kak?" panggil Every lagi saat kakaknya tidak menjawab.
"Kakak ngapain sih? Cari apa coba di kamar aku?" ulang Every lagi.
"Jangan berisik. Kakak lagi cari baju untuk Karina. Tadi malam dia ketiduran di kamar kakak, jadi-"
"What?!" pekik Every dengan suara melengking miliknya yang sangat di benci Adrian.
Lihat saja, saat ini Adrian sudah menutup kedua telinganya ketika Every berteriak begitu padanya.
"Kamu bisa diam tidak?"
"Aku harus bilang sama ibu! Pokoknya ibu harus tau soal ini kalau kakak udah-" Every tidak bisa menjelaskan lebih jauh lagi.
"Kakak sadar gak sih kak Karina itu masih kecil. Kakak ngelakuin itu sama dia di luar hubungan pernikahan? kasihan Karina kak. Kenapa kakak tega banget sih sama anak kecil itu. Mana badan makin tua makin tebel aja kayak tembok Cina. Sedangkan Karina, aduh gak tau deh aku bayanginnya badan sekecil itu bertarung dengan badan kakak yang gede ini. Astaghfirullah..."
Adrian hanya bisa menghela nafasnya dengan berat mendengar semua ocehan tidak masuk akal adiknya itu.
"Sudah bicaranya?" tanya Adrian santai tanpa ingin menanggapi drama adiknya pagi ini.
"Belum! Aku belum bilang sama ibu!" jawab Every.
"Yasudah bilang sama ibu. Kalau perlu sekalian suruh bawa penghulunya biar kakak nikahi Karina hari ini juga!"
"Kakak!!!" pekik Every lagi yang menanggapi kakaknya ini.
"Kamu terlalu berlebihan Every. Karina ketiduran di kamar, jadi kakak tidur di kamar tamu." jelas Adrian pada adiknya itu.
Sengaja Every masih mencari kebenaran dari perkataan kakaknya. Walau dia tau jika kakaknya ini tidak berbohong, tapi bagaimana ya. Dia harus mencari semuanya.
"Every, cepat Carikan bajunya untuk Karina." ujar Adrian yang memaksa adiknya itu, hingga akhirnya Every mencarikan baju untuk adiknya.
"Bayar!" jawab Every pada kakaknya.
"Kembalikan dulu kartu milik kakak yang kamu pakai, baru kakak akan bayar!"
"Dih, mainnya ngancem gitu. Gak asik banget." balas Every lagi.
Tapi walau begitu dia tempat mencari baju untuk di pakai Karina dan dia sendiri yang mengantarnya untuk calon kakak iparnya yang jauh lebih muda darinya itu.
"Karina, yuhuuuu..." Every berteriak memanggil Karina yang berada di dalam kamar mandi. Bahkan yang membuat Karina kaget ketika wanita itu masuk ke dalam kamar mandi saat dia sedang mandi.
"Eh, Tante..."
"What? Tante? Yang bener aja kamu ya Karina! Aku memang lebih tua dari kamu, tapi aku itu calon adik ipar kamu ya! Jadi panggil aku Every yang paling cantik. Atau adik ipar yang cantik." ucapnya dengan penuh percaya diri.
"Udah, ah nanti aja ceritanya. Ini pakai dulu bajunya, habis itu turun ke bawah untuk makan, sebelum penguasa rumah ini marah, oke!" ujar Every sebelum pergi meninggalkan Karina yang masih diam mematung dengan memegangi handuknya.
***
belajar memangil mas jan om