Nazwa Adzira Putri, atau sering di panggil Zira, adalah seorang wanita yang dulunya berselimut cahaya. Dengan nama pena Nana, dia menginspirasi banyak orang dengan kata-katanya yang bijak dan agamanya yang kuat. Namun, kebenaran pahit tentang ayahnya - seorang yang mengkhianati ibunya dengan perselingkuhan, merobek tirai kesucian itu. Luka itu membawanya ke jurang kegelapan, meninggalkan hijab dan agamanya, dan masuk ke dunia malam yang gelap. Tapi, di tengah-tengah badai itu, ada secercah harapan. Nathan Fernandez, anak kyai yang sholeh dan dingin, menjadi sosok yang menarik perhatiannya. Mata teduh dan menenangkan itu menjadi tempat pelariannya, dan tanpa disadari, cinta mulai tumbuh, membawa harapan baru di tengah-tengah kegelapan. Penasaran dengan kelanjutan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Babak Baru
Drettt...dretttt, alarm berbunyi pukul 09.00, Zira terbangun dengan kaget. "Astaga, sudah jam 9! Mana matkul Pa Budi lagi," omel Zira sambil menuju kamar mandi untuk mandi cepat karena di buru waktu.
"Pagi mah..." sapa Zira kepada Mama Sarah yang sudah menunggu di ruang makan. "Pagi zir, tumben kamu telat bangun, mama udah bangunin kamu pukul 5 pagi tapi gak bangun-bangun," jawab Mama Sarah dengan nada yang santai.
"Biasa hari pertama haid jadi tidurnya bablas, adek udah berangkat?" tanya Zira sambil makan roti dan langsung beranjak karena ingin berangkat keburu dosen sudah masuk.
"Iyah udah, nungguhin kamu lama jadi berangkat dulu, makan yang bener zir duduk dulu," ucap Mama Sarah dengan nada yang lembut.
"Gak bisa ma, ini udah siang banget aku langsung berangkat dulu bye-bye ma," ucap Zira sambil Salim ke Mama Sarah. "Assalamualaikum mah," ucap Zira dengan nada yang manis.
Setelah tiba di kampus, Zira lari-lari sambil benerin buku yang di bawa karena di buru waktu tanpa melihat ke depan dan tak sengaja tertabrak oleh seorang laki-laki di dada bidang nya.
"Aduhh, maaf gak sengaja," ucap Zira sambil melihat siapa yang di tabrak itu. "Masyaallah, sungguh indah ciptaan mu tuhan," ucap Zira di dalam hati sambil melongo.
"Khemm, jaga pandangan mu," ucap Nathan dengan nada yang dingin. Zira sadar dari lamuan dan merasa malu. "Ah yah, maaf sekali lagi," ucap Zira.
Nathan tak menjawab langsung pergi tanpa melihat diri nya. "Cowo aneh," ucap Zira sambil lanjut menuju ke kelas nya.
Sesampainya di kelas, "Alhamdulillah dosennya belum sampa," ucap Zira dengan lega. "Zir di belakang Lo tuhh," ucap Zita.
"Apa zit?" tanya Zira sambil menoleh ke belakang dan... "Eh ketemu lagi kita, tanda nya kita jodoh, Lo murid baru yahh untung pa Budi belum masuk ke kelas jadi Lo aman kalau ketahuan telat bisa-bisa di hukum di suruh berjemur di lapangan," ucap Zira dengan nada yang centil.
"Zir, itu pa Nathan pengganti pa Budi dosen baru zir," ucap Zita sambil bertepuk di jidatnya. Di samping Zita, Aliya menahan tawa karena kelakuan sahabat nya.
"Ehh, pa Nathan maaf pak silahkan masukk," ucap Zira dengan nada yang sopan. "Bodo kamu zira," dumel Zira.
"Kamu gak mau masuk?, atau mau di hukum seperti yang kamu bilang tadi? Berhubung ini hari pertama saya ngajar saya maaf kamu," ucap Nathan dengan nada yang dingin.
"Subhanallah, ciptaan mu sungguh menarik perhatian ku tuhan bukan hanya fisik saja suara nya pun ganteng," ucap Zira dalam hati.
"Zir udah lamuan nya masuk buru pak ganteng ehh maksudnya pak Nathan berubah pikiran," ucap Aliya sambil lirik ke Nathan. "Ehh Iyah yah," ucap Zira menutupi rasa malunya.
"Seperti yang saya bilang di awal, saya dosen pengganti pa Budi untuk sementara karena beliau sedang sakit, perkenalkan nama saya Nathan Fernandez panggil aja Nathan dan..." ucap Nathan yang belum selesai di potong Mirna yang di kenal centil.
"Panggil ayang boleh gak?" Ucap Mirna membuat zira yang terus menatap Nathan langsung menatap Mira dan berucap "Lenjeh bangett." Ucap zira.
"Sebelas duabelas sama seperti Lo zir," ucap Zita sambil ketawa. "Sudah-sudah saya lanjut dan saya lulusan dari Kairo apa ada pertanyaan lainnya?," tanya Nathan.
Zira langsung mengangkat tangan "Saya pak, mau tanya apa sudah memiliki Istri, pacar atau gebetan?," ucap zira membuat Nathan sedikit tersenyum.
"Belum, baik kita lanjut pelajaran nya," ucap Nathan membuat zira sedikit tersenyum.
Jam istirahat tiba, zira the gang ke kantin untuk makan dan ghibah. "Guys, tampilan gue ada yang aneh yah?," tanya zira.
"Gak ada Lo selalu perfect dan cantik sampe-sampe tu rafa ngiler lihatin Lo," jawab Aliya membuat zira langsung melirik ke Rafa yang berada di samping meja nya dan Rafa malu-malu seolah-olah ketahuan sedang menatap.
"Ehh ketahuan dehh sama ayang," ucap Rafa sambil cengas cenges membuat zira tertawa.
"Najis bangett asli," ucap zita. "Ya elah sapa juga bicara sama lo gue bicara sama ayang zira," jawab Rafa.
Aliya langsung merubah topik pembicaraan sebelum ada perang dunia ke dua. "Emang kenapa Lo tanya-tanya gitu tumben sekali," tanya Aliya.
"Ada cowo yang gak mau lihat fisik gue lebih menarik lihat ke lantai," ucap zira membuat Aliya dan Zita tertawa.
"Pa Nathan?," tanya Aliya. "Yups," jawab zira.
"Yah gimana mau natap Lo sedang Lo bukan mahram nya beliau terus Lo pakai pakaian terbuka dan terlebih dulu beliau anak kyai dari pesantren terbesar di kota Yogyakarta pesantren at taqwa," ucap Aliya membuat zira sedikit tersenyum.
"At taqwa, apa pesantren itu yang di maksud Maura," ucap zira dalam hati.
"Zir gue bahagia Lo bisa tersenyum lagi bisa ngilangin masalah mu tapi... Perubahan Lo," ucap Aliya menggantung karna di potong Zita.
"Ya, sudah jangan ingetin lagi zira okeh, gimana aku tantang Lo zir dan setelah berhasil Lo bisa dapet mobil Lamborghini gue yang baru gue beli gimana?," ucap Zita untuk mengubah mood zira.
"Hmm menarik apa tantang nya?," jawab zira. "Ini sedikit extrim kalau Lo bisa ciuman sama pa Nathan Lo bisa mendapatkan mobil itu gimana?," tanya Zita membuat zira sedikit tersenyum.
"Menarik zit, gue tambahin zir hadiahnya biar Lo semangat tas Gucci geu buat Lo kalau berhasil tapi kalau gak Lo traktir kita selama sebulan gimana deal?," ucap Aliya.
"Berapa jangka waktunya?," ucap zira. "Seminggu," ucap Zita.
"Gila dia lihat gue aja ogah-ogahan apa lagi gue cium sebulan deh gimana?," ucap zira membuat Aliya dan Zita tertawa.
"Deal," ucap Aliya membuat zira tersenyum dan menerima tantangan itu.
Dalam Perjalanan ke kelas bertemu dengan Nathan ,
" guys , gue mau pdkt dulu calon suami gue bye kalian duluan aja." Ucap zira
"oke, semangat zir semoga berhasil."ucap keduanya ,
"pak Nathan."ucap zira sedikit berteriak Nathan gak berhenti malah terus berjalan tanpa menoleh ke sumber suara yang memanggil nya , zira belum menyerah ini baru awal dari perjuangannya, sampai di samping nya pa Nathan "pa Nathan,di panggil gak di jawab."kesal zira.
" ada apa? Waktu saya tidak banyak." Jawab Nathan tanpa melihat zira " haishh kalau sedang bicara di pandang Dong lawan bicara nya gak sopan tau kalau gak tatap muka , apa lagi lawan bicara nya saya yang cantik di atas rata-rata hehehe." Ucap zira sedikit memuji diri sendiri "apa?."tanya Nathan sambil melihat ke zira lalu "astaghfirullah."ucap Nathan dia sadar apa yang dia lakukan dosa " IHH emang nya gue setan apa yah, udah lah the point nih pa masalah tadi pagi gue hmm maksudnya saya minta maaf sekali gak sopan sama pa Nathan."ucap zira basa basi dikit lama-lama bisa akrab kan lumayan pikir zira, "Iyah saya maaf kan udah kan?."Jawab Nathan " satu lagi kalau Deket sama pa Nathan boleh?."ucap zira, Nathan lagi-lagi gak jawab langsung pergi meninggalkan zira "oke tandanya boleh , semangat untuk Lamborghini dan tas Gucci hehehhe." Ucap zira untuk menyemangati dirinya sendiri.