Entah sejak kapan Alessia tumbuh menjadi gadis cantik mempesona. Sepuluh tahun menjaganya sebagai adik, ia baru menyadari debaran jantungnya yang tak karuan. Nathaniel sang anak angkat mulai mendambakan adik angkatnya. Adik yang keluarganya telah menyelamatkan Nathaniel dari jurang keterpurukan. Pantaskah Nathaniel bersanding dengan adiknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Suka Kakak
Rutinitas di kantor pusat Sinclair Group kembali berputar seperti roda gigi yang presisi. Meja kerja Alessia kini dipenuhi dengan map-map berisi kontrak vendor dan materi manajemen perusahaan yang harus ia kuasai sebagai calon penerus. Nathaniel, seperti biasa, duduk tak jauh darinya, menjadi mentor sekaligus pengawas yang tak kenal lelah.
Keheningan konsentrasi mereka pecah saat pintu ruangan diketuk pelan. Seorang staf masuk dengan senyum sopan, menjinjing sebuah tote bag berbahan kanvas premium yang mengeluarkan aroma masakan rumah yang menggugah selera.
"Pak Nathan, ada paket lagi dari Nona Lady," ucap staf tersebut sambil meletakkan tas itu di meja pantry kecil di sudut ruangan. "Katanya ini makan siang khusus untuk merayakan kepulangan Bapak dari Busan."
Wajah Alessia yang tadinya fokus pada layar tablet langsung berubah masam. Alisnya bertaut, dan pulpen di tangannya diketuk-ketukan ke meja dengan ritme yang tidak sabar. Nama Lady Montgomery belakangan ini terasa seperti duri dalam daging bagi Alessia.
Nathaniel melirik tas tersebut, lalu menatap Alessia yang tampak mendung. Ia mencoba mencairkan suasana dengan nada yang tetap datar namun berusaha netral.
"Ayo makan, Al. Lagipula ini kiriman dari temanmu sendiri, kan?" kata Nathaniel tenang. Ia membuka tas itu, mengeluarkan kotak bekal yang ditata sangat cantik, jelas dibuat dengan usaha ekstra.
Mendengar kata "temanmu", Alessia justru merasa semakin panas. Ia merasa seolah Nathaniel sedang mengingatkannya bahwa dialah yang membuka pintu untuk Lady masuk ke dalam lingkaran mereka.
Alessia bangkit dari kursinya dengan gerakan tiba-tiba, membuat kursinya sedikit berderit di atas lantai marmer. Ia tidak menjawab ajakan Nathaniel.
Matanya menatap kotak bekal itu dengan pandangan sinis sebelum beralih ke arah jendela.
"Aku makan di kantin saja. Kakak nikmati saja sendiri kiriman dari 'teman' spesialmu itu," ujarnya ketus sembari melengos keluar ruangan tanpa menoleh lagi.
Langkah kaki Alessia yang menghentak keras di koridor terdengar jelas hingga ke dalam ruangan. Nathaniel terpaku sejenak, memegang tutup kotak bekal yang baru setengah terbuka. Ia menghela napas panjang, menatap pintu yang baru saja tertutup rapat.
"Kenapa dia?" gumam Nathaniel pelan, menatap pintu yang masih bergetar sisa hentakan Alessia. Ia memandangi kotak bekal dari Lady yang masih mengepulkan uap hangat, namun selera makannya benar-benar menguap.
Jam makan siang berlalu, dan kursi di seberang mejanya masih kosong. Kegelisahan mulai merayap di dada Nathaniel. Ia memeriksa ponsel, tidak ada pesan. Ia bertanya pada resepsionis, namun tidak ada yang melihat Nona Muda Sinclair itu kembali ke lantai eksekutif. Akhirnya, ia memutuskan untuk turun ke area mall.
Setelah mencari ke beberapa sudut, ia menemukan Alessia. Gadis itu tidak sedang merajuk di pojok kafe mewah; ia justru berada di kedai es krim, dikelilingi sekelompok anak-anak sekolah yang sedang berwisata. Dengan senyum tulus yang tadi pagi hilang, Alessia sibuk membagikan es krim yang ia bayari untuk mereka.
Nathaniel berdiri di kejauhan, menyandarkan bahunya di pilar marmer, menunggu sampai kerumunan kecil itu bubar. Begitu Alessia melambaikan tangan terakhirnya pada anak-anak itu, Nathaniel melangkah menghampiri.
"Sudah?" tanya Nathaniel singkat, suaranya rendah namun dalam.
Alessia menoleh, senyumnya langsung lenyap berganti wajah datar yang kaku. "Kenapa turun? Sudah habis makan siang dari pacar?" tanya Alessia dengan nada sarkas yang tajam.
Nathaniel mengernyitkan dahi, merasa tuduhan itu sangat tidak masuk akal. "Apaan? Kok pacar? Kan kamu sendiri yang mengenalkannya padaku," kata Nathaniel membeberkan fakta yang tak terbantahkan.
Alessia mendengus, merasa kalah telak oleh logika pria itu. Ia membuang muka sejenak sebelum akhirnya menghela napas pasrah. "Ya sudah, ayo kita kerja lagi," ajaknya, berjalan mendahului Nathaniel menuju lift.
Kembali ke kantor, suasana menjadi sunyi senyap. Hanya terdengar suara gesekan kertas dan denting halus tuts papan ketik. Berjam-jam berkutat dengan angka dan strategi manajemen membuat mata Alessia terasa seberat timah. Tanpa ia sadari, kepalanya terkulai, dan ia jatuh terlelap di kursi kerjanya yang besar.
Nathaniel yang menyadari hal itu segera bangkit. Ia berjalan memutar, menatap wajah lelap Alessia yang tampak begitu damai sekaligus letih. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia membetulkan posisi duduk Alessia, berniat memindahkannya ke sofa agar lebih nyaman.
Namun, saat Nathaniel menyusupkan lengannya untuk menggendong Alessia, tiba-tiba mata gadis itu terbuka. Jarak wajah mereka hanya tinggal beberapa sentimeter. Napas mereka saling bersentuhan. Dalam kondisi setengah sadar dan terbawa perasaan yang memuncak sejak di Busan, Alessia tiba-tiba menarik tengkuk Nathaniel dan menciumnya.
Nathaniel tersentak, seluruh sarafnya seolah tersengat listrik. Tubuhnya kaku, namun bibir Alessia yang lembut memberikan kehangatan yang selama sepuluh tahun ini ia tekan jauh ke dalam lubuk hatinya. Awalnya, Nathaniel hanya diam, hampir terhanyut dalam ciuman yang begitu tulus itu, sebuah balasan atas perasaan yang selama ini ia sembunyikan.
Namun, tepat saat ia hampir membalas tautan itu, matanya menangkap sesuatu di atas meja kerja Alessia. Sebuah papan nama berbahan kristal yang berkilat tertimpa lampu ruangan: William Sinclair.
Nama itu seperti siraman air es yang menyentak kesadarannya. Nathaniel segera menarik dirinya menjauh, napasnya memburu, matanya menatap Alessia dengan kilat ketakutan dan rasa bersalah yang mendalam.
"Aku suka Kak Nathan!" teriak Alessia. Suaranya yang melengking pecah, menggema di sudut-sudut ruangan kantor yang luas dan kedap suara itu.
Langkah kaki Nathaniel benar-benar terkunci. Jantungnya berdetak kencang, menghantam rongga dadanya dengan ritme yang menyakitkan. Setiap sel dalam tubuhnya seolah berteriak untuk berbalik, merengkuh gadis itu, dan membisikkan bahwa perasaan mereka adalah satu frekuensi yang sama.
"Jangan berbalik," bisik Nathaniel pada dirinya sendiri, suaranya nyaris tak terdengar, tenggelam oleh gemuruh di kepalanya.
Pandangannya mengabur sejenak, terfokus pada bayangan dirinya di pantulan kaca pintu. Di sana, ia melihat seorang pria yang memulai segalanya dari nol, seorang remaja yang dipungut dari ketidakpastian dan diberi martabat oleh keluarga Sinclair.
"Tuan William sudah sangat baik padamu! Jangan serakah!" Suara itu bergema di dalam batinnya, seolah ada sosok lain, sisi logis dan penuh utang budi? yang sedang menghakiminya dengan kejam. "Dia memberimu segalanya: pendidikan, posisi, kepercayaan. Jangan kau balas dengan mencuri hati putri tunggalnya."
Nathaniel memejamkan mata erat-erat. Baginya, mencintai Alessia terasa seperti sebuah pengkhianatan terbesar terhadap tangan yang telah memberinya makan. Ia merasa seperti pencuri yang mencoba mengambil permata paling berharga di rumah tuannya sendiri.
"Al..." Nathaniel akhirnya bersuara, namun ia tetap memunggungi Alessia. Suaranya terdengar sangat berat dan penuh luka yang ditekan. "Tidurlah lagi. Kamu hanya sedang lelah. Besok... semua ini akan terasa seperti mimpi buruk yang salah!”
"Ini bukan mimpi, Kak! Aku sadar!" seru Alessia lagi, kali ini terdengar suara langkah kakinya yang mendekat.
Tanpa menunggu lebih lama, Nathaniel segera membuka pintu dan melangkah keluar dengan terburu-buru. Ia hampir berlari menyusuri koridor sunyi lantai eksekutif, meninggalkan Alessia yang terpaku di tengah ruangan, dikelilingi oleh tumpukan berkas dan kebenaran yang baru saja ia ledakkan, namun dibiarkan menggantung tanpa kepastian.