Sinopsis
Alya Maheswari percaya satu hal: cinta pertamanya sudah mati.
Lima tahun lalu, ia meninggalkan kota kecilnya dengan hati yang hancur dan mimpi yang hampir padam. Ia memilih kuliah di luar kota, membangun hidup baru, dan berjanji tak akan pernah kembali ke tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan.
Namun takdir punya caranya sendiri.
Saat ibunya sakit, Alya terpaksa pulang. Dan di kota yang penuh senja itu, ia kembali bertemu dengan Arka Pratama — pria yang pernah menjadi rumahnya… dan juga luka terbesarnya.
Arka bukan lagi pemuda ceroboh yang dulu ia kenal. Kini ia lebih tenang, lebih dewasa, dan menyimpan sesuatu yang belum pernah sempat ia katakan.
Di antara rahasia masa lalu, kesalahpahaman yang belum selesai, dan perasaan yang ternyata tak pernah benar-benar pergi… apakah cinta mereka benar-benar sudah berakhir?
Atau justru, senja hanya menunggu untuk kembali pulang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penulis handal wakakkak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 — Saat Dunia Mulai Menguji Lagi
Tiga minggu berlalu lebih cepat dari yang Alya kira.
Arka benar-benar bolak-balik antara kota kecil dan Jakarta. Kadang dua hari di sini, tiga hari di sana. Kadang datang malam, pulang subuh. Jadwalnya padat. Wajahnya mulai terlihat lebih lelah.
Tapi setiap kali bertemu Alya, ia tetap tersenyum seperti biasa.
Dan itu justru yang membuat Alya mulai khawatir.
Malam itu, Arka baru sampai di apartemen hampir pukul sebelas.
Alya sudah selesai meeting daring dan menunggunya di ruang tamu. Lampu hanya menyala satu. Suasana hening.
“Kamu makan belum?” tanya Alya begitu pintu terbuka.
“Udah di jalan.”
Bohong kecil.
Alya tahu dari nada suaranya.
“Kamu capek,” katanya pelan.
“Lumayan.”
Arka duduk di sofa, menyandarkan kepala ke belakang. Mata terpejam beberapa detik lebih lama dari biasanya.
Alya mendekat.
“Kita nggak harus ketemu tiap minggu kalau kamu kayak gini,” katanya hati-hati.
Arka membuka mata. “Aku mau.”
“Tapi kamu kelihatan dipaksa.”
Kalimat itu keluar tanpa Alya sadari.
Dan langsung mengubah suasana.
“Alya,” suara Arka lebih pelan sekarang, “aku nggak pernah ngerasa dipaksa.”
“Tapi kamu lelah.”
“Aku lelah karena kerjaan. Bukan karena kamu.”
Hening.
Alya duduk di ujung sofa. “Aku cuma takut kamu nanti capek dan nyalahin hubungan ini.”
Arka menatapnya cukup lama.
“Aku nggak pernah nyalahin kamu waktu kamu pergi dulu,” katanya pelan. “Aku cuma nyalahin diri sendiri karena nggak cukup berani.”
Kalimat itu membuat dada Alya sesak.
“Sekarang aku lagi berusaha,” lanjut Arka. “Kalau aku capek, itu karena aku lagi bangun sesuatu. Bukan karena aku lagi kehilangan sesuatu.”
Sunyi menggantung.
Namun sebelum percakapan itu benar-benar reda, ponsel Arka bergetar.
Nama yang muncul membuat Alya tanpa sadar menegang.
Dira.
Arka tidak menyembunyikannya. Ia langsung menerima panggilan itu di depan Alya.
“Iya, Dir?”
Nada suaranya profesional.
Beberapa detik ia mendengarkan. Lalu wajahnya berubah serius.
“Sekarang?” tanyanya.
Alya memperhatikan.
“Iya… oke. Aku cek tiket.”
Telepon ditutup.
“Ada apa?” tanya Alya.
“Proyek di kota kita bermasalah. Kontraktor salah hitung struktur. Kalau nggak segera dicek, bisa fatal.”
“Kamu harus balik?”
“Besok pagi.”
Hening lagi.
Baru tadi mereka membahas soal kelelahan. Sekarang jarak kembali memanggil.
“Pergi aja,” kata Alya pelan, berusaha terdengar biasa.
Arka mengernyit. “Kamu marah?”
“Enggak.”
Tapi nadanya terlalu datar.
“Alya.”
“Aku ngerti ini penting.”
“Lya.”
Alya akhirnya menatapnya.
“Aku cuma capek,” katanya jujur. “Baru mulai ngerasa kita stabil, terus ada aja yang bikin kita jauh lagi.”
Arka terdiam.
Itu bukan tuduhan. Itu kelelahan.
Ia mendekat, duduk lebih dekat dari tadi.
“Kamu mau aku nggak pergi?”
Pertanyaan itu seperti pisau bermata dua.
Alya tahu jawabannya tidak sesederhana iya atau tidak.
Kalau ia bilang jangan pergi, Arka akan tetap pergi dengan rasa bersalah.
Kalau ia bilang pergi, ia akan kembali merasa sendirian.
“Aku mau kamu milih dengan tenang,” katanya akhirnya.
Arka menatapnya lama.
“Aku milih tanggung jawabku,” jawabnya pelan. “Dan aku juga milih kamu.”
“Kedengerannya gampang.”
“Karena aku nggak lagi lihat itu sebagai dua pilihan yang saling lawan.”
Hening.
Lalu Arka menambahkan, lebih lembut,
“Yang bikin hubungan gagal bukan jarak. Tapi diam.”
Alya menghela napas.
Ia tahu Arka benar.
“Kalau nanti kamu terlalu sibuk di sana… jangan hilang ya,” bisiknya.
Arka tersenyum kecil.
“Aku udah janji nggak akan ngilang.”
Ia meraih tangan Alya dan menggenggamnya.
Bukan sekadar menenangkan.
Tapi memastikan.
Malam itu, mereka tidak banyak bicara lagi.
Hanya duduk berdampingan. Alya menyandarkan kepala di bahu Arka. Arka memeluknya pelan.
Tidak ada adegan besar.
Hanya keheningan yang kali ini terasa lebih matang.
Pagi berikutnya, Arka benar-benar pergi.
Apartemen terasa lebih luas dari biasanya.
Lebih sunyi.
Alya kembali pada rutinitasnya. Meeting. Deadline. Email yang tak ada habisnya.
Namun di tengah kesibukan itu, satu pesan masuk membuatnya terdiam.
Dari Raka — managernya.
Kita perlu ngobrol soal promosi kamu.
Jantung Alya berdetak lebih cepat.
Promosi?
Beberapa menit kemudian, ia dipanggil ke ruang meeting kecil.
“Kinerja kamu luar biasa,” kata Raka. “Kita mau tawarin posisi Senior Project Lead. Tapi…”
“Tapi?” ulang Alya.
“Kamu harus siap ditempatkan di Singapura minimal satu tahun.”
Ruangan terasa lebih sempit.
Singapura.
Bukan cuma beda kota.
Beda negara.
“Keputusan cepat,” lanjut Raka. “Kita butuh jawaban minggu ini.”
Alya keluar ruangan dengan kepala penuh suara.
Singapura berarti lonjakan karier besar.
Pengakuan.
Kesempatan yang dulu ia kejar mati-matian.
Tapi itu juga berarti—
Jarak yang lebih jauh dari kota kecil.
Lebih jauh dari ibunya.
Dan lebih jauh dari Arka.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Arka.
Udah sampai. Kamu lagi apa?
Alya menatap layar itu lama.
Dunia mereka baru saja belajar berjalan berdampingan.
Sekarang, takdir seperti menggeser jalannya lagi.
Jika ia menerima tawaran ini—
Apakah cinta mereka cukup kuat untuk jarak yang lebih panjang?
Atau justru ini ujian yang terlalu besar, bahkan untuk dua orang yang sudah berjanji tidak akan pergi lagi?
ahh pria solo itu lagii🤣🤣