Tidak pernah terpikirkan oleh Sarah bahwa dirinya akan diberi kesempatan kedua untuk kembali hidup.
Seumur hidup, hanya ia habiskan untuk berfoya-foya dan mengajar cinta Marvin yang tak pernah ia miliki hingga akhir hayatnya. Tak segan Sarah mencelakai wanita yang dicintai Marvin, Kayla. Namun di kehidupan sebelumnya, meskipun Sarah sering membawa kesialan dan membuat hidup Marvin dan Kayla menderita, mereka masih berbaik hati memberi Sarah bantuan ketika gadis itu sedang menghadapi masalah ekonomi karena ayahnya yang bangkrut.
Di kehidupan kali ini, Sarah hanya ingin mencoba membahagiakan dirinya sendiri dan melepas cinta pertama yang begitu membekas bagi dirinya.
Tapi siapa yang sangka kehidupan keduanya ternyata lebih rumit daripada yang Sarah bayangkan. Ia ditimpa bertubi-tubi kenyataan yang membuat logikanya tidak lagi berjalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Marvin menatap rumah mewah yang terlihat tidak berpenghuni. Ia lalu memanjang gerbang rumah yang menjulang tinggi itu dengan hati-hati. Setelah berhasil masuk ke halaman, laki-laki itu kemudian kembali memanjat sebuah pohon yang tak jauh dari balkon kamar yang dituju.
Sarah membuka matanya perlahan karena merasa terganggu dengan suara ketukan yang berulang-ulang dari jendela balkonnya. Tidak lama mata gadis itu membolak ketika melihat bayangan seseorang di balik tirai jendela balkon yang terkunci.
Siapa orang yang berani naik ke balkon lantai 2 rumahnya?
Suara ketukan itu masih terdengar. Jika dilihat dari bayangan, perawakannya seperti seorang laki-laki. Sarah menjadi takut, gadis itu lalu mengambil sebuah vas bunga yang berada di atas nakas dekat tempat tidurnya. Ia lalu perlahan mendekati balkon dan menyingkap tirai jendela.
"Marvin?" Cara menajamkan penglihatannya di bawah remang-remang cahaya balkon, memastikan bahwa laki-laki yang ada di hadapannya ini adalah Marvin.
"Buka." Suara laki-laki itu terendam di balik kaca jendela.
Sekarang Sarah meletakkan emas yang dia genggam tadi di atas lantai, lalu kemudian membuka pintu balkon. Setelah dibuka, bisa salah rasakan angin malam yang menerpa kulitnya sehingga membuat gadis itu merasa kedinginan.
"Lo ngapain di sini?" Tanya Sarah terkejut sekaligus heran melihat keberadaan laki-laki itu di balkon kamarnya.
"Ambil jaket dulu di dalam, setelah itu lo keluar,"ucap Marvin dengan nada memerintah, kemudian dia meletakkan tasnya di atas lantai balkon.
Sarah tidak membantah, gadis itu kembali masuk dan mengambil jaketnya yang berada di dalam wardrobe pakaian. Kemudian ia kembali ke balkon.
"Lo ngapain di sini?"tanya Sarah lagi setelah berdiri tepat di samping Marvin yang tengah bersandar di pagar balkon. Tapi pertanyaannya diabaikan oleh laki-laki itu, ia tidak menjawab dan hanya memandang langit malam.
Sarah mendengus." Kenapa lu tahu gue ada di rumah?"tanya Sarah lagi.
"Pantes aja dia suka memandang ke langit, ternyata memang indah," guman Sarah.
"Hah? Lo ngomong apa?"
Marvin lalu berbalik, saya nggak berhadapan dengan Sarah yang masih melemparkan tatapan heran ke arahnya. Marvin sebenarnya datang setiap malam untuk melihat gadis yang ada di hadapannya ini. Sarah selalu mengurung diri dari pagi hingga malam.
Tujuan Marvin datang ke tempat ini sejujurnya karena dirinya khawatir pada gadis itu. Apalagi Sarah tidak masuk ke sekolah dan tidak ada kabar sama sekali. Marvin heran, ke mana kedua orang tua gadis itu pergi, lau asisten rumah tangganya ataupun satpam yang berjaga pun tidak ada hingga rumah ini terlihat seperti rumah kosong. Sampai tanpa sengaja Marvin melihat Sarah yang keluar balkon di tengah malam hanya untuk menatap langit. Karena itulah, ia selalu berkunjung di malam hari untuk mengecek keadaan gadis itu.
Hari ini, Marvin juga ingin mengecek keadaan Sarah seperti biasanya. Tapi sudah 2 jam Marvin menunggu, gadis itu tidak kunjung keluar. Marvin khawatir, mungkin saja saya pingsan atau terjadi sesuatu di dalam. Hingga akhirnya laki-laki itu menemukan gadis itu baik-baik saja sekarang.
Tiba-tiba suara kucing mengalikan atensi Sarah." Eh kok ada suara kucing?"Sarah mengedarkan pandangannya ke sekitar, barangkali ada kucing yang tersesat di balkon kamarnya.
Suara kucing itu semakin terdengar jelas, Sarah mengandalkan pendengarannya sehingga mengikuti arah suara itu berasal. Tapi tanpa sadar, kepalanya malah mendekat ke arah Marvin.
Marvin berdeham, hingga membuat suara buru-buru mundur ketika menyadari bahwa ia sangat dekat dengan laki-laki itu. "Maaf."
Marvin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia halo menurunkan sedikit resleting jaketnya hingga ke dada dan terlihatlah kepala anak kucing muncul dari dalam sana.
Sarah menutup mulutnya karena terkejut melihat kucing yang muncul di balik jaket Marvin. Katanya bertatapan dengan anak kucing itu yang juga melihatnya. Sarah di buat gemas sendiri oleh kucing itu.
"Lucu banget."Sarah mengepalkan kedua tangannya berat di depan dada, katanya berbinar melihat anak kucing yang berwarna putih tersebut.
Marvin sedikit terkejut, ia pikir salah membenci kucing. Dulu, Kalau tidak salah Marvin pernah melihat cara menendang kucing yang mendekat ke arahnya saat berada di sekolah.
"Lo suka kucing? Sejak kapan?"
"Iya, Gue suka banget sama kucing semenjak gue kerja di pet shop,"ucap Sarah tanpa sadar.
"Lo pernah kerja di pet shop?" Tanya Marvin tidak percaya.
Mata Sarah yang tadinya hanya fokus pada anak kucing yang ada di dalam jaket Marvin, kini bergerak tak tentu.
Mampus, gue keceplosan. Ucap Sarah dalam hati sambil menggigit bibir bawahnya.
"Ma-maksud gue, waktu ke tempat kerja kenalan gue, ada pet shop di samping tempat kerjanya itu," ucap Sarah gugup, ia Bahkan menelan salivanya karena tiba-tiba saja tenggorokannya mulai terasa kering.
Maafin hanya menanggapinya dengan anggukan, meskipun sepertinya tadi ia menangkap makna yang berbeda dari ucapan gadis itu sebelumnya. Tapi ia tidak ingin menanyakan lebih jauh.
"Lu mau pelihara kucing ini?"tanya Marvin sambil mengeluarkan anak kucing itu dari dalam jaketnya.
"Boleh?" Mata gadis itu membulat mendengar ucapan Marvin.
Marvin mengangguk lalu menyerahkan anak kucing itu kepada Sarah. Dengan senang hati Sarah menerima kucing itu lalu kemudian langsung menggendongnya.
"Dia udah punya nama?" Tanya Sarah.
Marvin menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Si putih aja, kita nama India si putih aja gimana?"tanya Sarah lagi sambil menatap mata Marvin, seperti meminta persetujuan dan lagi-lagi laki-laki itu hanya mengangguk. Sarah tersenyum lebar kemudian mengajak anak kucing itu berbicara.
Maafin sepertinya tidak perlu terlalu mengkhawatirkan Sarah lagi. Pada situ terlihat baik-baik saja sekarang, meskipun wajah gadis itu terlihat sedikit pucat.
"Lo sakit?"
"Tapi ngomong-ngomong lu nemu putih di mana?"ucap Sarah bersamaan dengan ucapan Marvin.
"Gak sengaja nemu di jalan."
Cara menyipitkan matanya, menatap Marvin tidak percaya. Jawaban yang diberikan adalah jawaban yang biasa digunakan laki-laki ketika memberikan seorang gadis hadiah.
"Sumpah,"ucap Marvin lagi saat mendapati Sarah menatapnya tidak percaya.
"Iya deh," jawab Sarah seperti mengejek.
"Gue beneran nemu kucing ini di jalan."
"Iya Marvin, gue percaya kok.
"Gue-"
"Lama-lama lo belum jawab pertanyaan gue tadi. Lo kenapa bisa ada di sini?"Sarah memotong perkataan Marvin, kemudian meletakkan anak kucing itu ke lantai.
Marvin menggaruk tengkuknya yang tak gatal." G-gue disuruh Kayla buat ngecek keadaan Lo, katanya lo gak bisa dihubungi."
Sarah mengangguk, ia paham bahwa teman-temannya pasti mencari dirinya. Bahkan akan kerjanya sudah menghubunginya beberapa kali.
"Lu masih sedih ya?"
Sarah hanya menampilkan senyuman tipis." Gue butuh waktu,"jawab gadis itu.
Marvin tidak menanyakan lebih lanjut, ia sudah cukup paham dengan jawaban gadis itu.
"Ngomong-ngomong, Kenapa rumah lu kosong?"
"Ah, orang tua gue lagi dinas ke luar kota, ya meskipun gue tahu kalau papa sebenarnya masih ada di kota ini."gadis itu terkekeh pelan." Kalau asisten rumah tangga dan satpam di rumah, sengaja gue liburan beberapa hari. Besok mereka udah balik lagi ke sini kok."
"Terus Lo?"
"Apanya?"
"Kapan balik?"
"Balik ke mana?"
"Sekolah."
"Ya ampun, Vin. Bisa nggak sih lo nanyanya satu kalimat sekaligus?" tanya Sarah kesal." Untuk itu gue masih males ketemu orang-orang."
"Guru matematika nyariin. Katanya nilai matematika lo kemarin turun."
"Serius Lo?"
Marvin mengangguk.
"Kenapa Lo bisa tau? Kita kan beda kelas."
"Tamara yang bilang."
"Tamara ngasih tau Lo?"
"Dia ngomong ke semua orang si."
"Sialan Tamara," mata Sarah berkilat, ia mengepalkan satu tangannya di depan dadam, bibir bawahnya ia gigit menunjukkan betapa kesalnya dia sekarang." Awas aja Lo, Tamara."
Marvin menahan senyum melihat Sarah yang wajahnya memerah karena marah. Ia memasukan kedua tangannya ke dalam kantong celana dan masih setia memandang Sarah yang terlihat semakin lucu.
"Oh iya, Lo gak mau pulang, Vin?" Usir Sarah secara halus