Berabad-abad setelah perang yang menghancurkan dunia Avalon, perdamaian tidak lebih dari sebuah tirai rapuh yang menyembunyikan ambisi-ambisi kuno dan rahasia-rahasia yang telah lama terkubur. Kael Ashvern, seorang remaja dari desa Ashfall, menjalani kehidupan yang tenang—hingga sebuah tragedi mendadak memaksanya melangkah jauh melampaui batas segala yang pernah ia kenal, dan mengungkapkan bahwa kalung warisan orang tuanya adalah salah satu dari dua puluh Philosopher Stones, artefak paling kuat yang lahir dari sisa-sisa The Great War.
Diburu oleh faksi-faksi yang saling bersaing dan dibayangi oleh kekuatan gelap yang mulai menggeliat kembali, Kael perlahan memahami bahwa dirinya bukan sekadar korban takdir. Untuk bertahan hidup, ia harus menghadapi dunia di mana kekuatan besar tidak pernah datang tanpa pengorbanan.
Mampukah Kael melewati ujian-ujian yang menantinya dan mengungkap kebenaran di balik hilangnya kedua orang tuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon celvinworks, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Penuh Darah
Aku terbangun karena bau asap—bukan asap hangat dari perapian yang biasanya menghangatkan malam-malam kami, melainkan sesuatu yang lebih tajam, lebih menyengat, seperti kayu yang terbakar terlalu cepat dengan api yang terlalu rakus menelan segalanya.
Melompat dari kasur, aku berlari ke jendela.
Langit malam berwarna oranye.
Api. Di tepian desa—tiga rumah, tidak, empat rumah terbakar dengan asap hitam membumbung tinggi, menutupi bintang-bintang yang baru saja bersinar damai. Suara teriakan, tangisan, kekacauan menghancurkan keheningan malam yang seharusnya tenang.
Pintu kamarku meledak terbuka—menghantam dinding dengan suara yang membuat jantungku melompat.
Kakek berdiri di ambang pintu, sudah mengenakan baju zirah kulit tipis yang belum pernah kulihat sebelumnya, pedang panjang terhunus di tangan kanan, wajahnya tenang dengan ketenangan yang justru menakutkan karena terlalu tidak wajar untuk situasi seperti ini.
"Mereka datang lebih cepat dari yang kuduga," katanya dengan nada datar yang membekukan. "Kael, ambil pedangmu, peta, amplop, dan perbekalan. Sekarang!"
"Kakek, ada apa—"
"SEKARANG!"
Aku bergerak tanpa berpikir—tubuh mengambil alih ketika pikiran masih terlalu kacau untuk memproses apa pun. Meraih pedang sungguhan dari sudut kamar, menjejalkan peta dan amplop ke dalam tas kulit kecil bersama botol-botol obat, batu api, pisau—semua yang Kakek ajarkan untuk selalu disiapkan. Tanganku gemetar seperti daun dilanda badai, tapi ingatan otot dari tiga hari latihan terakhir mengambil alih, membuat jari-jari yang goyah ini tetap bergerak dengan presisi.
Ketika keluar dari kamar, Kakek sudah berdiri di depan pintu utama seperti patung penjaga yang membatu, menatap ke arah desa yang terbakar dengan mata yang seolah bisa menembus api dan asap.
"Berapa banyak?" tanyaku, suara tersangkut di tenggorokan yang terasa tercekik.
"Terlalu banyak." Ia tidak menoleh sedetik pun. "Shadow Syndicate. Aku mengenali gaya mereka—api untuk menciptakan kekacauan, memancing kepanikan, lalu serangan dari bayang-bayang ketika semua orang terlalu sibuk menyelamatkan diri."
Jantungku berderap seperti kuda liar. "Kita harus lari—"
"Kamu yang lari." Kakek berbalik, menatapku dengan pandangan yang membuat waktu serasa berhenti. "Aku akan menahan mereka."
"Apa? Tidak! Aku tidak akan—"
"Kael." Suaranya seperti besi yang ditempa dalam api neraka. "Kamu ingat janjimu semalam? Kamu bilang akan mendengarkanku."
"Tapi aku tidak berjanji untuk meninggalkan Kakek mati sendirian!"
"Aku tidak akan mati." Ia tersenyum—senyum tipis yang tidak mencapai matanya, senyum yang lebih menyerupai luka daripada kegembiraan. "Aku adalah Hantu Medan Perang. Mereka harus berusaha jauh lebih keras dari ini."
Sebuah ledakan menggelegar dari arah pasar—rumah Bu Marta, tempat kami membeli kue apel kemarin dengan senyum dan tawa, ambruk dalam kobaran api yang menyemburkan percikan ke langit malam.
Kakek mendorongku ke arah belakang rumah dengan gerakan yang tidak memberi ruang untuk bantahan. "Keluar dari sini. Ikuti rute yang kutunjukkan di peta—jangan berhenti, jangan menoleh ke belakang, tidak dengan alasan apa pun. Mengerti?"
"Kakek—"
Ia memelukku.
Cepat. Erat. Seperti berusaha menuangkan tujuh belas tahun kasih sayang ke dalam satu pelukan singkat.
"Aku bangga padamu, Kael. Apa pun yang terjadi setelah ini, apa pun yang kamu lihat atau dengar—ingat itu."
Lalu ia mendorongku keluar.
"LARI!"
Aku berlari.
Kaki terasa berat seperti berlari melalui air yang kental, setiap langkah terasa salah seperti mengkhianati semua yang Kakek ajarkan tentang kesetiaan dan keberanian, setiap napas seperti pengakuan bahwa aku seorang pengecut yang meninggalkan orang yang paling kucintai untuk menghadapi kematian sendirian.
Tapi aku terus berlari.
Melewati halaman belakang. Melompati pagar kayu. Masuk ke dalam hutan pinus di tepian desa yang gelap dan dingin.
Di belakangku, suara ledakan lain—dan sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih mengerikan. Suara benturan logam.
Pedang.
Kakek sedang bertarung.
Aku berhenti. Berbalik—
Jangan.
Jangan menoleh.
Tapi aku tidak bisa menahan—seperti ada tali tak terlihat yang menarik kepalaku, memaksaku menyaksikan apa yang seharusnya tidak kusaksikan.
Melalui celah di antara pepohonan yang bergoyang dalam angin malam, aku melihat Ashfall—separuh desa sudah terbakar dengan api yang menelan rumah-rumah kayu seperti monster yang kelaparan. Di tengah jalan utama, satu sosok kecil berdiri sendirian dikelilingi bayang-bayang.
Bukan bayang-bayang biasa yang terbentuk dari cahaya dan kegelapan. Ini bergerak dengan kehendak sendiri, melengkung dan mengalir seperti asap hitam yang diberi wujud manusia dengan mata merah menyala seperti bara dari api neraka.
Shadow Syndicate.
Dan di tengah mereka semua, Kakek.
Pedangnya berkilau di bawah cahaya api yang membuat bayang-bayang menari di sekelilingnya. Ia bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk seorang lelaki seusianya—cepat, terlalu cepat untuk mata mengikuti setiap detailnya. Satu ayunan, tiga bayang-bayang lenyap dan meledak menjadi asap. Ia berputar dengan anggun yang mematikan, menusuk, menebas—setiap gerakan efisien tanpa setetes energi yang terbuang sia-sia.
Tapi jumlah mereka terlalu banyak.
Untuk setiap bayang-bayang yang ia hancurkan, dua lagi muncul dari kegelapan seperti hydra yang kepalanya terus tumbuh kembali.
Dan kemudian—aku melihatnya.
Sosok berkerudung putih berdiri di atas atap rumah yang terbakar seperti raja yang mengamati kerajaannya—lebih besar dari bayang-bayang lain dengan aura di sekelilingnya yang berbeda. Lebih padat, lebih nyata, lebih berbahaya dengan cara yang membuat nalurinya berteriak untuk berlari sejauh mungkin.
Ia mengangkat tangannya.
Bayang-bayang mundur seketika seperti anjing yang dipanggil tuannya.
Kakek berdiri di tengah lingkaran yang kosong dengan napas yang tersengal dan pedang terangkat, darah menetes dari luka-luka kecil di lengan dan wajahnya.
"Aldric Veyron," sosok berkerudung putih itu berkata dengan suara yang bergema seperti banyak orang berbicara bersamaan dalam harmoni yang menyeramkan. "Sang Hantu. Akhirnya kita bertemu lagi setelah dua puluh tahun kamu bersembunyi."
Kakek meludahkan darah ke tanah yang sudah basah olehnya. "Aku sudah pensiun, Specter. Urusanku denganmu berakhir dua puluh tahun lalu ketika perang usai."
"Urusanmu tidak akan pernah berakhir—kamu tahu terlalu banyak rahasia, terlalu banyak membunuh orang-orang kami, dan sekarang kamu menyembunyikan sesuatu yang bukan milikmu." Specter melompat turun dari atap dan mendarat ringan seperti kucing turun dari pohon. "Anak itu bukan milikmu."
"Azure Codex milik siapa pun yang bisa mengambilnya." Specter berjalan mendekat dengan langkah yang terlalu lambat, terlalu percaya diri—seperti predator yang tahu mangsanya sudah terjebak. "Serahkan, dan aku akan membiarkanmu mati cepat tanpa penderitaan. Tolak dan aku akan membuat desa ini beserta semua penghuninya menderita sebelum terbakar menjadi abu."
Kakek tertawa—tawa pahit yang lebih menyerupai batuk darah daripada ungkapan kegembiraan.
"Kamu pikir aku lebih peduli desa ini daripada cucuku?"
"Kalau begitu pilihlah."
Specter mengangkat tangannya lagi—
Dan Kakek menyerang.
Begitu cepat hingga bahkan dari jarak ini aku hampir tidak bisa melihat gerakannya—pedangnya berkilat membelah udara dalam busur yang sempurna, membawa semua kekuatan yang tersisa di tubuh tuanya.
Specter memblokir dengan tangan kosong.
CLANG!
Suara logam berbenturan dengan sesuatu yang bukan logam, bukan daging, melainkan energi murni yang mengkristal menjadi penghalang tak terlihat sekeras baja.
Mereka bertukar serangan dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti mataku—terlalu cepat, hanya bayangan dan kilatan cahaya serta gelombang tekanan yang membuat rumah-rumah di sekitar gemetar seolah akan runtuh.
Kakek melangkah mundur dengan darah mengalir dari pelipisnya.
Specter tidak terluka.
"Kamu sudah tua, Veyron," Specter berkata dengan nada dingin seperti embun beku. "Lambat. Lemah. Ini bukan eramu lagi—dunia sudah berubah, dan kamu hanyalah fosil dari masa lalu."
"Mungkin." Kakek mengusap darah dari wajahnya dengan punggung tangan. "Tapi aku masih bisa menyeretmu bersamaku ke neraka."
Ia menutup mata.
Dan sesuatu berubah.
Udara di sekeliling Kakek mulai bergetar seperti gelombang panas yang naik dari aspal di siang hari terik, tapi ini bukan panas—ini tekanan murni, Tenaga Dalam yang dipadatkan dan dikondensasikan hingga hampir terlihat oleh mata telanjang, menciptakan distorsi dalam ruang itu sendiri.
Auranya meledak ke luar—cahaya putih keperakan yang menyilaukan hingga aku harus menyipitkan mata agar tidak buta.
Bayang-bayang di sekitarnya menjerit dengan suara yang seharusnya tidak dikeluarkan oleh makhluk hidup, lalu lenyap seperti asap yang ditiup angin kencang.
Specter mundur selangkah—terkejut untuk pertama kalinya.
"Kamu... kamu masih bisa mencapai level itu?"
Kakek membuka mata yang kini bersinar putih seperti bintang.
"Sudah kubilang. Aku tidak akan mati dengan mudah."
Ia menghilang.
Benar-benar menghilang dari tempat ia berdiri.
Satu detik ia ada di sana, detik berikutnya—ia sudah berada di belakang Specter dengan pedang yang sudah mengayun ke arah leher lawannya.
Specter berputar dan memblokir—tapi kali ini ia terdorong mundur, kaki terseret di atas tanah sejauh sepuluh meter dengan kekuatan yang menghancurkan batu-batu di jalurnya.
Mereka bertarung lagi—tapi sekarang Kakek yang menekan, setiap ayunan pedang membawa gelombang energi yang memotong bayang-bayang yang mendekat dan memaksa Specter untuk bertahan dengan seluruh kemampuannya.
Untuk sesaat singkat yang terasa seperti keabadian, aku berpikir—mungkin ia bisa menang, mungkin Hantu Medan Perang masih cukup kuat untuk mengalahkan mereka semua.
Tapi kemudian—
Sosok kedua muncul.
Dari arah yang berlawanan, berkerudung hitam, lebih kecil dari Specter tapi bergerak dengan kecepatan yang bahkan lebih mengerikan.
Pembunuh bayaran.
Kakek melihatnya—terlambat secara fatal.
Sebuah pisau menghujam dari samping, menembus tulang rusuk dengan presisi bedah seorang pembunuh profesional.
Kakek terhuyung. Auranya berkedip seperti lilin yang hampir padam.
Specter tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan rekannya—tangannya menghantam dada Kakek dengan pukulan yang membawa seluruh kekuatan yang selama ini ia tahan.
BOOM!
Gelombang kejut meledak ke luar seperti bom. Rumah terdekat runtuh menjadi serpihan kayu. Tanah retak dalam pola jaring laba-laba.
Kakek terlempar seperti boneka kain, jatuh telentang di atas tanah berdebu yang sudah merah oleh darah.
Tidak bangkit.
"KAKEK!"
Aku berteriak tanpa sadar—suara yang keluar dari tempat paling dalam di dadaku, suara yang membawa semua ketakutan dan keputusasaan yang mencengkeram jantungku.
Dan tiga pasang mata—Specter, sang pembunuh bayaran, dan puluhan bayang-bayang—seketika berbalik ke arahku seperti predator yang menemukan mangsa baru.
Specter tersenyum—bisa kurasakan meski wajahnya tersembunyi di balik kerudung.
"Ah. Dia di sana."
Bayang-bayang mulai bergerak ke arahku dengan gerakan yang terlalu cepat, terlalu lapar.
Dan aku—
Membeku.
Kaki tidak mau bergerak seolah tertanam di tanah. Napas tersangkut di tenggorokan. Otakku kosong dari semua pikiran rasional.
Mereka datang. Semakin dekat.
Sepuluh meter.
Lima meter—
"LARI, BODOH!"
Suara Kakek—lemah, tapi masih terdengar menembus kepanikan yang mencekikku.
Aku menatap ke arahnya—ia sedang berusaha bangkit dengan darah mengalir dari mulutnya, dari tulang rusuk yang tertikam, dari luka di pelipis yang membuat separuh wajahnya merah.
"Lari... sekarang... atau semua ini... sia-sia..."
Bayang-bayang semakin dekat, tangan-tangan gelap terentang seolah ingin mencabik-cabik.
Aku berbalik—dan berlari.
Berlari sekuat tenaga dengan kaki yang serasa patah dan paru-paru yang terbakar.
Air mata mengalir deras di pipi, tapi aku tidak berhenti.
Di belakangku, suara ledakan lagi—lebih keras dari sebelumnya. Cahaya terang yang menembus bahkan kelopak mata yang terpejam. Dan kemudian—
Keheningan.
Terlalu sunyi untuk dunia yang baru saja penuh dengan suara pertempuran.
Aku tahu apa artinya.
Tapi aku tidak berhenti.
Tidak berani berhenti.
Karena jika aku berhenti—jika aku menoleh dan melihat apa yang terjadi—aku tidak akan bisa melanjutkan perjalanan yang Kakek bayar dengan nyawanya agar aku punya kesempatan untuk hidup.
Tidak tahu sudah berapa lama aku berlari—mungkin satu jam, mungkin lebih, mungkin hanya beberapa menit yang terasa seperti keabadian.
Yang kutahu, ketika akhirnya berhenti dengan kaki yang tidak bisa lagi menopang tubuh dan paru-paru yang terbakar seolah dipenuhi api, aku sudah jauh masuk ke dalam Wilderness Expanse—pepohonan tebal di sekeliling menciptakan kegelapan yang hampir total, hanya cahaya bulan yang samar berhasil menembus celah dedaunan.
Aku jatuh berlutut. Muntah. Tidak ada yang keluar—perutku kosong. Tapi tubuh tetap kejang dalam upaya sia-sia untuk mengusir rasa sakit yang ada di dalam.
Kemudian menangis.
Menangis sampai tidak ada lagi air mata. Sampai tenggorokan kering seperti ampelas. Sampai yang tersisa hanya isak kosong yang menyerupai rintihan hewan yang terluka.
Kakek.
Kakek sudah mati.
Untuk melindungiku.
Dan aku berlari seperti pengecut.
Aku meninggalkannya.
Jari-jariku mencengkeram tanah sampai kuku tertancap ke dalam lumpur yang dingin dan basah.
Pengecut. Kamu pengecut yang tidak berguna.
Tapi suara Kakek bergema di kepalaku dengan kejernihan yang menyakitkan:
"Jika kamu mati mencoba menyelamatkanku... semua yang kulakukan selama tujuh belas tahun ini sia-sia."
Aku menarik napas—panjang, gemetar, seperti berusaha mengumpulkan kembali serpihan diriku yang sudah berhamburan.
Perlahan, aku bangkit.
Tangan bergetar saat membuka tas, menarik peta keluar dengan jari-jari yang hampir tidak bisa bergerak.
Di bawah cahaya bulan tipis yang tampak membeku di atas kepalaku, aku menelusuri rute yang Kakek tandai dengan tinta yang kini terasa seperti pesan terakhir dari seseorang yang sudah tiada.
Utara. Perjalanan tiga hari. Ikuti sungai.
Kulipat peta itu dengan hati-hati seolah ia adalah harta paling berharga yang kumiliki—dan mungkin memang begitu sekarang.
Menyimpannya kembali.
Lalu berjalan.
Satu langkah. Dua langkah.
Setiap langkah terasa berat seperti memikul seluruh dunia di punggung, seperti gravitasi yang melipatgandakan dirinya khusus untukku.
Tapi aku terus berjalan.
Karena itulah yang Kakek inginkan—hidupku yang ia beli dengan darahnya sendiri.
Karena itulah satu-satunya cara untuk membuat pengorbanannya bermakna, untuk memastikan ia tidak mati sia-sia di reruntuhan desa yang terbakar.
"Aku bangga padamu, Kael. Apa pun yang terjadi... ingat itu."
Aku berhenti sejenak, mendongak menatap langit yang terbentang luas di atas.
Bintang-bintang bersinar dingin dan jauh, tidak peduli pada tragedi kecil yang baru saja terjadi di bawah.
"Aku berjanji, Kakek," aku berbisik pada keheningan malam yang tidak menjawab. "Aku akan hidup. Aku akan menjadi kuat. Aku akan membuat mereka semua membayar atas apa yang telah mereka lakukan."
Angin berhembus lembut melalui pepohonan, seolah menjawab dengan bisikan yang tidak bisa kupahami.
Dan aku melanjutkan perjalanan dengan langkah yang lebih mantap meski hati masih hancur berkeping-keping.
Sendirian.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku yang masih sangat muda ini.
Benar-benar sendirian dengan hanya kenangan dan janji-janji yang belum terpenuhi sebagai teman.
Specter berdiri di tengah reruntuhan Ashfall yang masih mengepulkan asap, menatap tubuh Aldric Veyron yang terbaring di atas tanah berdarah.
Mantan Sword Saint itu berbaring dengan pedang masih tergenggam erat di tangan yang sudah kaku, mata terbuka menatap langit yang mulai menerang dengan tibanya fajar—seolah mencari sesuatu di antara bintang-bintang yang memudar.
Mati.
Tapi tersenyum.
"Sampai akhir, kamu tetap menjengkelkan seperti biasa," gumam Specter sambil menendang kerikil kecil ke arah mayat itu. Ia berbalik kepada sang pembunuh bayaran yang berdiri diam seperti patung bayangan. "Anak itu?"
"Kabur ke dalam Wilderness," jawab sang pembunuh dengan suara datar tanpa emosi. "Haruskah aku mengejar dan membunuhnya sekarang?"
Specter terdiam sejenak, menimbang. Kemudian menggeleng.
"Biarkan—Wilderness akan membunuhnya jauh lebih efisien dari yang bisa kita lakukan. Dan jika anak itu entah bagaimana berhasil bertahan..." Ia tersenyum di balik kerudungnya dengan senyum yang tidak terlihat tapi terasa. "Kita tahu persis ke mana ia akan pergi. Arcanum Academy. Satu-satunya tempat di dunia ini yang bisa melindunginya dari kita."
"Dan kita?"
"Kita laporkan kepada Pemimpin Guild bahwa Aldric Veyron sudah mati setelah dua puluh tahun diburu. Azure Codex—tinggal soal waktu sebelum jatuh ke tangan kita."
Mereka lenyap ke dalam bayangan yang semakin tebal dengan mendekatnya fajar, meninggalkan hanya abu dan kehancuran.
Meninggalkan desa yang terbakar dengan asap yang masih mengepul ke langit pagi.
Dan satu tubuh tua yang mati dengan senyum di wajah yang ditutupi darah.
Karena ia tahu—cucunya selamat dan sedang berlari ke arah yang benar.
Dan bagi seorang pria yang sudah cukup lama hidup dan cukup banyak membunuh, itu lebih dari cukup untuk mati dengan tenang.
[Di Tempat Lain — Arcanum Academy]
Seorang lelaki tua dengan janggut putih panjang berdiri di balkon menara tertinggi yang menjulang ratusan meter ke langit, menatap ke selatan dengan mata yang seolah bisa melihat melampaui cakrawala.
Ia merasakan sesuatu.
Getaran di udara. Seperti benang takdir yang putus dengan suara yang hanya bisa didengar oleh mereka yang cukup peka terhadap aliran dunia.
"Aldric..." bisiknya pelan dengan suara yang dipenuhi kesedihan dan kehilangan seorang sahabat lama.
Pintu terbuka. Seorang perempuan muda berambut hitam masuk dengan langkah tergesa.
"Kepala Sekolah, ada laporan—"
"Aku tahu." Lelaki tua itu tidak berbalik, masih menatap ke selatan seolah bisa melihat reruntuhan Ashfall dari ratusan kilometer jauhnya. "Aldric sudah mati. Dan anak itu sedang dalam perjalanan ke sini dengan kaki yang berdarah dan hati yang hancur."
Perempuan itu terdiam, tidak tahu harus berkata apa menghadapi pernyataan yang terdengar seperti fakta mutlak itu. "Apa yang harus kita lakukan?"
"Menunggu. Dan mempersiapkan diri." Kepala Sekolah berbalik dengan mata yang tajam di balik semua keriput usia. "Kael Ashvern akan tiba di sini—mungkin dalam beberapa minggu, mungkin sebulan. Dan ketika itu terjadi, dunia akan berubah dengan cara yang tidak bisa kita prediksi sepenuhnya."
"Mengapa Anda begitu yakin?"
Kepala Sekolah tersenyum tipis—senyum yang menanggung beban pengetahuan dan rahasia yang terlalu berat untuk dibagikan.
"Karena ia membawa Azure Codex, warisan garis keturunan yang luar biasa langka, dan kenangan dari orang-orang yang mencintainya. Dan ingatan—ingatan adalah kunci untuk mengubah masa depan, untuk menghindari kesalahan masa lalu, untuk memastikan pengorbanan seperti milik Aldric tidak sia-sia."