Menjadi janda muda di usia 27 tahun sekaligus Bu RT membuat Jasmine kenyang digosipkan miring oleh warga kompleks, namun ia tidak pernah menyangka bahwa tantangan terbesarnya bukan berasal dari bibir nyinyir ibu-ibu PKK, melainkan dari Aldi—berondong kuliahan nakal sekaligus Ketua Karang Taruna baru yang nekat melempar pesona demi bisa masuk ke dalam hidupnya. Di tengah benturan masa lalu Jasmine yang kelam sebagai single mom dan penolakan keras dari orang tua Aldi, sebuah kepasrahan di malam yang sepi justru menjebak keduanya dalam ketegangan yang tak semestinya terjadi, menyisakan satu pertanyaan besar: mampukah Aldi mengubah obsesi liarnya menjadi sebuah pernikahan nyata, ataukah hubungan terlarang ini justru akan hancur menjadi skandal terbesar di RT 04?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: RESTU
Aroma harum masakan rumahan menguar memenuhi seisi dapur hingga ke ruang tengah rumah Aldi malam itu. Setelah menempuh perjalanan luar kota yang cukup melelahkan, Pak Dadang dan Bunda Baren akhirnya tiba kembali di rumah sejak sore tadi. Kehadiran mereka langsung mengembalikan kehangatan yang sempat hilang. Di atas meja makan jati yang terletak di sudut ruangan, sudah tersaji mangkuk besar berisi sayur asem segar, sambal goang yang merah merona, tahu-tempe goreng, serta sepiring penuh ayam goreng bumbu lengkoas yang masih hangat.
Mikhaela, adik perempuan Aldi yang baru saja dijemput dari stasiun setelah menyudahi liburan singkatnya di rumah nenek di Sukabumi, sudah duduk manis di kursinya sembari memegang sendok. Rambutnya kuncir kuda, dan wajah remajanya tampak berseri-seri, siap melahap menu makan malam kesukaannya.
"Wah, masakan Bunda emang paling top! Di Sukabumi kemarin Mikha kangen banget sama sambal buatan Bunda," celetuk Mikhaela riang, langsung mengambil secentong nasi putih hangat ke atas piringnya.
Bunda Baren yang baru saja meletakkan teko berisi air teh tawar hangat di tengah meja tersenyum manis, mengusap pelan rambut anak perempuannya itu. "Ya sudah, habisin yang banyak. Kamu kayaknya kurusan setelah main di sana."
Pak Dadang, yang malam itu hanya mengenakan kaos dalam putih dan sarung kotak-kotak hijau, duduk di kursi utama kepala meja. Gurat lelah di wajah paruh bayanya perlahan memudar melihat seluruh anggota keluarganya berkumpul lengkap di meja makan.
"Aldi, ayo cepat disendok nasinya. Jangan melamun terus, mumpung ayamnya masih garing," tegur Pak Dadang pelan, melirik anak sulungnya yang sejak tadi hanya memandangi piringnya yang masih kosong dengan tatapan kosong.
Aldi tersentak dari lamunannya. Pikirannya sejak sore tadi memang benar-benar tertinggal di ambang pintu rumah Jasmine. Bayangan wajah syok sang Bu RT dan permintaannya untuk diberi waktu berpikir terus berputar-putar di kepala Aldi. Sesuai dengan apa yang ia bicarakan dengan Kenan dan Sendy semalam, Aldi tahu bahwa ia tidak boleh menunda-nunda lagi. Kejujuran kepada orang tua adalah fondasi utama dari rencana besarnya.
Aldi menarik napas dalam-dalam, menegakkan punggung bongsornya, lalu menatap kedua orang tuanya secara bergantian dengan pandangan mata yang sangat serius. Ia meletakkan kembali sendoknya di tepi piring hingga menimbulkan bunyi klek yang cukup jelas.
"Ayah... Bunda..." panggil Aldi, nadanya mendadak berubah menjadi berat dan penuh penekanan, memecah keceriaan obrolan makan malam tersebut.
Bunda Baren yang baru saja mau menyuap nasi seketika menghentikan gerakan tangannya. Ia menatap anak sulungnya dengan dahi berkerut halus. Insting seorang ibu langsung menangkap ada sesuatu yang tidak biasa dari gelagat Aldi malam ini. "Iya, Mas? Ada apa? Kok mukanya serius banget begitu?"
Aldi menelan ludah, mengeratkan genggaman tangannya di bawah meja untuk mengusir rasa gugup yang mendadak menyerang. "Aldi... Aldi mau ngomong hal penting sama Bapak dan Bunda. Soal masa depan Aldi."
Pak Dadang meletakkan gelas minumnya perlahan, tatapan mata kepemimpinannya mengunci wajah Aldi. "Ngomong saja, Al. Seperti sama siapa saja kamu ini. Ada masalah di kampus atau urusan Karang Taruna?"
"Bukan, Yah. Ini soal perasaan Aldi," ujar Aldi tegap, suaranya terdengar mantap di tengah keheningan ruang makan. "Aldi... Aldi punya rencana mau nikahin Bu Jasmine, Bu RT 04, secepatnya."
Hening.
Kata-kata yang keluar dari mulut Aldi bagaikan petir di siang bolong yang menyambar tepat di tengah-tengah meja makan. Suasana ruang makan seketika mendadak senyap total selama beberapa detik.
Prang!
Mikhaela yang sedang memegang sendok garpu reflek menjatuhkannya ke atas piring hingga menimbulkan dentangan yang cukup keras. Mata remaja perempuan itu melotot sempurna dengan mulut yang terbuka lebar karena kaget setengah mati mendengarkan pernyataan frontal kakak laki-lakinya.
"Hah?! Kak Aldi gila ya?!" pekik Mikhaela histeris, memundurkan posisi duduknya hingga kursinya berderit nyaring di atas lantai. "Kak Aldi mau nikah sama Bu Jasmine?! Bu RT kita yang janda anak satu itu?! Kakak kan masih kuliah, masih muda banget, kok pikirannya udah melenceng jauh begini sih?!"
"Mikha! Jaga bicaranya, jangan teriak-teriak di depan meja makan," tegur Bunda Baren dengan nada tegas, meski wajahnya sendiri tidak bisa menyembunyikan rasa syok yang mendalam atas pengakuan anak sulungnya. Bunda Baren menatap Aldi dengan pandangan penuh selidik dan kecemasan seorang ibu. "Al... kamu serius dengan ucapanmu tadi? Kamu tahu kan status Bu Jasmine di komplek ini seperti apa? Bunda bukannya mau membeda-bedakan, tapi kamu itu masih muda, perjalanan kuliahmu masih panjang. Kenapa tiba-tiba ambil keputusan seekstrem ini?"
Berbeda dengan reaksi Bunda Baren dan Mikhaela yang cukup emosional, Pak Dadang justru menunjukkan ketenangan yang luar biasa. Ia tetap duduk tegap, melipat kedua tangannya di atas meja makan, lalu menatap Aldi tanpa ada gurat kemarahan sedikit pun di wajahnya.
"Ayah mau dengar alasan kamu dulu, Al. Kamu bukan anak kecil yang suka asal bicara tanpa kalkulasi. Apa yang membuat kamu seyakin ini?" tanya Pak Dadang dengan nada suara yang sangat dalam dan berwibawa.
Aldi mengangguk pelan, merasa sedikit lega karena ayahnya memberikan ruang untuk menjelaskan. Ia kemudian mulai menjabarkan seluruh rahasia dan fakta yang sebenarnya yang baru ia ketahui dari Jasmine sore kemarin. Aldi menceritakan dengan sangat detail bahwa Nadeo sebenarnya bukanlah anak kandung Jasmine, melainkan anak yatim piatu dari almarhum kakak kandungnya yang meninggal karena kecelakaan tragis. Aldi juga menegaskan bahwa Jasmine sebenarnya belum pernah menikah dengan pria mana pun alias masih lajang, dan status janda itu sengaja dikarang demi melindungi diri dan keponakannya dari fitnah dan gunjingan miring warga saat pertama kali pindah ke komplek mereka.
Mendengar penuturan panjang dan jujur dari Aldi, ekspresi wajah di meja makan perlahan-lahan mulai berubah rupa. Sifat sinis di wajah Mikhaela mendadak surut, digantikan oleh rasa takjub dan haru yang terpancar dari matanya.
"Ya ampun... Jadi Bu Jasmine sebenarnya belum pernah nikah, Mas?" bisik Mikhaela pelan, tangannya menutup mulut karena merasa bersalah sempat berpikiran negatif tentang wanita itu. "Baik banget ya hatinya... rela dicap janda demi ngerawat anak almarhum kakaknya."
Bunda Baren pun tampak mengusap sudut matanya yang sedikit berkaca-kaca. Sebagai seorang ibu, ia bisa merasakan betapa beratnya beban yang harus dipikul oleh Jasmine di usianya yang masih tergolong muda. Rasa khawatir di hati Bunda Baren perlahan meleleh, berganti dengan rasa hormat yang mendalam atas ketegaran Jasmine.
Pak Dadang terdiam selama beberapa saat, mencerna seluruh kebenaran yang baru saja terungkap. Ia mengembuskan napas panjang, lalu menatap Aldi dengan senyuman tipis yang penuh dengan kebijaksanaan seorang ayah yang bangga melihat anak laki-lakinya telah tumbuh menjadi pria sejati yang tahu cara menghargai wanita.
"Al," panggil Pak Dadang, suaranya memecah keheningan yang sempat tercipta. "Ayah sudah dengar semua penjelasan kamu. Sebagai laki-laki, Bapak bangga kamu punya keberanian dan ketulusan buat melindungi wanita sebaik Bu Jasmine."
Pak Dadang memajukan badannya sedikit, menatap lurus ke dalam manik mata Aldi. "Keputusan untuk menikah itu melibatkan dua kepala dan dua hati. Jadi, kalau dari pihak kita, dari keluarga kita, Ayah dan Bunda tidak ada alasan untuk melarang niat baikmu. Sekarang semuanya kembali ke Bu Jasmine-nya sendiri. Kalau Bu Jasmine mau dan siap menerima kamu sebagai suaminya, ya tidak apa-apa, Ayah dan Bunda pasti restui dan bantu urus semuanya. Tapi... kalau dia ternyata gak mau atau belum siap karena satu dan lain hal, ya sudah. Kamu sebagai laki-laki harus berlapang dada dan jangan memaksakan kehendak. Paham?"
Mendengar kalimat restu dan petuah bijak dari ayahnya, dada Aldi mendadak dipenuhi oleh rasa lega yang luar biasa dahsyat. Beban berat yang sempat menggelayuti pundaknya kini runtuh total. Ia menoleh ke arah Bunda Baren, yang dibalas dengan anggukan lembut penuh persetujuan dari sang bunda.
"Paham, Yah. Makasih banyak buat restunya," ujar Aldi tulus, sebuah senyuman penuh kelegaan akhirnya terukir jelas di wajah tegapnya.
"Sama-sama, Mas. Ya sudah, sekarang ayo dihabisin makan malamnya. Urusan jodoh biar Gusti Allah yang atur jalurnya, yang penting niat baikmu sudah tersampaikan," kata Bunda Baren tersenyum manis, kembali menyendokkan sayur asem ke piring Aldi.
Suasana di meja makan rumah Aldi malam itu kembali mencair, dipenuhi oleh kehangatan dan candaan ringan dari Mikhaela yang mulai menggoda kakaknya soal persiapan menjadi seorang ayah sambung, sementara Aldi menerima godaan itu dengan hati yang lapang, siap menunggu apa pun takdir yang akan diputuskan oleh Jasmine di kemudian hari.