Sinopsis: Singa yang Menunduk pada Mawar
Habib Ghibran Fahreza Al-Husayn adalah sosok "Singa" yang dingin dan kaku, hingga sebuah tragedi merenggut nyawa adiknya, Azlan, tepat sebelum hari pernikahan. Terikat janji dan kehormatan, Ghibran terpaksa melangkah maju menggantikan posisi adiknya untuk menikahi Syarifah Aira, wanita yang seharusnya menjadi adik iparnya. Di bawah atap Pesantren Al-Husayn, Ghibran harus belajar menundukkan egonya demi memenangkan hati Aira, hingga ia memutuskan mengganti nama pesantrennya menjadi Salsabila sebagai bentuk pengabdian cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di antara pola dan doa
Pagi itu, Pesantren Salsabila tidak lagi dibangunkan oleh suasana mencekam atau sirine polisi. Suara alam kembali mengambil alih; kicau burung di dahan pinus dan gemericik air wudu dari pancuran asrama menjadi simfoni yang mendamaikan. Tidak ada lagi bayang-bayang Hanan atau Mahendra Kencana. Hanya ada aroma tanah basah setelah hujan semalam dan wangi kopi yang baru saja diseduh Aira di dapur ndalem.
Aira berdiri di depan meja besar di ruang tengah yang kini ia sulap menjadi studio desain sementara. Di atas meja itu, berserakan sketsa-sketsa seragam baru untuk santriwati. Ia ingin mengganti warna hijau tua yang kaku dengan warna sage green yang lebih lembut, dipadukan dengan aksen bordir kecil berbentuk bunga melati di bagian kerah—sebagai penghormatan halus untuk ibunya, Sarah.
Langkah kaki yang tenang terdengar mendekat. Aira tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Aroma kayu cendana yang bercampur dengan sabun mandi segar sudah menjadi kompas bagi indranya.
"Masih terlalu pagi untuk bekerja, Salsabila," suara rendah Ghibran menyapa tepat di samping telinganya.
Aira tersenyum tanpa mengalihkan pandangan dari kertas polanya. "Ide-ide ini datang saat fajar, Kak. Jika tidak segera digambar, mereka akan terbang terbawa angin."
Ghibran tidak menjawab. Ia justru melakukan sesuatu yang membuat napas Aira tertahan sejenak. Ia menarik kursi kayu di sebelah Aira, duduk di sana, dan mulai memperhatikan jemari istrinya yang lincah menggerakkan pensil. Ghibran meletakkan secangkir teh melati hangat di dekat tangan Aira.
"Minum dulu. Aku tidak mau perancang busana terbaikku jatuh sakit karena lupa sarapan," ujar Ghibran dengan nada yang jauh lebih lembut daripada instruksinya kepada para santri.
Aira berhenti sejenak, menoleh ke arah suaminya. Ia melihat memar di pipi Ghibran sudah mulai memudar, menyisakan wajah tegas yang kini tampak lebih rileks. "Terima kasih, Kak. Kakak sendiri kenapa sudah rapi? Bukankah rapat dengan Dewan Pembina baru dimulai jam sembilan nanti?"
"Aku ingin melihatmu dulu," jawab Ghibran jujur. Ia meraih salah satu sketsa Aira. "Bordir ini... melati?"
"Iya. Aku ingin setiap santriwati di sini membawa sedikit semangat Ibu Sarah. Kesucian yang kuat, meski tersembunyi," bisik Aira.
Ghibran menatap sketsa itu, lalu beralih menatap mata Aira. "Kamu sangat mirip dengannya. Bukan hanya wajahmu, tapi cara kamu memperjuangkan sesuatu yang kamu yakini benar."
Momen-Momen yang Mencair
Kehidupan mereka sebagai pasangan suami istri perlahan mulai menemukan ritmenya. Jika dulu mereka makan dalam keheningan yang menyesakkan, kini meja makan menjadi tempat berbagi cerita. Ghibran mulai belajar terbuka tentang kesulitan mengelola keuangan yayasan yang sempat dikorupsi oleh Aminah, sementara Aira menceritakan tentang mimpinya membawa produk santriwati ke pasar nasional.
Sore harinya, Ghibran mengajak Aira ke area pembangunan perpustakaan baru. Bangunan itu terletak di sisi timur, menghadap langsung ke lembah yang hijau.
"Aku ingin tempat ini menjadi pusat ilmu yang terbuka untuk siapa saja," ujar Ghibran sambil menunjukkan maket bangunan pada Aira. "Azlan dulu selalu mengeluh karena perpustakaan lama terlalu gelap dan pengap. Dia ingin santri bisa membaca sambil melihat langit."
Aira menyentuh dinding bata yang baru setengah jadi. "Azlan pasti akan sangat bangga melihat ini, Kak."
"Aku harap begitu," sahut Ghibran. Ia kemudian menarik Aira ke area yang lebih sepi, di balik tumpukan kayu jati yang belum terpakai. "Aira, ada sesuatu yang ingin aku berikan padamu. Sebenarnya ini sudah lama aku simpan."
Ghibran merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua. Saat ia membukanya, sebuah cincin emas dengan permata safir kecil berkilau tertimpa cahaya senja.
"Ini bukan cincin wasiat. Ini bukan cincin pemberian keluarga," ujar Ghibran, suaranya sedikit gugup—sebuah pemandangan langka bagi seorang Ghibran Al-Husayn. "Aku membelinya sendiri dengan hasil kerjaku sebagai editor di Jakarta dulu. Aku ingin memberikan ini saat pernikahan kita, tapi saat itu keadaan terlalu kacau untuk menyebut ini sebagai tanda cinta."
Ghibran mengambil tangan kanan Aira, menyelipkan cincin itu ke jari manisnya. Ukurannya pas, seolah cincin itu memang diciptakan untuknya.
"Salsabila, maukah kamu memulai semuanya denganku lagi? Bukan sebagai istri yang terjebak dalam wasiat adikku, tapi sebagai wanita yang aku pilih untuk menemaniku sampai rambut kita memutih?"
Air mata haru menggenang di pelupuk mata Aira. Ia tidak pernah menyangka pria sedingin Ghibran bisa melakukan hal seromantis ini. Ia tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan menghambur ke pelukan Ghibran, membenamkan wajahnya di dada suaminya yang kokoh.
"Iya, Kak. Aku mau. Aku sangat mau," bisik Aira di sela isakannya.
Ghibran mendekapnya erat, seolah tak ingin melepaskan harta paling berharganya itu lagi. Di bawah langit senja yang berwarna jingga keemasan, mereka tidak lagi merasa seperti dua orang yang terikat oleh beban masa lalu. Mereka hanyalah sepasang kekasih yang baru saja menemukan dermaga setelah terombang-ambing di lautan badai.
Kedamaian bagi Zivanna
Malam harinya, suasana di paviliun belakang juga mulai kondusif. Zivanna tampak sedang menimang bayinya di kursi goyang. Bayi itu kini memiliki nama yang indah: Ahmad Rayyan. Ghibran yang memberikan nama itu, yang berarti pintu surga bagi mereka yang berpuasa.
Aira masuk membawa beberapa pakaian bayi yang baru saja ia jahit sendiri. "Bagaimana keadaannya, Zivanna?"
"Dia sudah mulai tenang, Mbak," ujar Zivanna dengan senyum tipis. "Terima kasih sudah menjamin keamanan kami. Aku merasa... untuk pertama kalinya aku punya keluarga yang benar-benar menjagaku, bukan memanfaatkanku."
"Kamu adik kami, Zivanna. Selamanya akan begitu," sahut Aira tulus.
Namun, saat Aira hendak kembali ke ndalem, ia melihat Ghibran sedang berdiri di depan pintu kamarnya, menunggu dengan wajah yang penuh arti. Ia tidak lagi memegang berkas atau ponsel. Ia hanya berdiri di sana, menatap Aira dengan pandangan yang membuat jantung Aira berdegup kencang secara berbeda.
"Aira," panggil Ghibran lembut saat Aira mendekat.
"Ya, Kak?"
Ghibran meraih jemari Aira, menuntunnya masuk ke dalam kamar mereka yang kini selalu harum dengan aroma mawar segar. Ia menutup pintu perlahan, mengunci dunia luar dengan segala kerumitannya.
"Malam ini, bisakah kita melupakan sejenak bahwa kita adalah pengelola pesantren?" bisik Ghibran, jarak di antara mereka kini hanya setipis embun pagi. "Malam ini, aku hanya ingin menjadi Ghibran yang mencintai Salsabila."
Aira mendongak, melihat ketulusan yang murni di mata suaminya. Ia tersenyum malu, namun tangannya balas melingkar di leher Ghibran. "Dan malam ini, aku hanya ingin menjadi Aira-mu, Kak."
Di dalam kamar yang tenang itu, di bawah cahaya lampu tidur yang temaram, rasa canggung yang selama berbulan-bulan menghalangi mereka akhirnya mencair sepenuhnya. Bukan hanya raga yang menyatu, tapi juga dua jiwa yang telah lelah berperang melawan dunia, akhirnya menemukan kedamaian dalam pelukan satu sama lain.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...
jngan Bilang yaa punya Anak Di Luar Nikah 🤣😂😂