Wan Chen tidak ingin menyelamatkan dunia.
Ia hanya ingin kaya.
Untungnya, saat berada di ambang kematian, ia memperoleh Sistem dengan kemampuan Duplikasi dan Penyimpanan Dimensional.
Dan di dunia yang kekurangan segalanya, tidak ada kemampuan yang lebih menakutkan dari itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 - Merakit Senjata Pra-Kiamat dan Target Baru
Berdebum. Tumpukan kargo berpelapis titanium jatuh membentur lantai pualam.
Napas Lin Yu Yan tersengal hebat. Paru-parunya nyaris robek.
Ia baru saja menyeret puluhan kotak berteknologi tinggi itu dari lobi bawah tanah menuju apartemen mereka. Kakinya kebas. Ujung jemarinya gemetar.
"Aku memborong semuanya," lapor Lin Yu Yan parau. Keringat dingin merembes di kerah mantelnya. "Persis seperti daftarmu."
Pria yang duduk di sofa itu tidak langsung menoleh.
Wan Chen masih sibuk mengetuk udara kosong. Jari telunjuknya menggeser proyeksi antarmuka biru yang membelah pandangan matanya. Deretan data cetak biru dari rongsokan semalam terus berputar di kepalanya.
"Taruh di tengah meja," perintah Wan Chen datar. Suaranya memecah lamunan wanita itu.
Ia bangkit. Berjalan menghampiri tumpukan kargo dengan langkah terukur.
Wan Chen tidak memanggil teknisi. Ia tidak menyewa alat berat atau mesin pemotong plasma.
Ia hanya merogoh udara kosong di samping paha kanannya. Membuka lipatan ruang dimensional.
Pisau Taktis Karbon ditarik keluar perlahan. Bilah hitam pekat itu tidak memantulkan cahaya.
Satu kotak kargo ditarik. Dibuka paksa. Komponen paduan logam asing dan untaian kabel superkonduktor berserakan di atas meja kaca.
'Materialnya cukup solid,' batin Wan Chen.
Pisau karbon di tangannya bergerak. Tidak ada bunyi derit besi gergaji.
Ujung bilah itu menembus material keras layaknya pisau panas membelah mentega basah. Wan Chen memotong. Ia menyambung. Ia membentuk ulang lekukan logam mentah itu.
Data perakitan tingkat empat terus membanjiri otaknya. Tangannya sekadar bertindak sebagai eksekutor fisik.
Percikan api statis memercik kecil saat dua kabel tembaga disatukan.
Lin Yu Yan hanya bisa m menatap pemandangan itu dari sudut ruangan. Memotong baja komposit tingkat militer dengan pisau.
Satu jam berlalu dalam senyap.
Bongkahan material berserakan itu kini menyatu. Berubah bentuk menjadi silinder pipih melengkung dengan deretan rel magnetik di permukaannya.
Gelang Elektromagnetik. Senjata pra-kiamat yang tidak dilirik oleh para elit.
Wan Chen mengangkat karya barunya. Menimbang beratnya yang kurang dari satu kilogram. Sempurna.
Tapi ada satu masalah mendasar soal senjata tingkat tinggi di Era Baru ini. Boros. Sangat boros.
Memakai benda ini secara rutin adalah bunuh diri secara finansial, bahkan untuk konglomerat faksi elit sekalipun.
Satu tembakan. Satu inti energi langka. Nol sisa uang untuk makan.
Wan Chen meletakkan gelang itu. Tangannya meraih kotak kargo terkecil yang ada di meja.
Satu buah silinder kristal seukuran jari telunjuk. Berpendar biru redup. Inti energi murni.
Itu adalah satu-satunya amunisi yang berhasil direbut Lin Yu Yan dari tumpukan pasar gelap hari ini. Pasokannya benar-benar mati di kota ini.
"Kau membuang uang jutaan untuk senjata yang hanya bisa menembak satu kali?" sindir Lin Yu Yan dari kejauhan. Penasaran.
Wan Chen sama sekali tidak menanggapi omong kosong itu.
Telapak tangan kirinya menggenggam inti energi biru tersebut. Pikirannya terpusat tajam.
Sistem duplikasi diaktifkan paksa.
Teks peringatan merah meledak seketika di retinanya.
Kapasitas staminanya terkuras habis-habisan dalam hitungan milidetik. Menciptakan salinan benda dengan tingkat kepadatan energi sepadat ini jelas mengundang murka hukum fisika.
Darah segar menetes pelan dari lubang hidungnya. Menetes membasahi punggung tangannya.
Ia mendecak. Tangan kanannya bergerak secepat kilat merogoh ruang dimensional.
Satu helai kelopak Bunga Darah ditarik. Didorong masuk ke pangkal lidah. Ditelan bulat-bulat.
Api cair kembali membakar lambungnya. Vitalitas murni mengamuk brutal di dalam selnya.
Kemampuan pasifnya bangkit menahan syok tubuh. Keletihan itu di-reset paksa. Staminanya yang menyentuh angka nol ditendang naik kembali ke angka seratus secara tidak wajar. Berulang kali. Mengunci aliran paradoks yang tidak berkesudahan.
Cahaya putih menyilaukan meledak di genggaman Wan Chen.
Letupan kecil bergema.
Genggamannya dibuka. Dari satu inti energi biru, kini berjatuhan dua buah amunisi yang sama persis. Berdenting menabrak meja kaca.
Ia mengulangi prosesnya. Sekali lagi. Sekali lagi. Sekali lagi.
Mengabaikan peringatan ancaman pembuluh darah pecah. Mengabaikan batas rasional manusia.
Lin Yu Yan menahan napas. Matanya melebar sempurna.
Di atas meja kini berserakan tiga puluh inti energi langka yang berpendar biru terang. Pasokan daya mematikan yang tidak terbatas. Amunisi senilai jutaan kredit dicetak dari kehampaan hanya dalam waktu tiga menit.
'Bahkan hukum ekonomi pasar pun bisa dibengkokkan kalau kau punya triknya,' pikir Wan Chen jengah.
Ia mengusap sembarangan sisa darah di hidungnya. Tangannya lalu meraih gelang elektromagnetik tadi. Memasukkannya secara hati-hati menempel di lengan kanannya, tepat di bawah lengan kemeja panjang. Senjata itu terkunci sempurna, menyatu dengan lekuk nadinya tanpa terlihat menonjol.
"Selain menjadi pengantar paket borongan," suara Wan Chen memecah kesunyian. Ia menoleh perlahan menatap Lin Yu Yan. "Apa kau menemukan hal berguna lain di pasar?"
Lin Yu Yan berdehem. Berusaha keras menguasai pita suaranya yang mendadak kering.
"Ada satu desas-desus. Informasi bocor dari kelompok penjarah liar di bar abu-abu," lapornya cepat.
Wan Chen melipat kedua lengannya di dada. Menunggu.
"Sekitar dua ratus kilometer dari perbatasan zona aman, ada fasilitas medis pra-kiamat yang masih tertimbun runtuhan tanah," lanjut Lin Yu Yan. Jari-jarinya bertaut cemas. "Mereka bilang tempat itu belum sepenuhnya dikuras oleh faksi mana pun."
Pria itu menyipitkan mata. Menarik satu simpulan informasi dari otaknya. Fasilitas medis kuno biasanya sarat jebakan bio-hazard, tapi imbalannya jarang mengecewakan.
"Lalu?" pancing Wan Chen datar.
"Ada brankas utama di bangsal bawah tanahnya." Wanita itu maju satu langkah. Suaranya ditekan sekecil mungkin. "Rumornya menyimpan stok Serum Peningkatan Sel."
Udara di ruangan itu seolah berhenti berputar sejenak.
Serum Peningkatan Sel. Item perombak struktur DNA yang bisa mendongkrak atribut fisik dasar secara permanen tanpa perlu efek samping ritual kotor. Obat dewa bagi mereka yang kekurangan bakat genetik bawaan.
'Barang yang bagus,' batin Wan Chen.
Tentu saja. Kenapa mengambil satu kalau ia bisa menyalinnya menjadi ratusan dan membangun pasukannya sendiri? Insting penimbun garis kerasnya meronta kegirangan.
Wan Chen menegakkan punggungnya dari sandaran sofa. Ujung bibirnya tertarik tipis. Membentuk senyuman paling dingin yang pernah dilihat Lin Yu Yan seumur hidupnya.
"Ganti pakaianmu," perintah Wan Chen tajam. Langkah kakinya mulai bergeser ke arah pintu keluar. "Kita bongkar fasilitas medis itu malam ini juga."