NovelToon NovelToon
Pedang Tanpa Langit: Melampaui Takdir Abadi

Pedang Tanpa Langit: Melampaui Takdir Abadi

Status: tamat
Genre:Fantasi / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Marcel ( rxel )

Di Benua Awan Sembilan, kekuatan ditentukan oleh Qi dan garis keturunan. Li Chen hanyalah seorang pelayan di Sekte Pedang Azure yang menderita cacat pada meridiannya, membuatnya mustahil untuk berkultivasi melampaui tingkat dasar. Namun, saat ia jatuh ke Jurang Keputusasaan setelah dikhianati oleh saudara seperguruannya, ia menemukan makam kuno milik Kaisar Pedang yang Menantang Surga.
​Li Chen mewarisi sebuah teknik terlarang: Seni Penelan Bintang, yang memungkinkannya menyerap energi dari artefak yang rusak dan emosi negatif musuhnya. Dengan pedang patah yang memiliki jiwa haus darah, Li Chen memulai perjalanannya. Ia tidak mencari keabadian untuk menjadi dewa, melainkan untuk menghancurkan sistem "Langit" yang menentukan nasib manusia sejak lahir. Dari seorang sampah sekte menjadi penguasa semesta, Li Chen harus memilih: menjadi penyelamat dunia atau iblis yang akan meruntuhkan gerbang surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marcel ( rxel ), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 18: Rahasia Terakhir

Puncak Gunung Teratai Berdarah kini tak lebih dari kawah yang menganga. Langit yang tadinya biru cerah telah tertelan oleh kubah kegelapan yang diciptakan oleh kehadiran Li Chen. Di tengah reruntuhan Aula Utama, Patriark Xue berdiri gemetar di atas altar altar batu giok. Tangannya yang memegang belati ritual bergetar hebat, sementara Yue Yin terbaring lemas di bawahnya, terjerat oleh rantai-rantai energi yang mulai retak akibat tekanan aura Li Chen.

​"Berhenti! Jangan mendekat, atau aku akan menghabisi wanita ini!" teriak Patriark Xue, suaranya melengking penuh ketakutan yang tak tertahankan.

​Li Chen mendarat di atas puing-puing pilar utama. Setiap langkahnya meninggalkan jejak api hitam yang membakar batu. Matanya, yang kini merupakan perpaduan antara perak murni dan merah darah, menatap Patriark Xue seolah-olah pria itu hanyalah debu yang mengganggu penglihatannya. Di belakang punggung Li Chen, sembilan bintang hitam berputar pelan, memancarkan resonansi yang mematikan.

​"Kau mengancamku dengan nyawa yang sudah kau rusak?" suara Li Chen terdengar ganda, sebuah harmoni antara suaranya sendiri dan raungan purba Iblis Bintang. "Xue, kau tidak punya hak untuk menegosiasikan kematianmu."

​Dengan satu gerakan jari, Li Chen melepaskan gelombang gravitasi. Rantai-rantai yang mengikat Yue Yin seketika hancur menjadi debu. Tubuh Yue Yin melayang perlahan ke arah Yue Zhan, ayahnya, yang baru saja tiba di pinggiran altar dengan tubuh yang masih lemah namun penuh amarah.

​"Yin'er!" Yue Zhan menangkap putrinya, segera melindunginya dengan sisa-sisa energi kultivasinya.

​Patriark Xue, yang kini kehilangan sanderanya, berteriak gila. Ia menusukkan belati ritual itu ke dadanya sendiri. "Jika aku harus mati, aku akan mengambil kekuatan Darah Dewa untuk diriku sendiri! Teknik Terlarang: Inkarnasi Iblis Darah!"

​Seluruh darah dari mayat-mayat pengikutnya yang bergelimpangan di sekitar aula mulai terbang menuju tubuh Patriark Xue. Tubuhnya membengkak, kulitnya mengelupas menyingkap daging merah yang berdenyut, dan ukurannya membesar hingga setinggi lima meter. Auranya melonjak drastis, menyentuh puncak ranah Jiwa Baru (Nascent Soul) dan hampir menembus batas menuju Transformasi Dewa.

​"MATILAH KAU, BOCAH TERKUTUK!"

​Patriark Xue menghantamkan tinju raksasanya yang terbuat dari gumpalan darah kental. Pukulan itu membawa beban jutaan nyawa yang pernah ia bantai, menciptakan gelombang kejut yang meruntuhkan sisa-sisa gunung.

​Li Chen bahkan tidak mengangkat pedangnya. Ia hanya mengangkat tangan kirinya, telapak tangannya terbuka.

​"Seni Penelan Bintang: Sembilan Gerbang Pembantaian—Gerbang Kesembilan: Kekosongan Sejati."

​Sebuah titik hitam sekecil jarum muncul di telapak tangan Li Chen. Saat tinju darah Patriark Xue menyentuhnya, seluruh massa dan energi dari pukulan raksasa itu seolah-olah tersedot ke dalam lubang yang tak berujung. Tidak ada ledakan. Hanya ada suara hisapan yang mengerikan.

​"Apa?!" mata Patriark Xue yang kini berwarna merah pekat membelalak.

​Li Chen menutup tinjunya. Titik hitam itu meledak ke dalam, menarik seluruh tubuh raksasa Patriark Xue secara paksa. Daging, darah, bahkan jiwa (Nascent Soul) milik Xue mulai terkoyak, terlepas dari tubuh fisiknya, dan terbang menuju pusat telapak tangan Li Chen.

​"Tunggu! Tunggu!" teriak Patriark Xue saat separuh tubuhnya sudah mulai menguap menjadi energi hitam. "Jangan bunuh aku! Aku punya informasi yang kau inginkan! Tentang ibumu!"

​Gerakan Li Chen berhenti sesaat. Tekanan gravitasi yang menghancurkan itu mereda, namun tidak menghilang. Ia menatap Patriark Xue yang kini kembali ke bentuk manusianya yang ringkih, tergantung di udara oleh daya tarik energi Li Chen.

​"Bicara," desis Li Chen. "Jika kau berbohong satu kata saja, aku akan memastikan jiwamu dikunyah oleh bintang-bintangku selama sepuluh ribu tahun."

​Wahyu dari Mulut Sang Pengkhianat

​Patriark Xue terengah-engah, darah hitam mengalir dari setiap pori-porinya. "Kau... kau pikir orang tuamu mati di hari itu... kau pikir ibumu meledakkan dirinya untuk menyelamatkanmu..."

​Li Chen mengepalkan pedang Takdir Sembilan Bintang. "Aku melihatnya dalam visi makam."

​"Itu hanya separuh kebenaran!" Xue tertawa batuk, memuntahkan gumpalan daging. "Ibumu, Dewi Teratai... dia adalah kunci untuk membuka Gerbang Langit Abadi. Para Dewa dari Langit Atas tidak ingin dia mati begitu saja. Sebelum dia sempat meledakkan Inti Emasnya, seorang Utusan Agung dari Kuil Matahari turun dan menangkap jiwanya."

​Jantung Li Chen seakan berhenti berdetak. "Dia... masih hidup?"

​"Hidup?" Xue menyeringai pahit. "Kematian mungkin lebih baik baginya. Dia ditawan di Penjara Cahaya Abadi di Langit Atas. Mereka menggunakan tubuh dan jiwanya sebagai sumber energi untuk menjaga segel yang mengunci klan Iblis Bintangmu di dimensi lain. Selama dia tetap bernapas dalam siksaan, kau dan seluruh garis keturunanmu tidak akan pernah bisa bangkit sepenuhnya."

​Li Chen merasakan dunianya berputar. Kemarahan yang selama ini ia rasakan hanyalah percikan kecil dibandingkan dengan badai yang sekarang mengamuk di dalam jiwanya. Ibundanya, yang ia tangisi selama bertahun-tahun sebagai martir, ternyata sedang menderita dalam siksaan yang tak berujung selama belasan tahun—semuanya demi kepentingan para "Dewa" yang mengaku sebagai penjaga ketertiban.

​"Dia tidak berbohong, Li Chen," suara Kaisar Pedang terdengar sangat berat. "Sekarang aku mengerti mengapa tekanan dari Langit Atas begitu kuat saat kau bertarung dengan Lin Feng. Mereka tidak hanya ingin membunuhmu, mereka ingin memastikan 'Kunci' itu tidak pernah terhubung kembali dengan pemiliknya."

​Patriark Xue melihat perubahan pada aura Li Chen yang semakin gelap dan tidak stabil. "Sekarang kau tahu... lepaskan aku, dan aku akan memberitahumu cara menembus batas dunia menuju Langit Atas tanpa memicu alarm mereka!"

​Li Chen menatap Patriark Xue. Matanya tidak lagi menunjukkan kemarahan, melainkan kehampaan yang mutlak.

​"Kau sudah memberikan informasi yang kubutuhkan," kata Li Chen pelan.

​"Jadi kau melepaskanku?" tanya Xue dengan secercah harapan.

​"Tidak. Aku akan memakan jiwamu, dan aku akan mencari cara itu sendiri melalui ingatanmu yang tersisa."

​"TIDAK! KAU BERJANJI—"

​Li Chen menutup telapak tangannya sepenuhnya. KRAK!

​Seluruh keberadaan Patriark Xue—tubuh, tulang, dan Nascent Soul-nya—diperas menjadi satu butir kristal darah kecil. Li Chen mengambil kristal itu dan menelannya. Seketika, arus informasi yang luar biasa menghantam otaknya. Peta Langit Atas, struktur pertahanan Kuil Matahari, dan wajah ibunya yang sedang dirantai di dalam pilar cahaya emas melintas di benaknya.

​Li Chen berdiri diam selama waktu yang terasa seperti keabadian.

​Janji di Atas Reruntuhan

​Yue Yin dan Yue Zhan mendekat dengan perlahan. Mereka menatap Li Chen dengan campuran rasa hormat dan kesedihan yang mendalam. Mereka telah mendengar setiap kata yang diucapkan Patriark Xue.

​"Li Chen..." Yue Yin menyentuh lengan Li Chen. "Apa yang akan kau lakukan sekarang?"

​Li Chen menoleh. Sembilan bintang di punggungnya perlahan meredup dan masuk ke dalam tubuhnya, namun tanda teratai hitam di dahinya kini bersinar dengan cahaya keemasan yang tajam.

​"Benua ini terlalu kecil," jawab Li Chen. "Sekte Pedang Langit, Sekte Teratai Berdarah... mereka hanyalah bidak. Musuh yang sebenarnya sedang duduk di atas awan, menertawakan penderitaan kita."

​Ia menatap ke arah langit yang mulai kembali ke warna aslinya, namun bagi Li Chen, langit itu sekarang tampak seperti jeruji penjara yang sangat besar.

​"Aku akan pergi ke Langit Atas," kata Li Chen. "Aku akan meruntuhkan Kuil Matahari, aku akan menjatuhkan para dewa dari tahta mereka, dan aku akan membawa ibuku pulang."

​Yue Zhan menarik napas dalam. "Perjalanan itu... itu adalah bunuh diri bagi siapa pun di ranah Jiwa Baru. Kau butuh kekuatan yang setidaknya setara dengan ranah Transformasi Dewa atau lebih untuk bertahan di sana."

​"Maka aku akan menelan seluruh Benua Tengah jika perlu," jawab Li Chen tanpa keraguan sedikit pun. "Setiap ahli yang sombong, setiap pusaka yang mereka sembunyikan, akan menjadi pondasi bagi kenaikanku."

​Kaisar Pedang tertawa bangga di dalam liontin. "Inilah muridku! Inilah pewaris Iblis Bintang yang sebenarnya! Langit telah membuat kesalahan terbesar dalam sejarah mereka. Mereka memberi alasan bagi predator paling berbahaya untuk berhenti bermain-main dan mulai berburu."

​Li Chen menoleh ke arah Yue Yin. Ia mengeluarkan sebuah cincin ruang dan memberikannya padanya. "Di dalamnya ada harta dari Sekte Teratai Berdarah dan esensi Inti Emas yang tersisa. Bangun kembali sektemu, Yue Yin. Jadilah kuat, karena saat aku menyerang Langit, dunia ini akan berguncang."

​Yue Yin memegang cincin itu erat-erat. Ia tahu ia tidak bisa mengikuti Li Chen ke tempat yang akan ia tuju sekarang. "Berjanjilah padaku satu hal, Li Chen. Jangan biarkan kegelapan itu memakan hatimu sepenuhnya. Sisakan sedikit ruang untuk kembali."

​Li Chen menatap Yue Yin untuk waktu yang lama, lalu ia mengangguk sekali. Tanpa kata-kata lagi, ia menghentakkan kakinya ke tanah.

​BOOM!

​Li Chen melesat ke atas, membelah atmosfer dengan kecepatan yang menciptakan api di udara. Ia tidak lagi melihat ke belakang. Di depannya hanya ada cakrawala yang tak terbatas dan dendam yang akan membakar seluruh tatanan dunia.

​Nama Li Chen, Sang Penelan Bintang, hari ini telah menghilang dari catatan manusia sebagai seorang kriminal... karena hari ini, ia mulai menulis namanya di dalam kitab takdir sebagai Penguasa Iblis Penelan Surga.

1
Inyos Sape Sengga
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!