NovelToon NovelToon
JODOH, YANG DIJODOHKAN

JODOH, YANG DIJODOHKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anna ceriya

Selama lebih dari tiga dekade, persahabatan antara Keluarga Lenoir dan Hadinata telah menjadi tonggak dalam kehidupan kedua keluarga. Dari berbagi suka duka hingga merencanakan masa depan bersama, ikatan mereka semakin mengakar dalam setiap aspek kehidupan. Untuk memperkokoh hubungan yang sudah terjalin erat itu, kedua kepala keluarga memutuskan untuk mengikatkan anak-anak mereka melalui perjodohan—suatu langkah yang dianggap akan menyatukan kedua keluarga menjadi satu kesatuan yang lebih kuat.

Aslan Noah Lenoir 28 tahun Pewaris Lenoir Group Dari Paris dan Alana Hadinata 20 tahun berdarah Campuran dari sang ibu ( Helena dubois ) terpaksa harus menjalani rencana perjodohan yang tidak mereka inginkan, gaya hidup mereka yang berbeda sering kali membuat Alana merasa terjebak dalam permainan Aslan yang vulgar dan penuh tantangan.
____

Bisakah dua hati yang terpaksa bertemu menemukan kedekatan yang tulus?
Ataukah perjodohan ini hanya akan menjadi beban dan merusak persahabatan keluarga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna ceriya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14.

Mobil hitam Aslan melaju membelah jalan raya malam yang sepi menuju Paris. Lampu-lampu kota yang berkedip di kejauhan seolah menari mengikuti irama hati pria itu. Sepanjang perjalanan, sebuah senyuman lebar tak pernah lepas dari wajahnya yang tampan. Bahkan saat rasa lelah mulai merayap di kelopak matanya, senyum itu tetap terukir indah, didorong oleh kehangatan yang baru saja ia rasakan bersama Alana. Pikirannya terus menerawang pada sosok gadis itu—pada senyum malu-malu nya, pada suara tawanya yang renyah, dan pada tatapan mata cokelatnya yang begitu tulus.

Ketika akhirnya mobilnya memasuki garasi bawah tanah apartemennya di Le Marais, malam sudah sangat larut. Namun, rasa lelah fisik itu tidak mampu mengalahkan semangat yang membara di dalam dadanya. Ia tahu, mulai besok, hidupnya akan berbeda. Ia tidak akan lagi membiarkan waktu berlalu sia-sia.

 

Keesokan harinya, matahari baru saja mengintip dari ufuk timur, namun Aslan sudah bangun. Ia tiba di kantor Lenoir Group jauh lebih awal dari biasanya. Ia mengenakan setelan jas berwarna navy yang pas di badan, kemeja putih bersih, dan dasi yang diikat rapi. Penampilannya memancarkan karisma yang luar biasa—sikap menawan yang selalu membuat orang-orang di sekitarnya merasa nyaman sekaligus terkesan. Para staf yang baru datang menyapanya dengan hormat, namun mata mereka tak bisa lepas dari sosok Aslan yang tampak lebih bersinar dan hidup hari ini.

Tanpa membuang waktu, setelah meletakkan tas kerjanya di ruangannya, Aslan berjalan menuju ruangan ayahnya, Marcel Lenoir. Pintu ruangan itu sedikit terbuka, dan Aslan mengetuknya pelan sebelum mendorongnya masuk.

Marcel yang sedang duduk di belakang meja kerjanya sambil meminum kopi paginya, mendongak dan tersenyum melihat putranya. "Selamat pagi, Aslan. Kau datang lebih awal hari ini. Ada urusan penting?"

Aslan tersenyum, lalu duduk di kursi tamu di hadapan ayahnya. "Ada, Pa. Dan aku rasa ini adalah kabar yang cukup penting."

Marcel meletakkan cangkir kopinya, menatap putranya dengan penuh perhatian. "Oh? Tentang apa?"

"Tentang Alana," jawab Aslan langsung. Matanya berbinar. "Aku bertemu dengannya kemarin. Di Paris."

Mata Marcel seketika membelalak lebar, terkejut. "Alana? Di Paris? Bukankah dia seharusnya sedang di Swiss?"

"Benar, Pa. Dia sedang cuti singkat dan mengunjungi Nenek Aretha di Lyon, lalu mereka pergi jalan-jalan ke Paris," jelas Aslan. "Dan sungguh takdir yang ajaib, Kami bertemu secara tidak sengaja di sebuah pusat perbelanjaan—awalnya dengan tabrakan yang cukup kacau, tapi akhirnya kami menyadari siapa satu sama lain."

Wajah Marcel seketika dipenuhi rasa senang yang luar biasa. Ia tersenyum lebar, tampak sangat lega dan bahagia. "Benarkah? Astaga... itu kabar yang sangat menggembirakan, Nak! Aku tidak menyangka kalian akan bertemu secepat ini, dan dengan cara yang begitu... unik. Jadi, bagaimana menurutmu tentang dia? Apakah dia seperti yang aku ceritakan?"

Aslan menghela napas panjang, senyumnya semakin lebar. "Dia jauh lebih dari itu, Papa. Alana... dia gadis yang luar biasa. Cerdas, cantik, dan memiliki hati yang sangat hangat." Ujar Aslan Jujur, wajannya berseri saat membicarakan namanya.

Namun, di balik rasa senangnya itu, sekelebat rasa khawatir perlahan muncul di wajah Marcel. Ia menatap putranya dengan tatapan serius namun lembut. "Aku sangat senang mendengarnya, Aslan. Sungguh. Tapi... aku harus bertanya. Bagaimana perasaanmu sekarang? Dulu, kau menolak rencana ini dengan sangat keras. Kau merasa perjodohan ini kuno dan tidak adil bagimu. Apakah kau yakin dengan apa yang kau rasakan sekarang? Apakah kau benar-benar siap untuk menjalin hubungan serius dengan Alana, atau ini hanya sekadar rasa penasaran sesaat karena pertemuan yang tak terduga?"

Pertanyaan itu membuat Aslan terdiam sejenak. Ia menatap wajah ayahnya, lalu menundukkan pandangannya sejenak sebelum kembali menatap Marcel dengan tatapan yang tegas dan tulus.

"Pa," ucap Aslan pelan namun tegas. "Dulu, aku memang menolak. Aku menolak karena aku merasa kebebasanku dirampas, karena aku merasa diperlakukan seperti barang dalam kesepakatan bisnis. Tapi kemarin, saat aku berbicara dengan Alana, saat aku melihat matanya... semua keraguan itu hilang. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, dan aku tidak bisa memastikan apa yang ada di hati Alana. Tapi satu hal yang aku tahu pasti, aku tidak menyesal bertemu dengannya. Dan aku ingin mengenalnya lebih jauh. Bukan karena perintah dari mu, bukan karena kesepakatan keluarga, tapi karena aku sendiri yang menginginkannya."

Mendengar jawaban putranya itu, rasa khawatir di hati Marcel perlahan menghilang, digantikan oleh rasa bangga yang mendalam. Ia tersenyum hangat, lalu berdiri dan berjalan mendekati Aslan, menepuk bahu putranya dengan lembut.

"Itu jawaban yang ingin aku dengar, Nak," ucap Marcel lembut. "Aku senang akhirnya kau bisa membuka hatimu. Alana adalah gadis yang baik, dan aku yakin kalian berdua cocok satu sama lain. Tapi ingatlah satu hal, Aslan. Hubungan itu butuh waktu, kesabaran, dan pengertian. Jangan pernah memaksakan kehendakmu, dan hargailah perasaan Alana sepenuhnya. Jika kalian memang ditakdirkan untuk bersama, semuanya akan berjalan dengan indah pada waktunya."

Aslan mengangguk, merasakan kehangatan sentuhan tangan ayahnya. "Aku mengerti, Papa. Aku akan berusaha sebaik mungkin. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini."

Marcel tersenyum puas. "Baiklah. Kalau begitu, apa rencanamu selanjutnya? Alana kembali ke Swiss, bukan?"

Aslan tersenyum licik, sebuah ide cemerlang tiba-tiba muncul di benaknya. Ia teringat pada proyek pengembangan bisnis Lenoir Group di Lausanne yang belum ditangani secara serius. Matanya berbinar.

"Tentang itu, Aku punya ide. Bagaimana jika aku yang turun langsung ke Swiss untuk menangani proyek kompleks bisnis di Lausanne? Aku bisa mengurus pertemuan dengan investor, memantau lokasi, dan membangun hubungan dengan mitra bisnis di sana. Sebagai pewaris perusahaan, aku rasa ini saatnya aku terjun lebih jauh ke lapangan."

Marcel mengerutkan kening sejenak, lalu tersenyum pahit namun mengerti maksud tersembunyi di balik mata putranya. "Oh, begitu kah? Ternyata bukan hanya urusan bisnis yang membuatmu ingin ke sana, ya?"

Aslan tertawa kecil, tidak menyembunyikan niatnya lagi. "Bisnis tetap bisnis, Pa. Tapi jujur saja... aku ingin berada di kota yang sama dengan Alana. Aku ingin bisa melihatnya, menemani nya, dan mengenalnya lebih dekat. Aku tidak ingin jarak menjadi penghalang di antara kami sekarang."

Marcel menggelengkan kepala dengan senyum bahagia. "Kau memang anak yang licik, Aslan. Tapi baiklah, aku setuju. Uruslah semuanya dengan baik. Jangan sampai bisnismu hancur hanya karena kau sibuk mengejar cinta, Aslan."

"Tentu saja, Pa! Aku akan membuat proyek itu sukses besar," jawab Aslan antusias, berdiri dari duduknya. "Terima kasih, Pa. Terima kasih untuk segalanya."

Aslan keluar dari ruangan ayahnya dengan hati yang melonjak kegembiraan. Rencana itu sudah terbentuk di kepalanya. Swiss, tunggulah aku. Dan Alana... sayangku, bersiaplah. Aku akan segera datang, dan kali ini, aku tidak akan membiarkanmu pergi dengan mudah.

1
Mia Camelia
lanjut thor👍
Anna ceriya: terimakasih atas support nya kaka🙏💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!