Ayahku menikahi seorang wanita… tanpa pernah memberitahuku.
Dan yang lebih buruk—aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ardi Hartono membenci istri baru ayahnya.
Tapi setiap malam, yang terngiang bukan kebencian… melainkan suara tangisnya.
Maya datang hanya dengan satu koper kecil dan tatapan yang tidak meminta apa pun.
Di rumah besar yang sunyi, jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Awalnya hanya tatapan.
Lalu sentuhan.
Lalu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Sari masih percaya pada cinta mereka.
Masih percaya Ardi tidak akan berubah.
Sampai suatu hari, dia membuka pintu…
dan menemukan kebenaran yang tidak bisa diperbaiki.
Karena musuh terbesarnya… bukan orang asing.
Tapi wanita yang kini tinggal di rumah yang sama.
Dia adalah istri ayahku.
Tapi setiap malam… dia menangis di balik dinding kamarku.
Dan aku mulai bertanya—
apakah yang salah adalah dia…
atau aku yang tidak bisa berhenti mendengarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andra Secret love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: GASLIGHTING
Dua hari setelah Maya menerima undangan ke Raja Ampat, langit Jakarta masih gelap ketika dia terbangun.
Di sampingnya, Ardi masih tidur dengan posisi meringkuk, wajahnya setengah tertutup bantal. Maya menatapnya sebentar, lalu bangun perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara. Kakinya menyentuh lantai dingin, dan untuk sesaat dia hanya duduk di tepi ranjang, mendengar detak jantungnya sendiri.
Ponselnya sudah bergetar sejak subuh.
Tiga pesan dari Sari.
Kak, aku sudah booking villa. Yang dekat pantai. Viewnya bagus banget!
Ardi belum tahu. Kamu nggak bilang kan?
Aku mau kasih kejutan hari ini. Doain ya.
Maya membaca pesan-pesan itu, lalu mematikan layar. Dia tidak membalas. Tidak tahu harus membalas apa.
Dia berdiri, berjalan ke kamar mandi, menyalakan keran. Air dingin membasahi wajahnya, dan dia menatap bayangannya sendiri di cermin. Wajah yang sama seperti tiga tahun lalu, tapi matanya berbeda. Matanya kosong.
Ketika dia keluar dari kamar mandi, Ardi sudah duduk di ranjang, rambutnya berantakan, matanya masih setengah terpejam.
“Kamu bangun sepagi ini?” suaranya serak.
“Tidak bisa tidur lagi.”
Ardi mengucek mata, menatap Maya. “Ada yang mengganggumu?”
Maya duduk di meja rias, mulai menyisir rambut. Di cermin, dia melihat Ardi berdiri, berjalan mendekat, berdiri di belakangnya.
“Maya.”
“Hm?”
“Kamu berbeda sejak ketemu Sari.”
Maya berhenti menyisir. Tangannya menggantung di udara, lalu perlahan meletakkan sisir di meja. “Aku hanya lelah.”
“Kau berbohong.” Ardi membungkuk, mencium pundaknya pelan. “Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu.”
Maya menatap Ardi lewat cermin. Untuk sesaat, dia hampir berkata jujur. Tapi kemudian dia ingat Sari yang tersenyum di butik, Sari yang memeluknya, Sari yang bilang aku tahu aku bisa percaya sama Kakak.
“Sari masih berharap,” kata Maya akhirnya.
Ardi berhenti. Tangannya yang semula di pundak Maya perlahan turun. “Apa maksudmu?”
“Dia masih menyimpan harapan. Dia pikir kalian hanya salah paham. Dia pikir—” Maya menelan ludah, “dia pikir kalau diberi waktu, kau akan kembali.”
Ardi mundur selangkah. Wajahnya berubah, dari kantuk menjadi waspada. “Apa yang dia rencanakan?”
Maya menatap Ardi. Bilang. Bilang semuanya. Tentang tiket. Tentang Raja Ampat. Tentang undangan untukmu.
Tapi yang keluar dari mulutnya hanya, “Dia hanya ingin bicara denganmu.”
Ardi diam. Dia berjalan ke jendela, membuka tirai, menatap langit yang mulai terang. Di taman belakang, Yuni sudah mulai menyiram tanaman, suara air terdengar dari kejauhan.
“Aku tidak akan kembali,” kata Ardi pelan. “Aku sudah memilih.”
Maya tidak menjawab.
Ardi menoleh, menatapnya dengan mata yang tiba-tiba gelisah. “Kau percaya aku, kan?”
Maya tersenyum. Senyum yang sudah dia latih. “Aku percaya.”
Tapi di dalam hatinya, dia tidak tahu apakah yang dia percaya adalah Ardi, atau kebohongannya sendiri.
---
Pukul sembilan, Ardi sudah berpakaian rapi. Kemeja biru tua, celana abu-abu, rambut disisir rapi. Dia duduk di meja makan, membaca berita di ponsel, sesekali menyeruput kopi hitam yang dibuat Yuni.
Maya duduk di seberangnya, hanya minum air putih. Perutnya mual sejak tadi pagi.
“Kamu tidak makan?” tanya Ardi tanpa mengangkat wajah.
“Tidak lapar.”
Ardi mengangkat ponselnya, menunjukkan layar. “Sari minta ketemu. Hari ini. Di kafe dekat kantor.”
Maya meneguk airnya. “Kau akan pergi?”
“Harus.” Ardi meletakkan ponsel, menatap Maya. “Aku harus selesaikan ini. Selesaikan dengan benar. Supaya dia berhenti berharap.”
Maya mengangguk. Di bawah meja, jari-jarinya menggenggam ujung rok.
“Mau kau ikut?” tanya Ardi tiba-tiba.
Maya terkejut. “Apa?”
“Ikut. Biar dia tahu kalau kita—tidak ada yang perlu disembunyikan.”
Maya menatap Ardi, mencari apakah ini ujian. Tapi wajah Ardi serius, matanya tenang.
“Kau yakin?” tanya Maya.
“Aku yakin.” Ardi berdiri, meraih jaket dari sandaran kursi. “Kita harus berhenti bersembunyi. Sari berhak tahu kalau ini sudah selesai.”
Maya berdiri, mengikuti Ardi ke lorong. Di garasi, Ardi membuka pintu mobil untuknya, seperti yang selalu dia lakukan akhir-akhir ini.
“Ardi,” Maya memanggil sebelum masuk.
“Ya?”
“Apa yang akan kau katakan padanya?”
Ardi diam sebentar. “Yang sebenarnya. Bahwa aku tidak mencintainya lagi.”
Maya masuk ke mobil, merasakan dinginnya AC menyelimuti wajahnya. Ardi duduk di kursi kemudi, menyalakan mesin, dan mereka keluar dari garasi tanpa bicara.
Di jalan, hujan mulai turun lagi. Gerimis kecil yang membasahi kaca depan, membuat jalanan di luar terlihat buram.
Ponsel Maya bergetar. Sari.
Kak, Ardi setuju ketemu. Tapi dia bilang mau bawa seseorang. Aku takut dia bawa perempuan itu. Aku nggak siap.
Maya membaca pesan itu, lalu menoleh ke Ardi yang fokus menyetir. Dia tidak menjawab. Hanya memasukkan ponsel ke tas, menatap ke luar jendela, membiarkan hujan membasahi kaca.
---
Kafe di kawasan Sudirman itu ramai di jam sembilan pagi. Ardi memarkir mobil di basement, lalu mereka naik lift ke lantai dasar. Di dalam lift, Ardi meraih tangan Maya, menggenggam erat.
“Kamu gemetar,” katanya.
“Dingin,” jawab Maya.
Ardi tidak percaya, tapi tidak bertanya lebih lanjut.
Sari sudah duduk di meja dekat jendela ketika mereka tiba. Dia mengenakan blus putih, rambutnya dibiarkan tergerai, wajahnya segar—terlalu segar untuk seseorang yang katanya tidak siap.
Tapi ketika dia melihat Maya di samping Ardi, senyumnya langsung memudar.
“Kak Maya?” Sari berdiri, matanya bergerak cepat dari Maya ke Ardi, lalu kembali ke Maya. “Kalian… bareng?”
Ardi menarik kursi untuk Maya, membiarkannya duduk lebih dulu. “Aku yang ajak. Kita perlu bicara.”
Sari duduk kembali, tapi tubuhnya tegang, jari-jarinya memainkan ujung taplak meja. “Bicara tentang apa?”
Ardi duduk di samping Maya, tubuhnya menghadap Sari. “Tentang kita. Tentang hubungan yang sudah selesai.”
“Selesai?” Suara Sari meninggi sedikit, lalu cepat-cepat diturunkan. “Ardi, kita belum pernah resmi—kau belum pernah menjelaskan—”
“Aku sudah menjelaskan.” Suara Ardi datar, seperti sedang presentasi di kantor. “Aku punya orang lain. Hubungan kita tidak bisa dilanjutkan.”
Sari menatap Ardi, lalu menatap Maya. Matanya basah, tapi dia tidak menangis. “Orang lain itu siapa?”
Ardi diam.
“Kenapa kau tidak bisa bilang?” Sari menekan. “Apa dia lebih baik dari aku? Apa dia lebih cantik? Lebih pintar? Lebih—”
“Sari.” Ardi memotong, suaranya tegas. “Bukan masalah siapa lebih baik. Aku hanya sudah tidak mencintaimu.”
Sari terdiam. Kata-kata itu seperti tamparan. Dia menunduk, bahunya bergetar, tapi tidak ada suara.
Maya duduk di samping Ardi, tidak bergerak. Dia ingin meraih tangan Sari, ingin bilang maaf, ingin lari. Tapi dia hanya diam, membiarkan Ardi bicara.
“Kita sudah bersama empat tahun,” kata Sari pelan, tanpa mengangkat wajah. “Aku selalu ada. Aku selalu setia. Aku selalu—aku selalu percaya suatu hari kau akan berubah.”
“Aku tidak akan berubah.” Suara Ardi pelan, tapi tegas. “Bukan karena kau tidak cukup baik. Tapi karena aku memang tidak bisa mencintaimu seperti yang kau harapkan.”
Sari mengangkat wajah, matanya merah, tapi air mata tidak jatuh. Dia menatap Ardi lama, lalu matanya beralih ke Maya.
“Kak,” suaranya bergetar, “Kak tahu, kan? Siapa perempuan itu?”
Maya merasakan jantungnya berhenti sejenak. “Sari—”
“Kak tahu.” Sari menekan, matanya tajam. “Kak tinggal serumah sama Ardi. Kak pasti tahu siapa yang buat dia berubah. Tolong bilang.”
“Sari, cukup.” Ardi meraih tangan Maya di atas meja, menggenggam erat. “Maya tidak tahu apa-apa. Aku yang tidak mau cerita.”
Sari menatap tangan mereka yang bertaut. Matanya berubah, dari basah menjadi dingin.
“Kalian—” suaranya tercekat. “Kalian berdua—”
“Sari.” Ardi melepaskan tangan Maya, tapi sudah terlambat. Sari sudah melihat.
Dia berdiri, kursinya terdorong ke belakang dengan suara keras. Beberapa pengunjung lain menoleh, tapi Sari tidak peduli.
“Kalian selingkuh,” bisiknya, tapi suaranya seperti pecahan kaca. “Di belakang aku. Di belakang—di belakang ayah kau, Ardi. Dia istri ayahmu.”
“Sari, duduk.” Ardi berdiri, meraih tangan Sari, tapi Sari melepaskan dengan kasar.
“Jangan sentuh aku!” Suaranya pecah. Air mata jatuh, tapi dia tidak menyentuhnya. “Kalian berdua—aku percaya sama Kakak. Aku cerita semuanya. Aku minta saran. Aku—” suaranya tersedak, “aku bilang aku beruntung punya calon ibu mertua sebaik Kakak.”
Maya duduk diam, tidak bisa bergerak. Kata-kata Sari menusuk satu per satu, seperti pisau yang dia sendiri yang menajamkan.
“Dan Kakak diam.” Sari menatap Maya dengan mata yang penuh kebencian. “Kakak dengar aku cerita tentang Ardi. Kakak tahu aku masih cinta. Kakak tahu aku masih berharap. Dan Kakak diam.”
“Sari, ini bukan salah Maya.” Ardi berdiri di antara mereka, tapi Sari mendorongnya.
“Kalian berdua sama.” Sari mundur selangkah, tangannya gemetar. “Kalian jahat. Kalian—aku benci kalian.”
Dia berbalik, berjalan cepat ke pintu keluar, bahunya bergetar. Beberapa pengunjung menatap dengan tatapan aneh, tapi Sari tidak peduli. Pintu kafe terbuka, lalu tertutup, dan Sari hilang di balik kaca.
Ardi duduk kembali, wajahnya pucat. Dia menatap Maya yang masih diam, tidak bergerak.
“Maya.”
Maya tidak menjawab.
“Maya, lihat aku.”
Perlahan Maya mengangkat wajah. Matanya kosong, tidak menangis, hanya kosong.
“Kita menghancurkannya,” bisiknya.
Ardi meraih tangannya, menggenggam erat. “Aku tahu. Tapi ini yang terbaik. Dia harus tahu. Supaya dia berhenti berharap.”
Maya menarik tangannya perlahan. “Kau bilang ini yang terbaik? Kau lihat matanya, Ardi? Itu bukan harapan yang mati. Itu kepercayaan yang hancur.”
Ardi tidak menjawab.
Maya berdiri, meraih tasnya, berjalan ke pintu. Ardi mengikutinya, tapi Maya mengangkat tangan, menyuruhnya berhenti.
“Aku pulang sendiri.”
“Maya—”
“Aku butuh sendiri.”
Dia keluar dari kafe, meninggalkan Ardi yang duduk sendirian di meja, di antara dua kopi yang sudah dingin.
---
Di luar, hujan sudah reda, tapi langit masih kelabu. Maya berdiri di trotoar, mengangkat tangan untuk memanggil taksi. Tangannya gemetar, tapi tidak ada air mata.
Ponselnya bergetar. Sari.
Kakak jahat. Aku percaya sama Kakak. Aku sayang sama Kakak. Ternyata di belakang aku, Kakak—aku nggak tahu harus bilang apa. Aku benci Kakak. Aku benci kalian berdua.
Maya membaca pesan itu sekali, lalu dua kali, lalu tiga kali. Dia ingin membalas, ingin bilang maaf, ingin menjelaskan. Tapi apa yang bisa dijelaskan? Bahwa dia mencintai Ardi? Bahwa dia tidak bisa berhenti? Bahwa dia juga menderita?
Semua alasan itu terdengar seperti kebohongan, bahkan di telinganya sendiri.
Dia memasukkan ponsel ke tas, menaiki taksi yang berhenti di depannya.
“Ke Menteng, Pak,” katanya.
Taksi melaju, meninggalkan kafe, meninggalkan Ardi, meninggalkan Sari yang menangis di suatu tempat.
Di dalam taksi, Maya baru menangis. Diam-diam, tanpa suara, dengan air mata yang jatuh di pangkuannya.
Dia memikirkan Sari yang tersenyum di butik, yang memeluknya, yang bilang aku tahu aku bisa percaya sama Kakak.
Dan dia memikirkan Ardi yang menggenggam tangannya di depan Sari, yang memilihnya, yang bilang aku sudah memilih.
Tapi pilihan itu, pikir Maya, seharusnya tidak pernah ada. Seharusnya Ardi tidak perlu memilih. Seharusnya Maya tidak pernah datang ke rumah itu. Seharusnya semuanya tidak pernah terjadi.
Tapi semuanya sudah terjadi. Dan tidak ada yang bisa kembali.
Taksi berhenti di depan rumah. Maya membayar, keluar, berdiri di depan gerbang besi yang tinggi. Rumah besar itu berdiri kokoh, seperti tidak peduli dengan semua kehancuran di dalamnya.
Dia membuka gerbang, melangkah masuk, dan untuk pertama kalinya, rumah itu terasa asing. Bukan karena dia tidak mengenalnya. Tapi karena dia tidak yakin lagi, apakah ini rumahnya, atau hanya penjara yang dia buat sendiri.
Di dalam, Yuni sedang membersihkan ruang keluarga. Dia menoleh sekilas, lalu kembali bekerja, tidak bertanya.
Maya naik ke lantai dua, membuka pintu kamar, duduk di tepi ranjang. Buku sketsa masih ada di laci samping tempat tidur. Dia membukanya, melihat halaman terakhir yang kosong, mengingat gambar Ardi yang dia bakar.
Dia merobek halaman kosong itu, mengambil pensil, dan mulai menggambar.
Bukan Ardi. Bukan galeri.
Wajah Sari. Dengan senyum yang dulu dia tunjukkan di kafe, sebelum semuanya hancur. Tapi semakin Maya menggambar, semakin senyum itu berubah, menjadi air mata, menjadi kebencian, menjadi luka yang tidak akan pernah sembuh.
Maya menutup buku, meletakkannya di samping bantal.
Di luar, hujan mulai turun lagi.
---