NovelToon NovelToon
TERJERAT CINTA MAJIKAN

TERJERAT CINTA MAJIKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: AlinaKS

Neysa seorang gadis cantik, terperangkap menjadi pelayan karena suatu alasan. Siapa sangka Anak Majikannya, Darren akan jatuh hati padanya. Seribu cara ia lakukan, agar Neysa jatuh ke tangannya. Namun siapa yang tahu, Neysa yang biasa saja, wanita yang selalu terpojok oleh keadaan itu menyimpan sesuatu hal yang besar. Ternyata ....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5

***

Neysa duduk di sudut kamar, wajahnya pucat setelah hasil pemeriksaan dokter diumumkan. Kata-kata itu terus terngiang di telinganya: “Kau hamil.”

Namun, di balik semua itu, Neysa tahu siapa yang berada di balik rencana licik ini—Darren Barnes.

Suara pintu terbuka membuat Neysa mendongak dengan cepat. Darren masuk dengan langkah santai, wajahnya menampilkan senyum arogan yang membuat darah Neysa mendidih.

“Kau puas sekarang, Darren?” Neysa melontarkan pertanyaan dengan nada penuh kemarahan. Tangannya mengepal, berusaha menahan luapan emosi yang hampir tak tertahan.

Darren menghentikan langkahnya di tengah ruangan, menatap Neysa dengan tatapan penuh kontrol. “Puas? Sayang, ini bahkan belum dimulai.”

“Kau pikir aku akan percaya omong kosong itu?” Neysa berdiri, tubuhnya gemetar karena marah. “Aku tahu ini hanya bagian dari skemamu untuk menahanku di sini!”

Darren tersenyum tipis, lalu perlahan melangkah mendekatinya. Mata cokelat gelapnya menyala penuh intensitas, seolah mampu menelanjangi pikiran Neysa. “Percaya atau tidak, Neysa, kenyataannya tetap sama.”

Neysa mundur selangkah saat Darren semakin dekat. “Kau pria paling keji yang pernah kukenal!” serunya dengan napas memburu.

Darren mengangkat tangannya, menyentuh pipi Neysa dengan lembut, membuat gadis itu terhenti. Jemarinya yang dingin kontras dengan kulit hangat Neysa, menciptakan sensasi yang membingungkan.

“Keji?” Darren berbisik, suaranya rendah dan tajam. “Kalau aku keji, aku tidak akan repot-repot memastikan kau tetap di sini, tetap aman… bersamaku.”

“Jangan membelokkan kenyataan!” Neysa menepis tangannya, tapi Darren hanya terkekeh pelan, langkahnya tak terhenti.

“Aku tidak membohongi siapa pun, termasuk ibuku,” Darren melanjutkan, suaranya semakin mendalam. “Kau mungkin tidak percaya sekarang, tapi waktu akan membuktikan semuanya. Dan sampai saat itu tiba, kau adalah milikku, Neysa.”

Kata-kata itu membuat Neysa membeku di tempatnya. Mata Darren bersinar dengan kesungguhan yang aneh, menciptakan percikan emosi yang sulit ia abaikan. Tapi sebelum ia bisa membalas, suara ketukan pintu memecah keheningan.

“Masuk,” ujar Darren tanpa mengalihkan pandangan dari Neysa.

Pintu terbuka, dan sosok Nyonya Barnes muncul dengan langkah anggun. Ekspresi wajahnya tetap datar seperti biasanya, sulit ditebak. Matanya bergeser dari Darren ke Neysa, lalu kembali ke Darren.

“Keluarga Cadmael akan datang malam ini untuk makan malam. Bersiaplah, Darren. Ini soal pernikahanmu dengan Jessica,” katanya dingin sebelum menoleh sekilas ke arah Neysa. “Dan kau, Neysa. Jaga dirimu baik-baik. Jangan sampai cucuku terganggu.”

Pernyataan itu seperti petir yang menghantam Neysa. Matanya membelalak, tapi sebelum ia sempat berkata apa pun, Nyonya Barnes sudah berbalik dan meninggalkan ruangan.

Setelah pintu tertutup, Neysa menoleh tajam ke arah Darren. “Kau benar-benar pria keji! Kau bahkan tega membohongi ibumu sendiri hanya untuk memuaskan egomu!”

Darren tertawa kecil, tapi tawa itu tidak membawa kehangatan. Ia melangkah mendekat, kali ini lebih pelan, lebih mengintimidasi. Ketika jarak mereka hanya sejengkal, ia menunduk hingga wajah mereka sejajar.

“Aku tidak membohonginya,” Darren berkata dengan suara rendah namun penuh otoritas. “Anakku memang ada padamu, Neysa.”

Wajah Neysa memerah, campuran antara marah, malu, dan bingung. “Berhenti mengatakan hal-hal tidak masuk akal! Aku tahu kau hanya ingin mengikatku!”

“Aku tidak mencoba mengikatmu,” bisik Darren lembut. “Aku akan melakukannya nanti.”

Neysa tersentak, tak mampu berkata apa-apa. Darren tersenyum kecil, lalu berbalik menuju pintu. Tapi sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi, memberikan tatapan yang seolah mengunci Neysa di tempat.

“Dan malam ini, kau akan tetap di sini. Tidak ada tempat lain untukmu. Hanya aku.”

Setelah Darren pergi, Neysa terduduk di lantai, air matanya menetes perlahan. Ia meremas ujung bajunya, mencoba menahan gejolak di hatinya. Ia ingin melawan Darren, tapi situasinya sekarang tidak terlalu menguntungkan untuknya.

Ia harus memikirkan cara lain.

***

Darren duduk terdiam di meja makan besar, matanya hanya menatap kosong ke piringnya, tak ada sedikit pun nafsu untuk makan. Suara garpu yang berbunyi nyaring di antara kesunyian ruang makan terasa semakin mencolok, menciptakan suasana yang semakin canggung.

Di sampingnya, Jessica mencoba menarik perhatiannya, namun Darren hanya memberikan respons datar. Tidak ada kehangatan dalam tatapan matanya, tidak ada perhatian.

“Darren...” Jessica mencoba membuka percakapan, suara lembutnya berusaha menembus kebekuan di antara mereka. “Kenapa kau begitu diam? Apakah ada yang mengganggumu?”

Darren meliriknya sekilas, lalu kembali menunduk, garpunya terus berputar-putar di atas piring, seolah tidak ada yang penting selain itu. Matanya tampak kosong, seolah ia sedang terjebak dalam pikirannya sendiri, jauh dari dunia nyata.

Jessica merasa sedikit tersinggung, senyum manis di wajahnya mulai meredup. “Kau tahu, aku tidak suka jika kau mengabaikanku seperti ini,” katanya, suaranya mulai mengandung nada kecewa yang tak bisa disembunyikan.

Namun, Darren tetap tidak menanggapi. Tanpa kata, ia hanya melanjutkan makan dengan gerakan yang terasa lamban dan tidak ada gairah. Jessica menahan napas, wajahnya berubah tegang. Tak tahan dengan keheningan yang semakin menyesakkan, ia bangkit dari meja makan dengan terburu-buru.

“Aku ke toilet sebentar.”

Tanpa menunggu jawaban, Jessica pergi dengan langkah cepat, meninggalkan Darren yang masih tenggelam dalam dunianya yang penuh kekosongan. Namun, bukan toilet yang ia tuju. Ada sesuatu yang lebih gelap yang menarik langkahnya.

Setelah berkeliling di rumah besar yang terasa dingin dan sepi, langkah kaki Jessica membawa dirinya ke halaman belakang, di mana kolam renang besar dan sunyi itu menanti. Di sana, ia melihat Neysa yang sedang membersihkan kolam, memungut daun-daun yang mengambang.

Melihat wanita itu begitu tenang dan tanpa beban, api amarah Jessica mulai berkobar. Tanpa perasaan, ia melangkah mendekat dan, dalam satu gerakan cepat, mendorong Neysa ke dalam kolam dengan penuh amarah.

“Aaaah!”

Neysa terkejut, jatuh tercebur ke dalam air yang dingin. Ia terhempas dalam kedalaman kolam dan mulai terombang-ambing. Setiap kali ia berusaha untuk bangkit, tubuhnya terasa semakin terperangkap dalam cengkeraman air yang begitu dalam. Kepalanya hampir tenggelam.

Jessica berdiri di tepi kolam, tubuhnya menegang, senyum sinis terlukis di wajahnya. Ia menikmati setiap detik dari kekalahan Neysa. “Kau harus belajar siapa yang lebih kuat di sini,” katanya, suara rendahnya penuh kebencian.

Namun, detik berikutnya, langkah cepat terdengar di belakangnya. Darren, yang sebelumnya tampak terbenam dalam kesunyian, kini muncul di tepi kolam dengan ekspresi kecemasan yang sangat jelas.

“Neysa!” serunya, ingin melompat tanpa ragu ke dalam kolam. Namun Jessica tak kalah cepat. Ia meraih tangan Darren dengan keras, menghalangi langkahnya.

“Jangan coba-coba, Darren,” ucapnya, suaranya semakin tajam, mengandung ancaman yang jelas. “Jika kau menolongnya, aku akan membuatmu menyesal. Aku bisa memutuskan hubungan keluarga ini dengan sekali gerakan.”

Darren terdiam, tubuhnya kaku, matanya terpaku pada Jessica, yang sekarang terlihat seperti ancaman yang tak bisa dihindari. Ia ingin berlari, ingin menyelamatkan Neysa, namun ancaman itu begitu jelas. Perlahan, wajahnya yang biasanya keras kini dipenuhi keraguan yang mendalam.

Dengan berat hati, Darren menarik tangannya kembali dan menatap Jessica dengan penuh kebingungan. Tetapi, meski terhalang oleh ancaman, ia memberikan isyarat halus ke arah pelayan yang berdiri di dekat kolam. Tanpa berkata sepatah kata pun, pelayan itu bergerak cepat menuju kolam, menggantikan peran Darren.

Jessica menatapnya dengan rasa kemenangan yang jelas, seolah memastikan bahwa Darren telah tunduk padanya. Dengan langkah angkuh, ia mulai berjalan kembali ke ruang makan, bersama Darren. Meninggalkan Neysa di tepi kolam.

Namun, saat Jessica pergi, kejadian yang tak terduga terjadi. Neysa, yang semula tenggelam, tiba-tiba muncul kembali ke permukaan, memegangi sisi kolam dengan satu tangan, matanya terpejam. Perlahan, matanya yang tertutup itu terbuka, dan senyuman kecil tersungging di bibirnya.

Di balik kejadian itu, pelayan yang hendak menolong Neysa menunduk hormat. Tatapan tajamnya mengikuti kepergian Darren dan Jessica, lalu berbalik dengan sigap untuk memastikan bahwa Neysa selamat.

Neysa, melihat pelayannya dingin. “Kita harus lebih berhati-hati,” ujar Neysa, suaranya penuh kewaspadaan, tetapi ada cahaya kemenangan yang menyinari matanya, menyadari bahwa permainan ini baru saja dimulai.

B e r s a m b u n g ....

Ayoyo, apa yang terjadi selanjutnya? Siapa yang sebenarnya dijebak. Apa maksud dari Neysa, tunggu part selanjutnya. Makasih ^⁠_⁠^

1
asy
lanjuttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!