NovelToon NovelToon
Lembayung Di Batas Timur

Lembayung Di Batas Timur

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Kehidupan Tentara / Menikahi tentara
Popularitas:715k
Nilai: 5
Nama Author: sinta amalia

Bermula dari benang kusut hubungan sang sahabat, seorang mahasiswi cantik nan manja yang merupakan calon guru itu justru terlibat cekcok dan saling sumpah serapah dengan kekasih sahabatnya yang sekaligus seorang perwira militer negri.

Alih-alih menjauh, kejadian tak mengenakan itu justru menjadi awal dari serentetan pertemuan yang menyatukan mereka pada sebuah takdir untuk saling mencinta di tengah rollercoaster nya perjalanan karir keduanya.

Siapa sangka justru pertemuannya dengan Panji membawa Ivy selangkah lebih dekat dengan cita-citanya yang sebenarnya....
Apakah ia akan membersamai Panji, mengukir lembayung di batas timur, ataukah mengejar mimpinya menjadi seorang model sukses di negri Paris?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Terjerat pinjol

"Sakit Lo, Mayyy!" salak Ivy, alih-alih tersinggung Mayra justru terkekeh.

"Bilang aja gue sakit, ngga masuk. Bye Vy...thanks mamet. Nanti gue traktir."

"Lo yang jamet." Wajah Ivy tak bisa lebih kusut dan keruh lagi menatap sepasang sejoli yang tengah saling bergandengan tangan menuju gerbang lain dari fakultas teknik. Seolah sedang melakukan dosa indah bersama.

"Ihh, si alan. Pacar siapa, yang repot siapa...so laku banget Mayra.." lebih tepatnya, Ivy merasa harga dirinya tercolek saja, toh dibandingkan dengan Mayra ia jelas lebih cantik, lebih kece, lebih segalanya. Mayra adalah bentuk nyata--jika tak selamanya wajah oke itu bernasib mujur, punya banyak kekasih. Buktinya, pacar Mayra berserakan dimana-mana, seperti sampah plastik, sementara dirinya? Terlalu pemilih.

Lelaki jorok, ia tak mau. Lelaki tengil, ia tak mau. Lelaki galak, pelit, tidak penyayang, seram, apalagi tak punya dompet mencukupi alias mokon do, Ivy menutup pintu mata dan hatinya.

Apalagi jika ia tak memiliki wajah rupawan yang bisa Ivy pamerkan di museum, ia akan langsung menghempasnya, menolaknya mentah-mentah.

Dan benar saja, nomor tak tersave memanggil dirinya tak lama setelah itu. Ivy berdecak, jengkel, sebal...

"Mayra ngeselin ahh! Dia yang enak enakan punya pacar, gue yang repotnya begini. Tumbal banget..."

Ia menatap sekeliling, dimana tak ada ide yang bisa ia temukan sekarang. Kata psycho itu...ah! Seolah Mayra sedang mengatakan---tuh, gue kasih maut buat Lo! Mayra memang harus ia tendang ke neraka.

Ivy memutuskan untuk tidak mengangkat panggilannya, membiarkan itu terus menggelepar di dalam tasnya.

Panji berdecak kesal di tempat ia bersandar, tepat di samping motornya. Dimana riak gelombang mahasiswa mulai terlihat lalu lalang sibuk keluar masuk tanda bubarnya beberapa sesi prodi fakultas. Oke, ia terpikirkan Gala.

Bang Panji

La, ini gue. Lo tau Mayra kan? FKIP semester 6?

Jenggala

Oh, Mayra? FKIP semester 6? Ngga tau 😅 sorry. Soalnya aku jarang nyolek anak anak yang ambil S1. Beda gedung bang.

Bang Panji

Kalo Ivy, temennya. Pravita Ayudisa FKIP juga.

Jenggala

Pravita Ayudisa, oh kalo itu tau. Soalnya pernah beberapa kali dia ikut program kampus, relawan, dia juga pernah jadi kandidat Miss kampus.

Bang Panji

Bisa bantu?

Jenggala melambai, dari lain arah. Jenggala memang tengah mengambil gelar magisternya disini, jadi ia datang dari gedung yang cukup berbeda dan jaraknya pun lumayan mengingat luasnya area kampus UNJANA yang telah mengalami renovasi beberapa tahun belakangan ini.

"Bang, udah ketemu?"

Panji menggeleng, "bantu cari bisa ngga?"

Gala, bumil Russel yang belum kentara terlihat membuncit ini meringis, "duh, ngga tau jadwalnya sih tapi ntar dicoba deh...nyari siapanya Ivy bang?"

Dan kini Gala membawa Panji yang terlihat dengan wajah---waw tak bisa dijabarkan, cukup keruh, resah juga sedikit berkeringat diantara kulit yang sudah matang cenderung over cook itu.

"Makin eksotis aja bang, mateng ya di laut?" Dan hahahah mereka bercanda sepanjang perjalanan ke arah gedung FKIP setelah Panji memarkirkan motornya terlebih dahulu.

Panji tertawa, "matengan gue apa Ucel?"

Gala berdecak, "matengan Abang lah. Duta air mineral banyaknya main di hutan, di lapang, di kamar." Keduanya tertawa sepanjang ayunan langkah yang sesekali diperhatikan orang-orang disana.

Beberapa mungkin mengenal siapa Jenggala yang kini tengah berjalan dengan Hanoman from Tanah Abang.

Mata Panji yang seperti elang itu mengedar, memperhatikan area dalam radarnya, jiwa prajurit, Intel dan anggota unit khususnya tentu tak terbantahkan. Sementara Gala mencari seraya mengoceh, "aku ngga begitu hafal juga sih, soalnya jarang kesini."

/

Ivy menghela nafas, lalu membuangnya kasar, menghelanya lagi kemudian membuangnya lagi, "ah dasar bucin si alan! Ck!"

"Ngapain juga gue yang mesti repot dan takut sih. Elah..."

"Vy...jalan sendirian aja?" bukan Mayra bukan Julian bukan pula Arga, yang selalu mencari perhatiannya melainkan Imel yang kini berjalan menyamai langkahnya, "hey Mel, dari mana?"

"Pak Drajat. Dosen pembimbing."

Oh! Ivy mengangguk ingat, ia pun seharusnya sudah mulai mendaftarkan namanya.

"Daftar?" Langkahnya mengayun santai, menjejak setiap lantai koridor kampus, dimana cuaca hari ini terlalu sayang jika dilewatkan dengan segala ke-tergesaan.

Imel mengangguk, "harusnya Lo juga kan?"

"Besok kayanya, ini baru rehat bentar abis nyerahin tugas makalah sama Bu Dara."

Oh iya....Angguk Imel.

"Oke deh kalo gitu gue duluan ya, Vy..."

"Bye..."

Bye! Ivy bergumam dan melambai, tapi kemudian langkah yang sempat terhenti itu kini kembali terhenti sempurna kala suara seorang perempuan tak asing memanggilnya, "Ivy! Pravita Ayudisa!"

Ia dapati Kahiyang Jenggala mahasiswi fakultas seni yang tengah bersama seorang lelaki tegap, berbadan atletis bak----tatapan Ivy tentu saja tidak sedang mencermati Gala atau matahari yang sedang menyengat-menyengatnya membakar bumi. Tapi pada sosok asing yang seketika membuatnya kedinginan, merasa dilucuti meski wajahnya nampak ada manis-manisnya, membuatnya merasa ditusuk padahal tidak sedang membawa pisau.

Seketika instingnya menajam dan mengatakan jika ia adalah ancaman, feeling-nya berkata jika itu....Ivy membalikan badannya, "ngga bener nih!" entah kenapa kaki-kakinya itu mengajaknya untuk....lariiii!

Mammaaaa !!!!

Tentu saja Panji yang menyadari gelagat aneh Ivy langsung mengambil langkah seribu mengejar Ivy.

"Excuse me...excuse me....sorry kasih jalan buat air panasss!" ia membelah koridor yang mendadak ramai menurutnya.

"Vy! Weyyy, Lo yang namanya Ivy! Temennya Mayra?!" Panji berteriak memanggil-manggil tapi sosok gadis dengan perawakan semampai, berambut panjang itu justru berlari menghindar.

Fix, Panji merasa semua kejanggalan itu beralasan. Ia bukan orang biasa yang tak tau gelagat penjahat begini.

Sementara Gala di belakang justru mengernyit meski tak urung ikut mengejar, menyusul dengan langkah cepat tanpa berlari mengingat kondisinya yang tengah berbadan dua, "ada apa sih ini?"

"Mam pus, kemana nih?!" Ivy celingukan mencari celah berlari saat angin justru membawa langkahnya ke tempat mentok, oke...jadi salahkan angin! Angin yang membawa langkahnya ke tempat mentok, angin juga yang menghembuskan si buta dalam cerita rakyat Timun Mas ke UNJANA.

Langkahnya sedikit buntu, terlalu lama berpikir efek sarapan pake pasta, agree! Pasta bikin dia lemot. Salahkan pasta juga.

Grepp!

Ivy terhenyak saat tangannya diraih seseorang, "Mayra, saya hanya mau bertanya tentang Mayra. Kenapa kamu harus lari?" Panji nafasnya cukup diburu pagi ini, meski itu tak ada seujung kukunya latihan fisiknya di kesatuan atau Puslatpur.

"Ampun mas, bang, akang, aa...gue----"

"Kamu tau sesuatu tentang Mayra, makanya kamu kabur? Atau apa alasan kamu kabur, apa kamu tau siapa saya?"

Ivy berusaha melepas cengkraman tangan besar dan kuat di tangannya, matanya cukup tajam menatap tangannya terkunci, tangan putih yang kontras dengan tangan coklat Panji.

"Sorry buat ini, bukan saya mau kurang ajar tapi----"

Bugh!

Ivy melayangkan tas selempangnya ke arah Panji yang di halau si anggota pasukan khusus militer negri ini hingga tasnya hanya mentok dan jatuh terkulai lagi karena menabrak lengan Panji.

"Pergi Lo!"

Tentu saja sasaran yang tak kooperatif begini sangat dipahami Panji, menurut SOP jika seseorang tak bisa bekerja sama itu harus dibekuk...

"Lah, saya pernah bikin salah sampai kamu harus berlari, kabur? Coba katakan kenapa kamu harus kabur? Kamu tau siapa saya?"

Ivy langsung tersentak, iya juga! Kenapa harus kabur ...ketauan sekali ia tau sesuatu, pasta---salah pasta dan susu kambing. Tapi dia Ivy, yang Mayra percaya jika ia bisa diandalkan.

"Ekhem." Ivy masih berontak dan berusaha melepas tangannya dari genggaman Panji, membuang wajah ke arah dedaunan pucuk merah yang sempat berguguran tertiup angin siang lalu jatuh berserakan menyatu dengan debu terinjak-injak dan tergilas ban ban kendaraan warga kampus.

"Gue kira..." ia menelan saliva sulit, tapi kemudian memberanikan diri memandang sepasang mata dengan iris coklat tua yang indah, anjirrrr! Nih mata cowok indah bangettt. Bisa-bisanya Ivy dong-dong!

Dan retina dengan sorot tajam tapi tak sepenuhnya itu memandang Ivy, tepat, menyergap penuh intimidasi.

Wajahnya sedikit mendongak menunjukan jika ia tak mudah untuk digertak, diintimidasi dan, angkuh...gengsinya setinggi Himalaya.

"Gue tebak Lo debt collector pinjol kan?!"

Ada kernyitan di alis tajam Panji, ada sedikit rasa geli juga yang menggelitik, "kamu terjerat pinjol?"

.

.

.

.

1
Nur Koni
ryu jangan ikut buly.... tar km dpt jatah akan kena batunya dr mereka semua
Nur Koni
si calon bapak ikut jd kompor meleduk... pa kabar duta air mineral
Nur Koni
tikungan lo kurang gacor kalingga....
Iccha Risa
apasih Kalingga..
Iccha Risa
yeah, pasti... semoga lolos dan bisa ketemu ya ntar di ibukota. andai ini nyata aku mw bilang makasih ke Ivy, memberikan harapan, membuat peluang bisa jadi terbaik sampe repot nyiapin kostum buat nunjang penampilan itu keren ...
Nurfi Susiana
ryu jodoh ama adik shanum aja teh sin biar makin ramai,,,duh siapa ya namanya lupa🤣🤣
Nur Koni
rencana om njie untuk mengenalkan anak2 KKN 78 pd ibu mutiara timur udh otomatis tersambut tanpa d minta panji umi fara lgsg gercep bikib proker untuk tanjuk komodo
Nur Koni
lanjut smp anak2 itu nonggol d ibu kota ya teh sin... biar seru dan mengharukan pastinya jd perjuangan ka' e monalisa tdk sia2
Elizabeth Zulfa
umma pasti restuin lah klo ktemu ivy 🙃🙃
Nur Koni
keren lah imajinasi dan inovasinya ka ' e ivy calon mantu umi eyi.... yg bikin umi fara siap nikung d timungan tajam
Elizabeth Zulfa
syok terapi bnget za neng ivy liat siapa sbenarnya kluarga panji 😅😅😅
anne buna
jadi penasaran ceritanya kalinggaa.. teh sin, cerita kalingga ditunggu niihhh
Nur Koni
kakak ipar ygvkeren buat pendukung om lingga jd kompor
Nur Koni
silas bikin terhura....terharu
Nur Koni
abi ray..... menang untuk x inj ga akan gagal lg dpt mantu
Nur Koni
ngakak aku..... umi fara 2x gagal buat promosiin bang lingga unk jodohnya.... sabar umi.... jodoh kalingga lg d proses ama teh sin
Nur Koni
jiwa pejuang ivy udh keluar dr meliat poyensi anak2 pedalaman yg mengagumkan
Nur Koni
bahas pinangan apa hajatan militer aja abi ray
Nur Koni
hahaha..... bisa aja bang
Nur Koni
iya dpt bonus anak ivy yg binal suka cari laki d rmh org
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!