Akibat jebakan obat di malam perjamuan, Aruna berakhir di ranjang bos besarnya yang dingin, Adrian. Namun, sebuah garis dua di testpack mengubah segalanya. Batasan profesional di atas kertas itu perlahan runtuh saat seorang anak kecil—buah cinta kandung dari malam penuh skandal itu—hadir di antara mereka, memaksa hubungan ini berjalan jauh melampaui batasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
PLAK!
Suara hantaman keras memecah kesunyian malam.
Aku terkejut, buru-buru membekap mulutku sendiri dengan mata membelalak. Raka, yang sedetik lalu masih mengoceh dengan sombongnya, langsung terjerembab ke aspal jalanan. Kepalanya menoleh patah ke samping akibat hantaman telapak tangan Pak Adrian yang begitu telak dan bertenaga di pipinya.
Cengkeraman tangan Raka di pergelangan tanganku langsung terlepas seketika. Pria mabuk itu memegangi pipinya yang perlahan memerah dan membengkak, menatap Pak Adrian dengan tatapan syok sekaligus tak percaya.
Napas Pak Adrian memburu, turun naik menahan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun. Dia menarik kembali tangannya, lalu merapikan kemejanya dengan gerakan yang sangat tenang namun justru ketenangan itulah yang membuat atmosfer di sekitar kami terasa begitu mematikan.
"Jaga mulut kotor kamu," suara Pak Adrian terdengar sangat rendah dan dingin, menusuk langsung ke ulu hati.
Pria itu maju satu langkah, berdiri menjulang di depan Raka yang masih terduduk lemas di aspal. Tatapan mata Pak Adrian berkilat tajam, sama sekali tidak ada sisa-sisa toleransi di sana.
"Saya paling tidak suka ada orang yang merendahkan harga diri seorang wanita di depan muka saya," lanjut Pak Adrian, setiap kata yang keluar dari bibirnya terdengar seperti vonis mati. "Dan satu hal lagi yang perlu kamu tahu... saya sama sekali tidak butuh alasan apa pun untuk menghancurkan bajingan seperti kamu."
Raka yang tadinya sok jagoan mendadak bungkam seribu bahasa. Efek alkohol di otaknya seolah menguap begitu saja, digantikan oleh rasa takut yang luar biasa begitu menyadari kalau pria bertubuh tegap di depannya ini bukanlah orang sembarangan yang bisa dia lawan.
Aku masih setia bersembunyi di balik punggung Pak Adrian, meremas ujung kemejanya dengan erat. Air mataku masih menetes, tapi anehnya, ada rasa lega yang membuncah di dalam dadaku melihat Raka akhirnya mendapatkan balasan yang setimpal.
Raka perlahan bangkit dari aspal sambil terus memegangi pipinya yang membengkak. Nyalinya jelas sudah ciut menghadapi Pak Adrian, tapi dasar bajingan, dia masih berusaha menyelamatkan harga dirinya yang sudah jatuh ke kubangan lumpur.
Sebelum melangkah mundur untuk kabur ke dalam gang, dia melemparkan tatapan penuh kebencian ke arahku.
"Awas lo ya, Run! Gue bakal inget kejadian malam ini! Lihat aja nanti!" terkam Raka sambil menunjuk-nunjuk wajahku dengan jari yang gemetar.
Setelah melontarkan ancaman murahan itu, dia langsung berbalik dan berlari seribu langkah, menghilang ke dalam kegelapan gang kontrakanku.
Begitu sosok Raka benar-benar hilang dari pandangan, pertahanan yang sejak tadi kubangun langsung runtuh total. Kakiku mendadak lemas seperti jeli. Aku kembali terisak, menangis sejadi-jadinya karena rasa syok yang baru benar-benar menjalar ke seluruh tubuh. Bahuku terguncang hebat, dan aku terpaksa menunduk dalam-dalam untuk menyembunyikan wajahku yang basah kuyup karena air mata.
Di tengah tangisanku yang memecah keheningan malam, aku mendengar suara kain yang bergesek.
Aku mendongak sedikit. Di bawah temaram lampu jalan, Pak Adrian melepaskan jasnya dengan gerakan tenang, lalu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar tepat di depanku.
Melihat sepasang lengan kokoh itu terbuka lebar di depanku. Tanpa berpikir panjang, aku langsung melangkah maju dan menghamburkan diriku ke dalam dekapan pria itu.
Grep.
Aku memeluk tubuh tegap Pak Adrian dengan sangat erat, menenggelamkan wajahku di dada bidangnya yang dilapisi kemeja putih bersih. Wangi parfum maskulin bercampur aroma kayu cendana yang mewah langsung menguar, entah kenapa seketika membuat debaran jantungku yang menggila perlahan mulai mereda.
"Hiks... Makasih, Pak... Makasih banyak..." tangisku makin pecah di dadanya, meremas bagian belakang kemejanya tanpa mempedulikan apakah air mataku akan mengotori pakaian mahalnya.
Tepat saat aku memeluknya, aku bisa merasakan tubuh Pak Adrian mendadak kaku seperti batu. Kedua tangannya yang memegang jas tergantung kaku di udara, sama sekali tidak membalas pelukanku. Pria itu tampaknya syok setengah mati karena kelakuanku.
Namun, kehangatan itu tidak bertahan lama. Perlahan, aku merasakan sepasang tangan kekar Pak Adrian bergerak. Bukannya membalas pelukanku, dia justru memegang kedua bahuku dengan lembut namun tegas, mendorong tubuhku mundur beberapa senti agar jarak kami kembali berjarak.
Wajahku terasa panas karena malu begitu menyadari kebodohanku.
Sebelum aku sempat meminta maaf, Pak Adrian menghembuskan napas pendek. Dia menyampirkan jas hitam mahalnya yang tebal ke atas bahuku. Seketika, aroma maskulin kayu cendana membungkus tubuhku yang sedari tadi menggigil kedinginan karena hanya memakai tank top. Jas itu terasa sangat besar di tubuh mungil, menjuntai hampir menyentuh lutut.
Aku menunduk dalam-dalam, menyembunyikan wajahku yang merah padam di balik kerah jasnya. "M-maaf, Pak..."
"Ya sudah. Sekarang kamu kembali ke rumah kamu. Bersihkan diri, lalu istirahat," perintahnya sambil melirik ke arah gang tempat Raka kabur tadi.
"Tapi..." Aku mencoba melangkah mundur, hendak menuruti perintahnya. Namun, baru satu langkah, lututku mendadak lemas seperti jeli. Tubuhku limbung dan hampir saja terjatuh ke aspal kalau saja tangan cekatan Pak Adrian tidak segera mencengkram jemariku.
Badanku masih gemetar hebat. Untuk berjalan sepuluh meter saja rasanya aku tidak sanggup.
Pak Adrian menatap kondisiku dari kepala hingga ujung kaki. Dia melihat kakiku yang telanjang tanpa alas kaki, penuh dengan debu dan beberapa goresan kecil akibat kerikil tajam di gang tadi.
Pria itu menghembuskan napas berat, tampaknya menyerah dengan situasi pelik ini.
"Jalan rumah kamu lewat mana?" tanyanya, nadanya terdengar agak tidak sabar tapi tidak ada kemarahan di sana.
"Masuk ke gang itu, Pak... Rumah nomor tiga di sebelah kiri," jawabku pelan sambil menunjuk gang gelap dengan jari yang masih gemetar.
Tanpa banyak bicara lagi, Pak Adrian menuntunku dengan hati-hati. Dia menyesuaikan langkah kakinya yang lebar dengan langkahku yang kecil dan terseok-seok. Pria dengan setelan desainer mahal itu rela berjalan menembus gang sempit dan becek demi memastikan karyawannya yang menyedihkan ini sampai dengan selamat.
Begitu sampai di depan pintu rumah, pemandangan pintu kayu yang sudah agak rusak karena dobrakan Raka kembali membuat hatiku mencelos. Aku memegang gagang pintu dengan tangan yang bergetar.
Pak Adrian berdiri di belakangku, mengawasi dengan waswas yang berusaha dia sembunyikan di balik wajah datarnya.
"Masuk," ucap Pak Adrian pelan namun penuh penekanan. "Dan ingat, langsung kunci pintunya dari dalam. Pasang selot tambahannya kalau ada. Jangan biarkan ada orang asing masuk, termasuk laki-laki tadi. Mengerti?"
Aku membalikkan badan, menatap wajah tegasnya di bawah temaram lampu teras. "I-iya, Pak. Mengerti. Terima kasih banyak untuk malam ini, Pak Adrian... dan maaf untuk jasnya."
"Jasnya bisa kamu kembalikan besok di kantor," jawabnya pendek. "Masuklah."
Aku mengangguk, lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Begitu pintu tertutup, aku langsung memutar kunci dua kali dan memasang selot besi dengan terburu-buru sampai terdengar bunyi klek yang nyaring. Aku menyandarkan punggungku di balik pintu, memeluk jas tebal Pak Adrian yang masih menyisakan kehangatan tubuhnya.
Di luar, setelah mendengar bunyi pintu yang terkunci rapat, aku bisa mendengar suara langkah sepatu pantofel Pak Adrian yang perlahan berjalan menjauh, meninggalkan rumahku. Malam yang mengerikan ini akhirnya berakhir, dan entah kenapa, rasa aman itu terasa begitu nyata karena kehadiran pria dingin itu.